
Abisha saat ini sedang tidur dengan tidak nyaman. Hadap kekanan, kekiri, sungguh terasa tidak ada posisi yang nyaman untuknya. Belum lagi tangan Daffin yang berada diatas tubuhnya, membuat Abisha risih. Entah sudah berapa kali Abisha menjauhkan tangan, Daffin. Namun, hasilnya tetap sama. Tangan itu akan tetap kembali keatas tubuhnya. Abisha sedikit mengeluh, mendengar suara dengkuran, Daffin. Itu membuatnya terasa berat pikiran. Ia ingin tidur sekarang, tapi tidak bisa. Abisha mengambil bantal dan menutup wajahnya. Siapa tau dengan begitu ia bisa tertidur. Namun, tetap saja tidak bisa. Masih terdengar suara denguran . Merasa geram, Abisha melempar bantal kesampingnya. Ia sedikit terkejut karena bantal itu terkena, Daffin.
"Yaallah," sontak Abisha bangkit dan mengambil bantal dari wajah Daffin yang tertimpa bantal. Untung Daffin tidak bangun olehnya.
Abisha bernapas lega melihat suaminya yang masih tertidur pulas. Ia tau suaminya pasti kecapean sampe tidur berdengkur.
"YaAllah ... maafin, Abisha. Abisha nggak sengaja yaAllah. Aamiin ...."
Abisha melihat kearah Daffin sebentar. Lalu memutuskan untuk tidur disofa panjang. Mungkin, dengan begitu ia bisa tidur, pikirnya. Abisha beranjak dan berjalan menuju sofa. Tidak lupa tangannya memeluk bantalnya.
Abisha melirik jam diding yang sudah menunjukan pukul 10. Abisha membaringkan tubuhnya disana. 10 menit berada disana, rasa kantuknya juga belum kunjung datang. Ia memaksakan matanya untuk tertidur. Sampai pukul 11 malam, ia baru mulai terlelap.
Daffin mengerjap-ngerjapkan matanya. Tangannya manatap istrinya. Kosong? Daffin langsung menoleh. Tidak ada istrinya disana. Ia bangkit dan mengucek matanya.
"Abisha kemana?" batinnya.
Daffin menghidupkan lampu kamar karena ketika tidur ia hanya memasang lampu tidur. Ia langsung melihat keberadaan istrinya disofa panjang. Kenapa Abisha bisa tidur disana? Pikirnya. Ia melirik jam yang sudah menunjukan pukul 4 pagi.
Daffin bangkit dan langsung menghampiri istinya yang tidur terlentang. Selimutnya juga tipis. Daffin berjongkok, menatap wajah, Abisha. Ia tersenyum! Tangannya mulai meraba wajah, Abisha. Daffin berniat menjahili, Abisha. Tanggannya mencubit hidung Abisha dengan gemas.
"Engh ...," Abisha menepis tangan Daffin dari hidungnya. Sedangkan Daffin hanya terkekeh.
"Enak banget sih tidurnya?" gumam Daffin.
"Abisha ...," panggil Daffin sambil menepuk pelan pipi, Abisha.
Abisha hanya bergumam dan mengubah posisinya menghadap kearah, Daffin. Kini tangannya sudah ia jadikan bantal.
Lagi-lagi Daffin hanya bisa terkekeh. Ia memandang lekat wajah istrinya. Ia mengusap pelan pipi, Abisha.
"I love you ...!" bisik Daffin didekat telinga, Abisha.
Ia kembali memandang Abisha." Abisha, bangun, Abisha. Hampir subuh." ucap Daffin lembut. Daffin mengusap pelan pipi Abisha.
"Bunda ... udah azan, ya?" ucap Abisha dengan suara perau. Matanya masih tertutup rapat.
Daffin mengernyitkan dahi," Belum," jawab Daffin. Mungkin ia lupa bahwa ini dirumah suaminya.
"Ata bangunnya tunggu azan ya, bun." Balas Abihsa sambil mengubah posisinya terlentang.
Daffin merasa gemas sendiri." Iya, bunda cium kamu, ya." Ucap Daffin terkekeh.
"Iya,"
Daffin tersenyum penuh kemenangan. Ia duduk disofa. Daffin mulai mendekatkan wajahnya kewajah Abisha." 2 kali, ya?"
Abisha tidak menjawab. Mungkin ia udah tertidur lagi. Daffin memandangi wajah Abisha sebentar. Tanggannya sudah menangkup pipi, Abisha. Ia mulai mengecup pipi Abisha kiri dan kanan. Ia tersenyum sambil memandangi wajah istrinya. Entah kenapa pandangannya tertuju pada bibir istrinya. Kenapa rasanya ingin! Ia belum pernah merasakan bagian itu. Daffin menelan salivanya. Pelan-pelan ia mulai mendekatkan wajahnya kembali. Iya ragu melakukannya, takut nanti Abisha marah. Walaupun mereka sudah sah. Tapi...?
"Semoga kamu tidak marah." ucap Daffin yang hanya tinggal bebepa cm lagi. Daffin memejamkan matanya.
Allahu akbar... allahu akbar...
Daffin berhenti mendengar suara Abisha." Udah azan, ya?" ucapnya lirih. Abisha membuka mata, namun matanya seketika melotot melihat apa yang ada dihadapannya. Ia sontak mendorong tubuh Daffin, sakin kagetnya. Abisha langsung bangkit menutup mulutnya merasa bersalah kepada, Daffin. Abisha hanya kaget.
Dengan cepat Abisha membantu Daffin bangkit dan duduk disofa. "Kamu kenapa?"
Abisha tersenyum canggung" Kaget!" Bisa-bisanya ia mendorong suaminya. Hadeh...!
Daffin menghembuskan napas pelan. Lalu tersenyum. Tidak jadi lagi. "Kenapa tidur disini?"
"Um ..., nggak papa! Yaudah, kak Daffin wudhu dulu. Abisha siapain bajunya." Suruh Abisha. Abisha beranjak dan berjalan menuju lemari. Samar-samar ia mendengar, Daffin berkata ...?
__ADS_1
"Huh, padahal sedikit lagi. Kapan ya bisanya?" Gumam Daffin sedikit mengeluh.
Abisha menoleh"Kak Daffin kenapa? Apanya yang sedikit lagi? Kak Daffin ada masalah?"
Daffin sedikit terkejut ternyata Abisha mendengarnya,"Hehe, nggak ada."
"Kak Daffin bilang aja. Kalo Abisha bisa bantu, Abisha bakal bantu, kok."
"Kode, nih." batin Daffin berjalan mendekati, Abisha.
"Nanti yang ada kamu marah lagi." ucap Daffin yang sudah berada dihadapan, Abisha.
"Nggaklah, kak Daffin bilang aja."
Daffin tersenyum"Nanti kamu nolak,"
Kini Abisha yang binggung. Lalu tersenyum"Bilang aja. Kan Abisha udah bilang, kalo Abisha mampu nanti Abisha bantu."
"Bener?"
"Iya," jawabnya sedikit gugup . Entah kenapa Daffin semangkin mendekatkan dirinya dan tersenyum penuh arti.
Daffin menangkupkan tangannya kewajah, Abisha. Membuat Abisha kaget. Kini jantung Abisha bergetar hebat."Kak Daffin mau ngapain?" tanyanya gugup. Apakah ia salah mengartikan ucapan, Daffin?
"Tadi aku bilang sedikit lagi'kan?" Abisha hanya menatap, Daffin. Wajahnya sudah kelihatan gugup"Tadi aku cuman mau ini." Jawabnya sambil menunjuk bibir, Abisha. Membuat mata Abisha melotot."Jadi sekarang boleh?" lanjut Daffin tersenyum mengoda.
Abisha diam, jantung Abisha bergetar hebat. Napasnya bahkan tidak terlalu berfungsi. Sedangkan Daffin semangkin mendekatkan wajahnya. Dengan secepat kilat Abisha menjauh.
"Kak Daffin kita harus salat subuh.Maaf," Abisha meninggalkan Daffin menuju Lemari. Jujur ia masih gugup. Baru itu, bagaimana jika Daffin melakukan hal lebih.
Daffin sedikit kecewa. Namun, ucapan Abisha ada benarnya juga. Yang ada nanti ia kebablasan.
Mendengar itu Abisha merasa ngeri. Pikirannya sudah kemana-mana. Takut!
***
Abisha
Kak Daffin, Abisha izin mau
Pergi keluar bentar, ya.
Boleh ga?
^^^Daffin^^^
^^^Kemana? ^^^
Abisha
Abisha cuman mau keminimarket.
Dirumah banyak stok makanan
Habis.
^^^Daffin ^^^
^^^Yaudah, nanti pulangnya^^^
^^^Aku jemput. Jangan lupa^^^
__ADS_1
^^^Berangkatnya naik taxi aja.^^^
^^^Soalnya aku masih kerja mau ^^^
^^^Anter kamu.^^^
Abisha.
Iya, kak😊
Abisha beranjak dari kursi. Ia berjalan keluar dapur dan menghampiri neneknya yang sedang membaca koran ruang tamu.
"Nek," panggil Abisha.
Abisha duduk tidak jauh dari nenek yang tersenyum hangat kepadanya.
"Iya, kenapa?" jawab nenek lalu menutup koran dan menyimpannya diatas meja.
"Abisha cuman mau izin keluar bentar. Abisha mau belanja stok makanan yang sudah habis dirumah."
Nenek tersenyum. Selama ini mana ada yang peduli stok makanan habis. Sebelum Daffin menikah, Daffin selalu membeli makanan diluar. Kata Daffin, nggak mau meliat neneknya kecapean. Mereka memang mempunyai pembantu. Namun, tidak menginap. Jadi, ia hanya dibayar untuk membereskan rumah. Untuk soal memasak ia tidak tau menau. Dan semejak ada Abisha, mereka selalu masak dirumah. Jadi, pengeluaran juga berkurang. Apalagi makanan diluar agak mahal.
"Iya. Kamu udah minta izin sama, Daffin? "
"Udah, nek. Katanya boleh."
Nenek melirik jam dinding. Sudah hampir pukul 4 sore. "Perginya sendiri?"
"Iya, tapi pulangnya kata kak Daffin nanti jemput, Abisha."
"Yaudah, nanti nenek juga mau nitip sekalian."
Abisha tersenyum"Yaudah, Abisha mau ganti baju dulu. Nanti Abisha kesini lagi."
Neneknya mengangguk sambil tersenyum. Abisha bangkit dan menuju kekamar untuk menganti baju. 10 menit ia turun kebawah dengan pakaian yang sudah rapi. Ia hanya menggunakan long cardigan dengan bawahan rok. Tidak lupa menggunakan hijab yang menutupi dada. Membuatnya terkesan dewasa.
"Wah ... cantik sekali cucu, nenek."
Abisha tersenyum canggung. Kalo masalah dipuji, nyali Abisha ciut. Intinya ia tidak terlalu suka akan pujian.
"Ini, nenek sudah catat semua. Ini uangnya." Ia mrnyodorkan kertas beserta beberapa lembar uang 50 ribu.
"Uangnya nenek simpen aja. Abisha ada."
"Tapi ini barang nenek. Itu uang punya kamu, buat kamu. Ambil, ya."
"Nggak usah, nek. Lagian kak Daffin kasih Abisha kebanyakan. Jadi, pake uang yang sama Abisha aja."
"Yaudah, cucu nenek baik banget. Sini."
Abisha mendekat. Nenek mencium pipinya kiri dan kanan. Abisa hanya tersenyum.
"Yaudah, nek, Abisha pamit dulu, ya. Tapi, nenek nggak papakan kalo Abisha tinggal sendiri?"
"Ada bi inap. Nanti pulangnya kalian jangan lama-lama."
" Iya, nek. Assallamuallikum,"
Abisha menyalimi nenek "Waallaikumussallam," balas nenek
Happy reading!
__ADS_1