
Rainia baru saja berniat untuk memejamkan matanya sejenak ketika telinganya mendengar ponselnya berbunyi menandakan bahwa ada panggilan yang masuk. Dengan setengah hati Rainia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan. Begitu ia menempelkan ponselnya di telinga,matanya membulat sempurna ketika mendapatkan bentakan dari si penelepon yang tak lain adalah ketua Park.
"Kau ini dimana ha..?" Sentak ketua Park di seberang sana. "Segera keruanganku sekarang. Kau tidak tahu atau pura pura tidak tahu bahwa kau berada dalam masalah besar..?!"
"Maafkan aku. Aku sekarang sedang berada di dorm Exo, menangani Park Chanyeol yang jatuh pingsan. Demamnya juga tinggi dan pencernaan yang terganggu karena terlalu banyak minum soju." Jelas Rainia.
"Segera selesaikan tugasmu dan cepat kembali ke rumah sakit. Aku menunggumu di ruanganku.!" Perintah ketua Park agak sedikit melunak, tidak sekeras sebelumnya.
"Baiklah, aku akan segera kembali." Pasrah Rainia.
Dengan langkah terburu buru Rainia keluar dari kamar Chanyeol. Ketika sampai di ruang tengah Rainia melihat Dokter Min Hyun yang tengah duduk bersama manager dan member Exo.
"Min Hyun sunbae, aku harus kembali ke rumah sakit. Aku titip Chanyeol padamu. Tolong ya." Pinta Rainia terburu buru.
"Yaaa.. Kau bahkan belum mengistirahatkan tubuhmu dan kau sudah akan kembali ke rumah sakit lagi.? Ayolah Rain. Pikirkan juga tentang kondisi tubuhmu." Dokter Min Hyun mencoba mencegah Rainia pergi.
"Aku sedang buru buru sunbae. Ketua Park sudah menungguku." Kilah Rainia.
"Hahhh.. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi." Frustasi dokter Min Hyun. "Kenapa kau melakukan dua operasi beresiko tinggi sekaligus.? Seharusnya kau tidak melakukan itu Rain. Sekarang lihatlah kau mendapatkan masalah karena ini. Jika ketua Park memanggilmu, sudah pasti berita tentang ini sudah sampai pula ditelinga ayahku. Ayah sangat tidak suka jika ada orang yang melanggar peraturan rumah sakit." Ujar Min Hyun memberikan pengertian kepada Rainia sekaligus menanyakan alasannya bertindak gegabah.
Mendengar pertanyaan dari dokter Min Hyun yang seakan akan menyalahkannya membuat Rainia jadi berang. Disini ia hanya berusaha menyelamatkan pasien serta melindungi lisensi dokter bodoh itu, mengapa jadi ia yang disalahkan.? Ia mengerti jika caranya dalam menyelamatkan mereka terlalu ekstrim, tapi adakah cara lain yang bisa dilakukan untuk mengahadapi situasi seperti itu.?
Apa mereka tidak sadar jika seorang dokter di tuntut atas dugaan mal praktik bisa di jatuhi hukuman penjara.? Bahkan sekenario terburuknya dokter tersebut bisa saja kehilangan lisensinya. Bagi seorang dokter lisensi adalah segalanya. Tanpanya sehebat apapun kamu tidak akan bisa berbuat apa apa.
Meski amarahnya memuncak Rainia masih berusaha untuk menekannya. Ia sudah lelah, dan ia tidak mau membuang energinya hanya untuk menjelaskan atas tindakannya. Meskipun begitu ia enggan untuk hanya berdiam diri saja.
__ADS_1
"Jadi maksudmu aku harus membiarkan pasien itu meninggal di ruang operasi hanya karena kesalahan dokter bodoh itu, dan aku tidak melakukan apa apa begitu.?" Pekik Rainia dengan suara rendah sarat akan emosi. Reaksi ini sungguh diluar dugaan dokter Min Hyun. "Aku tidak peduli dengan peraturan rumah sakit. Yang kupedulikan hanyalah tentang keselamatan pasien. Sudahlah aku tidak punya waktu untuk berdebat denganmu sekarang.!" Seru Rainia kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan.
"Rain.. Rainia...! Haishhh kenapa namanya susah sekali." Gerutu dokter Min Hyun ketika tidak dapat menyebut nama belakang Rainia.
Sementara yang di panggil tidak menoleh sedikitpun seolah olah orang tuli. Daripada menghentikan langkahnya ia malah semakin mempercepat langkahnya menuju mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.
"Apa dia benar benar tidak istirahat.?" Tanya manager Exo sembari melihat ke arah mobil Rainia yang sudah menghilang di tikungan jalan.
"Ya. Hari ini bahkan ia bekerja dari pukul enam pagi dan baru pulang jam enam sore. Kami terpaksa menghubunginya kembali jam sepuluh malam untuk membantu menangani pasien kecelakaan beruntun yang masuk sekitar empatpuluh orang. Bahkan ia melakukan tiga operasi darurat tanpa beristirahat." Jelas dokter Min Hyun.
"Ahh aku sangat menyesal karena membentaknya tadi. Ia menjalani hari yang sangat melelahkan." Sesal manager Exo.
"Ya. Bahkan sekarang sudah hampir jam tiga pagi."
****************
"Kenapa.?" Tanya Rainia sambil mencoba mengatur nafasnya.
"Tolong pasien di sebelah sana." Pinta dokter Jimin dengan panik.
"Bagaimana kondisinya.?" Tanya Rainia saat berjalan cepat menuju ruangan pasien. Ia melupakan tujuannya datang kembali ke rumah sakit untuk menemui ketua Park.
"Pasien mengeluh dengan sakit di dadanya saat datang kemari dua hari yang lalu. Hari ini ia datang kembali dan kami memberikannya obat dan memintanya untuk di rawat inap. Tapi tadi sakitnya semakin parah. tanda tanda SIRS juga di temukan."
"Sepertinya ini bukan hanya sekedar flu biasa." Ujar dokter magang Yoon.
__ADS_1
Seorang pasien berusia lanjut sedang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit. Nenek itu bernapas tidak beraturan serta jemarinya mencengkeram erat dadanya saat dokter Rainia datang.
"Denyut jantungnya.?" Tanya Rainia yang berarti memerintahkan dokter wanita bernama Yoon itu untuk memeriksa denyut jantung si nenek. Dokter Yoon tanpa disuruh dua kali segera memeriksa denyut jantung si nenek.
"Aku tidak mendengar apapun.!" Panik dokter Yoon seketika.
Melihat itu Rainia segera mengambil alih stetoschop yang ada di leher dokter Yoon dan segera memeriksa denyut si nenek di bagian kiri atas jantung.
"Kiri atas jantung. Lebih teliti.!" Ujar Rainia seraya menatap dokter Yoon dengan tatapan garangnya.
Setelah memeriksa hasil tes darah pasien, matanya kembali melemparkan tatapan tajamnya pada dokter Yoon. Dokter Yoon yang ditatap begitu rupa menunduk ketakutan tidak berani menatap balik kepada dokter Rainia.
"Peneumonia sepsis ( sepsis pada paru paru)." Diagnosa dokter Rain. "Apa yang kau pikirkan.?" Bentak Rainia dengan tatapan yang semakin menajam. "Pindahkan sekarang juga.!!"
Dokter Jimin, dokter Yoon, dan dokter Rainia, serta seorang perawat laki laki segera memindahkan nenek tersebut ke ranjang dorong untuk segera di tangani.
"Aku memenangkan peperangan hari ini, tapi sepertinya akupun akan segera berperang dengan kesadaranku." Gumam Rainia membatin dalam hati seiring kesadarannya yang mulai menipis saat dirinya selesai menangani pasien.
Dokter Jimin kaget ketika melihat tubuh Rainia terhuyung dan hampir saja jatuh kelantai jika saja dokter Jimin tidak sigap menangkap tubuhnya. Dokter Yoon tak kalah kagetnya.
"Dokter.! Dokter Rain..!" Panggil keduanya heboh. Dokter Yoon menepuk nepuk pelan pipi dokter Rainia yang tak sadarkan diri berusaha untuk menyadarkannya kembali.
**Assalamualaikum yerobun apa kabar.?
semoga sehat selalu ya...
__ADS_1
Maaf telah membuat anda menunggu lama**..