The Doctor

The Doctor
episode 19 salam perpisahan


__ADS_3

Abisha sedang berbaring dikasur kesayangannya. Ucapan Daffin sungguh membulatnya gelisah.


"Saya sudah melamarmu, Abisha?"


Abisha menutup wajahnya menggunakan bantal, dan membukanya kembali karena merasa pengap. Entah Kenapa Abisha jadi kepikiran. Belum lagi ayahnya, bundanya, kenapa tidak ada yang memberi tahu , Abisha? Abisha tadi sempat ingin bertanya kepada ayahnya, sekedar memastikan karena Abisha sungguh tidak percaya dengan ucapan, Daffin. Namun, ia urungkan.


"Saya baru meminta kamu, belum mengambil kamu. Nanti saya akan datang melamar kamu kembali setelah kamu lulus sekolah untuk jadi istri saya."


"Abisha belum siap menikah! Abisha mau kuliah, bahagian ayah bunda, adik-adik Abisha. Masih banyak cita-cita yang ingin Abisha capai."


"Jika kita menikah nanti, kalau kamu mau kuliah, silahkan. Saya tidak akan melarang! Saya akan dukung kamu mengapai mimpi kamu."


"Tapi menikah hanya akan menghambat mimpi, Abisha."


"Kenapa?"


"Kondisi Abisha berbeda. Abisha akan jadi seorang istri. Banyak kewajiban yang harus Abisha penuhi. Kalau Abisha tidak menikah Abisha akan fokus hanya pada kuliahnya, Abisha."


"Saya tidak akan memaksa kamu. Saya terima keputusan kamu. Tapi, saya akan tetap datang nanti, siapkan jawaban dihari saya datang melamarmu. Tapi kamu harus ingat kata-kata saya, saya ingin menikahi kamu cepat karena saya hanya takut berlarut-larut dalam dosa. Untuk kewajiban, saya tidak terlalu menuntut. Cukup jalani apa yang menurut kamu mampu untuk dilakukan."


Abisha menenggelamkan wajahnya dibantal dengan posisi tengkurap. Selimutnya juga sudah habis menutupi tubuhnya. Abisha benar-benar gelisah. Ujian hanya tinggal beberapa bulan lagi.


Sepertinya Abisha akan rutin untuk salat istikharah mulai dari sekarang.


Abisha binggung, membedakan antara suka, kagum, dan cinta saja ia tidak tau. Dia binggung akan perasaannya.


"Yaallah, kalau Abisha terima Pak Daffin berarti Abisha nikah muda?" gumamnya.


Abisha yang kembali terlentang kini menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Huah, Abisha sungguh tidak menyanggka kalau itu terjadi. Kalau novel yang ia baca ceritanya sangat romantis. Tapi, untuk Abisha sendiri kenapa tidak ada romantis-romantisnya. Bahkan, dokter itu sudah bilang mencintainya padahal baru beberapa kali bertemu. Entah apa yang membuat dokter itu sampai jatuh hati kepada, Abisha. [kalo udah nikah nanti diceritain ya, haha..]


Ting.... suara notif pesan


Abisha meraba hpnya yang ada disampingnya.


calon suami


Abisha benar baru sadar bahwa Daffin memberi nama kontaknya dengan nama Alay itu. Rasanya Abisha geli sendiri melihatnya. Abisha menganti nama kontak Daffin sebelum membalas pesan, Daffin.


Dr. Tua


Jangan terlalu dipikirkan,


saya jujur dan bilang semua


sama kamu bukan untuk


jadi beban pikiran kamu.


Saya tidak mau nanti nilai-nilai


ujianmu jadi jelek hanya karna


memikirkan apa yang saya bilang.


Jika itu terjadi, saya pastikan,


kamu akan menikah dengan


saya lulus dari sana.


Abisha melebarkan matanya. Enak saja pikirnya. Tadi dokter itu bilang bahwa ia tidak akan memaksa Abisha untuk menerimanya. Sekarang apa?


Abisha bangkit dan membalas pesan, Daffin. Salah satu kontak lelaki yang ada ada dihpnya selain ayahnya.


^^^Abisha^^^


^^^Bapak kok kaya gitu? ^^^


^^^Lagian Abisha nggak mau ^^^


^^^nikah sama Bapak!! ^^^


Dr. Tua


Kamu tidak akan menolak


Saya. Ingat, berikan yang


terbaik untuk nilai ujian


kamu nanti. Supaya saya tidak memaksamu menikah dengan saya.


Abisha mengerucutkan bibirnya dan membuang hpnya kesamping. Dokter tersebut selalu membuatnya kesal. Lagipun, tampa disuruhnya Abisha akan berusaha mendapatkan nilai terbaik dalam ujian nanti.


Sedangkan Daffin tertawa dikamarnya. Ia sekarang menemukan hobi baru yaitu membuat Abisha kesal.


"Saya yakin, kamu sudah mulai mencintai saya, Abisha!" gumamnya sambil mengulum senyum.


***


Daffin sedang sarapan sebelum berangkat rumah sakit. Wajahnya kembali ceria. Mulutnya tidak berhenti tersenyum dari semalam. Neneknya hanya menganggapnya wajar karena mungkin bahagia mendapat maaf dari, Abisha.


Daffin duduk dikursi, namun sebelum itu ia sempat mencium neneknya.


"Bahagia banget cucu nenek sekarang."


"Iya, dong, nek." jawabnya sambil mengambil sarapan.


"Nenek hanya ingatkan, banyak orang jatuh karena sebuah ekspetasi dan harapan secara berlebihan. Nenek nggak mau nanti kamu kecewa lagi. Kalau mau berharap, biasa-biasa saja. Jangan berlebihan."


"Iya, nek, Daffin tau. Sekarang cucu nenek ini terlalu percaya diri."


Daffin memakan sarapannya. Hari ini Neneknya memasak nasi goreng. Daffin menghabiskan tampa sisa. Setelah selesai ia pamit dan langsung berangkat kerumah sakit.


Sampai dirumah sakit, Fahri juga sudah berdiri didepan rumah sakit. Fahri menunggu Daffin karena tidak sengaja melihat Daffin dari kejauhan.


"Ri," sapa Daffin.

__ADS_1


"Mentang-mentang lagi seneng. Jadi datang awal ya hari ini." goda Fahri.


"Kamu yang datangnya agak lambat." sanggah Daffin.


Daffin melangkah kedalam dan diikuti oleh, Fahri.


"Bentar lagi ada yang ujian." terang Fahri.


Daffin hanya tersenyum. Entah kenapa jantungnya tiba berdetak begitu kencang. Ingatannya kembali menginggat, Abisha. Setelah kejadian itu, Daffin tidak bertemu Abisha lagi. Hanya vc itupun sebentar karena Abisha menolak. Chetan juga jarang dibalas, Abisha.


"Udah siap?" tanya Fahri


Daffin sedikit menaikan dahinya"Siap apa?" tanya Daffin.


Kini mereka sudah berada diruang, Daffin. Daffin duduk ditempatnya dan diikuti Fahri yang duduk dikursi depan, Daffin.


"Pura-pura tidak tahu lagi."


"Apa? Tanya yang jelas! Nanti saya salah jawab, kamu protes."


"Ya, maksud saya Nikah."


"Tentu...," jawabnya sambil tersenyum.


"Jangan lupa undang, ya?"


"In shaa allah. Kamu kapan? Siapa tau Wulan udah siap!"


"Trauma, fin! Takut ditolak lagi."jawabnya sedikit bercanda.


"Namanya juga berusaha. Lagian belum tentu juga Wulan nolak. Pikiran kamu aja yang kaya gitu terus. Yaudah, sana ... kerja-kerja."suruh Daffin.


"Ngusir Saya?"


"Bukan ngusir. Nyuruh pergi aja. Jam kerja ini!"


"Bilang aja ngusir. Yaudah, nanti siang, ya?"


"Iya ...."


****


Hari ini Abisha dinyatakan lulus dengan nilai cukup baik. Ia mendapatkan peringkat 5 dari 3 kelas jurusannya. Cukup membanggakan.


Hari ini ia datang bersama kedua orang tuanya. Tidak terkecuali, Abizar. Sedangkan Deeva sekolah.


Hari ini adalah hari perpisahan. Sedih, hanya suasana haru menyelimuti mereka.


Abisha berpelukan dengan teman-temannya. Mengucapkan selamat dan salam perpisahan. Benar-benar suasana yang akan ia rindukan.


"Guys ...." ucap Amanda yang sudah meretangkan tangannya untuk memeluk ke 3 sahabatnya.


"Aaaaaa... sedih." renggek mereka barengan.


Keempat gadis mengunakan kebaya itu berpelukan dengan airmata yang sama-sama luruh.


"Sedih banget guys gue hari ini. Hari ini hari terakhir kita sekolah. Gue pasti bakal kangen masa-masa kita."tutur Amanda sambil mengusap airmatanya.


"Gue harap, kita sering-sering ketemuan, kasih kabar." tutur Aurin.


"In shaa allah. Nanti jangan lupa datang kepernikahan aku, ya ...  guys. Harus dateng loh ya ...!"


"Lo beneran nikah, Fit?" tanya Aurin sedikit kaget.


Fitri mengangguk sambil sedikit tersenyum.


Abisha yang mendengar kata menikah, huh, jantung berasa menari-nari didalam tubuhnya. Entah kenapa ia jadi ingat, Daffin.


"Kita pasti dateng."


"Aku harap, kita nggak akan saling lupa satu sama lain. Kalian tau, walau kita hari ini perpisahan disekolah, namun bukan berarti diluarnya kita juga akan berpisahkan? Aku juga berharap nanti kita sering-sering raunian, chet digrup, becanda." tutur Fitri sedikit sedih.


"Guys, aku minta maaf kalau selama ini mungkin aku banyak salah. Aku hanya berpesan, semangat mengapai mimpi kalian dan besok adalah hari baru untuk kita. Hari dimana kita sudah berhenti menjadi siswa dan siswi. Dan selamat buat kalian atas kelulusannya."tutur Abisha, jujur hatinya begitu sedih. Terlalu banyak kenangan disini.


"Gue sayang kalian." ucap Aurin tiba-tiba kembali merangkul temannya.


"Kita juga,"


"Foto dulu, yuk. Kenang-kenangan!"


Mereka meminta bantuan teman sekelasnya untuk mengambil foto mereka. Mereka membuat beberapa gaya. Setelah selesai mereka kembali berkumpul dan mengchek hasil fotonya.


"Gue bakal cuci nanti buat pajang dikamar gue, dengan caption Crazy friend!"


"Kalo gue BFF aja." tutur Aurin.


"Kirim digrup ya, nanti." Suruh Fitri.


"Siap," balas Amanda.


"Sha, lo lanjut kuliah?" tanya Aurin.


"In shaa allah." jawabnya tersenyum.


"Dimana, siapa tau kita satu kampus. Gue sama Aurin ngambil jurusan sama."


"Kalo jadi mungkin diluar kota."


***


"Abisha," panggil Azka.


Abisha yang masih mengobrol dengan keempat temannya menoleh kebelakang.


"Sha, kita kesana dulu ya ambil minum." Pamit ketiga temannya. Sebenarnya temannya sengaja untuk meninggalkan Azka dan Abisha berbicara berdua.


"Iya,"jawab Abisha. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa gugup.


Azka berjalan mendekati Abisha."Selamat, ya." Ucap Azka tidak lupa tersenyum.

__ADS_1


"Iya, selamat juga atas kelulusannya." balas Abisha


"Kamu Cantik hari ini." puji Azka.


Abisha sedikit terkejut. Ia tersenyum canggung."Makasih," jawabnya tertunduk.


"Habis lulus mau kemana? "


"In shaa allah kuliah,"


"Dimana?"


"Tempat nenek...,"


"Jauh?"


"Diluar kota,"


Azka sedikit terkejut, ia tidak mau jauh dari, Abisha. Ia sengaja bertanya dimana Abisha kuliah, dengan tujuan supaya bisa daftar ditempat yang sama. Kalau diluar kota, Azka pasti tidak dikasih izin.


"Semoga kamu dapat mengapai mimpi kamu. Aku harap, ini bukan akhir dari pertemuan kita, suatu saat aku akan datang dengan tujuan baik. Semoga allah menghendaki itu."


Abisha diam mencoba mencerna ucapan, Azka. Sesekali ia manatap Azka yang juga menatap dirinya. Kenapa dadanya bergemuruh?


"Aku permisi, assallamuallaikum! Semoga sukses." Ucapnya berbalik arah meninggalkan, Abisha.


"Waallaikumussallam."


Salam perpisahan, Abisha harap ini bukan pertemuan untuk yang terakhir kalinya. Azka adalah sosok yang Abisha kagumi, sekedar kagum! Dan rasa itu tidak akan hilang jika sosok itu tidak berubah. Sedih, kenapa Abisha merasa sedih? Salam Azka adalah salam perpisahan bagi, Abisha.


"Selamat tinggal, Azka! Aku nggak tau, mungkin setelah ini kita akan susah bertemu nanti. Andai aku punya keberanian mengunggapkan bahwa kamu adalah orang yang aku kagumi selama ini. Tapi aku tidak punya nyali untuk itu. Terima kasih telah mengajarkan banyak hal. Allah mengirimkanmu sebagai perantara supaya aku lebih dekat denganNya. Terima kasih, semoga kamu sukses dan dapat mengapai mimpi-mimpi kamu." Abisha membatin.


Abisha memandang kepergian Azka yang hampir menghilang dari pandangannya. Airmatanya kini menetes. Entah kenapa hatinya begitu perih. Dadanya sesak. Ada apa? Abisha binggung!


Abisha menghapus airmatanya. Ia membalikan tubuhnya berniat ingin menghampiri temannya. Namun, ia dikejutkan oleh ...,


"Yaallah," ucapnya terkejut, apalagi pandangan pertama tertuju pada boneka yang begitu dekat dengan dirinya. Abisha langsung menoleh kearah pria yang ada didepannya.


"Pak Dafin kesini?" tanya Abisha.


Daffin mengangguk sambil sedikit tersenyum. "Ini buat kamu. Selamat atas kelulusannya."


"Makasih, pak."


Sebenarnya Daffin sudah berada sejak tadi dibelakang, Abisha. Itu kenapa Azka tiba-tiba pergi. Pikiran Daffin sudah kemana-mana, apalagi mendengar Abisha yang ingin kukiah diluar kota, dengan wajah yang terlihat sedih setelah kepergian, Azka.


"Ayah sama bunda kemana?" tanya Daffin.


"Udah pulang duluan."


"Sekarang acaranya sudah selesai?"


"Udah, mungkin." jawab Abisha.


"Saya mau bicara berdua. Boleh?"


Abisha hanya diam, takut Daffin menanyakn tentang lamaran itu.


"Mau nggak? Sudah lama loh kita tidak bertemu."


"Yaudah, kita bicara ditaman sekolah aja."


Daffin dan Abisha langsung menuju kesana. Hanya ada beberapa siswa disana. Ada yang berfoto-foto, dutay bersama pacar dan santai-santai.


"Bapak mau ngomong apa?" tanya Abisha to the point. Mereka baru saja duduk dikursi taman.


Daffin tersenyum sambil memandangi Abisha"Kamu cantik hari ini."


"Makasih," jawab abisha tersenyum Simpul. Entah kenapa jantung berdetak begitu kencang.


"I miss you, Abisha." tiba-tiba kata-kata itu keluar dari mulut, Daffin. Pipi Abisha mulai memanas, malu, huah jantungnya juga tidak bisa dikondisikan lagi.


Abisha menatap Daffin tidak percaya. Daffin tersenyum berharap bahwa Abisha akan menjawab dengan kata yang sama. Namun, Abisha hanya diam.


"Kok, diem? Balas, dong!" suruh Daffin


Abisha masih menetralkan jantungnya. Gugup, Abisha tidak tau kenapa.


"Abisha nggak pandai bahasa inggris. Jadi, Abisha nggak ngerti apa yang Bapak ucapin." alibinya. Entah kenapa, tiba-tiba mulut Abisha ingin tersenyum. Yatuhan, semoga Abisha bisa menahannya untuk sebentar saja.


Daffin hanya tersenyum menatap Abisha. Abisha yang ditatap hanya bisa memalingkan wajahnya. Daffin sangat yakin kalau Abisha hanya berbohong.


"Kamu tinggal jawab I miss you too saja." Jawab Daffin terkekeh.


Dalam hati Abisha tertawa geli. Pasti Daffin ingin mengerjainya.


"Abisha nggak mau nyebut kata yang Abisha sendiri nggak tau artinya. Nanti yang ada salah ucap lagi." jelas Abisha.


"Nggak, kata itu sangat tepat. Tidak akan ada kesalahan jika kamu mengucapkannya. Jadi katakan saja, I miss you too, Daffin." Daffin kembali tersenyum. Dia akan terus memancing Abisha.


Jujur, Abisha tidak bisa menahan senyumnya. Ia memalingkan wajahnya lalu tersenyum. Dokter itu sungguh membuat ingin menghilang dari dunia.


"Hey, saya disini. Kenapa kamu menghadap kesana?" tanya Daffin sedikit tertawa.


Abisha sedikit melebarkan matanya. Buat malu saja. Abisha kembali memasang wajah biasa-biasa saja. Ia mulai mengatur posisinya dan menghadap kedapan. Ia tidak mampu untuk melihat, Daffin.


"Kamu tidak rindu sama saya?"


"Ngapain rindu sama, Bapak?"


Kali ini Daffin yang merasa kesal kepada, Abisha. Sedangkan abisha tertawa melihat ekspresi Daffin yang terlihat kesal.


"Kamu masih ingatkan ucapan saya waktu itu? "Tanya Daffin tiba-tiba"Tentang lamaran," lanjutnya


Abisha melirik Daffin sebentar, "Iya, tapi nilai Abisha Nggak terlalu jelek. Jadi, Bapak nggak bisa paksa-paksa, Abisha."


"Sudah punya jawaban," Abisha kembali tertunduk.


"Nanti malam saya akan Datang kerumahmu." lanjut Daffin ketika melihat Abisha hanya diam.

__ADS_1


Happy reading!


__ADS_2