
2 minggu setelah sadar dari koma, Abisha sudah bisa pulang dari rumah sakit. Abisha mengalami Amnesia karena pada bagian kepalanya terluka parah. Bagian kakinya juga ada yang retak dan membuatnya harus memakai kursi roda.
Abisha sekarang sedang berada didalam kamarnya. Tepatnya dirumah ayah dan bundanya. Ia memilih pulang kesana karena ia belum yakin bahwa ia sudah menikah.
Daffin sempat sedih melihat kondisi, Abisha. Apalagi ia tidak sama sekali menginggat, Daffin. Daffin masuk kedalam kamar, Abisha. Terlihat Abisha sedang berada didepan meja belajar. Ia memegang satu buah buku daery. Pelan-pelan Daffin mulai mendekati, Abisha. Semenjak Abisha sadar, Abisha tidak mau berbicara dengan, Daffin
Flashback on
Daffin dan Abisha masih berada diruang rawat. Abisha hanya diam, semenjak ia sadar dan tau bahwa ia mengalami amnesia, Abisha hanya diam dengan wajah binggung. Bukan apa, Abisha hanya merasa asing dengan orang-orang yang ada disekitarnya. Dewi menceritakan sedikit masa lalu yang Abisha alami kepada, Abisha. Yang lain hanya mendengarkan dan menatap iba kearah, Abisha. Waktu itu semuanya berkumpul. Sahabat Abisha, keluarga bahkan ada pasya dan Azka.
"Ini Daffin suami kamu,"terang Dewi pada, Abisha. Saat itu Daffin berdiri disamping Dewi yang duduk dikursi samping brankar. Abisha hanya menatap Daffin dengan tatapan datar. Ia sama sekali belum bicara ketika Dewi bercerita. Abisha melihat keselilingnya, entah kenapa ia melihat wajah-wajah orang disekitarnya terlihat tegang.
"Abisha udah nikah?" tanyanya kembali menatap, Dewi. Dewi mengangguk, namun Abisha masih ragu. Ia diam, mencoba menginggat memori-memori yang entah hilang kemana. Abisha memegangi kepalanya. Sakit, rasanya kepalanya ingin pecah.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dewi panik. Bahkan Fitri sampai menanggis tidak tega melihat keadaan, Abisha.
"Abisha," Daffin mendekati Abisha dan langsung memeluk, Abisha. Airmatanya ikut mengalir. Ia tidak bisa melihat Abisha seperti itu. Dewi meminggir sedikit dan menghampiri Lukman yang tidak jauh dibelakangnya.
"Sakit," jawabnya. Air matanya sudah mengalir. Ia tidak mampu menahan sakitnya. Tiba-tiba Abisha pingsan. Daffin yang sadar langsung mengatur posisi Abisha untuk berbaring. Karena posisi Abisha tadi sedang terduduk.
Daffin langsung memeriksa keadaan, Abisha. Sedangkan yang lain disuruh untuk menunggu diluar oleh seorang suster.
Skip
Daffin menunggu Abisha yang sedari tadi belum sadar. Yang lainnya memilih untuk pulang, karena jam juga sudah menunjukan pukul 8 malam. Abisha mulai sedikit membuka matanya. Ia memandangi sekitarnya. Abisha melihat ada seorang dokter tertidur sambil memegangi tangannya. Abisha spontan menarik kasar tangannya. Daffin langsung tersadar dan melihat kearah Abisha yang berusaha untuk duduk.
"Abisha, kamu sudah sadar?" tanya Daffin.
Daffin yang melihat Abisha sudah duduk berniat ingin membantu Abisha untuk mengubah posisinya supaya lebih nyaman.
"Biar aku bantu." Daffin sudah bangkit dan hendak memegang, Abisha. Namun tangannya ditepis, Abisha. Awalnya Daffin kaget, namun melihat ekspresi Abisha datar ... ya, Daffin mengerti.
Daffin kembali duduk. Memandangi wajah Abisha yang sama sekali tidak melihat kearahnya. Ia hanya diam dengan pandangan lurus kedepan.
"Kamu mau sesuatu? Makan, minum, at...,"
"Kamu pergi," potong Abisha. Pandangannya masih kedepan. Daffin hanya diam, tidak menyanggka kata-kata itu keluar dari mulut, Abisha.
"Abisha, aku disini jagain kamu. Istri aku ...!Apa kamu masih tidak percaya kalau aku ini suami kamu. Apa bukti yang udah aku tunjukin sama kamu belum cukup jadi bukti?"
Abisha masih diam. Entahlah, ia hanya berpikir tidak mungkin ia sudah menikah. Umurnya masih muda, bahkan Dewi bercerita kepadanya umurnya baru 18 tahun. Tapi, buku dan foto nikah? Jujur Abisha masih tidak menyangka.
Daffin yang melihat Abisha hanya diam mengambil salah satu tangan, Abisha. Abisha hanya diam, dan menatap Daffin yang menatap dirinya.
"Aku ini Daffin, suami kamu."
Flashback off
Daffin sudah berada disamping, Abisha. Ia hanya diam, menunggu reaksi Abisha. Ya, Abisha kaget melihat kehadirannya yang tiba-tiba ada dikamar, Abisha.
__ADS_1
"Ngapain kamu disini? Masuk kekamar orang sembarang."gumam Abisha kesal. Ia mendorong kursi rodanya menjauhi, Daffin. Daffin menghentikan Abisha. Abisha hanya memandangnya dengan wajah datar.
"Aku datang kesini cuman mau ngobrol. Apa kamu tidak rindu sama suami kamu?" kini Daffin sudah menyamakan posisinya dengan, Abisha.
"Apa kamu masih tidak percaya kalau aku ini suami kamu. Kamu perlu bukti apa lagi? Buku, foto nikah kita juga sudah kamu lihat. Terus, apa yang membuat kamu ragu?" Daffin berbicara dengan nada rendah. Pandangannya terus menatap Abisha dengan lekat. Tidak ada ekspresi yang Abisha tunjukan selain ekspresi datar. Abisha hanya diam. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Kamu mau'kan ikut aku pulang kerumah?" Daffin kembali membuka suara.
Abisha melirik Daffin sekilas. Kali ini ia sedang bergelut dengan pikirannya.
"Abisha ..., kamu mau'kan?"
Abisha sedikit mengeleng lalu mengerakan kursi rodanya menuju balkon kamarnya.
"Mendingan kamu pulang," suruh Abisha
Daffin hanya mengeluh pasrah. Ia bangkit dan memandangi Abisha dengan tatapan sedih. Sudah beberapa hari Abisha berada dirumah orangtuanya. Bahkan setelah sadar, ia sama sekali terlihat tidak suka kepada, Daffin.
"Yaudah, besok aku kesini lagi. Assallamuallaikum," pamit Daffin.
"Waallaikumusallam," balas Abisha. Kini tatapannya lurus memandangi pemandangan dari atas balkon kamarnya. Ia sedikit merasa bersalah kepada, Daffin. Tapi, ia benar-benar tidak menginggat, Daffin. Baginya Daffin adalah orang asing yang baru saja hadir kedalam hidupnya. Bahkan setelah sadar, Abisha hanya mau mengobrol bersama Bundanya.
Daffin keluar kamar dan didapatinya Dewi berada diluar. Daffin sedikit kaget, lalu tersenyum hambar kearah, Dewi.
"Biar bunda bantu ngomong, ya! Kamu tunggu dibawah."tutur Dewi.
"Nggak usah, bunda! Daffin ngerti kok kenapa Abisha bisa kaya gitu."
"Abisha," panggil Dewi menghampiri Abisha yang nasih berada dibalkon kamarnya.
"Bunda...," jawab Abisha sedikit tersenyum.
"Kamu ngapain?" Abisha hanya sedikit mengeleng.
"Ngobrol apa sama, Daffin?" Abisha hanya diam, Dewi tersenyum dan mengusap pelan bahu, Abisha.
"Sebagai seorang istri kamu wajib Mengikuti perintah suami kamu selagi itu tidak bertentangan dengan agama." Dewi memandang Abisha yang hanya diam. Setelah sadar Abisha memang sering diam, bahkan terkadang ia seperti orang melamun.
"Daffin hanya ingin membawa kamu pulang kerumah. Kerumah kalian! Pulanglah bersama, Daffin. Kasihan suamimu."
"Bunda ngusir, Abisha?" tutur Abisha sedih.
"Bunda nggak ngusir kamu. Tapi sekarang yang bertanggung jawab atas kamu itu, Daffin. Dia punya hak atas kamu dan kamu punya kewajiban untuk menuruti perintah suami kamu."
"Tapi, Abisha nanti malah ngerepotin dia. Abisha tidak bisa apa-apa."
"Daffin akan mengerti. Kamu pulang ya bersama, Daffin. Nanti kalo mau ngobrol sama bunda, kamu bisa kesini atau telpon bunda."
***
__ADS_1
Abisha sudah berada dihalaman rumah, Daffin. Ya, karena bujukan Dewi, Abisha mau ikut Daffin pulang. Abisha hanya diam, kini Daffin sedang mendorong kursi rodanya menuju kedalam. Terlihat nenek sudah menunggu diluar rumah.
"Abisha, kamu pulang. Nenek sudah kangen sama kamu." tutur nenek berjalan menghampiri Abihsa yang masih berada dihalaman. Abisha hanya sedikit tersenyum. Matanya terus menelusuri apa yang ada disekitarnya. Ia mencoba menginggat masa lalunya. Abisha sungguh tersiksa dengan keadaannya sekarang.
"Yaudah, kita ngobrolnya didalem aja. Kasihan Abisha! Pasti dia capek dan ingin istrihat." ucap Daffin
Mereka langsung masuk kedalam. Sampai didepan tangga Daffin berhenti. Berpikir apakah Abisha akan tidur diatas? Tapi Bagaimana? Tadi saja Daffin mengendongnya keluar dari mobil Abisha sedikit memberontak.
"Yaudah, kamu bawa Abisha kekamar. Nanti nenek bawain makanan."
Nenek langsung pergi kedapur. Abisha masih diam, matanya tak henti-henti menelusuri setiap seluk beluk rumah Daffin.
"Kita kekamar." ucap Daffin
Abisha tetap diam, Ia tidak terlalu mendengar ucapan, Daffin. Ia masih fokus bergelut dengan pikirannya.
Melihat Abisha diam, Daffin langsung mempompong tubuh, Abisha. Abisha melotot karena kaget. Ia tidak suka sikap, Daffin.
"Kamu ngapain, turunin!"
"Kita kekamar. Kamu mau istirahat'kan?" Daffin mulai menaiki tangga.
"Turunin, aku nggak mau."
"Jangan banyak gerak, nanti kita bisa jatoh. Lagian kalo nggak kaya gini, gimana caranya kamu mau pergi kekamar. Kamar kita diatas, dengan kondisi kamu seperti itu, kamu tidak akan bisa melakukannya sendiri. Kamu butuh aku, suami kamu."
"Aku bisa tidur dibawah. Apa tidak ada kamar dibawah?"
Daffin terus membawa Abisha sampai kekamar mereka. Ia membawa Abisha kekasur. PandanganAbisha langsung terarah kepada foto pernikahannya bersama, Daffin. Foto yang juga ada didalam kamarnya yang ia lihat kemarin.
Daffin mengambil foto itu, karena melihat arah pandangan Abisha selalu tertuju kesana. Foto berukuran sekitar 25×15 cm itu, tepat terletak disampaing Abisha, langsung Daffin berikan kepada Abisha. Abisha menunduk melihat foto itu. Kenapa ia tidak bisa menginggatnya. Airmatanya mengalir, ia ingin menginggat masa lalunya. Tapi kenapa tidak bisa.
Daffin yang melihatnya langsung mengusap air mata yang mengalir dipipi, Abisha. Namun tangannya Abisha tepis kasar.
"Kamu pergi dari sini." suruh Abisha sedikit marah.
"Kenapa? Aku ini suami kamu. Tidak baik kamu bersikap seperti itu kepada suami kamu."
"Kamu pergi, hiks... hiks... " Abisha mulai menaggis sambil menahan sakit dikepalanya. Daffin yang melihat itu langsung membawa Abisha kedalam pelukannya. Ia khawatir melihat kondisi Abisha seperti itu.
"Pergi ...." Abisha berusaha mendorong tubuh Daffin yang memeluknya erat. Tapi tenaganya benar-benar lemah.
"Tenang Abisha." ucap Daffin sesekali ia mengecup pucuk kepala Abisha. Air matanya ikut meleleh. Seketika ia melihat Abisha sudah diam. Dan ternyata Abisha pingsan. Daffin membaringkan Abisha, Membersihkan sisa-sisa airmata yang mengalir dipipinya. Daffin manarik selimut untuk menutupi setengah tubuh, Abisha. Daffin kembali berjongkok dan mengambil salah satu tangan, Abisha.
"Kenapa? Kenapa jadi seperti ini?"lirih Daffin lalu mengusap kepala, Abisha.
Diluar, nenek yang melihat itu merasa sedih. Niatnya tadi kesana membawakan Abisha makanan. Namun, melihat kondisi Abisha yang seperti itu ia memilih untuk diam dan melihat dari luar.
"Semoga kamu cepat sembuh." lirih nenek lalu memilih untuk turun kembali.
__ADS_1
Happy reading.