
Tiiiittt...
Suara peringatan dari alat ruang operasi dokter Rainia membuat dokter Hoo segera melaporkannya.
"Dokter. Tekanan darah pasien menurun drastis.." Dokter Rainia yang mendengarnya hanya diam dan lanjut fokus pada pekerjaannya.
"Suction.." Pintanya. Suctionpun dilakukan. "Aku mendapatkannya.!" Dokter Rainia berseru lega. "Benang jahit nomor tiga." perintahnya lagi.
Seorang perawat segera memberikan yang dokter Rainia pinta. Dokter Rainia berkonsentrasi penuh pada pasiennya.
"Tekanan darah sudah kembali stabil." Lapor dokter Hoo.
"Syukurlah.." Gumam semuanya lega.
Setelah masa kritis pasiennya terlewati, barulah dokter Rainia menjawab pertanyaan perawat Han.
"Kenapa.?" tanya Rainia sementara tangannya masih sibuk mengaduk aduk tubuh pasien. Sementara perawat Yoori dengan sigap melap keringat yang bercucuran di dahi dokter Rainia.
"Dok dok do dok ter...." Perawat Han tersadar. mencoba menyusun kembali kata katanya dan mengatakannya kepada dokter Rainia.
"Bicaralah dengan baik.! Kau tidak gagap kan.??" Hardik Rainia tajam. Ia masih berkonsentrasi pada pasien. Begitulah Rainia, ia tidak berubah meskipun sekarang ia tidak sedang di negaranya.
"Dokter Rainia, maaf mengatakan ini. Dokter Eunri tidak bisa melakukan operasinya. Pasien mengalami demam sampai 38,7° tekanan darahnya menurun drastis. Dan dan dan darah mengenai pangkreas. Saat ini sedang di lakukan penyerapan darah, tapi kondisi pasien semakin memburuk." Perawat Han menjelaskan dengan suara bergetar namun masih bisa didengar jelas oleh Rainia.
Dokter Rainia yang mendengar darah mengenai pangkreas dari perawat Han sejenak menghentikan pekerjaannya. Sesaat kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya sembari berpikir.
"Dokter Eunri meminta saya pergi mencari bantuan, tapi tidak ada dokter bedah. Semuanya sedang berada di ruang operasi. Saat saya kembali saya melihat nama anda jadi saya berpikir untuk meminta bantuan anda. Saya tidak tahu lagi harus meminta bantuan siapa.." Ujar perawat Han dengan wajah yang tertunduk dalam.
"Tidak bisakah kau melihat pasien dihadapanku ini sedang bertahan hidup.? Dan kau meminta aku untuk meninggalkan dia.? Dasar bodoh.! Tidak berguna.."
Caci maki yang keluar dari mulut dokter Rainia membuat mereka yang ada di ruangan itu menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Perawat Han yang mendengar umpatan Rainia yang bagaikan bom yang meledak membuat matanya memerah menahan tangis. Ia mengira bahwa Rainia memarahinya.
"Dokter...." perawat Han bergumam lirih.
"Baiklah aku akan melakukannya.." Ujar dokter Rainia membuat mereka terbelalak tidak percaya.
__ADS_1
"Apa.??" Beo beberapa anggota timnya tidak percaya akan keputusan Rainia. Apa orang ini gila.? pikir mereka.
"Dokter.." Dokter Ahn memanggil Rainia mencoba mengingatkan akan resiko berat dari keputusan konyol nya.
Bukan Rainia namanya jika ia mendengarkan protesan dari timnya. Bahkan di Indonesiapun ia sering mengambil langkah ekstrim untuk menyelamatkan pasien.
Sesuai dengan sumpah dokter dan janjinya kepada sang ayah, ia bertekad untuk menyelamatkan setiap nyawa pasien meskipun dengan resiko tinggi sekalipun.
"Dengar baik baik. Kita memiliki dua pasien sekaligus yang di operasi secara bersamaan. Pertama, buka pembatas ruang operasi. Dokter Hoo tetap disini bersama pasien ini. Dokter Ahn segera ganti baju dan sarung tanganmu, ikut perawat Han dan ambil alih pasien yang ada di ruang operasi tiga dari si bodoh itu. Dokter Yue tetap jaga agar kondisi pasien tetap stabil." Dokter Rainia memberikan perintah sementara tangannya terus bekerja menangani pasien.
Setelah mendengar perkataan terakhir dokter Rainia, mereka tersenyum lega. Ternyata si bodoh yang dokter Rainia maksud adalah dokter Eunri bukan perawat Han.
"Perawat Yoori tolong bantu aku mengganti gaun bedah dan sarung tangan secepat mungkin."
"Baik dokter."
"MULAI..." Perintah dokter Rainia tegas.
Catatan: Ini hanya fiktif tidak terjadi di dunia nyata.
"Dokter baru ini sangat berani. Kurasa kali ini akan menjadi operasi yang paling menegangkan" Batin seluruh tim operasi dokter Rainia juga perawat Han di dalam hati masing masing.
"Dokter Hoo, lanjutkan ini. Aku akan ke ruang operasi sebelah. Selesaikan bagian bawah lebih dulu, aku akan kembali setelah kau menyelesaikannya. Aku percaya pada kalian." Ujar Rainia sebelum akhirnya pergi ke ruang operasi sebelah.
"Kami mengerti.!" seru mereka serempak menyanggupi perintah dokter Rainia. Sementara dokter Hoo mengangguk paham akan tugasnya. Dokter Yue mengambil tindakan untuk antisipasi.
"Bawakan aku lima kantong darah." Perintah Rainia pada salah satu perawat.
Dokter Rainia segera bersiap memulai peperangannya. Ia berdiri dari duduknya setelah meletakkan alat bedah dan berjalan ke ruang operasi sebelah. Perawat Yoori dan perawat Han membantu melepaskan sarung tangan dari kedua sisi, mencopot gaun bedah dan menggantinya dengan yang baru. Dengan langkah pasti Rainia berjalan ke ruang operasi untuk mengambil alih pasien.
Dokter Rainia langsung bertindak. Menyambut selang untuk menyerap darah di pangkreas pasien dari tangan dokter Eunri. Dokter Eunri sontak terbelalak ketika mengetahui bahwa dokter Rainia yang membantunya dan meninggalkan pasiennya, menangani dua pasien sekaligus. Tidak menghiraukan ekspresi tidak percaya dokter Eunri, Rainia membenarkan letak selang yang sebelumnya tidak benar itu.
"Bukankah sudah kukatakan agar kau mengambilnya alih dari si bodoh ini.? Kau tidak dengar ha..?" Rainia membentak dokter Ahn.
"Dokter Eunri tidak membiarkanku." ujar dokter Ahn sembari melirik dokter Eunri.
__ADS_1
Dokter Eunri terlihat marah sekali. Ini akan membuat dirinya semakin kalah dari dokter baru itu.
"Kau asisten bedahnya.?" Tanya Rainia tajam kepada orang yang ada di depannya yang di balas dengan anggukan kakunya.
"Begini saja kau juga tidak bisa.? Lain kali pilihlah dokter bedah yang pintar." Sindir Rainia tajam.
"Kondisi pangkreas sudah kembali stabil.!" dengan raut wajah senang perawat Hana melaporkan.
"Tanda tanda vital pasien sudah kembali stabil." dokter anastesi turut menambahi keberhasilan dokter Rainia.
Dokter Eunri menatap terpaku kepada dokter Rainia. Ia masih belum percaya, bagaimana bisa hanya dengan dipegang oleh dokter Rainia pangkreas bisa stabil di susul dengan tanda tanda vital yang stabil pula.
"Perlihatkan aku CT-Scannya.!" Perintah Rainia.
Seorang perawat menyerahkan apa yang di pinta oleh dokter Rainia. Rainia segera mengamati dengan teliti berkas yang kini di tangannya.
"Apa kau yang menjahit operasi sebelum ini.?" Tanya Rainia menatap tajam dokter Eunri.
"Tentu saja itu aku.! Apa kau pikir hanya menjahit bekas operasi saja aku tidak bisa.?!" Jawab dokter Eunri dengan angkuhnya. Ia sangat kesal dan juga merasa tidak terima.
"Bodoh..! Benar benar bodoh." Tukasnya. "Jahitan mesentery tidak benar. Akibatnya usus kecil masuk kedalam." Rainia menunjukkan kejanggalan yang ia temukan pada operasi sebelumnya. Sangat jelas bahwa luka operasi tidak terjahit dengan benar.
Dokter Eunri tentu saja malu bukan kepalang atas pernyataan yang di lontarkan oleh dokter Rainia. Terlebih lagi semua orang yang hadir disitu turut pula mendengar akan kebodohannya itu.
Tak ingin membuang waktu, Rainia segera bertindak untuk mengatasi kekacauan yang dibuat oleh dokter Eunri. Tangannya sudah bergerak lincah di perut pasien berusaha memperbaiki keadaan perut dan usus pasien.
"Dokter Ahn berikan ia larutan saline agar ususnya normal."
Tanpa banyak bertanya dokter Ahn langsung melakukan perintah dokter Rainia. Kondisi usus pasien mulai kembali normal. Hal ini tentu saja mengundang decak kagum oleh orang seisi ruangan termasuk dokter Eunri walaupun sebenarnya ia enggan untuk mengakui keterampilan dokter Rainia. Kondisi pasien yang awalnya sangat gawat bisa di selesaikan hanya dalam kurun waktu yang singkat oleh dokter Rainia.
Tak lama kemudian perawat Yoori datang.
"Dokter Rain. Dokter Hoo sudah menyelesaikan bagian bawahnya." Lapornya yang di angguki oleh Rainia.
"Berikan dia obatnya." Perintah Rainia kepada dokter asisten dokter Eunri. "Dan jangan membiarkan pengacau ini menyentuh tubuh pasien. Jika sekali saja kau membiarkan pengacau ini menyentuh pasien, aku tidak akan segan untuk melaporkan tim kalian karena kebodohan ini." Tambahnya dengan wajah datar dan tegas yang membuat dokter Eunri naik pitam.
__ADS_1
Dokter Rainia meninggalkan ruang operasi tiga kembali keruang operasinya di ruang empat. Perawat Yoori dan perawat Hana kembali melepaskan gaun bedah dan sarung tangan kemudian membantu dokter Rainia menggantinya dengan yang baru. Dokter Rainia berlari kecil dan mengambil alih operasi ruang empat. Dan terus melakukannya bolak balik hingga operasinya selesai