The Doctor

The Doctor
Episode 26 Daffin kecewa


__ADS_3

Daffin sudah bersiap-siap ingin pulang. Ia sudah berjanji ingin menjemput istrinya yang belanja diminimarket.


"Dok, saya duluan." pamitnya kepada dokter Farhan.


"Iya, pengantin baru mah, nggak bisa jauh-jauh dari istri. Kangen mulu bawaannya." goda Dokter Farhan.


"Apa sih, dok." balas Daffin terkekeh. Memang benar, sih! Lanjutnya dalam hati.


"Saya dulu juga gitu. Jadi, kamu nggak bisa bohong."


"Apa sih, dok. Yaudah saya pulang duluan. Assallamuallikum." Daffin langsung bergegas keluar. Setidaknya nanti ia bisa membantu istrinya belanja.


"Waallaikumussallam. Pulang juga, Deh. Lagian jam kerja juga udah habis. Kangen istri." gumamnya terkekeh.


Daffin berjalan menuju parkiran sedikit tergesa. Namun, langkahnya terhenti mendengar suara Wulan memanggilnya.


Wulan tersenyum, membuat Daffin bertanya kenapa, dalam hatinya. Padahal sekarang ia sedang buru-buru.


"Selamat, ya ... atas pernikahan kamu. Semoga menjadi keluarga sakinah mawadah wadahmah."


Daffin sedikit tersenyum."Aamiin, maaf waktu itu nggak ngundang kamu. Soalnya saya cuman undang keluarga dan kerabat yang bersangkutan saja."


"Tidak apa-apa! Saya mengerti."


"Makasih! Kalau gitu saya duluan. Assallamuallaikum,"


"Waallaikumussalam." balas Wulan.


Daffin menjakankan motornya menuju minimarket yang Abisha bilang. Abisha sudah sampai disana sekitar 20 menit yang lalu katanya. Ia tidak mau membuat istrinya kerepotan belanja sendiri.


...***...


"Abisha," panggil seseorang. Suaranya tidak asing. Abisha menoleh dan didapatinya Azka dibelakangnya.


"Azka,"


Abisha dan Azka berada ditempat cemilan. Abisha sudah belanja barang dapur dan pesanan neneknya. Ia hanya ingin mencari sedikit cemilan, dan beberapa makanan ringan untuk stok dirumah.


"Apa kabar?" tanya Azka canggung. Lukanya kembali hadir, dan sekarang ia akan menanyakan itu langsung kepada, Abisha. Mumpung lagi ketemu.


"Alhamdullillah, baik. Kamu sendiri?"


"Alhamdullillah,"balas Azka.


"Kamu kuliah dimana? Kok nggak pernah liat kamu sama Manda atau Aurin dikampus?" Azka, Pasya, Aurin dan Manda memang satu kampus. Namun, mereka cuman berbeda jurusan.


"Aku nggak kuliah." jawabnya tersenyum.


Azka tersenyum kecut. Kenapa hatinya begitu sakit."Aku dengar kamu sudah menikah? Kenapa nggak ngundang? " tanya Azka. Terlihat bahagia, namun nyatanya sakit.


Entah kenapa jantung Abisha berdesir mendengar kata itu. Apa mungkin karena Abisha pernah menyukai, Azka?


"Maaf, soalnya hanya keluarga yang diundang. Aku juga cuman undang Fitri dan suaminya, terus Aurin dan Manda"


"Kamu sudah bahagia. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah."


"Aamiin ... terima kasih, Azka."


Azka sedikit tersenyum"Aku duluan, assallamuallaikum." Azka mengambil satu kerupuk dan mengambil Air botol sebelum pergi.


"Waallaikumussallam,"

__ADS_1


"Maaf jika aku masih menganggumimu. Tapi jujur, rasa itu hanya sebatas kagum. Tidak lebih! Karena menurutku, Rasa kagum itu tidak akan hilang, kecuali sosok


yang membuat kita kagum berubah."


Diposisi lain, Daffin melihat semuanya. Walaupun ia tidak mendengar jelas. Namun, jika sudah Azka kenapa emosi Daffin jadi naik begitu. Daffin mengepal tangannya. Ia berjalan keluar, menunggu Abisha disana. Ia duduk dikursi depan nimimarket.


"Kenapa? Kenapa harus selalu Azka?"


Daffin melihat Azka keluar. Ingin rasanya ia menojok, Azka. Namun, Daffin menahan itu. Tidak lama Azka menjalankan motornya menuju rumah sakit untuk menjemput kakaknya.


"Kak Daffin," panggil Abisha. Daffin menoleh dengan tatapan datar.


"Kita pulang sekarang." ucap Daffin berjalan menuju motornya begitu saja.


Abisha mengikuti Daffin dengan membawa 2 kantong plastik cukup besar. Daffin membuka jok dan menyuruh Abisha menyimpan salah satu plastik disana. Sedangkan satunya Daffin simpan didepan.


Daffin sudah naik dan diikuti oleh, Abisha. Abisha duduk miring karena mengunakan rok.


"Bahkan untuk berpegangan dengan suamimu saja kamu enggan, Abisha." batin Daffin. Ia melihat Abisha hanya berpegangan di ujung tempat duduk. Tidak seperti pasangan lain yang memeluk suaminya ketika dibonceng.


Daffin menjalankan motornya menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh. Setelah sampai Daffin membawa belanjaan masuk dan langsung menyimpannya didapur.


"Kalian udah sampai?"


Daffin dan Abisha menyalimi neneknya.


"Iya, nek."


"Daffin keatas dulu, ya, nek." pamit Daffin.


"Iya,"


Daffin menuju kekamarnya. Sedangkan Abisha merasa ada yang aneh dengan tingkah suaminya.


"Nggak usah. Kamukan baru pulang. Sini, nenek bantu buat simpen makanan yang kamu beli."


"Nggak usah, nek. Biar Abisha aja."


"Yaudah, kamu mau masakan? Nenek bantu potong-potong sayur, ya."


"Iya! Abisha ambil sayurnya dulu." Abisha berjalan menuju kulkas dan mengambil beberapa sayur untuk menu nanti malam. Jam menunjukan pukul 5 sore. Mungkin Abisha masih bisa ngejar waktu.


Abisha menyimpan Sayur diatas meja. Abisha juga sudah menyiapkan wadah, talenan, dan pisau untuk keperluan. Neneknya mulai memotong sayuran. Sedangkan Abisha memasak nasi. Setelah selesai ia mengemasi makanan yang ia beli. Menempatkannya didalam lemari.


Selesai masak, Abisha merapikan meja makan. Menyiapkan piring air dan tentunya menghidangkan makanan disana. Nenek juga sudah pergi kekamar beberapa menit yang lalu. Abisha melirik jam, 10 menit lagi jam 6 sore. Ia bergegas naik keatas untuk segera mandi. Sampai diatas ia melihat Daffin yang sudah rapi ingin kemasjid.


"Kak Daffin mau kemesjid."


"Iya, aku pergi dulu." Daffin langsung turun kebawah. Lagi-lagi Abisha merasa aneh. Namun, Abisha menepis pikirannya. Ia segera pergi kekamar dan mandi. Tidak lama azan magrib berkumandang. Abisha melaksanakan kewajibannya. Setelah selesai ia akan mengaji.


Setelah isya, Abisha duduk diruang tamu bersama nenek. Daffin belum pulang dari masjid.


"Udah salat?" tanya nenek


"Alhamdullillah ... udah, nek."


"Assallamuallaikum," terdengar suara salam, Daffin.


"Wallaikumussalam," balas nenek dan Abisha.


"Baru pulang? Tumben lama?"

__ADS_1


"Tadi ngobrol sama tetangga nek diluar. Yaudah, Daffin keatas , Daffin mau istirahat."


Daffin langsung menuju keatas. Nenek merasa heran, tidak biasanya Daffin seperti itu. Biasanya ia akan pergi istirahat setelah neneknya pergi kekamar.


"Abisha, kamu ada masalah sama, Daffin?"


"Seinget Abisha sih nggak ada, nek."


"Tapi, Daffin kenapa? Yaudah lebih baik kamu susul, Daffin. Tanya, apa dia lagi ada masalah. Nenek mau kekamar."


Nenek beranjak dari duduknya dan langsung menuju kamarnya. Abisha masih diam. Perasaan Abisha tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi, sikap Daffin memang agak berbeda. Sewaktu makan malam ia juga hanya diam. Bahkan dari tadi sore. Tidak seperti biasa yang banyak bicara.


"Kak Daffin kenapa, ya?" Gumamnya.


Abisha bangkit dan menuju kamar. Disana terlihat Daffin sedang membaca sebuah buku diatas ranjang. Abisha masuk dan menutup pintu. Daffin benar-benar tidak menghiraukan kehadirannya. Apakah dia benar marah? Tapi kenapa?


Abisha memilih duduk disofa panjang. Ia mengambil hpnya. Ia melihat Daffin yang masih sibuk membaca buku.


"Apa kak Daffin benar-benar marah? Tapi kenapa?" batin Abisha menatap Daffin.


"Kak Daffin!" Panggil Abisha. Daffin hanya bergumam matanya masih fokus membaca buku.


"Kak Daffin marah sama, Abisha? Maafin Abisha."


Daffin menghembus napas kasar. Ia manatap Abisha dengan wajah datar.


"Kamu tau, apa yang kamu buat hari ini? Kamu buat aku kecewa, Abisha. Kenapa kamu nggak bisa jaga perasaan suami kamu?"


Dada Abisha berdegup kencang. Kesalahan apa yang ia buat sampai Daffin marah kepadanya. Abisha berjalan mendekat kearah Daffin dan duduk disana.


"Abisha minta maaf kalo Abisha udah bikin kak Daffin kecewa. Tapi tolong jelasin sama Abisha, ada apa?"


"Kamu mencintai, Azka? "


Abisha terkejut"Kenapa kakak ngomong seperti itu?" tanya Abisha menatap Daffin tidak percaya.


"Kenapa kamu mau menikah sama saya. Kenapa tidak sama Azka saja."


Sakit rasanya hati Abisha mendengar tuturan, Daffin. Ia menatap Daffin dengan tatapan sedih. Sedangkan Daffin memalingkan wajahnya dari, Abisha.


"Karena Abisha mencintai, kakak."


Daffin tersenyum kecut" Kamu menemui Azka'kan tadi?"


"Abisha memang ketemu, Azka. Tapi nggak sengaja."


"Kalian tampak bahagia. Sudah berapa lama kita menikah? Hampir satu bulan. Namun, menyentuhmu saja tidak pernah. Harusnya saya sadar, kenapa kamu bersikap seperti itu, karena kamu tidak mencintai saya."


Abisha hanya diam. Dia memang belum pernah memberikan hak Daffin . Tapi, Daffin juga tidak pernah memintanya. Abisha memang pernah bilang kalau ia belum siap punya anak. Mungkin itu yang membuat Daffin tidak meminta haknya. Tapi bukan berarti Abisha tidak mau memberikan hak, Daffin.


"Kak, Abisha benar-benar tidak sengaja bertemu, Azka. Abisha sama Azka hanya temenan, nggak lebih. "


"Tapi kenapa kamu masih menemuinya?"


"Abisha nggak sengaja ketemu. Udah itu aja nggak lebih. Abisha minta maaf, Abisha ngaku salah. Tapi kak Daffin jangan marah lagi."


"Kamu mencintai suamimu?"


"Iya, Abisha cinta kakak."


"Jika kamu benar-benar cinta sama saya. Buktikan. Berikan hak saya malam ini. Jadilah istriku seutuhnya malam ini."

__ADS_1


Happy reading!


__ADS_2