The Doctor

The Doctor
episode 28


__ADS_3

"Astaghfirullah," ucap Daffin kaget ketika seseorang menepuk pundaknya begitu kuat dari belakang.


Daffin melihat kebelakang dan disana sudah berdiri Fahri yang sedang tertawa puas.


Fahri terkekeh,"Gitu aja kaget,"


"Gimana nggak kaget? Kamu dateng-dateng bukannya nyapa malah ngagetin orang."


"Maaf-maaf."


Daffin memandangi temannya penuh selidik. Temannya kali ini terlihat sangat bahagia.


Fahri yang melihat Daffin seperti itu, menaikkan satu alisnya,"Kenapa?"


"Kamu ada kabar baik?"


Fahri tersenyum lalu mengangguk mantap.


Daffin ikut tersenyum," Diterima?" tanya Daffin.


"Alhamdulillah," jawab Fahri tersenyum bahagia.


Daffin ikut tersenyum lalu merangkul Fahri" Selamat, ya. Nanti jangan lupa undangannya."


"Siap!"


"Kapan kamu ngelamar, Wulan?"


"Semalam."


"Owh ... Yaudah, selamat kalau gitu. Akhirnya, temen saya yang satu ini mengakhiri masa jomblonya. Jangan lupa ngundang loh nanti."


"Jomblo-jomblo. Saya nggak ngerasa jomblo. Lagian bukan mengakhiri masa jomblo tapi lajang."


Daffin hanya tertawa, namun sama saja pikirnya.


***


"Kak, kita mau kemana?" tanya Abisha.


Mereka sudah berada didalam mobil. Kata Daffin, ia hari ini mau mengajak Abisha keluar. Abisha sempat menolak, karena tidak tega meninggalkan nenek sendiri dirumah. Namun, kata nenek dia akan baik-baik saja dan malah menyuruh Abisha pergi bersama, Daffin.


"Kita ketempat makan. Selama menikah, kita belum pernah pergi atau makan diluar.  "


"Owh ...,"


Abisha mengalihkan pandangannya keluar.  Mobil sudah jauh bergerak. Entah kenapa, Abisha jadi rindu keluarganya.


Daffin melihat Abisha yang menampilkan wajah sedih.


"Abisha kamu kenapa? Kamu nggak mau ya, kalo pergi ketempat makan?"


"Nggak, Abisha mau." jawab Abisha sedikit tersenyum.


"Terus kenapa kaya sedih gitu mukanya? Kamu lagi ada masalah, atau kamu lagi kangen sama keluarga kamu?"


"Nggak, Abisha cuman mikir aja, udah lama nggak ketemu bunda, ayah, adik-adik Abisha."


Daffin mengusap pucuk kepala Abisha sambil tersenyum,"Kalo kamu kangen, kamu bisa main kesana."


Abisha hanya tersenyum. Tidak lama mobil terparkir dihalaman tempat makan. Abisha dan Daffin turun lalu melangkah kaki masuk kedalam.


Mereka duduk disalah satu meja. Daffin memanggil pelayan dan memesan makanan sesuai dengan kemauan, Abisha.


"Ini Dinner pertama kita diluar," tutur Daffin.


Memang selama menikah, mereka belum pernah makan berdua diluar. Bukan apa, Abisha cukup mengerti dengan posisi Daffin yang sibuk bekerja.


"Iya ...,"


"Silahkan ...," ucap Seorang pelayan mengantarkan makanan mereka.

__ADS_1


"Makasih, mbak." ucap Abisha tersenyum ramah dan dibalas anggukan oleh pelayan tersebut.


"Makan yang banyak supaya cepet gedenya."


Abisha memandang Daffin yang tersenyum kepadanya.


"Udah gede."


"Tapi masih polos." jawab Daffin terkekeh.


Abisha sedikit kesal. Abisha memilih diam dan memakan makanannya saja.


"Becanda. Istri Daffin udah nggak sepolos dulu. Udah ngerti dia sekarang." goda Daffin.


Abisha sungguh tidak mengerti maksud kata polos yang Daffin maksud. Suaminya itu memang suka membuatnya binggung.


"Nyenye...," balas Abisha lalu memasukkan makanan kedalam mulutnya. Daffin yang melihat itu hanya terkekeh.


"Habis ini kita jalan-jalan. Ada pasar malam dideket sini. Mau?" tanya Daffin.


Abisha tersenyum. Sudah lama sekali ia tidak pergi kepasar malam. Pasti seru, pikirnya. Apalagi perginya bersama pasangan halal.


"Iya,"


Mereka melanjutkan makan. Sesekali mereka juga mengobrol. Daffin sudah selesai, kini ia hanya menunggu istrinya saja.


"Kenapa wanita lambat sekali makan?" tiba-tiba pertanyaan itu muncul dari mulut Daffin.


"Karena laki-laki yang makannya terlalu cepat." jawab Abisha santai.


"Lah, Bisa gitu."


Daffin meminum minuman Abisha dengan santainya. Abisha sedikit terkejut, padahal minuman Daffin masih ada.


"Kak Daffin salah minum. Itu punya, Abisha."


"Iya, tau. Aku cuman mau rasa punya kamu aja."


Abisha hanya diam, lalu meminum airnya yang tinggal sedikit lagi. Abisha melanjutkan makan yang hanya tinggal beberapa suap lagi. Daffin hanya memandangi istrinya. Entah kenapa, Daffin tidak bosan-bosan untuk memandangi istrinya itu.


"Iya,"


Daffin beranjak dan langsung meninggalkan Abisha untuk pergi ketoilet.


Abisha melanjutkan makannya, didalam hatinya, ia harus sudah selesai makan ketika Daffin kembali.


Diposisi yang sama Danil baru saja masuk kedalam kafe tersebut.  Hari ini ia ada janjian bersama temannya. Ia melangkah kedalam sambil mencari temannya. Tiba-tiba, matanya tidak sengaja melihat Abisha yang sedang makan sendiri. Jujur, hati Danil bahagia bisa melihat Abisha lagi. Setelah kejadian waktu itu, Abisha benar-benar menghilang dari kehidupannya.  Danil melangkah menghampiri, Abisha.


"Abisha," sapa Danil dengan senyum manisnya.


Abisha menoleh . Entah kenapa ia merasa was-was. Jantungnya berdetak , ia tidak tau apa yang ia rasakan. Takut mungkin. Abisha hanya bisa menelan salivanya. Ia kembali menunduk dan meminum minumannya.


"Abisha, kamu masih marah. Tolong, maafin aku. Kamu jangan ngejauh, Abisha." mohon Danil.


Danil melihat meja makan, Abisha. Dia berpikir Abisha tidak pergi sendiri kesana. Karena ada bekas piring kotor disana.


"Aku mau bicara sebentar, tolong dengerin aku." mohonya lagi.


"Iya ...,"


"Tapi nggak disini. Kamu ikut aku," Danil tiba-tiba memegang pergelangan Abisha


Membuat Abisha spontan berdiri. Abisha menepis tangan Danil dengan kesal.


"Kalo mau bicara disini aja. Aku nggak mau nanti suami aku nyariin aku kalo aku nggak disini." ucap Abisha.


Danil terkejut mendengar tuturan, Abisha. Suami? Danil terkekeh, merasa ucapan Abisha itu hanya bohong karena ia tidak ingin kalau dirinya diganggu, Danil.


"Abisha kamu jangan bercanda. Kamu cuman bohongkan?"


Abisha mengerutkan kening! Apa yang salah. Dirinya memang sudah menikah. Apa Danil belum tau, pikirnya. Padahal Fahri abangnya datang kepernikahan Abisha.

__ADS_1


"Aku memang sudah nikah."


Danil masih terkekeh,"Aku nggak percaya, yaudah kita bicara ditaman depan." Danil tiba-tiba menarik Abisha begitu saja. Abisha memberontak, namun ia tidak bisa melawan tenaga, Danil.


"Danil lepasin."


Danil terus menarik Abisha dan membawanya ketaman depan kafe. Danil melepas tangan Abisha dan menyuruhnya untuk duduk dikursi taman.


"Duduk dulu," titah Danil sambil tersenyum. Abisha hanya memandangnya dengan kesal dan tidak menanggapi ucapan, Danil.


Abisha menghembus napas dengan sedikit keluhan"Kamu mau ngomong apa?" tanya Abisha yang masih berdiri. Ia berjalan kedepan beberapa langkah untuk menjauhi, Danil.


"Makanya, duduk dulu supaya kita ngobrolnya juga santai."


Abisha menoleh kearah Danil." Danil, aku udah bilang, aku kesini sama suami aku. Jadi aku pergi. Aku nggak mau buat dia khawatir nyariin aku nanti."


Danil menahan, Abisha. Ia benci mendengar ucapan Abisha tentang suami.


"Kamu berhenti berbohong. Aku ajak kamu kesini cuman mau bilang buat kamu mau tungguin aku. Aku janji setelah lulus nanti, aku akan ngelamar kamu. Kamu tau, entah berapa ratus pesan aku kirim sama kamu, Tapi, kamu baca aja enggak. Aku udah lama cari kamu, Abisha. Aku cinta sama kamu."


Abisha hanya menatap Danil dengan biasa-biasa saja. Namun hatinya Sedikit tidak menyangka mendengar tuturan, Danil.


"Danil aku sudah bilang, aku sudah menikah. Dulu aku juga udah pernah  bilangkan, jangan berharap lagi."


"Enggak,  Abisha. Kamu bohongkan?" tatapannya sedikit nanar.


"Aku serius. Kamu lihat ini," Abisha menunjukan cincin pernikahannya.


"Ini cincin pernikahan aku. Aku menikah sebulan setelah kelulusanku. Kalo kamu masih nggak percaya, kamu bisa tanya sama abang kamu. Fahri. Dia datang dipernikahanku waktu itu." tambah Abisha.


Hati Danil bagai disambar petir. Rasanya sakit. Danil tidak terima.


"Enggak, Abisha! Aku nggak terima." tekan Danil. Ia begitu tidak terima. Bagaimana pun ia begitu mencintai Abisha dan tidak membiarkan Abisha pergi darinya.


"Danil, apapun alasannya kamu harus terima. Aku harap, kamu jangan ganggu aku lagi." pinta Abisha.


Mata Danil memerah. Danil tiba-tiba memeluk, Abisha. Ia tidak terima. Ia mencinta, Abisha.


Abisha sedikit terkejut, ia mencoba melepaskan pelukan, Danil. Namun Danil memeluknya begitu erat, sambil memohon kepada Abisha untuk memberinya kesempatan. Ia masih belum percaya kalau Abisha sudah menikah.


"Danil, lepasin."


Tiba-tiba datang seorang langsung melepas pelukan Danil dan langsung memukul bagian wajah, Danil.


Abisha sedikit terkejut."Kak Daffin," ucap Abisha lirih.


Napas Daffin sudah memburu. Siapa yang terima jika istrinya dipeluk lelaki lain.


Danil memegangi sudut bibirnya. Kini pandangan sudah beralih kearah, Daffin. Sorot matanya begitu tajam memandanggi Daffin yang ia kenal sebagai teman abangnya.


"Kenapa lo pukul gue?" tanyanya sedikit emosi.


"Dan kenapa kamu peluk istri saya?" tanya balik Daffin.


Kaget. Itulah yang dirasakan, Danil. Pandangannya beralih kepada Abisha yang kini tengah memegang salah satu tangan Daffin untuk menenangkan, Daffin. Raut wajahnya terlihat ketakutan, karena melihat Daffin dan Danil bertengkar.


"Abisha dia ...,"


"Saya suaminya. Jadi, jauhin istri saya." Ingat Dafin penuh penekanan. Ia sebenarnya sudah dari tadi melihat Abisha dan Danil . Ia mendengar semua ucapan yang diucapkan Danil pada istrinya.


"Abisha, aku akan tetap perjuangin cinta aku sama kamu."


Danil berlalu pergi. Entah apa yang ada dipikirannya. Daffin ingin sekali menghajar Danil, namun Abisha menahan tangannya.


"Dia nggak bisa gitu. Kamu ini istri aku."


"Kak, Abisha tau. Tapi, Abisha yakin, Danil nggak serius ngomong kaya tadi." tutur Abisha.


"Kalau dia nekat gimana?"


"Nggak mungkin! Abisha tau, Danil. Mungkin tadi dia lagi emosi aja. Yaudah, kita pulang aja."

__ADS_1


Daffin mengikut saja. Pikirannya sungguh khawatir. Apalagi Danil begitu menyukai, Abisha.


Happy  Reading


__ADS_2