
Abisha saat ini sedang berada didapur menyiapkan sarapan pagi. Jam menunjukan Sekitar pukul setengah 6 pagi. Abisha sebenarnya belum terlalu bisa masak. Namun, jika tidak masak, merasa tidak enak. Apalagi ini dirumah suaminya. Kemarin nenek juga sempat mengajarinya masak.
Abisha pagi ini hanya memasak nasi goreng. Kadang ia geli sendiri melihat masakannya. Entah kenapa, Abisha merasa masakannya itu tidak enak.
"Kamu masak?"tanya Daffin tiba-tiba.
Abisha menoleh kesumber suara. Terlihat Daffin sudah duduk ditempat makan.
"Iya,"
"Keciuman sampe keatas baunya. Pasti enak."
Abisha tersenyum geli. Kenapa rasanya ingin tertawa. Dari rupa memang tidak terlalu buruk. Tapi rasa? Menurut Abisha juga tidak terlalu buruk. Tapi, entah kenapa Abisha tidak percaya diri. Rasanya merasa insecure kalo masalah masak.
Abisha mematikan kompor dan menyimpan nasi goreng tersebut kedalam sebuah tempat. Lalu berjalan membawanya kemeja makan.
"Udah boleh makan?"tanya Daffin ketika melihat Nasi itu sudah dihadapannya.
"Nanti," balas Abisha
Ia kembali kebelakang dan membersihkan tempat yang kotor.
"Udah laper!" Keluh Daffin seperti anak kecil.
"Mandi dulu aja, kak."suruh Abisha yang sibuk mencuci peralatan masak.
Daffin mendekati Abisha, melihat apa yang dilakukan istrinya. Sungguh hijabnya sangat menganggu pekerjaan istrinya.
"Kenapa nggak buka hijab aja. Kan dirumah. Jadi ribetkan cuci piringnya."
"Nggak papa. Abisha udah biasa kaya gini."
Abisha menyimpan peralatan ditempat semula. Ia mengelap tangannya yang basah. Sedangkan Daffin masih setia menunggu istrinya. Hanya bantu melihat.
"Udah siang,kak! Kok belum mandi? Bukannya kata kakak hari ini udah masuk kerja?"
Daffin hari ini memang sudah masuk kerja. Ia hanya mengambil cuti beberapa hari.
"Temenin," pinta Daffin.
Daffin hanya membuat Abisha kesal, Pagi-pagi buta. Padahal Pekerjaan Abisha masih banyak.
"Kak, tapi kerjaan Abisha masih banyak."
"Kan ada pembantu. Yuk," Daffin manarik tangan Abisha begitu saja.
"Kak, tunggu. Abisha tutup nasinya dulu."
Daffin melepas tangan, Abisha. Abisha berjalan menuju meja makan dan menutup nasi goreng yang ia buat. Abisha kembali menghampiri, Daffin.
Daffin tersenyum lalu mengambil tangan Abisha dan langsung membawanya naik keatas. Entah kenapa Daffin jadi ingin selalu bersama, Abisha.
"Kak, berangkatnya nanti jam berapa?" Tanya Abisha mereka baru saja masuk kedalam kamar.
"Jam tujuh. Yaudah, Aku mandi dulu."
Abisha mengangguk. Daffin langsung menuju toilet dan mandi. Sedangkan Abisha menyiapkan baju untuk, Daffin. Abisha berjalan menuju lemari dan mulai memilih-milih baju. Cukup lama Abisha memandangi dalam lemari. Binggung mau memilih yang mana. Jujur, Abisha belum mengerti dan masih belajar. Abisha mengambil kemeja berwarna putih, dengan celana berwarna hitam. Kalo salah, nanti Daffin bisa mengantinya pikir, Abisha.
"Ok, yang ini aja, deh!"
__ADS_1
Abisha berjalan menuju kasur dan menyimpan baju Daffin disana. Ia melirik kearah toilet, masih terdengar bunyi percikan air didalam. Abisha mengambil hpnya yang ada dimeja samping kasur. Membuka medsosnya untuk mengetahui sedikit informasi.
"Abisha," panggil Daffin dari dalam toilet.
"Iya," sahut Abisha tampa mendekat sekalipun.
"Tolong Ambilin handuk dalam lemari."
Bukannya Daffin tadi membawa handuk ketika pergi ketoilet? Pikir, Abisha. Karena ia sempat melihat Daffin mengambil handuk digantungan yang ada dibalkon kamarnya.
"Abisha, "
" Iya, kak, tunggu sebentar!"
Abisha sedikit tergesa mengambil handuk yang katanya dalam lemari. Entah ada berapa pintu lemari yang ia buka. Namun, ia tidak menemukan handuk. Abisha membuka lemari paling pojok dan disana terdapat 2 handuk. Abisha mengambil salah satu lalu berjalan menuju toilet.
Abisha mengetok pintu. Kini tangannya sudah siap menutup matanya. Tidak lama Daffin membuka pintu. Abisha menyodorkan handuk sambil menutup matanya dengan salah satu tangan.
"Kenapa kaya gitu?"tanya Daffin sambil tersenyum. Ia sangat mengerti apa yang dilakukan Abisha.
"Nggak papa!"
Abisha langsung meninggalkan Daffin, dan langsung turun kebawah.
"Nek," panggil Abisha melihat neneknya berjalan menuju dapur.
"Abisha, Mau kemana?"
"Dapur, nek. Nenek mau kedapur juga?"
" Iya ...," jawab nenek
Abisha langsung menuju dapur bersama nenek. Abisha menuntun nenek supaya duduk dikursi.
Nenek tersenyum"Nenek ingin minum teh hangat. Kamu tolong buatkan, ya." Pinta nenek.
"Iya, nek."
Abisha mulai membuat teh. Menyiapkan cangkir dan mengambil gula dan teh yang ada dilemari. Abisha mulai menuangkan air kedalam cangkir dan memberi gula sesuai takaran yang neneknya ajarkan kemarin.
Setelah selesai Abisha kembali merapikan dan menyimpan kembali gula bersama teh ketempatnya. Abisha berjalan menghampiri nenek dan memberikan teh.
Nenek hanya bisa tersenyum sedari tadi. Bahagia, keinginan untuk Daffin menikah sudah terwujud. Mungkin kalo ia minta cicit, boleh kali, ya? Pikir nenek. Abisha duduk disamping, nenek.
"Makasih, ya .... Nenek seneng deh selama ada kamu, nenek nggak kesepian lagi. "
" Iya, nek. Hari ini Abisha cuman masak nasi goreng. Nggak papa ya, nek?"
"Nggak papa."
Nenek mulai meminum airnya. Abisha sedikit tegang. Takut tiba-tiba airnya nyembur kedepan karena tidak enak.
"Pas!"
Abisha tersenyum. Huah, setidaknya hasilnya tidak mengecewakan.
"Daffin masih dikamar?"
"Iya, tadi lagi mandi."
__ADS_1
"Nenek mau sarapan sekarang?"
"Boleh,"
Abisha mulai mengambil piring yang ada diatas meja. Mengambil nasi goreng beberapa sendok. Abisha mengambil telur dadar satu.
"Nenek mau sosis?"
"Boleh,"
Abisha mengambil sosis . Abisha menyimpan nasi goreng tersebut didepan, nenek. Abisha mengambil satu sendok dan garpu lalu ia simpan dipiring, nenek.
Abisha juga menuangkan air putih didalam gelas kosong dan langsung disimpan samping piring, nenek.
"Nenek tau kamu itu sebenarnya jago masak."
"Jago dari mananya, nek? Kemarin Abisha aja nenek yang ajarin."
"Tapi sebagai pemula, masakan kamu cukup baik. Enak, ya ..., walaupun mungkin agak kurang asin sedikit. Tapi, masih baguslah dari pada keasinan."
Abisha hanya tersenyum. Abisha memang bisa dikatakan penawar. Ia tidak suka masakan yang terlalu asin. Itu kenapa, kalau soal merasa atau mencicipi Abisha memilih untuk mundur.
"Selamat pagi." Daffin tiba-tiba saja mencium pipi neneknya.
Neneknya sedikit kaget . Untung tidak jantungan.
"Daffin, bikin nenek kaget aja."gerutu nenek.
"Maaf, nek." Ucap Daffin terkekeh. Ia menyimpan tas kerjanya diatas meja yang lapang. Dan duduk dikursi.
"Sayang, suamimu sudah lapar."ucap Daffin dengan nada sedikit manja. Neneknya hanya tersenyum.
Sedangkan Abisha, sungguh ia malu. Bisa-bisanya ia memanggil sayang depan nenek.
"Udah pake sayang nih panggilnya."goda nenek .
"Nggak, nek." Sanggah Abisha.
Abisha bangkit dan mulai menyiapkan sarapan, Daffin. Ia mengambil lauk tampa bertanya apakah Daffin mau memakannya atau tidak . Yang terpenting, itu bukan makanan yang tidak bisa Daffin makan. Pikirnya. Abisha melakukan hal yang sama seperti tadi. Menyiapkan air minum.
Daffin tersenyum melihat wajah istrinya. Setelah selesai Abisha berniat kembali duduk dikursi samping, nenek. Namun Daffin menyuruhnya untuk duduk disampingnya.
"Jangan nolak. Nggak baik."
Abisha menanggapinya dengan sedikit tersenyum lalu duduk disamping, Daffin.
"Abisha, kamu nggak sarapan?" Tanya nenek.
"Enggak, nek, Abisha kenyang."
"Sarapan pagi itu penting. Lagian kamukan belum makan apa-apa dari tadi. Makan, ya, aku suapin deh, Aaaa ..., "
"Abisha sendiri aja."
Abisha hanya mengambil roti tawar. Entah kenapa ia merasa tidak mood makan. Itu adalah kebiasaan abisha ketika haid. Padahal kata orang sewaktu haid kita berasa ingin makan terus. Tapi tidak dengan, Abisha.
"Abisha, Daffin,"panggil nenek. Wajahnya tampak serius.
Abisha dan Daffin langsung menolah" Iya, nek! Kenapa?"
__ADS_1
"Kalian udah buatin nenek cicit?"
Happy reading!