
Rainia menggulung lengan jas dokternya sampai ke sikut, lalu duduk bersandar di kursi dengan tenang. Tidak berapa lama seseorang mengetuk pintunya membuat Rain membuka kembali kelopak matanya yang semula terpejam. Sejenak ia mengurut tengkuknya yang terasa pegal sebelum akhirnya mempersilahkan tamunya masuk.
"Masuk..!"
Setelah di persilahkan, pintupun terbuka dari luar menampakkan sosok perempuan yang tak lain adalah asisten Dr. Frans, sang direktur rumah sakit tempatnya bekerja.
"Maaf mengganggu. Anda di panggil oleh direktur untuk datang ke ruangannya. Ada yang ingin beliau sampaikan."
Rain mengerutkan keningnya. Bingung kenapa asisten atasannya yang menjemput langsung ke ruangannya, padahal biasanya ia hanya akan memberi panggilan melalui ponsel atau telfon yang ada di ruangannya.
"Saya menelfon ke ruangan anda saat anda masih operasi. Saya juga sudah menelfon ke ponsel anda tapi anda tidak menjawab."
Mendengar penjelasan sang asisten sontak membuat Rain meraba saku jas dokternya namun ia tak menemukan ponselnya. Membuka laci meja kerjanya hingga ia teringat sesuatu.
"Ah sepertinya ponselku tertinggal di loker. Saya akan kesana setelah mengganti pakaian." Ujarnya.
"Baiklah. Saya akan kembali lebih dulu."
Rain mengangguk singkat. Selesai berganti pakaian ia segera menuju ruangan dokter Frans. Sesampainya ia langsung mengetuk pintu bernuansa putih di depannya.
"Masuk.!" Perintah seseorang dari dalam.
"Anda memanggilnya saya pak.?"
"Ya. Duduklah. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Dokter Frans beranjak dari kursinya menuju sofa panjang yang terdapat di ruangannya, duduk berhadap hadapan dengan Rainia.
"Tentang apa itu.?"
"Tiga bulan yang lalu ada pemberitahuan bahwa Indonesia akan bekerja sama dengan beberapa negara lain, dengan cara bertukar tenaga medis. Dengan catatan bahwa kandidat dokter yang di pilih haruslah dokter dengan lulusan terbaik. Kau sudah mendengar kabar itu.?
Rainia mengangguk sebelum menjawab. "Ya begitulah yang saya dengar. Lalu apa tujuan anda memanggil saya pak.?" Tanya Rain tanpa basa basi.
"Kau adalah salah satu kandidat yang terpilih."
"Maksud anda pak.?" Rain bertanya untuk memastikan kembali yang didengarnya.
"Ada tiga orang kandidat dokter yang terpilih untuk mewakili Indonesia. Salah satunya adalah kau. Kau adalah kandidat dokter yang terpilih untuk bertugas di Seoul dan akan bekerja selama dua tahun di sana. Apa kau mengerti.?"
Rainia hanya mengangguk merespon perkataan direktur Frans.
"Baiklah. Hanya itu yang saya sampaikan, kau bisa berangkat Minggu depan. Selamat ya.!" ujar direktur Frans sembari menjabat tangan Rain.
************
__ADS_1
Satu minggu kemudian..
Bandara Internasional Incheon.
Rainia mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang akan mengantarnya ke rumah dinasnya. Netranya menangkap sosok pria paruh baya yang memegang papan namanya.
"Kang ajusshi?" tanya Rainia memastikan.
Pria itu mengalihkan atensinya pada Rainia lalu tersenyum sambil menunduk hormat. "Ah.. Maafkan saya yang tidak tahu bahwa nona sudah disini. Saya rasa mataku sudah mulai merabun."
"Tolong panggil Rain saja ajusshi" Pinta Rainia. Baru saja pak Kang akan protes Rain sudah lebih dulu memotongnya. "Saya tidak menerima penolakan ajusshi" imbuhnya sembari menampakkan senyum tipis yang sangat jarang sekali ia perlihatkan.
"Ahh.. Baiklah baiklah." Pak Kang menyerah.
Pak Kang membukakan pintu mobil untuk Rainia. Tak lama kemudian iapun menjalankan mobil setelah memasukkan dua koper Rainia kedalam bagasi. Mobilpun melaju menuju rumah dinas yang akan di tempati oleh Rainia selama dua tahun kedepan.
***********
Haesung Hospital.
Rainia memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus dokter rumah sakit Haesung. Rain masuki pintu masuk utama dengan wajah khas dirinya. Datar.
"Apa dia dokter dari Indonesia itu.?"
"Kenapa tidak menjadi model saja.?"
"Ekspresinya datar sekali."
"Apa menurutmu dia sudah memiliki kekasih?"
"Kulitnya terlihat licin sekali. Apa ia pergi ke salon setiap hari.?"
Rainia sedikit risih ketika mendengar bisik bisik antar perawat maupun dokter yang kini sedang menatapnya dengan pandangan menelisik. Meski demikian Rain tetap memasang ekspresi datarnya.
"Permisi. Apa saya bisa bertemu Kim isajangnim.?" Tanya Rain pada seorang wanita yang berada di balik meja informasi rumah sakit Haesung.
"Anda sudah membuat janji sebelumnya.?" Tanya wanita itu dengan senyum ramah.
"Sudah." jawab Rainia datar. "Pagi ini jadwal kami bertemu." Imbuhnya kemudian.
"Kim isajangnim sepertinya belum datang.. Ohh itu dia." Wanita itu melihat ke arah pintu utama rumah sakit yang berada tepat di belakang Rainia.
Rainia membalikkan tubuhnya kebelakang. Ia melihat seorang pria berumur sekitar enampuluh tahunan yang berjalan dengan gagahnya. Di belakangnya ada sekitar lima orang dokter lain yang mengekor. Beberapa perawat dan dokter yang berada di lobi membungkuk empatpuluh lima derajat yang di balas anggukan oleh pria yang sudah berumur itu.
__ADS_1
"Dokter Rain?"
Pria itu menghentikan langkahnya sekitar lima langkah dari tempatnya berdiri, yang diikuti pula oleh dokter yang mengekor tadi. Kini seluruh mata memandang ke arah Rainia. Rainia membungkukkan tubuhnya empatpuluh lima derajat sebelum menyapa.
"Annyeong haseyo Kim isajangnim"
Ketua Kim menghampiri Rainia lalu menjabat tangan Rain yang lebih kecil dari tangannya.
"Aigoo. Ternyata lebih cantik aslinya dari pada di foto data yang sudah aku terima sebelumnya." Ujar ketua Kim terkekeh.
Rainia hanya menunjukkan senyum kaku lalu menundukkan kepalanya. "Kamshamnida isajangnim."
"Tapi kuharap kemampuan dan kecerdasanmu juga terbukti ya.?"
"Saya akan berusaha semaksimal mungkin."
"Bahasa koremu bagus sekali." Puji ketua Kim berusaha membuat Rain menjawab panjang. Namun lagi lagi Rain hanya menjawab sekenanya.
"Terimakasih atas pujian anda."Jawab Rainia masih dengan ekspresi datarnya.
Ketua Kim terkekeh sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya, ia menyerah memancing Rain agar bicara lebih banyak. Ketua Kim menoleh pada lima orang dokter lain yang masih berada di posisi awal.
"Apa yang kalian lakukan di sana.? kemari! Aku akan mengenalkan kalian pada dokter Rainia."
Kelima dokter tadi kemudian berjalan menghampiri ketua Kim dan Rainia, kemudian dengan bergantian menjabat tangan Rainia.
"Yang ini." Ketua Kim memegang pundak dokter yang terlihat paling muda di sana. "Kim Min Hyun, dokter spesialis bedah jantung. Dia adalah putraku, tampan bukan.?"
Rainia hanya mengangguk pada dokter Kim Min Hyun yang di balas dengan senyuman tampan oleh pemuda itu.
"Lalu yang ini adalah dokter Park Ki Yong kepala sepesialis bedah umum yang akan membimbing mu nanti" Ujar ketua Kim memegang pundak seorang pria yang berusia sekitar empatpuluh tahunan.
Rainia membungkukkan tubuhnya sedikit yang di balas anggukan oleh dokter Park Ki Yong.
Ketua Kim kembali mengenalkan tiga dokter lain yang menjadi kepala spesialis di bidangnya masing masing. Ada Im Na Yeon dokter wanita yang menjadi kepala spesialis anastesi. Lee Jae Joon dokter pria yang menjadi kepala sepesialis bedah syaraf. Dan yang terakhir ada Do Im Bom dokter pria yang menjadi kepala bagian IGD.
"Sepertinya kau adalah dokter termuda yang kami miliki, bahkan usia Min Hyun saja sudah menginjak angka tigapuluh tahun." ujar ketua Kim. "Ahh.. aku lupa bahwa aku akan mengadakan rapat beberapa menit lagi untuk mengenalkanmu pada dokter lainnya. Sekarang bersiaplah, pakai jas doktermu yang sudah di sediakan." Ketua Kim menoleh pada putranya. "Min Hyun kau tidak keberatan jika ku minta untuk mengantarkan dokter Rain ke ruangannya"
Min Hyun tersenyum. "Baiklah. Aku akan mengantarnya."
"Baiklah kalau begitu aku akan menunggumu tigapuluh menit lagi di ruang rapat dokter Rain."
Ketua Kim tersenyum, lalu meninggalkan Rainia dan dokter Min Hyun yang di susul oleh dokter lain. Untuk yang kesekian kalinya Rainia membungkuk sopan.
__ADS_1