The Dream Of Destiny

The Dream Of Destiny
Eps 20


__ADS_3

Pagi yang cerah menyinari alam semesta, cahaya matahari masuk melalui celah jendela. Mengganggu tidur pria tampan, perlahan ia membuka matanya. Menerjapkan matanya, terlihat dua orang pria menatap nya dengan pandangan senang. Siapa lagi kalau bukan Seigh dan Rian.


"Bagaimana perasaan mu Luxius"tanya Seigh tersenyum tipis.


"Bagaimana?apa ada yang sakit? apa kamu bisa melihat ku? apa kamu ingat aku?"tanya Rian beruntun.


Luxius hanya tersenyum tipis melihat tingkah Rian. "Aku tidak apa"ucapnya datar. Luxius mengalihkan pandangannya kesamping.


"Bagaimana dengan Shila"tanyanya datar.


"Kondisinya stabil, tapi sekarang Shila sedang dalam masa koma"jawab Seigh.


"Maaf...aku tidak bisa menjaganya"cicit Luxius sedih.


Mereka menggeleng, "Kita tidak tau apa yang akan terjadi, ini bukan salah mu"ucap Rian.


"Kamu pasti lapar kan, aku sudah menyiapkan bubur untuk mu"ucap Rian antusias. Ia mengambil bubur di meja, kemudian menyerahkannya kepada Luxius.


"Apa kamu yang membuatnya?"tanya Luxius masih dengan wajah datar.


"Iya, makanlah aku tidak memasukkan sesuatu yang aneh" ucap Rian.


Meski ragu Luxius memakan bubur buatan Rian dengan lahap.


'Rasanya lumayan'batin luxius.


Selesai makan Rian dan seigh membantu luxius untuk berjalan kekamar mandi.


"Kenapa kalian masih disini, keluarlah aku bisa mandi sendiri" ucap luxius datar.


"Apa maksudmu, berjalan saja sempoyongan apa lagi mandi. Tidak bisa!! Kami akan memandikanmu" Ucap Rian tersenyum jahil. Sementara seigh hanya menganggukkan kepala setuju.

__ADS_1


"Tidak! tidak! itu ide buruk!Menjauhlah kalian" ucap Luxius dingin.


Setelah perdebatan panjang, mereka akhirnya memandikan Luxius. Sementara luxius sedang memasang wajah ngambek, tapi masih datar. Saat ini luxius seperti kucing yang baru saja di paksa mandi oleh tuannya.


'astaga, dia sangat imut saat dijahili'batin Seigh. Bagaimanapun Luxius itu muka tembok ada apa pun hanya berwajah datar dan dingin. Meski kadang mereka melihat luxius sedikit berekspresi tapi itu karena shila. Sangat jarang dia berekspresi karena orang lain.


__________________________


Di markas MRD(Mafia Red Devil) Leon kini sedang duduk bersama Joan.


"Kenapa kamu kemari, memang kamu tidak ada pekerjaan lain?"tanya Joan pada Leon.


"Apa kamu bisa mencari tau bagaimana kondisinya"ucapnya datar. Joan hanya menggeleng.


"Mereka meningkatkan pengamanan, sangat sulit menembusnya"ucap Joan kemudian memandang Leon.


"Sudahlah... dia pasti baik-baik saja, sebaiknya kamu cepat selesaikan masalah kutukanmu yang lain"ucap Joan.


"Apa kamu sudah menemukan mereka semua"tanya Leon tidak percaya.


Leon tersenyum tipis melihat teman satunya ini, meski menjengkelkan tapi dia teman yang baik dan tidak bermuka dua.


"Terima kasih"ucapnya tersenyum kecil. Joan tidak percaya mendengar ucapan terima kasih dari Leon. Selama bertahun-tahun ia bersama Leon, ia tidak pernah menerima ucapan terima kasih.


Note: Joan sama Leon itu teman masa kecil. Ibunya Joan itu teman dekatnya ibu Leon, makanya waktu kecil Joan selalu bermain dirumahnya Leon.Joan sangat ahli di bidang hacker. Bahkan dia bisa menembus sistem MDR(sistem keamanan MDR dibuat oleh Shila, yang tidak pernah bisa dibobol oleh siapapun kecuali Joan dan Luxius). Untung ada Luxius yang mampu melawannya.(Sekarang sistem keamanan MDR sudah di perkuat oleh Luxius, kecuali dia sendiri tidak akan ada yang bisa menembus nya). Jadi kemampuan hacker mereka itu setara. (Lanjut)


"Tidak masalah kita adalah teman"ucap Joan tersenyum. Ia kemudian memberikan darah itu pada Leon. Tanpa ragu Leon langsung meminum nya.


"Kalau begitu aku pergi, masih banyak pekerjaan di perusahaan"ucapnya lelah. Bagaimana pun karena pekerjaan yang menumpuk membuat nya stres.


Dia mengingatkan kejadian kemarin hanya tersenyum, merasa senang karena ia dan keluarganya sudah harmonis.

__ADS_1


'Kuharap kebahagiaan ini berlangsung lama'batin Leon tersenyum.


Ia pergi meninggalkan markas MRD menuju perusahaan LD Companny.


Sesampainya di perusahaan Leon disibukkan akan tumpukan dokumen di mejanya. Menghela nafas berat, ia mulai mengerjakan pekerjaan itu.


"Tok... tok"suara ketukan pintu.


"Masuk"ucap Leon datar.


"Presedir, 3 hari lagi presedir DBR Companny akan datang kesini membahas proyek kerjasama"ucap Jun asisten Leon


"Urus semuanya"ucap Leon singkat tanpa mengalihkan pandangannya.


Melihat tumpukan dokumen, Jun pun ikut membantu Leon mengerjakan pekerjaan nya.


Matahari mulai menghilang digantikan oleh bulan yang bersinar indah.


Leon melihat jam menunjukkan pukul 8 malam. "Sebentar lagi selesai"gumam Leon, dia memandang Jun yang sedang membantu nya.


'Meski sedikit lambat, tapi dia orang yang peka dan baik' ucap Leon menatap Jun. Jun yang merasa di tatap, memandang Leon takut.


"Ada yang bisa saya bantu presedir"ucapnya takut.


"Pekerjaan ku sudah selesai, kamu nanti susun rapi dokumen lalu susul aku di parkiran"ucapnya kemudain meninggalkan Jun sendiri.


"Baik presedir"ucap Jun kemudian mulai merapikan dokumen ketempatnya.


...


Maaf jika ada Typo...

__ADS_1


Aku sekarang masih di Landa kebingungan antara melanjutkan atau mentamatkan karya ini. Apa nanti Epsnya sampai puluhan saja atau sampai ratusan.


Next eps...


__ADS_2