
Hari ini mereka akan kembali kekota alias kembali ke Universitas, keadaan Devi jauh lebih kata baik dari kemarin malam, dengan mata bengkak yang masih menghiasi, hidung merah, wajah lelah dan badan lemas.
Iren menggenggam tangan Devi dan Devi hanya diam. "Bunda senyum dong" Ucap Iren membuat Devi tersadar kemudian dia tersenyum meskipun dengan dia yang memaksanya.
"Saya ingin bicara dengan Devi" Iren dan Devi mendongak secara bersamaan, mereka melihat Jerome yang menatap Devi.
Iren menatap Devi dan gadis itu mengangguk, Iren berjalan menjauhi mereka berdua.
Diam, mereka berdua hanya diam membuat Jerome bingung dengan keadaan secanggung ini.
Jerome kembali memutar otaknya dengan merangkai kata-kata yang akan dia keluarkan kepada Devi agar gadis dihadapannya ini bisa memaafkannya. Entah kenapa melihat ini membuat hatinya teriris, apalagi melihat wajah Devi yang lelah dengan lingkaran hitam yang menghiasi bagian mata gadis itu.
"Kenapa?" Tanya Devi karna laki-laki dihadapannya hanya diam padahal tadi dia bilang ingin bicara dengan dirinya, Jerome berdehem mentralkan detak jantungnya dan menyiapkan diri.
"Saya minta maaf" ucap Jerome dan Devi hanya berdehem singkat membuat hati Jerome mencelos.
"Kamu marah sama saya?" Tanyanya lagi dan Devi hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Saya serius ngajak kamu pacaran bukan untuk hal gengsi tapi saya hanya ingin menjadikan mu kekasih pertama dan kalau bisa kekasih terakhir untuk saya" ucapan Jerome tersebut mampu membuat jantung Devi bergejolak didalam sana. Gadis itu terdiam membeku.
Gadis itu mendongak dan Jerome yang sedang tersenyum tipis.
"Saya serius" ucap Jerome bahkan lelaki itu berlutut dihadapan Devi membuat gadis itu terpekik kaget atas apa yang Jerome lakukan ini. Bisa-bisanya Jerome berlutut dihadapannya saat ini.
"Kak Jerome" Devi tidak percaya dengan kenyataan yang barusan dia alami ini, Jerome beneran?
"Saya mau kita tunangan" ucap Jerome membuat Devi membulatkan matanya karna kaget. Apa tadi? Devi gak salah denger tuh?
"Tunangan?" Tanya Devi lagi dan Jerome mengangguk sambil tersenyum. Tangan laki-laki itu terangkat untuk mengambil tangan Devi membuat gadis itu hanya diam masih dalam mode kaget.
"Saya tau kamu yang terbaik untuk saya, kamu kenal betul tentang saya meskipun kita baru kenal dan saya percaya kalau kamu diciptakan untuk membuat hidup saya sempurna" ucap Jerome membuat Devi terharu atas apa yang barusan dia dengar dari bibir Jerome.
Air mata bahagia Devi keluar menandakan dia terharu, ini beneran bukan mimpi kan?
__ADS_1
"Apakah kamu mau bertunangan dengan saya?" Tanya Jerome lagi membuat Devi tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Iren dan Billy yang melihat itu dari balik pohon tersenyum. Iren berniat untuk mendatangi Devi dan Jerome tetapi tiba-tiba tangannya ditahan oleh Billy membuat gadis itu menatap Billy dengan kening mengerut.
"Kenapa Kak?" Tanya Iren dengan wajah polosnya, tangan Billy terangkat untuk merapihkan helai demi helai rambut Iren membuat gadis itu terdiam kaget dan jantungnya semakin berdebar didalam sana.
"Kalau kamu mau gak?" Tanya Billy membuat Iren mengerutkan dahinya.
"Hah? Mau apa?" Tanya gadis itu membuat Billy tersadar kemudian laki-laki itu menggeleng.
"Ayo kesana" Ucap Billy dan diangguki oleh Iren. Mereka berdua berjalan kearah Devi dan Jerome.
"Terima!" Teriak Iren dan Billy berbarengan.
Devi kaget dan menatap kesebelah kanan disana dia melihat Iren dan Billy yang sedang berjalan mendekati mereka. Devi melepaskan tangan Jerome.
"Terima Bunda" ucap Iren mendesak Devi agar menerimanya membuat Devi tersenyum malu-malu.
Devi menunduk dan menatap Jerome yang sedan memperhatikannya dari tadi. Gadis itu mengangguk membuat Jerome tersenyum senang
"Apakah Kak Jerome sudah mempersiapkan ini?" Batinnya bertanya-tanya tak percaya.
"Saya sudah menyiapkannya karna saya yakin selepas pulang dari perkemahan saya membawa calon istri untuk saya bawa kerumah orang tua saya" ucap Jerome seperti bisa membaca fikiran Devi. Gadis itu tersenyum dia tidak percaya atas semua ini, sungguh.
"Saya boleh peluk kamu?" Tanya Jerome dan Devi menggelengkan kepalanya membuat Jerome mengerutkan dahinya.
"Belum mahram Kak" ucap Devi membuat Jerome mengerucutkan bibirnya dan membuat Devi tertawa, bisa lucu juga dia.
"Aku bakal wakilin Kak Jerome peluk Bunda" ucap Iren dan memeluk Devi dengan erat membuat Jerome hanya tertawa.
"Kalau Devi Bunda kamu, terus saya?" Tanya Jerome membuat Iren dan Devi saling menatap kemudian tersenyum.
"Papihnya" Ucap kedua gadis tersebut membuat Jerome tertawa mendengarnya.
__ADS_1
"Kalau dia siapa?" Tanya Jerome menunjuk Billy kemudian tangannya merangkul laki-laki yang sedang memperhatikan Iren.
"Dia selingkuhannya Bunda" Jawab Iren membuat Jerome terdiam dan menatap Iren kaget, sedangkan Iren hanya tertawa.
"Dia menantu kita" ucap Devi membuat Iren kaget mendengarnya kemudian dia menatap Devi kaget.
Jerome tertawa begitu juga Billy, laki-laki itu hanya tersenyum sambi terus menatap kearah Iren.
🌐🌐🌐
Derita derita, Jerome dan Devi duduk satu bangku membuat Iren harus duduk sendiri didepan mereka. Beginikah nasib para jomblo?
"Nanti biar Billy yang disini" Ucap Jerome memberitahukan dan Iren hanya mengangguk mengiyakan. Mau Billy atau yang lain gak papa yang penting dia gak harus duduk sendirian.
Billy masuk kedalam Bus dan Jerome langsung mengode menyuruh sahabatnya itu duduk disamping Iren.
Billy mengangguk kemudian laki-laki itu duduk disamping gadis yang sedang menatap keluar jendela.
Billy melirik kearah Iren yang dari tadi hanya menatap ke arah luar jendela membuat Billy kesal sendiri tidak mendapat perhatian dari gadis itu.
"Apa pemandangan diluar jauh lebih menarik dari pada disini?" Tanya Billy membuat Iren yang mendengar itu langsung menatap kearah Billy.
"Hah?" Iren menatap Billy dengan raut wajah bingung membuat Billy rasanya ingin mencubit kedua pipi chubby itu.
Billy menyenderkan badannya disenderan kursi dan melipat kedua tangannya didepan dada, Iren kembali menatap keluar jendela sampai mobil bus itu melaju meninggalkan hutan perkemahan.
Billy memejamkan matanya menikmati suara canda gurau mahasiswa lainnya.
Lima belas menit menutup mata, Billy bangun dan menatap kesamping dilihatnya Iren yang tertidur dengan kepala bergoyang kedepan, kekiri, kekanan dan kebelakang membuat gadis itu bangun dan menggelengkan kepalanya tetapi dia tidur lagi. Ucul deh liatnya.
Billy tersenyum dan mengambil kepala Iren dengan hati-hati dibawanya agar kepala gadis itu menyender dipundaknya.
Billy tersenyum saat Iren bergerak menyamankan posisinya. Pake dusel-dusel lagi emang gak geli apa.
__ADS_1
Billy tersenyum sambil terus memperhatikan wajah tidur Iren yang menurutnya semakin gemas itu. Baru nyadar gue kalau Iren manis juga ya.
Tbc.