
Paginya Iren dan Devi sudah siap untuk berangkat kekampus.
Iren berdiri diluar kos menunggu Devi yang sedang menguci pintu.
"Bun" Dia menengok kearah Devi yang lama sekali hanya mengunci pintu saja.
"Ayok" Devi menggandeng tangan Iren.
Akhirnya mereka berdua berjalan menuju halte bis yang jaraknya tidak jauh dari kosan.
Sesampainya dihalte bis mereka memilih duduk sambil menunggu bisa datang.
"Kamu kemarin kemana sih?" Tanya Devi membuat Iren hanya melirik Devi sebentar, kirain Iren sahabat itu sudah tidak kepo kemana dirinya kemarin eh gak taunya masih kepo toh.
"Danau" jawab Iren singkat membuat Devi mengerutkan dahinya penasaran.
"Ngapain?" Tanya Devi.
"Jalan-jalan aja" Jawab Iren.
"Devi"
Mereka berdua menatap kearah sumber suara, disana mereka melihat Jerome yang masih berada didalam mobilnya mengisyaratkan kepada kedua gadis itu untuk mendekat.
Iren dan Devi saling menatap kemudian bberjala kearah Jerome dengan hati yang penasaran.
"Kenapa Kak?" Tanya Devi.
"Ayo aku anter" Ucap Jerome membuat Devi menatap Iren.
"Gratis loh, lumayan uang ongkos kalian buat nabung" ucap Jerome dan Devi mengangguk setuju, benar juga apa yang dibilang tunangannya itu.
"Yok, Ren" Ucap Devi dan Iren hanya mengangguk.
Devi duduk disamping Jerome sedangkan Iren duduk dibelakang sendiri.
"Kak Billy kemana Kak?" Tanya Devi karna biasanya ada Jerome ada Billy juga tapi sekarang dia tidak melihat keberadaan Billy.
"Oh ada" Jawab Jerome membuat Devi mengerutkan dahi.
"Dirumah?" Tanya Devi lagi.
Jerome diam tidak menjawab, haruskah dia jujur.
"Mata kuliah kamu apa, Ren?" Tanya Jerome membuat suasana yang tadinya diam menjadi hidup kembali.
"Kimia kak" Jawab Iren dan Jerome hanya mengangguk sambil berkata O.
__ADS_1
"Kalau kamu sayang?" Tanya Jerome dan menatap Devi membuat gadis itu bersemu merah karna dipanggil dengan panggilan seperti itu.
"Management pembudidayaan, Kak" Jawab Devi dan Jerome hanya mengangguk kemudian tangannya terangkat untuk mengelus rambut tunangannya membuat Iren yang duduk dibelakang membuang muka.
Ini nih yang paling dia malas kalau bareng dengan orang yang sedang dimabuk asmara, serasa dunia milik sendiri, mereka lupa atau gak sadar sih kalau masih ada Iren disini apalagi status dia yang jomblo.
Hingga tiba-tiba seseorang meniup lehernya dan membuatnya kaget, untung saja Iren tidak punya riwayat penyakit jantungan, bisa mati dia kalau punya.
"Yaallah subhanallah" Iren kaget membuat Devi dan Jerome menatap kearah Iren.
"Pagi" Ucap laki-laki yang berhasil membuat IrenΒ kaget hari ini.
Iren menatap kebelakang dan kesal melihat Billy.
"Kak Billy ngapain sih? Hampir jantungan aku" Ucap Iren sebal sedangkan Billy hanya terkekeh dan pindah duduk kesamping Iren dengan melonjat membuat gadis itu bergeser kaget takut jika tertimpa badan Billy yang kayanya berat.
"Masa gitu aja kaget" Goda Billy kemudian dia melirik Iren sedangkan gadis itu hanya berdehem sebal.
Sebel banget malahan ya.
"Oh ya nanti pulang dari kampus kita jemput lagi ya, mau kan?" Tanya Jerome menatap Devi dan Iren bergantian.
"Gak usah Kak, kita naik angkot aja" Ucap Devi dan Iren mengangguk menyetujuinya.
"Ngapain naik angkot kalau kamu punya ojek kaya Jerome, Dev" ucap Billy membuat Jerome mendengus sebal sedangkan Devin hanya tersenyum tipis.
Sesampainya dikampus mereka tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada Jerome dan Billy.
Devi dan Iren masuk kedalam kampus dan berpisah untuk masuk kedalam kelas yang berbeda.
πππ
Sesudah kelas berakhir Iren dan Devi bertemu didepan kampus.
"Aku duluan ya Bun" Ucap Iren membuat Devi menatap Iren heran dan menahan tangan sahabatnya itu agar tidak buru-buru pergi.
"Kenapa duluan?" Tanya Devi.
"Aku harus kerja, Bun" Jawab Iren, gak mungkin kan sahabatnya ini lupa kalau dirinya masih bekerja paruh waktu di minimarket.
"Oh, Nggak mau nunggu kak Jerome? Biar dianterin sekalian" Ucap Devi dan Iren menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin merepotkan siapapun.
"Gak usah, aku bisa naik angkot" Ucap Iren dan Devi hanya bisa mengangguk saja.
"Yaudah hati-hati ya" Ucap Devi dan Iren mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.
Tidak lama setelah Iren pergi mobil Jerome sampai dan Devi langsung masuk kedalam mobil.
__ADS_1
"Lah Iren kemana?" Tanya Jerome yang sedikit penasaran.
"Iren harus kerja, Kak" Jawab Devi dan laki-laki itu mengangguk kemudian menjalankan mobilnya.
Iren berjalan menuju minimarket tempat dia bekerja, dia melangkahkan kakinya sambil sesekali menendang bebatuan kecil yang terkena sepatunua yang berwarna putih itu, Iren mendongak dan langkahnya langsung terhenti saat melihat Billy yang ditarik seorang perempuan.
Dia yakin sekali jika laki-laki itu Billy, dari perawakannya sama persis dengan Billy yang selalu melayang didalam fikiran dan hatinya.
Karna penasaran Iren berjalan mengikuti mereka dengan hati-hati.
Setelah melihat Billy dengan seorang perempuan yang Iren tidak kenal.
Iren hanya berdiri dibelakang Billy.
"Kamu apa kabar? Yaampun.... Mas kangen banget sama kamu sayang" Ucap Billy sambil mengelus kedua pipi perempuan itu.
Deg
Iren langsung memegang kuat tali tas selempangnya.
"Mas? Sayang?" Gumam gadis itu pelan. Bahkan si Om ngomongnya lembut banget kedia gak kaya ke aku yang formal banget, apa dia pacarnya si Om ya?
"Adanya aku yang nanya sama Mas, kok gak pulang kerumah? Gak kangen aku?" Tanya perempuan itu membuat Billy terkekeh dan mengacak rambut perempuan itu membuat sang empunya cemberut. Nah kan dia pacarnya si Om.
"Jangan cemberut jadi pengen mas cium" Ucap Billy membuat kaki Iren mundur seketika. Cium? Jangan jangan dia tunangannya si Om, terus gimana sama aku? Sama perasaan aku?
"Cium aja" Tantang perempuan tersebut.
"Nantang?" Tanya Billy dan perempuan tersebut mengangguk.
Billy tertawa dan mencium kedua pipi perempuan tersebut lalu keningnya dan hidungnya membuat Iren langsung berbalik dengan tangan yang semakin kuat mencengkram tali tas selempangnya, matanya mulai berkaca-kaca menahan cemburu.
Saat Iren ingin berjalan dia tak sengajak menabrak anak smp membuat anak smp tersebut berdecak sebal.
"Mbak gimana sih kalau jalan lihat-lihat dong" ucap gadis smp itu, dia melihat wajah Iren dan mata yang merah membuatnya heran sendiri.
"Maaf saya gak sengaja" ucap Iren dan berlari membuat gadis smp itu kebingungan.
Billy yang mendengar itu berbalik dan kaget melihat Iren, saat ingin dikejar gadis itu sudah berlari.
"Mas kenal dia?" Tanya adik perempuannya.
"Dia calon kakak ipar kamu" ucap Billy masih dengan menatap punggung Iren yang mulai menjauh. Entah ada dorongan dari mana nih mulut main nyerocos aja pake bilang si norak calon kakak ipar Chika lagi.
"Kayanya dia salah paham deh, Mas" ucap adiknya dan Billy mengangguk tau.
Tbc.
__ADS_1