
Pagi ini Iren sedikit bangun terlambat, setelah mandi dia segera keluar dari kamar.
Iren berjalan kearah dapur, dia mendengar suara kedua anaknya yang merengek minta makan.
"Ayah lama cih, Anjali udah lapel tau" Ucap Anjali membuat Billy yang sedang menghadap kompor berbalik menatap Anaknya.
"Iya sabar, sayang. Ini bentar lagi mau selesai" Ucap Billy lembut membuat Anjali cemberut.
"Sabal aja sih, kamu itu gak pelnah bisa sabal dulu" Ucap Ken membuat Anjali memukul Ken sebal.
"Eih, anak Bunda gak boleh berantem dong. Ayok baikan" Ucap Iren lembut dan menatap kedua anaknya bergantian.
"Maapin Anjali, Ken" Ucap Anjali membuat Ken hanya mengangguk.
"Anjali manggilnya Abang ya jangan Ken, gak sopan. Anjali kan adiknya Abang Ken" Ucap Iren dan mengelus lembut rambut Anjali.
"Iya Bunda cantik" Ucap Anjali membuat Iren tersenyum dan mencium pipi Anjali.
"Nih makanannya udah jadi" Ucap Billy dan menaruh dua piring berisi nasi goreng diatas meja.
Ken dan Anjali berbalik dengan antusias.
"Baca doa dulu sebelum makan, sayang" Ucap Iren mengelus lembut kedua anaknya.
"Bismillahillohmannilohim" Ucap Anjali dan Ken berbarengan membuat Billy dan Iren tersenyum mendengarnya.
"Bunda juga mau makan?" Tanya Billy lembut membuat Iren terkekeh.
"Mau, Ayah masak apa?" Tanya Iren dan berjalan mendekati Billy.
"Tuh, nasi goreng" Jawab Billy sambil menatap Iren dan menaruh tangannya diatas meja untuk dia jadikan sandaran.
Iren mengangguk dan membuka kulkas mengambil air putih.
"Tambah cantik aja sih, Ren" Ucap Billy membuat Iren terdiam, jantungnya berdebar didalam sana. Aaah kenapa dia jadi seperti abg yang baru kenal namanya cinta sih.
Iren menatap Billy dan tersenyum.
"Masa sih?" Tanya Iren dan Billy berdehem.
"Ayah Bunda"
Iren dan Billy menatap kearah Ken yang habis minum.
"Cepet banget makannya, Bang? Tadi dikunyah gak?" Tanya Iren membuat Ken nyengir.
__ADS_1
"Ken lapel Bunda" Jawab Ken membuat Iren terkekeh.
"Kenapa, Ken?" Tanya Billy.
"Ken cama Anjali mau kelumah Mama Devi ya, Yah" Ucap Ken dan diangguki oleh Billy.
"Iya nanti kalian duluan kesana ya entar Ayah sama Bunda nyusul" Ucap Billy membuat Ken dan Anjali tersenyum senang.
∆∆∆
"Wuih wuih ada apa gerahan lo kesini?" Tanya Jerome saat melihat Billy masuk kedalam rumahnya membuat Billy mendengus sebal.
"Gerangan" Ucap Billy membetulkan perkataan Jerome yang kelewat bener.
Tadinya Jerome ingin ngusilin istri tercintanya yang sedang didapur eh malah ada bel rumah bunyi ya dia jadi pending dulu gak taunya yang dateng si somplak.
Tiba-tiba ada seorang wanita yang muncul dari balik tubuh besar Billy.
"Hai Kak Jerome"
Jerome terdiam, laki-laki itu menatap Billy dan yang ditatap hanya mesam-mesem doang.
"Iren?" Jerome tak percaya dan Iren hanya tersenyum.
"Iren udah inget semuanya" Ucap Billy membuat Jerome kaget kesenengan dan dia langsung menyuruh tamu tak diundang itu untuk duduk.
"Sabar napah, Mas. Udah tau istrinya hamil tua masih aja disuruh cepet-cepet" Ucap Devi sambil berdecak sebal.
Devi terdiam saat melihat Iren.
Iren tersenyum dan berdiri kemudian mereka berdua langsung berpelukkan dengan sedikit menjaga jarak mengingat perut Devi yang membuncit.
"Bunda hamil?" Tanya Iren seneng dan Devi mengangguk.
"Berapa bulan?" Tanya Iren lagi dia mengelus perut buncit Devi.
"Sembilan bulan, ini tinggal ngitung hari anak ketiga lahir" Ucap Jerome membuat Iren tersenyum senang.
"Serius? Udah anak ketiga aja" Ucap Iren tak percaya membuat Devi mencubit Iren pelan.
"Kamumah, ini juga gara-gara orang yang gak tau waktu dan gak nyadar kalau dua anak itu cukup" Ucap Devi membuat Iren dan Billy terkekeh sedangkan Jerome hanya bisa cemberut.
Iren dan Devi duduk karna mengingat kandungan Devi yang sudah sembilan bulan.
"Heleh gak usah cemberut lo udah jelek malah keliatan kaya orang gila" Ucap Billy nusuk dihati membuat Jerome melempar bantal sofa ke Billy dan lelaki itu mendapatkannya kemudian dipeluknya.
__ADS_1
"Kapan program anak ketiga, Ren?" Tanya Devi membuat Iren yang sedang meneguk minuman yang disuguhkan menjadi terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan aja aku gak minta kok" Ucap Billy dan mengelus punggung Iren lembut.
"Kapan-kapan aja, Bun. Iren trauma" ucap Iren membuat mereka bertiga yang mendengarnya mengerutkan dahi mereka.
"Trauma kenapa?" Tanya Jerome bingung.
"Trauma ditinggal Mas Billy lagi, nanti Iren jadi amnesia lagi, ah gak mau" Ucap Iren membuat Jerome ingin tertawa.
"Yaampun, Ren, ya gak begitulah, itukan masa lalu, Mas janji gak bakal ninggalin kamu lagi dan bakalan jaga kamu selamanya sampai kita punya anak cucu" Ucap Billy membuat Iren menatap Billy.
"Kitakan udah punya anak" Ucap Iren dan Billy hanya mengangguk malas membalas.
Mereka mengganti topik karna menurut Jerome ini tidak bisa diteruskan akhirnya sang Papa yang ingin punya anak ketiga itu mengganti topik kearah pekerjaan dan membuat Iren serta Devi memilih kedapur dari pada dengerin malah gak ngerti.
"Yaampun, Bun, kamu makin berisi tau, seru gak tuh punya anak tiga?" Tanya Iren dia sedang duduk dikursi pantry yang ada didapur Devi sambil bertopang dagu dengan tangannya sedangkan Devi duduk dihadapannya.
"Biasa aja, kalau mau tau jajal aja coba bikin dede bayi lagi" Ucap Devi membuat Iren menatap Bundanya malas.
"Kok jadi gitu, hih aneh" Ucap Iren membuat Devi hanya memakan cemilan mereka.
"Mama Wildan nangis" Ucap Jevi membuat Devi segera turun dari bangku dan Iren juga ikut turun dari bangku, mereka berjalan kearah taman bermain.
Devi langsung berjongkok dengan susah payah karna kandungannya yang membesar.
"Hei sayang, kenapa? Kok nangis?" Tanya Devi dan menghapus air mata Wildan.
"Adi Anjali nendang bola kekepala Wildan, Ma" Ucap Wilda dan menangis.
Iren yang mendengar itu langsung menatap Anjali sedangkan yang ditatap hanya diam menunduk.
Iren menghela nafasnya dan berjongkok menatap purtinya.
"Sayang, kamu beneran nendang bola ke Wildan?" Tanya Iren lembut dan mengelus lembut rambut Anjali, gadis kecil itu mendongak menatap Bundanya.
"Gak cengaja, Bunda, benelan deh Anjali niatnya amu ngeljain Bang Ken" Ucap Anjali san dia sudah menangis membuat Iren tak tega melihatnya.
"Noh kan niat buluk sih ama abang sendili" Ucap Ken yang tak terima untung saja bukan dia yang kena, hahaha.
"Sayang, lain kali jangan diulangi ya, gak baik loh ngerjain orang, janji?" Ucap Iren dan mengacungkan kelingkingnya, Anjali mengacungkan kelingkingnya dan menautkannya dengan kelingking Iren membuat wanita itu tersenyum.
"Anak Bunda pintar" Ucap Iren dan memeluk Anjali kemudian Anjali langsung membalasnya.
Wildan sudah tidak menangis dan akhirnya mereka kembali bermain seperti semula.
__ADS_1
Tbc