
Sebelum pulang Billy membeli pakaian ganti untuk dirinya dan juga untuk Iren. Gak mungkin kan mereka pulang dengan pakaian basah terus jadi kering sendiri, itu mah sama aja ngundang penyakit.
"Nih" ucap Billy dan memberikan tas belanja itu pada Iren, gadis itu mengambilnya dengan mengerutkan dahinya.
"Baju ganti, saya takut nanti kita masuk angin" ucap Billy dan membuat Iren mengangguk mengerti.
"Makasih Kak" Billy hanya berdehem sebagai jawabannya.
Iren dan Billy masuk kedalam toilet yang berbeda, ya masa mau masuk kedalam satu toilet yang ada nanti mereka digrebek lagi, urusan bisa panjang.
Setelah berganti Iren keluar dan menatap pantulan dirinya dicermin, dia memegang rambutnya yang basah. Rasanya aneh saja, dia pengen cepat-cepat keramas kalau sudah sampai kosan.
Iren tersenyum saat melihat alat pengering tangan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri, gadis itu langsung mengeringkan rambutnya dengan alat tersebut, untung saja ditoilet umum ini tidak ada siapa-siapa hanya ada dirinya sendiri jadi dia tidak mereka malu mengeringkan rambut dengan alat ini. Setelahnya dia membuka tas dan mengambil sisir. Tak ada rotan akar pun jadilah.
"Untung sisirnya aku taruh ditas" Ucapnya bersyukur karna dia selalu menaruh sisir didalam tasnya dan dia mulai merapihkan rambutnya.
Iren sengaja mengerai rambutnya, gadis itu keluar dan tidak lupa membawa pulang baju basahnya yang sudah dia peras agar tidak berat.
Diluar dia melihat Billy yang sedang duduk dibangku tidak jauh dari toilet umum itu, Iren berjalaj kearah Billy dan duduk disebelah Billy membuat laki-laki itu menatap Iren.
Iren menatap balik Billy dengan tatapan heran karna Billy terus saja menatapnya dengan raut wajah sulit untuk gadis itu artikan, kenapa dengan Billy? Apa ada yang salah dengan wajahnya?
"Kak Billy" Tangan Iren melayang untuk menyentuh bahu Billy membuat laki-laki itu tersadar dan berdehem untuk menetralisir rasa yang ada didalam sana.
"Saya sudah pesan taksi online, kita tinggal tunggu aja" ucap Billy kemudian langsung membuang muka dari gadis yang duduk disampingnya dan Iren hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Mereka diam, tidak ada yang saling bicara atau ingin memulai pembicara. Iren tersenyum saat melihat baju yang dia kenakan.
"Bajunya bagus, Kak" Ucap Iren tampa menatap ke arah laki-laki disampingnya, mendengar itu Billy melirik Iren.
"Kamu suka?" Tanya Billy dan menatap Iren kemudian gadis itu mengangguk sambil tersenyum membalas tatapan dari Billy.
"Yaudah buat kamu kalau kamu suka" Ucap Billy membuat Iren tersenyum senang. Ya buat apa juga gue simpen baju perempuan nanti dikira apaan dah gue.
"Beneran?" Tanya Iren tak percaya dan Billy mengangguk mengiyakan. Iren memeluk tangan Billy membuat laki-laki itu terdiam, jantungnya berdetak tidak stabil ditempatnya, kenapa dengan jantungnya ini. Jangan bilang dia deg-degan dan rasa deg-degan ini disebabkan oleh gadis yang sedang memeluk tangannya dengan erat ini.
Tidak lama pesanan taksi online Billy datang membuat Iren melepaskan pelukkan ditangan Billy kemudian menatap kearah laki-laki itu.
__ADS_1
"Mungkin itu taksi onlinenya" Ucap Billy dan diangguki oleh Iren.
Mereka berdua berdiri berjalan mendekat kearah mobil berwarna putih itu.
"Permisi dengan Pak Billy?" Tanya sang supir dengan wajah dan suara ramahnya dan membuat Billy mengangguk.
"Iya Pak benar" Ucap Billy dan dibalas dengan senyuman supir taksi online.
"Silahkan Bapak sama Ibunya masuk" Ucap Pak supir membuat mereka mengangguk.
"Ayok" ucap Billy dan Iren mengangguk.
Mereka berdua masuk kedalam mobil.
Duduk berdamping seperti ini membuat mereka semakin canggung saja, beberapa kali Iren akan mencari-cari pandangan kearah Billy dan laki-laki itu hanya menatap kearah luar jendela.
"Mohon maaf Pak, Bu. Boleh saya nanya?" Billy dan Iren menatap kearah sang supir.
"Bapak sama Ibu ini sedang bertengkar atau gimana? Kok dari tadi diam-diam saja, kalau ada permasalahan dalam rumah tangga bisa dibicarakan baik-baik kalau hanya diam-diam saja gak bakal kelar nanti"
"Kami belum menikah, Pak" Ucap Billy membuat sang supir kaget.
"Eh aduh maaf atuh ya, Pak Bu. Saya kira teh Bapak sama Ibu udah menikah, meni serasi pisan" Ucap supir taksi online.
"Kalau belum menikah berarti lagi pacaran atau sudah tunangan?" Tanya Pak supir lagi.
"Tidak, Pak. Saya sama Kak Billy cuma adik tingkat sama kakak tingkat itu saja" Jawab Iren membuat Pak supir sedikit kecewa.
"Begitu ya, hehe Bapak jadi salah faham maaf ya Mas Mbak, jadi gak enak sudah manggil Bapak Ibu tadi" Ucap sang supir dan dimaklumi oleh mereka berdua.
🌐🌐🌐
Dikosan Devi sedang duduk leyeh-leyeh sambil memainkan hpnya dan senyum-senyum gak jelas.
Ketika pintu kos terbuka Devi langsung menaruh hpnya dan terduduk menatap Iren dengan menekuk lengannya didepan dada.
"Kenapa Bun?" Tanya Iren heran karna Devi menatapnya.
__ADS_1
"Habis dari mana kamu? Kenapa jam segini baru pulang? Dibawa kemana kamu sama Kak Billy?" Tanya Devi, gadis itu berdiri dan mendekati sahabatnya.
"Terus ini kenapa baju kamu udah ganti aja?" Tanya Devi lagi membuat Iren mendesah pelan.
Iren menjelaskannya dari awal sampai akhirnya dan Devi hanya mengangguk membuat Iren menyesal menceritakannya.
Iren pamit untuk membersihkan dirinya.
"Habis kamu mandi kita berisihin nih kosan" ucap Devi sedikit keras karna sahabatnya sudah masuk kedalam kamar mandi.
"Iya" jawab Iren yang juga sama kerasnya.
Devi kembali keposisi awal.
Sekarang Iren dan Devi disibukkan dengan kosan mereka, kedua sahabat itu membersihkannya kosan mereka agar lebih nyaman untuk ditempati.
Pintu kosan mereka sengaja kebuka agar memudahkan jika ingin membuang sesuatu dan agar udara dikosan yang sudah mereka tinggal selama empat hari bisa terganti dengan oksigen yang lebih bersih.
"Widih perawan-perawan eke rajin-rajin banget ye" mendengar itu Iren dan Devi menatap keluar kosan dan melihat Mas Arif atau yang kerap disapa mbak Fira. Dia itu lenong.
"Mas Arif tumben disini" ucap Iren membuat Devi menyenggol lengan Iren.
"eh maksudnya mbak Fira" ucap Iren dan menyengir.
Arif menarik nafasnya dan membuangnya perlahan. Macam kek ibu ibu mau lahiran.
"Eke maafin, lain kali inget nama eke ya" ucap Arif dan Iren langsung hormat seperti hormat kepada bendera sambil berucap 'asiyap'.
Arifa pergi dari depan kosan Iren dan Devi.
Kedua sahabat itu langsung tertawa bersama.
"Untung dia gak ngamuk kamu panggil Mas" ucap Devi dan Iren hanya terkekeh mengingat itu.
"Bisa bisa nanti aku diamuk masa sama dia" ucap Iren dan Devi mengangguk, mereka masih terkekeh.
Tbc.
__ADS_1