
8 Bulan Kemudian.
"Kamu ngapain sih mondar mandir kaya setrikaan rusak gitu?" Tanya Billy dan melipat koran yang dia pegang kemudian melihat kearah istrinya yang seperti tidak tenang, Iren menatap Billy sebal.
Semenjak menikah Iren memang menyuruh Billy menggunakan kata aku-kamu buar terlihat tidak kakuk, masa iya udah nikah masih pake kata 'saya'.
"Biarin biar gosong sekalian" Ucap Iren ngegas membuat Billy hanya bisa ngelus dada mendengarnya, inilah perubahan sifat Iren setelah hamil.
Iya, sekarang Iren hamil anaknya Billy ya masa hamil anak kucing gak lucu ah, dan semenjak kehamilan Iren menginjak dua bulan, wanita itu memang kadang hormonnya gak nentu membuat Billy sebagai suami kudu ekstra sabar banget. Dan sekarang kehamilan Iren memasuki usia 7 bulan.
"Sini deh duduk disamping Mas, cerita sama Mas" Ucap Billy lembut karna jika sudah begini dia yang harus ngalah dan Iren hanya menatap suaminya. Billy menarik tangan Iren lembut dan membuat istrinya itu duduk diatas pangkuannya.
"Kamu kenapa? Kok kaya orang bingung?" Tanya Billy lembut, tangannya merapihkan rambut Iren yang sedikit berantakan.
"Aku pengen ketemu Bunda, anter aku kerumah Bunda ya, Mas" Ucap Iren ngebuat Billy sangat ingin mengelus dada, jadi dia cuma pengen ketemu sama Bundanya?
"Iya nanti aku antar kamu kesana" Jawab Billy membuat Iren senangnya bukan main dan memeluk leher Billy membuat laki-laki itu tersenyum membalas pelukkan Iren.
"Beneran?" Tanya Iren dan Billy mengangguk sambil tersenyum.
"Makasih" Ucap Iren senang dan Billy mengangguk sambil tersenyum.
"Kapan berangkatnya?" Tanya Iren lagi dan Billy tersenyum.
"Maunya kapan?" Tanya Billy lembut.
"Nanti sore, pengen nginep dirumah Bunda ya" Ucap Iren seperti anak kecil yang minta permen, Billy mengagguk mengiyakan dan itu membuat Iren tambah seneng.
"Kayanya kamu gak ikhlas, yaudah kalau gak iklas gak usah" ucap Iren marah dan berdiri kemudian meninggalkan Billy sendirian diruang tamu.
"Coba dimana letak kesalahan gue?" Tanya Billy untuk dirinya sendiri, makin lama dia makin bingung sama sikap Iren, moodnya itu cepat sekali untuk berubah.
Billy mengerutkan dahinya melihat Iren keluar dari kamar dengan membawa tasnya, Billy langsung berjalan cepat mendekati Iren.
"Mau kemana kamu?" Tanya Billy menahan tangan Iren dan yang ditanya hanya diam sambil menatapnya dengan tatapan marah.
"Jawab mau kemana?" Tanya Billy lagi dengan suara lantang alias semacam membentak Iren.
__ADS_1
Iren langsung diam dengan wajah kagetnya, baru pertama ini Billy membentaknya.
"Kok Mas Billy marah sih? Mas Billy udah gak sayang ya sama Iren? Mas Billy pengen balikan lagi kan sama mantan Mas Billy yang badannya aduhai itu" Ucap Iren dan dia segera menunduk.
Billy mengelap wajahnya kasar, makin lama dia makin sebal dengan sikap kekanakan Iren.
"Kok kamu ngomong gitu si, Ren?" Tanya Billy dan lelaki itu kaget saat melihat melihat Iren menangis.
"Ren, kok nangis?" Tanya Billy kaget dan mencoba menatap wajah Iren yang wanita itu tutup dengan kedua tangannya.
"Iren gak papa kalau Mas Billy mau balikan sama mantan Mas Billy, lagi pula cantik dia dari pada Iren, putih dia dari pada Iren, tinggi dia dari pada Iren" Ucap Iren dan membuat Billy sudah tidak bisa sabar lagi, laki-laki itu menjambak rambutnya dengan gemas menahan emosinya.
"Kamu ngomong apa sih, Ren? Bagi Mas kami itu cantik, bagi Mas kamu itu sexi, Ren" Ucap Billy yang masih sabar menghadapi sikap kekanak-kanakan Iren.
"Tapi kenapa Mas Billy milih jalan sama Mbak Sintia? Aku nungguin Mas Billy sampai tiga jam disana, Mas" Ucap Iren membuat Billy kaget.
Jadi kemarin itu Billy dan Iren berencana untuk pergi ngedate, tapi mendadak Billy tidak bisa karna Sintia yang kebetulan tekan kerjanya meminta bantuannya untuk mengurus sesuatu yang akan disampaikan pada meeting besok, Billy sudah mengirim pesan singkat untuk Iren tau laki-laki itu tidak sadar jika pulsanya habis dan pesannya tidak sampai ke Iren.
Billy dan Sintia pergi kesalah satu restauran dekat kantor mereka dan gak taunya Iren nyamperin Billy ke kantor dan melihat Billy serta Sintia didalam caffe sambil tertawa berdua.
Iren serasa bodoh menunggu laki-laki itu selama tiga jam di Mall dan dia berkali-kali harus duduk dan berdiri apalagi perutnya yang sudah membuncit membawa dua anak kembar hasil buat cinta Billy dan Iren.
Ingin rasanya Iren masuk dan menarik tangan Billy dari dalam sana tapi entah kenapa dia tidak mau membuat dirinya semakin terlihat seperti orang bodoh saja dan pada akhirnya Iren pulang dan semalaman wanita itu tidak mau bicara dengan Billy.
"Kamu kemarin nungguin aku?" Tanya laki-laki itu kaget membuat Iren membuang muka dan menjauh saat Billy mendekat kearahnya.
"Aku udah ngirim pesan sama kamu, Ren" Ucap Billy membuat Iren menatap laki-laki itu.
"Mas gak ngirim apa-apa sama Iren" Ucap Iren dan menghapus air matanya.
Billy mengambil handphone dari dalam saku celananya dan melihat pesan yang kemarin dia kirimkan kepada istrinya itu.
Billy mengerutkan dahinya.
"Pesannya gak kekirim" Ucap Billy pelan membuat Iren mendengus sebal.
"Mas minta maaf, Ren. Mas gak tau kalau kamu nungguin, Mas. Seharusnya Mas cek HP Mas lgi, maaf" Ucap Billy mencoba meminta maaf kepada Iren.
__ADS_1
"Mas bahkan senyum-senyum sama Mbak Sintia terus Mas ngerapihin rambut Mbak Sintia" Ucap Iren membuat Billy bingung sendiri.
"Itu refleks, Mas beneran gak ada niatan mau balikan sama Sintia" Ucap Billy membuat Iren menatap laki-laki itu.
"Mas pilih aku atau Mbak Sintia?" Tanya Iren membuat Billy menghela nafasnya.
"Tanpa aku jawab kamu seharusnya tau, Ren. Aku pasti pilih kamu" Ucap Billy membuat Iren senang didalam hatinya.
"Kalau gitu jangan deketin Mbak Sintia lagi, kalau Mbak Sintia minta tolong jangan mau" Ucap Iren membuat Billy terdiam.
"Gak bisa gitu, Ren. Kita itu harus saling tolong menolong" Ucap Billy membuat Iren tersenyum kecut.
"Bullshit"
"Kamu kenapa sih? Makin lama makin bikin aku bingung, Ren. Bingung harus gimana, kamu terlalu kekanakan, dia itu cuma rekan kerja aku gak lebih. Kalau kamu lama-lama begini lebih baik kita CERAI" Ucap Billy.
Mendengar itu membuat Iren langsung menatap Billy kaget, laki-laki itu tampaknya semakin marah.
"Kalau mau cerai hayoo, makin lama kamu makin kekanakan, Ren. Capek aku ngadepin kamu" Ucap Billy ngebuat Iren udah mau nangis kejer. Tapi ya gak glesotan juga ya.
Billy berdecak sebal dan berjalan masuk kedalam kamarnya, Iren sudah menangis kejer tanpa suara dia gak mau kalau Billy menganggapnya cengeng.
"Emang Iren kekanakan banget ya?" Tanya Iren dalam hatinya.
Iren menghapus air matanya saat melihat Billy membawa kopernya dan berjalan keluar rumah melewati Iren begitu saja.
"M..." terlambat Billy sudah pergi dengan menutup pintu sangat kencang.
"MAS BILLY"
Iren berjongkok dia nangis lagi malah semakin terisak.
Billy pergi meninggalkannya, apakah hanya sampai disini rumah tangganya dengan Billy?
Baru delapan bulan mereka menikah dan Billy sudah bilang kata cerai untuknya?
Tbc
__ADS_1
Makasih yang udah mau baca, berikan like ya dan dukung terus karya aku.