
Setelah kurang lebih satu jam menunggu Iren pulang akhirnya yang ditunggu datang, terdengar dari suara motor serta langkah kaki dan suara gadis itu.
"Ini kok apelnya cuma setengah sih, lo ikhlas ngasih gue atau nggak sih?" Tanya Fajar yang tidak terima atas pemberian dari Iren.
"Heleh masih mending nih aku bawain tau gitu aku abisin aja apelnya,bersyukur kek aku masih baik mau berbagi sama rakyat jelata kaya kamu" Ucap Iren kesepupunya Fajar membuat laki-laki itu mendengus sebal dan membuat Icha tertawa mendengarnya.
"Iya iya bawel amat lo" Ucap Fajar dan merebut apel digenggaman Iren.
"Itu mobil siapa? Temen kamu ya?" Tanya Icha calon istri Fajar dan calon sepupu Iren.
"Bukan, itu mobil temennya dia" Ucap Fajar sambil menunjuk Iren dengan dagunya karna tangannya yang sibuk dengan apel dari Iren tadi membuat Iren mengerutkan dahinya.
"Siapa? Gina?" Tanya Iren membuat Fajar menghela nafasnya kasar, ingin rasanya menendang Iren saat ini juga.
"Ya lo lah Teh Iren yang cantik macam kek pantat bebek" Ucap Dimas adik Fajar yang baru saja keluar dari dalam sambil membawa sekotak teh botol, Membuat Iren tersenyum dan memeluk Dimas ingin menciumi pipi lelaki remaja itu dan Dimas terus saja menghindar dengan berteriak dan meronta, tenaga Iren itu jangan diremehkan.
"Sa ae lo tong gue sunatin juga tuh ginjalnya" Ucap Iren dan Dimas sebal karna Iren berhasil mencium pipi kanannya padahal dia sudah sekuat tenaga menghindari gadis itu.
"Eh tunggu temen aku? Temen yang mana ya? Perasaan temen ku gak ada yang tau rumah kamu deh" Ucap Iren bingung sendiri, dia segera masuk kedalam dan membulatkan matanya tak percaya melihat Billy, Jerome dan Devi yang sedang duduk.
Devi yang sedang mengupas kan kulit jeruk untuk Jerome dan Jerome yang menangkup kulit jeruk itu sedangkan Billy yang sedang menyeruput tehnya.
"Loh kok kalian... " Iren tak percaya, Devi tersenyum dan melambaikan tanganya.
Iren segera duduk dihadapan mereka."Kok disini sih?" Tanya Iren menatap Devi tak percaya, dia sangat senang bisa melihat Devi dan yang lainnya.
"Iya ini gara-gara seseorang yang mengklaim kalo kamu bakal nikah" Ucap Jerome membuat Devi menyenggol tangan Jerome, mulai lagi deh laki-laki ini.
Iren mengerutkan dahinya.
"Siapa?" Tanya Iren bingung.
"Siapa lagi kalau bukan yang disebelah saya ini" ucap Jerome dan menyenggol Billy membuat Iren menatap Billy.
"Saya senang karna yang saya fikirkan itu salah" Ucap Billy pelan dan menatap Iren membuat gadis itu diam dan membalas tatapan Billy.
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Deg
Jantung Iren berdetak tak karuan, gadis itu segera membuang mukanya dan berdehem menetralkan detak jantungnya.
Kenapa Billy selalu saja berhasil membuat jantungnya berdebar seperti ini.
"Teh Iren anterin Gina yuk beli sambal lado eh sambal balado" Ucap seorang gadis yang kelihatannya seumuran dengan Iren yang habis keluar dari dapur.
"Dia sepupu aku, baru lulus SMA beberapa bulan yang lalu" Ucap Iren membuat Devi dan Jerome tak percaya.
"Saya kira seumuran kamu, Ren" bisik Jerome membuat Iren terkekeh.
"Emang aku, dia sama yang satu lagi itu" Iren menunjuk kearah gadis yang sedang mengobrol dengan Dimas diluar.
"Kita kalau dilihat emang seperti seumuran tapi nyatanya kita beda tiga tahunan" Jelas Iren membuat mereka mengangguk faham.
"Saya mau bicara sama kamu, empat mata doang" Ucap Billy dan ssgera menarik tangan Iren membuat mereka bingung bahkan Gina juga bingung melihatnya.
"Kamu mau saya antar? Saya temannya Iren" Ucap Devi menawarkanndiri mengantar sepupu Iren membuat Gina hanya tersenyum.
"Gak jadideh, Mbak, saya sama Rama aja, Mbak kan tamu" Ucap Gina dan Devi mengangguk, Gina segera berjalan keluar rumah mendekati Rama dan Dimas.
"Ih calon istri ku baik banget sih" Ucap Jerome merangkul erat Devi membuat Devi memukul Jerome pelan.
🌐🌐🌐
Iren menatap Billy, laki-laki itu tidak langsung berbicara tetapi malah bengong membuat Iren bingung sendiri dan penasaran apa yang ingin Billy omongkan dengannya.
"Kak Billy mau ngomong apa tadi?" Tanya Iren dan menatap Billy membuat laki-laki itu berdehem lama.
"Saya... Saya sayang sama kamu,Ren"
Deg
Deg
Deg
Deg
Deg
__ADS_1
Jantung Iren berdetek lebih kencang bahkan seakan-akan jantungnya ingin jatuh dari tempatnya.
"Hah?" Iren seperti orang cengo. Apa aku gak salah denger nih? Si Om sayang sama aku?
"Sa... Saya cinta sama kamu" Ucap Billy lagi membuat Iren tak percaya mendengarnya. Ngomong gini aja pake gugup segala macam mau disidang pak hakim.
"Kak Billy seriusan?" Tanya Iren.
Iren tak percaya saat Billy langsung memeluknya dan terus berucap jika laki-laki itu mencintainya.
"Saya gak bisa diam waktu saya denger dari tentangga lenong kamu itu kalau kamu mau menikah, kamu gak boleh nikah selain sama saya" Ucap Billy dan Iren tau siapa yang dimaksud 'tetangga lenong' itu pasti lah Mas Arif.
Billy melepaskan pelukkannya dan menatap Iren.
"Jangan tinggalin saya, kamu pergi gak pamit sama saya. Kamu tau gak saya susah nyari alamat kamu terus nyusulin kamu kesini, tau?" Meskipun terdengar lebay tapi itulah yang Billy rasakan. Lebay dikit gak papa macam kek abg labil.
Iren mengangguk dan tersenyum.
"Iren juga cinta sama Om Billy" Ucap Iren membuat Billy mendengus sebal mendengar panggilan Iren untuknya.
"Bercanda, Kak" ucap Iren dan terkekeh.
"Saya tau, saya kan Om kesayangan kamu" Ucap Billy membuat Iren menatap Billy.
"Kak Billy?" Tanya Iren.
"Saya tau kontak saya kamu namain Om kesayangan,kan?" Tanya Billy memastikan membuat Iren malu sendiri memukul pelan dada Billy.
"Tau dari mana coba" Ucap Iren dan Billy mengadikkan kedua bahunya lalu memeluk Iren lagi.
"Jadi ibu dari anak-anak saya mau?" Tanya Billy dan Iren mengangguk dengan malu-malu kemudian mendongak menatap Billy kaget.
"Hah?" Itu Iren gak salah denger? Si Om bilang itu?
Kemudian mereka saling menatap dan Billy semakin menunduk membuat jarak mereka semakin sempit, hingga suara menyadarkan mereka.
"Teh Iren... wadaw Dimas datang diwaktu yang tidak tepat ini" Mendengar itu mereka berdua langsung menjauh dan salah tingkah.
"Di... Dimas ngapain?" Tanya Iren dan menetralkan rasa gugup serta malunya itu loh, kenapa Dimas datang pas sedang seperti ini kan jadi keciduk mau berbuat yang tidak-tidak.
"Itu... gak jadi deh gue pergi sama si Rama aja, kalian lanjutin aja maaf ye gue gak tau kalau kalian mau nganu" Ucap Dimas dan pergi membuat Iren dan Billy saling menatap kemudian tertawa, betapa malunya mereka tercyduk tadi.
__ADS_1
Tbc.