The Love Besty

The Love Besty
Penyesalan


__ADS_3

Jerome duduk disamping Billy, laki-laki itu sedang memangku laptopnya.


Dua hari yang lalu Billy datang kerumahnya dan tanpa ijin atau basa basi dulu dia main tinggal dirumah Jerome.


"Kayanya ada masalah deh antara Kak Billy sama Iren" Ucap Devi dan Jerome mengangguk, dia juga berfikiran sama dengan istrinya itu. Entah masalah apa yang Iren dan Billy hadapi tapi menurutnya ini salah karna Billy yang meninggalkan Iren dirumah sendiri.


"Tapi masalah apa ya?" Tanya Jerome bingung membuat Devi menaikkan kedua bahunya, dia juga tidak tau masalah apa yang sedang Billy hadapi ini.


"Tanya deh, Mas kan yang udah kenal lama sama Kak Billy" Ucap Devi dan Jerome mengangguk.


Devi ijin pergi kebelakang dan Jerome mulai mendekati Billy kemudian duduk lebih dekat dengan sahabatnya itu yang sedang mendengarkan musik menggunakan laptopnya, bahkan tanpa handset mengganggu ketenangan Jerome.


"Ada masalah lo sama bini?" Tanya Jerome dan Billy hanya melirik Jerome sekilas.


"Cerita aja, gue siap dengerin curcol lo" Ucap Jerome lagi dan membuat Billy menghela nafasnya serta mengelap wajahnya gusar.


Dia menceritakan sikap Iren yang selama sebulan ini aneh, dia lebih cemburuan dan lebih cepat marah padahal dulu istrinya itu tidak terlalu seperti itu, menurutnya sikap Iren yang sekarang sungguh sangat diluar batas sekali.


"Terus? Apa masalahnya? Bagus dong kalau istri lo cemburu lo deket ama mantan lo itu, tandanya dia cinta sama lo, Bil" Ucap Jerome membuat Billy mengehela nafasnya kasar, ternyata cerita ke Jerome pun belum tentu menyelesaikan masalahnya.


"Tapi Iren berlebihan, Jer. Dikit-dikit cemburu dikit-dikit marah capek gue sama sifat dia, terus kemarin lusa gue ngomong kedia kalau dia minta cerai yaudah kita cerai aja" Ucap Billy membuat Jerome menatap sahabatnya kaget.


"Ngaco lo, lo bilang gitu ke Iren?" Tanya Jerome dan Billy mengangguk.


"Dia beneran mau minta cerai sama lo?" Tanya Jerome lagi dan Billy menggelengkan kepalanya.


"Gue cuma bilang gitu, sebenarnya gue gak mau cerai sama Iren tapi gak tau kenapa gue keceplosan bilang itu" Ucap Billy dan Jerome hanya bisa menggelengkan kepalanya tak habis fikir dengan apa yang Billy bilang barusan.


"Udah gak kuat gue sama sikap kekanakan dia, Jer. Bingung ngadepinnya" Ucap Billy lagi, tangannya mematikan musik dari laptopnya dan menaruh laptop itu diatas meja.

__ADS_1


"Jangam macem-macem deh, Bil. Kata cerai itu sakral, Bil. Lo gak tau kan perasaan istri lo gimana waktu lo bilang cerai?" Tanya Jerome dan Billy menaikkan kedua bahunya, dia sedikit tidak peduli.


"Mana gue tau, gue udah kesel sama dia yaudah gue pergi aja" Ucap Billy membuat Jerome berdecak sebal semakin tidak habis fikir dengan jalan fikiran Billy.


"Parah banget lo, Bil. Inget istri lo lagi hamil anak kembar, hamil anak li, Bil. Kalau lo lupa gue ingetin lo, kok lo tega banget suh bilang gitu sama istri sendiri, apalagi istri lo lagi hamil ya wajar aja sih kalau hormon nya naik turun" Ucap Jerome yang sebal sendiri dengan sahabatnya yang satu ini membuat Billy berdecak sebal.


"Kalau mau ceramah jangan ke gue, males gue dengernya" Ucap Billy membuat Jerome hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Mas... Mas Jerome" Jerome kaget saat mendengar suara Devi yang terlihat sangat panik sedangkan Billy hanya diam tanpa ekpresi.


"Kamu kenapa, Dev? Kok panik?" Tanya Jerome khawatir karna nada suara Devi bahkan istrinya itu sudah menangis, apa yang terjadi?


"I... Iren Mas"  Suara Devi tercekat oleh tangisannya.


Mendengar nama Iren disebut Jerome langsung berdiri kaget sedangkan Billy berdecak sebal, ada apalagi dengan wanita itu.


"Paling cuma drama" Ucapnya pelan membuat Jerome mendengus mendengarnya ingin sekali Jerome menggorok leher Billy sekarang juga.


"Iren kayanya kecelakaan" Devi sudah menangis membuat Jerome memeluk istrinya.


JEDER


Billy langsung berdiri kaget menatap Devi, meskipun dia masih sedikit kesal dengan Iren tapi bagaimana pun wanita itu adalah wanita yang sangat dia cintai setelah ibunya, dan wanita itu juga adalah ibu dari anaknya.


"Jangan bercanda kamu" Ucap Billy dan Devi menggelengkan kepalanya, air mata Devi sudah mengalir deras.


"Aku gak bercanda, barusan aku telponan sama Iren katanya mau kesini mau nyusul Kak Billy, dia ma minta maaf sama Kak Billy. Te... Terus tiba tiba aku denger suara tabrakan dan Iren teriak dan banyak juga suara orang-orang yang teriak. Aku khawatir banget, Mas" Ucap Devi menatap Jerome dan laki-laki itu mencoba menenangkan istrinya.


Mendengar itu membuat Billy panik, gimana gak panik inget Iren sedang mengandung anak kembarnya.

__ADS_1


"Iren dibawa kerumah sakit mana?" Tanya Jerome dan Devi menggelengkan kepalanya.


"Gak tau" Jawab Devi dia semakin menangis dan Jerome semakin erat memeluk istrinya itu untuk menenangkan Devi.


∆∆∆


Jerome, Billy dan Devi terus saja beputar-putar mencari keberadaan Iren.


"Kamu dimana si, Ren?" Billy sangat khawatir, dia tidak bisa tenang saat ini. Billy sangat ingin bertemu dengan istrinya itu, Billy ingin meminta maaf kepada Iren dan memeluk tubuh istrinya.


"Puas lo, Bil? Bukannya ini yang lo mau? Jauh dari Iren bahkan sampai Iren gak bisa kita temui" Ucap Jerome dan melirik Billy yang duduk disampingnya sedangkan dia sedang menyetir mobil, jika Billy yang nyetir bisa gawat udah melayang kali mereka.


"Bacot lo, Jer" Ucap Billy kesel gak tau aja gimana perasaan Billy saat ini, dia udah tidak bisa tenang dan saat melewati pertigaan ada ambulance lewat.


"Jangan-jangan itu" Ucap Devi dan mereka segera mengikuti ambulance tersebut.


Devi selalu berdoa diperjalanan agar Iren dan bayi dalam kandungannya tidak terjadi kenapa-kenapa, Iren adalah wanita baik dia tidak rela jika Iren seperti ini.


"Ngebut napah, Jer" Ucap Billy yang sudah tidak sabar karna menurutnya Jerome mengendarai mobil pelan banget padahal Jerome sudah menginjak gas dan kecepatannya sudah sampai rata-rata.


"Istri gue lagi hamil, Bil. Gue gak bisa naikin kecepatannya" Ucap Jerome membuat Billy menjambak rambutnya dengan frustasi.


"Ren, maafin Mas. Mas tau Mas salah, seharusnya Mas gak ninggalin kamu, Mas minta maaf" Ucap Billy pelan sambil menatap kearah luar jendela, air matanya menetes.


Billy sungguh sangat khawatir dengan keadaanI Iren, dia sangat ingin cepat-cepat menarik Iren dalam pelukannya.


Sekelebat ingatannya akan Iren muncul, wanita itu tersenyum manis saat mengatarnya kerja dan saat menyambutnya selesai kerja membuatnya melupakan rasa lelah seharian bergelut ditumpukan buku-buku.


Air mata Billy semakin jatuh, ingatan Iren yang tertawa saat dia mencoba menggombali istrinya itu dan senyum Iren yang tidak bisa dia lupakan saat Billy memberikan hadiah ulang tahun seminggu yang lalu untuk istrinya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu" Gumamnya pelan.


Tbc


__ADS_2