The Love Besty

The Love Besty
Lamaran


__ADS_3

Hari ini dimana mereka kembali kekota tempat Iren dan Devi menuntut ilmu, Billy sudah berjanji akan datang kerumah orang tua Iren ketika gadis itu sudah wisuda nanti bersama dengan kedua orang tuanya untuk melamar Iren.


Iren dan Devi duduk dibangku penumpang dibelakang, Billy yang menyetir sedangkan Jerome sedang duduk manis sambil mengunyah kripik pisang yang dibuat orang tua Iren.


"Makan mulu ih Kak Jerome" Ucap Iren membuat Devi dan Billy terkekeh mendengar dan melihatnya.


"Biarin, biar saya gak mati, kan makan itu kebutuhan hidup" Ucap Jerome membuta Billy menjadikan Jerome bahan lelucon.


"Caelah biar gak mati bilang aja lo emang doyan makan sampe perut lo kaya gentong gitu" Ucap Billy membuat kedua gadis yang duduk dibelakang terkekeh.


"Sirik aja lo!" Ucap Jerome dan Billy hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Kak Billy mau kopi gak?" Tanya Iren dan menatap Billy dari tengah-tengah bangku pengemudi dan bangku yang Jerome duduki.


"Boleh" Jawab Billy dan Iren segera mengambilkan kopi kaleng untuk Billy.


"Nih, diminum. Tadi malem tidurnya nyenyak gak?" Tanya Iren membuat Jerome yang mendengar itu menatap horor Iren.


"Lebay banget sih kamu, Ren" Ucap Jerome membuat Billy menatap Jerome dan mengambil kaleng kopi dari Iren.


"Sirik aja lo!" Ucap Billy menirukan nada bicara Jerome tadi dan membuat Jerome memakan kripik pisang dengan sengaja dibuat keras agar kremesnya terdengar.


"Lumayan kok" Ucap Billy menjawab pertanyaan Iren dan membuat gadis itu mengangguk.


๐ŸŒ๐ŸŒ๐ŸŒ


Hari ini adalah hari sidang Iren dan Devi, kedua gadis itu sangat gugup sekali untunglah mereka bisa dengan mudah menjalaninya dan tinggal menunggu tanggal wisuda mereka.


"Aduh calon istri udah mau wisuda terus nikah deh sama abang Jerome" Ucap Jerome membuat Devi terkekeh dan menonjok perut Jerome, bukannya sakit tetapi lelaki itu malah tertawa kencang.


"Gimana sidangnya? Lancar?" Tanya Billy dan Iren mengangguk dengan senyum manisnya dan itu menular ke Billy. "Berarti siyap dong jadi ibu dari anak-anak saya?" Tanya Billy membuat Iren tersipu malu, Billy mengelus rambut Iren dan merangkul gadis itu.


"Pasti siyap kan? Kalau gak siyap pokoknya harus siyap" Ucap Billy membuat Iren mendongak.


"Ih maksa masa" Ucap Iren dan Billy terkekeh. "Biarin" Ucap Billy membuat Iren tersenyum dan memeluk pinggang Billy.


"I love you" Ucap Iren.


"Love you too, dear" Ucap Billy membuat Iren tersenyum dan mendusel-dusel dipinggang Billy membuat laki-laki itu terkekeh geli.


"Jadi gak sabar halalin kamu" Ucap Billy membuat Iren mendongak menatap Billy dan terkekeh pelan.


"Yaudah langsung ke KUA yuk" Ucap Iren membuat Billy tertawa dan mencubit pipi kanan Iren membuat gadis itu cemberut.


"Jangan gitu nanti saya khilaf cium kamu sekarang" Ucap Billy membuat Iren langsung menarik bibirnya dan menyembunyikannya didalam mulutnya membuat Billy yang melihat itu semakin gemas saja dibuatnya.

__ADS_1


"Om Kesanyanngannya Iren mah beda" Ucap Iren dan melepaskan tangannya dari pinggang Billy.


"Bedanya apa?" Tanya Billy dan menatap Iren.


"Apa ya? Rahasia" Ucap Iren membuat Billy mengacak lembut rambut Iren.


"Berantakan, rapihin!" Ucap Iren dan membuat Billy terkekeh kemudianย  tangannya terangkat untuk merapihkan rambut Iren yang tadi dia acak-acakan.


Iren hanya tersenyum sambil memperhatikan wajah Billy yang sedang merapihkan rambutnya.


โˆ†โˆ†โˆ†


Hari ini hari dimana keempat keluarga bertemu disalah satu restaurant dihotel berbintang, meskipun berbeda meja tetapi mereka memutuskan bertemu dihari dan jam yang sama agar tidak membuat mereka ribet mengurusnya, biar sekalian.


Pertemuan keluarga yang membahas hari pernikahan mereka membuat Iren tersenyum memikirkannya, menikah dengan Billy? Yaampun mimpi apa dia bisa dinikahi oleh Billy.


Apalagi Devi memikirkan menikah dengan Jerome saja dia tak berani dulu karna dia saja tak pernah bertemu Jerome tetapi ini, apa yang dia tidak mau fikirkan benar-benar terjadi.


Kak Billy ganteng, baru tau aku


Membaca pesan dari Iren, Billy menatap kesebrang meja tempat Iren duduk, gadis itu menyunggingkan senyum manisnya yang bisa membuat Billy diabetes sesaat.


Dari lahir saya emang sudah ganteng kali


Membaca itu wajah Iren memerah karna blushing membuat Billy gemas dan sangat ingin mencubit pipi gadis itu yang merah merona.


Diabetes kenapa kak? Kok aku yang harus tanggung jawab?


Karna senyum kamu itu terlalu manis, sayang


Gombal!!


Kenyataan


Itu bukan gombalan


**Kalau bukan gombal coba bilang langsung


Berani gak?


Kamu nantang aku?


Hem, bisa dibilang gitu


Siapa takut

__ADS_1


Kami manis


Kamu manis


Kamu manis


Kami manis


Kan aku nyuruhnya langsung bukan dichat**


"Kamu manis, i love you" Ucap Billy membuat Chika yang duduk disamping Billy menatap Kakaknya itu dengan tatapan geli.


"Mas ih lebay banget, kalau mau romantisan jangan didepan aku dong, aku kan jomblo" Ucap Chika membuat Billy terkekeh dan mengelus lembut rambut Chika.


Iren sudah tau jika Chika itu adalah adiknya Billy dan waktu itu dia sempat salah paham karna mengira Chika adalah pacarnya Billy, jika Devi gak bilang mungkin dia tidak akan tau jika Chika adalah calon adik iparnya.


"Mbak Iren manis banget sih" Ucap Chika membuat Iren tersenyum malu mendengarnya.


"Kamu juga cantik" Ucap Iren membuat Chika tersenyum, dia sangat senang akan mempunyai kakak ipar sebaik dan seramah Iren apalagi Iren itu manis membuat NICA tambah suka aja.


"Beruntung ya Mas punya calon istri kaya mbak Iren" Ucap Chika dan Billy mengangguk.


"Adanya dia yang beruntung punya calon suami kaya Mas mu ini" Ucap Billy membuat Iren mengerutkan dahinya.


"Kenapa?" Tanya gadis itu polos.


"Secara dia bakal nikah sama orang ganteng kaya Mas" Ucap Billy ngebuat Chika dan Iren memasang wajah ogah dan mendesis pelan, ternyata Billy punya darah narsisme.


"Hih narsis banget si Mas" Ucap Chika dan Billy cuma terkekeh mendengarnya kemudian mengedipkan sebelah matanya pada Iren membuat gadis itu tersenyum dengan malu-malu.


Berbeda dengan meja sebelah, Jerome hanya mampu menatap kearah Devi, dia benar-benar terpesona dengan tampilan Devi dan wajah gadis itu yang tidak pernah make up sekalian make up bisa secantik itu.


"Heleh jangan suka tatap-tatapan kalau ada wali lewat berabe" Ucap Ian kakaknya Jerome.


"Apaan sih Bang, sotoy banget" Ucap Jerome membuat Devi terkekeh mendengarnya.


Mereka saling menatap dan mengulas senyum membuat Devi malu, yaampun dia sanga tidak menyangka bisa menjadi calon istri Jerome.


Jerome berucap tanpa suara membuat Devi tersenyum meskipun tidak jelas tetapi Devi tau apa yang Jerome ucapkan karna laki-laki itu pasti mengucapkannya saat mereka bersama.


Tiga kata. "Aku Cinta Kamu" dan tiga kata itu selalu membuat Devi senang dan menjadi obat pembangkit moodnya yang kacau saat sedang pusing memikirkan skripsi.


Bersambung


Makasih yang udah mau baca.

__ADS_1


__ADS_2