The(My) Universe

The(My) Universe
Opportunity


__ADS_3

"Semua memang terlihat kuat di awal, tapi ketika titik lemah itu datang, maka semua akan pada waktunya."


🍁🍁


"Kenapa? Naksir sama gue?" Lucas tau bahwa dari tadi Senja memandanginya yang sedang dihukum berdiri depan kelas.


"Sorry, nggak ada waktu!" ketus Senja.


Lucas terkekeh, "Nggak usah malu-malu. Gue tau kok, lo liatin gue dari tadi."


"Gue heran aja sih, siswa kayak lo bisa masuk kelas ini."


"Jangankan kelas ini, lo aja bisa gue dapetin."


Senja acuh, tak memedulikan. Tetap terlihat cool seperti biasa. Tapi, sebenarnya saat mereka bersaut-sautan tadi, seluruh isi kelas termasuk Pak Aga–selaku guru matematika, menyaksikan mereka.


"Ganteng tau, Nja." bisik Vania.


"So what?!"


"Yakin lo nggak naksir sama dia?"


"Lo tau gue dengan baik, Nia."


Vania terkekeh, "Iya, deh, iya."


"Jangan-jangan lo naksir dia?" selidik Senja.


"Gue normal kali Nja, dia ganteng jadi wajar gue naksir."


Senja merapikan rambutnya ke belakang telinga, "Please, deh!"


"Ih, wajar kali naksir doang." Vania membela diri.


Vania–sahabat karib Senja. Bahkan mereka tinggal berdua dalam satu rumah. Keduanya sudah seperti saudara kandung.


🍁🍁

__ADS_1


"Lucas!!"


"OMG!!"


"I love you, Lucas."


"Ganteng banget."


"Hai, Lucas."


Kira-kira seperti itu hebohnya saat jam istirahat Lucas bermain bola basket di lapangan. Tidak sendiri, ada juga siswa lain tapi yang menjadi sorotan hanya Lucas.


Senja yang sedang membaca novel di kelas sangat terganggu dengan suara teriakan para siswi penggemar Lucas. Senja merasa sulit berkonsentrasi antara bacaannya dan suara gemuruh dari luar kelas yang terjadi secara bersamaan.


"Ada apaan, sih?" tanya Senja pada teman kelasnya.


"Itu, si Lucas lagi main basket di lapangan."


Senja geleng kepala, "Cowok bandel perusak masa depan bangsa gitu di bangga-banggain!" gumamnya.


"OMG, Senja!!" Vania masuk ke kelas dengan heboh. "Lucas keren banget main basketnya, ternyata dia jago."


"He's so perfect." timpal Vania lagi


Setelah kalimat-kalimat yang di ucapkannya tak mendapat respons, Vania baru sadar bahwa sedari tadi dirinya di cueki oleh Senja.


"SENJA!!" Vania berteriak mengeluarkan suara cemprengnya. Dengan refleks, Vania langsung menimpuknya dengan novel.


"Aww!! Sakit tau."


"Lo berisik banget, sih!"


"Abisnya lo nggak dengerin gue, sih! Kan gue jadi sebel."


"Ada hal yang lebih penting dari pada dengerin lo yang lagi mendewakan cowok itu."


"Eh, tapi serius deh," Vania menggantungkan ucapannya. Senja penasaran dan menjadi sangat serius. "Kayaknya lo akan kehilangan fans-fans lo, deh Nja."

__ADS_1


"Are you kidding me?" Senja tertawa meremehkan.


"Ya lo liat aja, semua orang cuma tertuju sama Lucas."


"Nia, semua siswi perempuan emang tertuju sama dia. Tapi semua siswa laki-laki tetap tertuju ke gue." pede Senja.


Vania berpikir sejenak, "Iya juga, ya."


"Santai aja, Nia. Kehadiran cowok itu nggak akan mengubah apapun dari gue."


"Lo yakin?" mendadak suara Lucas muncul bersamaan dengan masuknya Lucas ke dalam kelas.


Senja membuang tatapan ke arah lain. Lucas berjalan mendekati meja Senja.


"Gue nggak yakin kalau kedatangan gue nggak akan mengubah apapun di hidup lo." ucap Lucas penuh percaya diri.


"Gue sangat amat yakin." santai Senja.


Lucas mendekatkan wajahnya ke arah Senja dengan sedikit membungkuk, menyamaratakan tingginya dengan Senja yang tengah duduk. Wajah mereka hanya berjarak tak lebih dari lima sentimeter. Dengan cepat Senja langsung mendorong pundak Lucas menjauh. Seisi warga kelas yang sudah lengkap itu hanya menjadi penonton, tak terkecuali Vania.


"Gue akan mematahkan kepedean lo itu." Lucas sangat amat yakin dengan pernyataannya.


Kini Senja berdiri di hadapan Lucas, "Whatever!"


Setelah mengucapkan dengan tegas, Senja hendak beranjak berlalu meninggalkan kelas tapi tidak, Lucas sudah lebih dulu menahan pergelangan tangan Senja.


"Kalian liat kan, disini siapa yang mengejar siapa?" Senja mengangkat tangannya yang masih di genggam Lucas. Menunjukkannya pada semua yang melihat kejadian itu.


"Ok," Lucas melepas tangan Senja. "Gini deh, gue kasih lo tantangan."


Senja bersedekap dada lalu berujar, "Penting banget ya, gue nerima tantangan nggak jelas itu?"


"See, disini siapa yang takut?" giliran Lucas yang mencari pembelaan audience.


"Deal." ucap Senja akhirnya. "Emang tantangannya apa?"


"Dua puluh hari," Lucas menggantung kalimatnya.

__ADS_1


Murid yang sejak tadi terlihat sangat antusias menonton drama antara Lucas dan Senja sangat penasaran. Senja pun dibuat bertanya-tanya dengan jawaban menggantung Lucas. Memangnya kenapa dengan dua puluh hari? Ada apa dengan dua puluh hari? Kenapa harus dua puluh hari?


__ADS_2