
"Kita tidak akan saling meninggalkan selama proses ini berlangsung. Kita yang memulai, maka kita harus bertanggung jawab menemui akhir bersama."
🍁🍁
Senja menghadap ke arah Lucas, Lucas juga melakukan hal yang sama. Kini keduanya saling berhadapan, sudah tak menghiraukan hukuman Pak Sahid.
"Perasaan gue ke lo serius, Nja. Gue suka sama lo, gue sayang sama lo dan untuk pertama kalinya gue ngerasain jatuh cinta. Gue jatuh cinta sama lo, Senja."
Ucapan Lucas tulus, bahkan Senja dapat melihat dari mata Lucas. Tidak ada kebohongan atau kepalsuan disana.
"Gue seneng kok ngejar lo. Tapi, kadang di satu waktu, gue menginginkan balasan. Gue nggak bisa dan nggak mau jatuh cinta sendirian."
"Lo nyerah?"
Pertanyaan sederhana Senja seakan memercikkan sengatan untuk Lucas. Terdengar biasa saja tapi tidak tau bagaimana, Lucas seperti mendengar secercah harapan di baliknya.
"Pernah ada seseorang yang bilang ke gue, janji yang udah diucap, pantang ditarik kembali."
Lucas tersenyum getir mendengar kutipan tersebut. Pasalnya Lucas sendiri lah yang mengatakan itu kepada Senja.
"Tantangan ini akan sampai di hari ke duapuluh." Lucas menghela napas perlahan.
Senja mengulurkan tangannya, "Deal?"
Lucas tersenyum sambil menjabat tangan Senja. "Deal."
"Gue harus siap-siap hancur setelah hari ke dua puluh."
"Entah lo atau gue yang hancur, kita harus jalanin tantangan ini sampai di hari ke duapuluh." setelah mengatakan itu Senja pergi, kebetulan jam pelajaran Pak Sahid sudah habis lima menit lalu.
Harusnya Senja senang jika Lucas mengakhiri tantangan konyol ini sekarang, tapi tiba-tiba saja Senja merasa harus menyelesaikan tantangan ini. Baik menang ataupun kalah, itu urusan belakang. Satu hal yang pasti, pahlawan tidak akan menyerah sebelum berperang. Benar kata Lucas, janji yang sudah diucap, pantang ditarik kembali. Awalnya tantangan ini adalah sebuah beban berat yang harus dijalani, tapi mulai hari ini Senja mengubahnya. Tantangan ini adalah kewajiban yang harus diselesaikan.
🍁🍁
Dalam perjalanan pulang, suasana mobil Lucas hening. Lucas maupun Senja sama-sama larut dalam imajinasi masing-masing.
Tanpa sengaja mata Senja tertuju pada wajah Lucas. Senja memandangi Lucas dari posisinya–di sebelah Lucas. Rasanya aneh, ada perasaan yang sulit di jabarkan oleh Senja. Laki-laki ini, laki-laki yang tiba-tiba datang ke dalam hidupnya, menyerap seluruh perhatian Senja. Tidak hanya itu, Lucas juga berhasil mengusik perasaan Senja. Rasa ini belum pernah Senja rasakan sebelumnya.
"Jangan liatin gue mulu, ntar lo naksir sama gue." sindiran Lucas menyadarkan Senja, membuat Senja mengalihkan pandangan dengan kikuk.
"Nggak."
Lucas menyeringai, "Nggak apa-apa sih, kalau lo emang mau mandangin gue. Gur tau, gue emang tampan."
"Pede banget lu!" cibir Senja dibalas tawa ringan Lucas.
"Gue stop di depan aja."
"Kenapa?" Lucas menaikkan sebelah alisnya.
"Gue ada urusan."
"Yaudah, sekalian gue anter aja."
"Nggak usah, gue bisa sendiri."
"Lo mau kemana?"
"Stop di depan."
"Gue nggak nerima penolakan. Sebutin lo mau kemana?"
Sudahlah, berdebat dengan Lucas tidak akan pernah ada ujungnya. Lagi-lagi Senja harus mengalah dan pasrah.
__ADS_1
"Gue mau ke toko aksesoris, di perempatan jalan depan."
"Oke."
Tak butuh waktu lama akhirnya mobil Lucas berhenti di tempat yang Senja katakan.
"Lo tunggu sini, gue turun bentar."
"Yaudah, jangan lama-lama."
"Iya."
Lucas menunggu di dalam mobil dengan memainkan ponselnya untuk menghindari kejenuhan dan rasa bosan. Sementara Senja sedang membeli sesuatu disana.
Sepuluh menit kemudian Senja sudah kembali masuk ke mobil Lucas. Senja terlihat tidak membawa apa-apa, masih sama seperti sebelumnya–hanya tas sekolah yang digendong sejak tadi.
"Udah?" tanya Lucas basa-basi.
"Udah."
"Lo beli sesuatu?" kini Lucas mulai memacu kendaraannya.
"Iya."
"Beli apaan?"
"Kepo."
Lucas tersenyum. Memang tidak seharusnya Lucas terlalu ingin tau privasi Senja. Memang siapa dirinya bagi Senja? Bukan siapa-siapa.
Lima belas menit berikutnya mereka sampai di kediaman Senja. Tidak langsung turun, Senja mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kotak yang dibalut kertas kado berwarna putih bermotif kupu-kupu dan dilengkapi pita berwarna pink.
"Cas," panggilan Senja membuat Lucas menatapnya.
Senja tertawa geli, "Pede banget sih lu!" cibirnya.
"Terus?"
"Tolong kasih ini ke Leona." Senja memberikan benda tersebut dan langsung di sambut oleh Lucas.
"Untuk gue mana?"
"Nanti, tunggu lo ulang tahun."
"Emang lo tau kapan gue ulang tahun?"
Senja tersenyum tanpa menjawab pertanyaan terakhir Lucas, ia memilih turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Sedangkan Lucas menjadi penasaran dengan isi kado tersebut. Tentu Lucas tidak akan membukanya. Amanat harus disampaikan pada yang bersangkutan.
🍁🍁
Setibanya di rumah, Lucas langsung menemui Leona yang saat itu tengah menonton televisi di ruang tengah.
"Na," sapa Lucas sembari duduk di sofa sebelah Leona.
"Udah balik, kak?"
"Udah, kan kakak disini. Kalau belum mah, nggak bakal ada disini sekarang." Leona terkekeh mendengar jawaban kakaknya itu.
"Kamu kalau basa-basi yang kreatif, dong."
Leona hanya tertawa. "Eh, apaan tuh?" Leona menunjuk benda yang di pegang Lucas.
"Dari Senja," Lucas memberikannya pada Leona.
__ADS_1
Leona menatap tak percaya tapi menerimanya dengan hangat, "Buat aku?"
"Iya."
Leona tersenyum. "Baik banget calon kakak ipar aku, kak."
"Iya dong, pacar siapa dulu." bangga Lucas.
"Yaudah, aku mau buka di kamar aja."
"Lho, nggak disini?"
Leona beranjak dari duduknya. "Nggak, kakak nggak boleh kepo."
Lucas hanya bisa pasrah melihat Leona yang sudah menaiki tangga menuju kamarnya. Sejujurnya Lucas ingin tau apa isi kado tersebut, tapi bagaimana ia tau jika Senja dan Leona kompak merahasiakan.
Seulas senyum tulus menghiasi bibir Lucas. Perasaan Lucas senang sekali karena Senja dan Leona saling menerima dan saling menyayangi satu sama lain. Mereka, Senja dan Leona adalah dua wanita yang sangat amat Lucas sayangi dan cintai.
Meninggalkan Lucas dengan rasa senangnya. Hati Leona jauh lebih senang mendapat kado dari orang yang ia klaim sebagai calon kakak ipar itu.
Leona duduk di pinggir ranjangnya sambil membuka bungkusan kado tersebut. Betapa berbinarnya mata Leona saat mendapati isi kado itu adalah kotak kaca yang di dalamnya ada seorang gadis dan seorang laki-laki yang saling berhadapan. Kotak itu juga dihiasi taman cantik yang seolah sedang musim salju. Ini adalah kado terbaik di ulang tahunnya kali ini. Leona juga mendapat notes kecil ukiran tangan yang ia yakini adalah tulisan tangan Senja sendiri.
*Happy birthday, Leona.
Wish you all the best
Sorry, kadonya telat hehe
Aku cuma bisa kasih ini, karena saat liat benda ini aku jadi ingat kamu sama Adit di pesta malam itu. Walaupun kamu bilang ke Lucas, kalau Adit cuma teman kamu. Tapi aku tau, kamu dan Adit saling suka kan? Hehe, aku tau itu.
With love
- Senja*
Leona blushing membacanya. Bagi Leona, Senja sangat mengerti perasaannya. Iya, Leona dan Adit memang saling menyukai. Adit bahkan sudah dua kali menyatakan cinta pada Leona, tapi Leona enggan menjawab. Leona takut Lucas marah. Lucas melarang Leona untuk berpacaran.
Saat ini Leona sudah berlari ke kamar Lucas. Mendapati Lucas yang sedang bermain game di ponselnya.
"Kak, besok ajak Kak Senja main kesini, dong." pinta Leona.
"Kenapa?"
"Leona mau ngobrol sama Kak Senja."
"Kamu nggak mau ngobrol sama kakak?" Lucas masih sibuk dengan ponselnya.
"Bukan gitu, tapi Leona pengen berterima kasih sama Kak Senja."
"Nggak janji, deh."
"Yahhh. Kak jangan gitu, dong." rengek Leona.
"Iya besok kakak aja Senja kesini."
"Yeayyy, gitu dong."
"Emang mau ngobrol apa sih?"
"Apa aja, banyak hal. Aku senang sama Kak Senja, aku jadi ngerasa punya kakak perempuan. Dia perhatian sama aku."
Lucas menyudahi bermain gamenya. Ia menatap Leona sambil menaikkan sebelah alisnya. "Dia kasih kado apa ke kamu?"
"Ada, deh. Kepo." Leona tertawa dan berlalu meninggalkan kamar Lucas–sedikit berlari.
__ADS_1