The(My) Universe

The(My) Universe
The Second Day


__ADS_3

"Tingkahmu tidak akan membuatku hilang rasa, seaneh apapun itu. Ini bukan perihal tampilan, melainkan hati."


🍁🍁


"Nja, lo di dalam?" Vania mengetuk pintu kamar Senja.


"Masuk, Nia."


"Lo tadi kemana aja?" tanya Vania to the point–setelah menutup kembali pintu kamar Senja.


"Di bawa sama si badboy nggak jelas itu." Senja tetap fokus membaca novel.


"Kemana?"


Senja beranjak dari meja belajarnya, kini duduk di pinggir kasur bersama Vania.


"Lo kalau mau nanya tentang dia, mending keluar aja."


"Ih, sensi amat!!" gerutu Vania.


"Gue sama sekali nggak mau bahas tentang dia."


"Iya, ganti topik deh."


"Aduh, Nia. Lo nggak liat gue lagi ngapain?"


"Baca novel." polos Vania.


"Itu tahu, yaudah jangan ajak ngomong gue."


"Ih, nyebelin lo!"


"Berisik."


"Udah ah, gue mau bobo cantik aja." Vania beranjak menuju pintu. "Good night, Nja."


"Night."


"Jangan lupa nyalain alarm, Nja!!" teriak Vania dari balik pintu.


"Iya, cerewet."


🍁🍁


Hari kedua tiba, Senja tampak lebih siap dari hari kemarin. Pokoknya apapun yang Lucas lakukan, Senja berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan goyah.


"Selamat pagi," Lucas yang baru datang langsung mendekati meja Senja.


"Nggak usah sok manis, lo itu penjahat!" sadis Vania.


"Lo kenapa? Biasanya senyam-senyum liat gue."

__ADS_1


"Udah nggak lagi."


"Oke, terserah."


Lucas menuju meja di belakang Senja, ia meletakkan tasnya disana. Kemudian datang Fahmi dah Zidan.


"Kita jadi pindah tempat, Cas?" tanya Fahmi.


"Yoi, lo duduk di sebelah gue, Mi." Fahmi menurut. Zidan pun memilih duduk di belakang Fahmi, di barisan paling belakang.


"Ngapain sih lo pada ngumpul di belakang gue sama Senja?" ketus Vania.


"Galak banget sih jadi cewek!" cibir Zidan.


"Bodo! Gue nggak suka liat kalian bertiga." Vania pergi meninggalkan kelas.


Dengan cepat Lucas mengambil alih kursi kosong Vania.


"Gue ke kantin dulu, mau cari sarapan." ujar Fahmi.


"Bareng Mi, gue juga belum sarapan." tambah Zidan.


"Nggak ikut, Cas?" Fahmi memberikan tawaran.


"Nggak, kalian duluan aja."


Hening, hanya tersisa Senja dan Lucas. Senja sibuk menatap buku novelnya, hingga tak sadar bahwa kelas kini hanya tersisa dirinya dan Lucas.


Senja melirik Lucas sesaat sebelum akhirnya kembali membaca.


"Senja. Gue tanya sama lo!" kini kalimat Lucas menjadi tegas.


Diam. Senja masih belum merespons.


Lucas merebut novel tersebut secara tiba-tiba, "Chiko siapa?"


"Kenapa lo jadi kepo, sih?"


"Gue mau tau, dia siapa?"


Senja mengambil novel itu secara kasar tapi karena Lucas memegangnya dengan erat, akhirnya novel itu terobek.


"Lo nggak perlu tau tentang gue," Senja melepas tangannya dari buku novel tadi, "Cukup lakuin tantangan yang lo buat. Nggak usah mencampuri urusan pribadi gue."


Setelahnya Senja pergi. Meskipun terlihat tenang tapi pasti sebenarnya gadis itu sangat marah karena novelnya yang tidak sengaja terobek. Lucas melihat novel bercover abu-abu tersebut dan meletakkannya pada kolong meja Senja. Terbesit setitik rasa bersalah di hati Lucas.


🍁🍁


Suasana jam istirahat kali ini begitu tidak nyaman karena Senja harus makan bersama Lucas. Tentu terpaksa. Sejak awal Senja tidak suka Lucas. Sekali lagi, Senja tidak suka Lucas. Bahkan tadi pagi Lucas menghancurkan mood Senja. Novel yang sudah Senja tunggu-tunggu dan saat sudah ia miliki, justru harus rusak karena ulah Lucas.


"Nggak usah liatin gue!" ketus Senja

__ADS_1


Lucas tertawa garing, "Galak banget."


Senja lahap memakan siomay tanpa menatap Lucas sekali pun. Senja sengaja makan dengan berantakan agar Lucas ilfeel lalu pergi meninggalkannya. Itu akan lebih baik bagi Senja. Ah, sepertinya Senja salah. Lucas sama sekali tidak terganggu dengan gaya makan Senja. Lucas juga tidak terlihat ilfeel. Wajah Lucas justru terlihat senang dan sesekali tersenyum.


"Sorry, karena gue novel lo jadi robek."


"It's, ok. Gue bisa beli lagi." Senja menyendokkan banyak siomay ke mulutnya hingga pipi Senja membulat.


Tetap, Lucas tidak ilfeel. Justru Lucas kembali tertawa, kali ini tertawa lebih tulus. "Kalau makan yang bener."


Lucas membersihkan bibir Senja yang sedikit belepotan terkena bumbu dari siomay. Tanpa tissue, hanya menggunakan jari telunjuk yang di tekuk. Senja menghentikan kunyahannya. Membiarkan siomay membentuk bulat pipinya.


"Bagi gue lo nggak keren. Makan aja masih belepotan kayak anak kecil, lalu dimana letak cool-nya?" Lucas sengaja menekan pada kata cool.


Semakin geram. Senja langsung menepis tangan Lucas dan memilih untuk membersihkan area bibirnya menggunakan tangannya sendiri. Kemudian Senja kembali mengunyah makanan di mulutnya dengan ekspresi kesal.


Lucas tertawa lucu, "Pasti lo udah mulai berdebar-debar, kan."


"Nggak!" tegas Senja setelah mulutnya kosong.


"Nggak apa-apa, masih ada delapan belas hari ke depan."


"Kalau sampai di hari ke dua puluh gue tetap nggak jatuh cinta sama lo, gue dapet apa?"


"Apa aja yang lo mau."


"Kalau gue minta lo untuk jauh-jauh dari hidup gue?"


"Akan gue lakuin kalau emang nanti gue yang kalah."


Senja mengangguk sambil tersenyum. Membayangkan hari kemenangannya nanti.


"Tapi kalau gue menang, lo harus jadi pacar gue."


Senja tertawa yang terdengar memaksa, "Ngebet banget!!"


"Lo harus setuju."


"Oke." pede Senja.


"Ntar gue yang anterin lo balik dan besok gue juga yang akan jemput lo."


"Nggak usah, gue udah di jemput Chiko."


"Emang Chiko siapa sih?" Lucas jadi sensi sendiri mendengar nama Chiko.


"Manusia."


Lucas memutar bola matanya, "Maksud gue, hubungannya sama lo apa?"


"Kepo!" Senja yang sudah menyelesaikan makannya langsung pergi meninggalkan kantin.

__ADS_1


__ADS_2