The(My) Universe

The(My) Universe
Joint Punishment


__ADS_3

"Zona ini berkonspirasi menyudutkan posisiku."


šŸšŸ


Lucas menelusuri lorong, tak sengaja melewati kelas duabelas-lima. Di sana Lucas dapat melihat Vania yang sedang duduk dan tertawa bersama Chiko. Lucas berlalu begitu saja, meski pikirannya sudah sangat rumit.


"Sebenarnya apa hubungan Senja-Chiko dan Vania-Chiko? Pasti salah satu dari keduanya ada yang jadi pacar Chiko. Atau terjadi cinta segitiga disini? Atau mungkin ada perselingkuhan? " batin Lucas.


Ah, pikiran Lucas jadi kacau. Lucas masuk ke kelas, disana ada Fahmi dan Zidan.


"Dari mana, Cas?" tanya Zidan saat Lucas sudah duduk.


"Eh, gue mau nanya sesuatu sama kalian." Lucas memiringkan duduknya, agar Zidan yang duduk di belakang juga mendengar.


"Apaan?" sambut Fahmi.


"Chiko itu pacarnya Senja atau Vania?" tembak Lucas tanpa basa-basi.


Fahmi dan Zidan terkekeh, dikira mau nanya apa sampai raut wajah Lucas jadi sok serius begitu.


"Jawab, aja." seru Lucas.


"Menurut gosip yang beredar, dulu Chiko itu suka sama Senja tapi karena Senja tau kalau Vania suka sama Chiko, eh Senja malah jadi mak comblang mereka. Sampai sekarang dah tuh, Vania sama Chiko pacaran." Zidan menjelaskan.


"Kalau Senja suka nggak sama Chiko?" Lucas langsung bertanya pada inti point terpentingnya.


"Untuk itu sih nggak ada yang tau, kayaknya Vania sama Chiko sendiri pun juga nggak tau gimana perasaan Senja yang sebenarnya." giliran Fahmi memberi jawaban.


"Lo tau sendiri kan, betapa cool-nya Senja sebagai cewek. Dia cuma menunjukkan sikap kerennya di depan semua orang, isi hatinya cuma dia yang tau." tambah Zidan.


"Vania sama Chiko udah lama?"


"Kurang lebih enam bulanan gitu, deh." jawab Fahmi.


Lucas mengangguk paham. Ada perasaan lega saat mengetahui bahwa tidak ada hubungan apa-apa antara Senja dan Chiko.


Tringgg!!!


Bel masukan berbunyi, seluruh siswa-siswi masuk ke kelas masing-masing. Tak terkecuali Senja dan Vania yang sudah duduk di kursi mereka sendiri.


Giliran pelajaran Fisika. Pak Sahid masuk dengan wajah garangnya. Ia salah satu guru killer paling ditakuti. Pak Sahid menjelaskan materi bab 2 di papan tulis.

__ADS_1


Alih-alih memperhatikan, Lucas lebih tertarik untuk menjahili Senja. Alasan Lucas pindah tempat menjadi di belakang Senja memang untuk itu, mengganggu. Lucas menarik dengan pelan rambut panjang Senja yang berwarna kecoklatan tersebut. Merasa risih, Senja membawa rambutnya ke bagian kiri depan. Tak berhenti, Lucas justru meniup belakang telinga bagian kanan milik Senja.


Sontak saja Senja merasa sangat amat terganggu akan hal itu. Senja paling tidak suka ada yang meniup belakang telinganya.


"Lo bisa diem nggak?!" Senja menoleh sambil berbisik tajam–tidak ingin Pak Sahid mendengar.


"Nggak, abisnya gue suka gangguin lo." Lucas juga berbisik.


"Lo itu nggak tau timing banget sih! Ini waktunya nggak tepat, gue mau belajar."


Lucas tersenyum, Senja kembali memposisikan pandangan ke arah papan tulis. Takut Pak Sahid memergokinya yang sedang tidak memperhatikan apa yang diterangkan.


Lagi. Lucas mengulangi aksi meniup belakang telinga Senja. Hal itu berhasil membuat Senja menoleh lagi.


"Mau lo apa, sih?!"


"Tadi lo bilang timingnya nggak tepat, emang timing yang tepat untuk gue gangguin lo, kapan?"


"Susah ya ngomong sama lo!" Senja kesal sekali. "Mau lo sebenarnya apa sih?"


"Liat lo kesal." jawab Lucas dengan sangat amat terlampau jujur.


"Gue udah kesal sekarang. Udah? Puas?"


"******, gue!" batin Senja.


"Saya bilang maju ke depan!!" tegas Pak Sahid.


Lucas berjalan maju duluan, ia lebih berani di banding Senja. Tapi pada akhirnya Senja juga maju ke depan. Tidak ada pilihan lain lagi.


"Saya paling tidak suka ada yang bermain-main di jam mengajar saya. Apalagi kalian malah asik pacaran!!"


Senja dan Lucas saling menatap, tergambar seulas senyum tipis di bibir Lucas. Sedang Senja sudah kesal setengah mati tapi dia tidak menunjukkan itu. Senja hanya menunjukkan rasa bersalahnya.


"Kita nggak pacaran, pak." Senja mengklarifikasi.


"Saya pernah muda, jadi kamu tidak perlu berbohong." Pak Sahid memandang Lucas dan Senja secara bergantian.


"Sudah, sana lari keliling lapangan lima kali. Setelah itu kembali." perintah Pak Sahid.


"Biar saya aja yang lari keliling lapangan sepuluh kali, Senja jangan di hukum pak."

__ADS_1


"Uuuh, so sweet." ujar Pak Sahid meledek.


"Jadi bagaimana anak-anak?"


"Hukum dua-duanya, pak." sahut Fara, bendahara kelas.


"Jangan pak, biar Lucas aja." Aidil, sang ketua kelas–lebih membela Senja.


"Dua-duanya pak, biar adil!!" seru Santi.


"Lucas aja, pak!" tegas Vania. Walaupun semua siswi membela Lucas, tapi Vania tidak. Selain karena untuk membela Senja–memang Lucas yang salah, Vania ternyata masih kesal pada Lucas yang sudah memukuli Chiko.


"Sudah! Tenang-tenang." Pak Sahid menenangkan kelas yang mulai gaduh.


"Kalian berdua lari keliling lapangan sepuluh kali. Sekarang!" perintah Pak Sahid pada Senja dan Lucas.


Mau tidak mau, suka tidak suka, hukuman itu harus mereka jalani. Keduanya langsung berjalan keluar kelas menuju lapangan.


"Lo, sih!" ucap Senja menyalahkan.


"Udah, biar gue aja yang lari. Lo tunggu aja di pinggir lapangan. Pak Sahid juga nggak bakal liat."


"Pak Sahid emang nggak liat, tapi Tuhan selalu ngeliat."


"Serem amat bawa-bawa Tuhan."


Senja berlari lebih dulu. Lucas langsung mengikuti, menyeimbangkan lari Senja agar dapat berdampingan.


"Nggak usah deket-deket!" ketus Senja.


Lucas tidak mengindahkan kata-kata Senja, terus saja ia berlari di samping Senja. Padahal ini sudah jam dua belas lebih tiga puluh dan matahari sangat terik, tega sekali Pak Sahid memberi hukuman seperti ini.


Keringat bercucuran di wajah ke dua murid yang sedang di hukum itu. Senja berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang mulai tersengal-sengal.


"Masih kuat?" Lucas jadi khawatir melihat Senja yang mulai terlihat kelelahan.


Senja tidak menjawab, ia melanjutkan larinya. Begitupun Lucas yang setia mengikuti.


Selesai sepuluh kali berlari mengitari lapangan, keduanya tumbang–terduduk lemas di lantai pinggir lapangan. Cuaca dan hukuman Pak Sahid sungguh membut mereka kehabisan energi, terutama Senja yang mulai tampak pucat serta keringat yang mengucur dengan deras di wajahnya.


Senja berniat ke kantin untuk membeli air minum. Ia berdiri dan mulai berjalan, tetapi tak lama Senja menghentikan langkahnya. Lucas bangun dari duduknya untuk mendekati Senja.

__ADS_1


"Lo–"


Brug!!


__ADS_2