The(My) Universe

The(My) Universe
Better


__ADS_3

"Seiring berjalannya waktu, hatiku tergerak untuk melakukan hal baik untukmu."


🍁🍁


"Gue lagi ngerjain tugas." Senja berbalik menghadap mejanya untuk menyelesaikan tugas.


"Yaudah, biarin aja nggak usah diobatin." Lucas sengaja bicara begitu agar Senja merasa iba dan mengubah pikiran.


Senja meneruskan pekerjaannya. Menjawab beberapa soal di buku.


"Cas, darah di kening lo udah kemana-mana, tuh." ucap Vania sengaja memanasi, tapi faktanya memang darah di kening Lucas sudah meluncur hingga setengah pipi. Layaknya keringat yang jatuh. Bedanya ini berwarna merah pekat.


"Biarin aja, nggak ada yang peduli juga."


"Sini deh, biar gue aja yang obatin."


"Nggak usah, Nia."


Senja menghentikan aktifitas menulisnya dan menghela nafas perlahan. Senja berdiri mendekati meja Lucas. Senyum Lucas mengembang dengan sangat bahagia.


"Sini, gue obatin." katanya seraya meraih kotak obat.


Lucas langsung duduk diatas mejanya. Senja mengobati dengan posisi berdiri agar tinggi mereka setara dan dengan mudah Senja mengobati.


"Nah gitu dong, kan gue suka." celetuk Vania.


"Duh, kalian menggemaskan deh!!"


"Kok lucu gitu sih."


"Kalau kayak gini nggak perlu nonton drakor lagi gue."


"Iyalah, ini mah real depan mata."


"Gratis pula."


Mereka-mereka itu senang sekali menggoda Senja dan Lucas dalam keadaan seperti ini.


"Lo kenapa sih hobby banget berantem? Emang nggak ada hobby yang lebih aman?"


"Gue nggak akan mulai kalau dia nggak mulai duluan, Nja."


"Yaudah, nggak usah di bales."


"Kenapa? Lo khawatir?"


"Nggak."


"Berarti biarin aja gue kayak gini terus."


"Janganlah."


"Kenapa? Takut gue kenapa-napa?"


"Nggak."


"Terus?"


"Gue capek jadi tukang obatin luka, lo."


Lucas tersenyum sambil mencubit gemas kedua pipi Senja yang sangat menarik perhatiannya.


"Aw!! So sweet sekali."


"Abis bisik-bisik berdua, langsung cubit pipi. Emang apaan sih yang diomongin?"


"Urusan rumah tangga." Lucas menanggapi dengan seringaian.


"Uluhh uluhhh."

__ADS_1


"Meshh!!"


"Gemay."


"Udah." Senja ingin kembali ke kursinya, tapi Lucas lebih dulu menahan tangannya.


"Makasih." ucap Lucas dengan nada menggemaskan.


"Sama-sama." Senja menjawab datar.


"YA AMPUN AMBYAR JANTUNG GUE!!" histeris Vania.


Setelah itu kelas kembali hening, kembali ke buku masing-masing. Tontonan gratis hari ini telah usai.


🍁🍁


Hari ini Lucas tidak hanya mengantar Senja pulang, tetapi juga sekaligus Vania karena Chiko sedang kerja kelompok.


"Emang kalian diem-dieman gini ya kalau lagi berdua?"


"Nggak juga, tergantung." Lucas menjawab pertanyaan Vania dengan santai dan apa adanya.


"Emang kalau ngobrol lebih banyak tentang apa?"


"Tentang lo, kita suka ghibahin lo." becanda Senja saja, aslinya tidak.


"Ih, pasti kalian jelek-jelekin gue ya?"


Lucas tertawa, "Dikit."


Vania memajukan tubuhnya, karena dia memang duduk di jok belakang.


"Pantesan gue sering tersedak kalau lagi makan, ternyata kalian sering ngomongin gue."


Lucas meraup wajah Vania dengan tangan kiri, sekilas. "Canda kali. Kita nggak ngomongin lo."


"Kirain."


"Iya, dia sering banget muji-muji lo." Senja sengaja menekan pada kata muji-muji.


Giliran Lucas menyentuh dagu Senja sepersekian detik. "Jangan cemburu gitu, dong."


Tangan Senja bergerak mengusap dagunya yang baru saja disentuh Lucas. "Nggak cemburu."


"Ya elah, jadi nyamuk dah gue." Vania kembali menyandarkan duduknya ke belakang.


"Nggak usah mulai deh, Nia."


Vania hanya mengerucutkan bibirnya.


🍁🍁


Tak lama mereka sudah tiba di depan rumah.


"Aduh, gue kebelet pipis. Gue duluan masuk, Nja. Oh iya, thanks Cas." Vania lebih dulu masuk ke dalam rumah.


Lucas hanya tertawa melihat tingkah Vania yang selalu ada-ada saja.


"Lo nggak mau mampir?"


Lucas menatap Senja dengan penasaran, "Tumben ya lo nawarin, biasanya juga enggak."


"Yaudah kalau enggak."


"Iya deh, gue mampir. Kan kemarin udah janji."


"Yaudah, masukin mobil lo ke garasi."


Mobil terparkir di garasi dengan rapi. Keduanya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Lo mau minum apa?"


"Nggak usah repot-repot."


"Yaudah, gue masuk bentar."


Lucas mengangguk. Ia melihat Senja masuk ke dalam kamarnya.


"Eh, Lucas. Mampir lo?" Vania baru keluar kamarnya dengan baju khas rumahan.


"Iya, nih."


"Mau minum apa?"


"Nggak usah, gue bentar aja kok."


"Oh gitu. Senja mana?"


"Masuk ke kamarnya tadi."


"Yaudah, gue temenin dulu deh."


"Ya elah, kayak sama siapa aja lo."


"Hehe, tapi lo kan tamu disini."


Detik berikutnya Senja sudah kembali dengan membawa jaket hitam.


"Kabur ah, ada orang mau pacaran." Vania ngacir ke kamarnya.


"Thanks ya," Senja menyerahkan jaket sambil tersenyum manis.


Lucas mengangguk dan memandangi Senja. "Gue suka senyum lo."


Senja memudarkan senyum itu dari wajahnya.


"Dipuji malah hilang."


"Ntar lo jatuh cinta sama gue."


"Kan udah."


"Harusnya lo yang kalah, nggak sih? Kan lo udah mengakui ini."


"Tantangan ini untuk menaklukkan hati lo, bukan hati gue."


Senja mengerucutkan bibirnya. Wajahnya sangat menggemaskan.


"Jangan terlalu menggemaskan. Ntar gue makin cinta."


Senja hanya menggelengkan kepala mendengar kalimat Lucas.


"Oh iya, tentang bunga," Senja berpikir sejenak.


"Lo suka?"


"Biasa aja sih tapi karena lo udah kasih, gue mau berterimakasih."


"Iya sama-sama. Emang lo sukanya bunga apa?"


"Gue su–" belum saja selesai, sudah di potong dengan cepat.


"Bunga bank ntar aja gue kasih, kalau lo udah jadi istri gue."


"Ih, pede banget!"


Lucas tertawa. "Yaudah, gue balik."


"Iya."

__ADS_1


Senja mengantar Lucas sampai depan pintu. Saat mobil Lucas sudah mulai menjauh, Senja baru kembali masuk.


__ADS_2