The(My) Universe

The(My) Universe
PMS


__ADS_3

"Tanpa perlu dijabarkan lagi, aku dapat melihatnya. Melihat hatimu yang begitu tulus walau sulit untuk disentuh."


🍁🍁


"Lo itu sama aja sama Vania! Biang gosip!" Senja memarahi Lucas saat mereka sudah berada di perjalanan pulang. Layaknya seorang ibu yang memarahi anaknya memakan coklat padahal sudah dilarang.


Lucas tertawa, "Gue cuma mengaminkan ucapan mereka."


Senja duduk bersandar serta melipat kedua tangannya. Hari ini sangat mengesalkan karena seluruh sekolah menggosipinya. Apalagi gosip bahwa Senja adalah pacar Lucas. Itu semakin membuatnya kesal. Seperti mimpi buruk di siang bolong.


Drrrttt...


Ponsel Lucas bergetar.


"Halo, bi." Lucas menyapa seseorang yang menelepon tersebut.


"Sakit apa?" wajah Lucas berubah menjadi panik.


"Iya, bentar lagi Lucas balik."


Setelah Lucas mematikan sambungan telepon itu, kini ia melajukan mobilnya. Senja sudah bertanya berulang kali tapi Lucas hanya menjawab dengan jawaban ambigu.


🍁🍁


Disinilah Lucas membawa Senja. Sebuah rumah mewah bertingkat dengan cat putih yang menambah kesan megah.


"Ini rumah siapa?"


"Rumah gue."


Senja mengikuti langkah Lucas yang langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Keduanya menaiki tangga menuju lantai dua, kemudian masuk ke salah satu kamar dengan nuansa merah muda.


Disana ada seorang gadis yang usianya tak jauh dari Lucas maupun Senja–sedang terbaring. Selain itu ada seorang perempuan paruh baya yang duduk disampingnya.


"Den, dari tadi non Leona ngeluh sakit perut." adu perempuan paruh baya tersebut.


"Nggak apa-apa tinggal aja bi, udah ada Lucas."


Orang itu lalu keluar, Senja meyakini bahwa beliau adalah asisten rumah tangga disini.


Lucas duduk di kasur sebelah gadis yang bernama Leona.


"Kamu kenapa, dek?" lembut Lucas.


"Leona sakit perut, kak," ucap gadis itu sambil memegangi perutnya.


"Rasanya gimana?"


"Nggak bisa di jelasin, tapi sakit banget."


"Emang kamu makan apa hari ini?"


"Bukan karena itu," gantung Leona.


"Terus karena apa?"


Leona menoleh ke arah Senja yang berdiri tak jauh dari Lucas, "Kak, sini deh."


Senja jadi bingung, "Aku?"


"Iya. Sini deh kak, aku bisikin."


Senja duduk di sebelah Leona yang baru saja mendudukan dirinya juga. Disitulah Leona membisikan sesuatu pada Senja. Lucas hanya bisa melihat keduanya sambil menahan rasa penasarannya.


"Oh, gitu. Yaudah, aku bikinin obat dulu." ucap Senja setelah selesai mendengar bisikan Leona.

__ADS_1


"Makasih ya, kak." ucap Leona.


"Iya, sama-sama. Yaudah kamu istirahat aja dulu."


"Iya, kak."


"Dapur lo dimana?" Senja bertanya pada Lucas.


"Ayo, gue anter."


Mereka kembali turun ke lantai satu dan menuju dapur.


"Bi, rempah-rempahnya ada dimana ya?" tanya Senja kepada ART tadi–kebetulan juga berada di dapur.


"Ada disini semua, non." ia menunjukkan salah satu rak yang di gunakan untuk meletakkan semua rempah.


"Makasih, bi."


"Sama-sama, non." kemudian ART tersebut keluar dari dapur. Meninggalkan Senja dan Lucas.


"Leona itu adik gue." ujar Lucas memberitahu.


"Udah ketebak." Senja mengambil beberapa item dari sekian banyak rempah yang tersedia.


"Emang dia bisikin lo apa? Dia sakit apa?"


"Kepo. Ini urusan perempuan." jawab Senja sambil mengupas kunyit.


"Gue khawatir sama Leona. Sebenarnya dia kenapa?"


"Lo nggak usah khawatir, dia bakalan baik-baik aja. Semua perempuan pasti pernah merasakan ini."


"Emang sakit apaan, sih?"


"Nyeri dan kram perut. Hal itu memang biasa terjadi pada saat lagi dapet."


"Tapi kenapa dia malah ngomong ke lo ya, bahkan kalian belum saling kenal."


"Udah ya, nggak usah nanya mulu. Gue lagi sibuk, lo jagain Leona sana."


"Gue mau temenin lo disini."


"Nggak usah, gue bisa sendiri."


"Yaudah, gue ke kamar Leona duluan." Lucas pun menuruti perintah Senja.


"Perempuan tadi pacar kakak?" tanya Leona.


"Iya."


"Cantik banget, aku suka liatnya."


Lucas terkekeh mendengar ucapan adiknya. "Kamu bikin dia repot, tau."


"Hehe abisnya aku malu sih kalau bilang ke Kak Lucas."


Lucas mengusap lembut kepala adiknya, "Iya, nggak apa-apa."


Tak lama Senja kembali bergabung, tak lupa juga dia membawakan segelas minuman herbal. Minuman yang tadi dibuatnya sendiri.


"Ini pahit ya, kak?" tanya Leona sambil menatap isi gelas.


"Enggak kok."


Leona akhirnya meminum secara perlahan tapi pasti. Segelas minuman herbal itu ludes dalam sekali minum.

__ADS_1


"Makasih ya, kak." ucap Leona sembari meletakkan gelas ke atas nakas.


"Iya, sama-sama."


Leona mengulurkan tangan, "Aku Leona."


Senja menjabat tangan itu, "Aku Senja."


"Aku senang deh, Kak Lucas punya pacar secantik Kak Senja."


Ucapan Leona membuat Lucas mendapat tatapan tajam dari Senja. Lagi-lagi Lucas mengklaim Senja sebagai pacarnya.


"E-t–"


"Kamu istirahat aja ya, kakak harus nganterin Kak Senja pulang." Lucas memotong ucapan Senja dengan cepat.


Leona mengangguk, "Lain kali Kak Senja main kesini lagi ya."


"Boleh." jawab Senja. "Yaudah aku pulang dulu, kamu jaga diri baik-baik ya."


"Hati-hati ya, kak."


"Iya."


Lucas menarik selimut agar menutupi tubuh adiknya. Kemudian Lucas dan Senja keluar dari kamar dan juga rumah. Keduanya masuk ke dalam mobil.


"Thank you, Nja."


"Nggak usah berterimakasih, gue ikhlas."


"Gue tau, hati lo itu tulus."


Senja tersenyum simpul.


"Gue nggak membayangkan gimana perhatiannya lo nanti kalau gue kenapa-kenapa." celetuk Lucas.


"Kalau untuk lo sih, males banget."


"Masa sih?"


"Iyalah, emang lo siapa."


"Masa depan lo."


"Pede gila!!"


Lucas tertawa bahagia. Benar-benar hal menyenangkan bagi Lucas jika berhasil membuat Senja kesal. Benar kata orang, bahagia itu sederhana.


"Lagian lo tuh ya! Suka banget ngaku-ngaku."


"Ngaku-ngaku?"


"Lo udah ngaku-ngaku jadi pacar gue di depan seisi kelas, depan Pak Zaki dan sekarang depan Leona juga."


"Tapi lo senang, kan?" goda Lucas.


"Nggak sama sekali!"


Lucas tersenyum, "Keputusan gue pindah ke SMK Kusuma sama sekali nggak salah, gue seneng dipertemukan sama lo."


"Tapi gue enggak."


"Empat belas hari ke depan pasti lo akan merasakan hal yang sama."


Senja membuang nafasnya secara gusar, "Tingkat pede lo udah ketinggian."

__ADS_1


Lucas terkekeh.


__ADS_2