
"Setiap kalimatmu semakin memporak-porandakan hatiku."
šš
Gedung seluas ballroom hotel di ubah layaknya negeri dongeng. Nuansa pink pastel dan putih mendominasi setiap dekorasi dan berbagai macam benda.
Seorang gadis berdiri di belakang kue ulang tahun berwarna pink-putih bertingkat tiga.
Sebelum masuk, Lucas terlebih dulu menggandeng jemari Senja. Bukannya Senja naif, ia sebenarnya sudah menolak. Tapi tolakannya selalu gagal dan malah berujung ancaman gagal bertaruh. Akhirnya dia pasrah dan harus menggenggam balik jemari Lucas.
"Leona ulang tahun?" tanya Senja, saat mereka baru masuk ke dalam gedung tersebut.
"Iya."
Lucas mengajak Senja naik ke atas panggung untuk bertemu dengan Leona.
"Kak Senja!!" Leona yang tampil cantik dengan dress pink pastelnya serta mahkota menghiasi kepalanyaāmemeluk Senja dengan sangat gembira.
"Happy birthday, Leona." ucap Senja seraya melepas pelukan.
"Makasih Kak Senja. Leona seneng banget ada kakak disini."
Senja tersenyum, lalu terlihat berpikir sejenak. "Leona, maaf ya."
"Maaf kenapa kak?"
"Aku nggak bawain kamu kado, soalnya aku nggak tau kalau kakak kamu mau bawa aku kesini."
Leona tertawa santai. "Kakak datang aja, Leona udah seneng banget."
Senja jadi merasa tidak enak, "Nanti kadonya nyusul, deh."
"Iya kak, gampang aja."
Leona meraih tangan Senja di sebelah kanan, kemudian bergantian meraih tangan Lucas di sebelah kiriāposisi Leona di tengah-tengah.
"Kehadiran kalian udah lebih dari cukup. Leona jadi ngerasa lengkap, kalian udah seperti pengganti papa-mama yang mendampingi Leona." air mata Leona berhasil jatuh.
Senja mengusap lembut air mata Leona menggunakan tangan lainnya yang tidak di pegang Leona. "Nggak boleh ada air mata di hari ulang tahun."
"Ini air mata kebahagiaan, kak." Leona memeluk keduanya secara bersamaan.
Senja dan Leona, mereka baru bertemu beberapa kali tapi rasanya sudah saling menyayangi satu sama lain layaknya saudara kandung.
"Ladies and gentlemen!! Malam ini adalah ulang tahun si cantik Leona Nugroho. Berikan tepuk tangan yang gemuruh!!" MC memikat perhatian para tamu undangan.
"Karena malam ini para hadirin sudah berdatangan. Dan Leona juga sudah di temani oleh kakak danā" MC itu menjeda kalimatnya. Menunggu konfirmasi siapakah wanita yang berdiri di panggung bersama Leona dan Lucas.
"Calon kakak ipar." teriak Leona membuat pipi Senja blushing.
"Oh, baiklah. Ternyata kakak dan calon kakak ipar yang mendampingi si cantik Leona malam ini." laki-laki berbadan gempal itu sedikit menarik napas. "Jam sudah menujukkan pukul delapan. Apakah kalian menanti inti acara?" tanyanya pada audience.
"Iyaaaaa!!" kompak seluruh tamu.
"Baiklah, langsung saja untuk acara tiup lilin dan potong kue!!" para tamu menyambut antusias dengan tepukan tangan.
Dengan otomatis lagu berdentum mengisi seluruh ruangan kedap suara tersebut.
__ADS_1
*Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday
Happy birthday
Happy birthday dear Leona
Tiup lilinnya
Tiup lilinnya
Tiup lilinnya sekarang juga
Sekarang juga*...
Leona memejamkan mata, melantunkan doa-doa baiknya. Kemudian meniup lilin berangka 15.
"Yeayyyy!!" sahut MC dibarengi tepukan tangan.
*Potong kuenya
Potong kuenya
Potong kuenya sekarang juga
Sekarang juga*...
Kue bertingkat tiga itu, dipotong bagian paling atasnya oleh Leona. First cake ia suapkan pada Lucas, kemudian suapan kedua ia berikan pada Senja. Senja sedikit terkejut dan tidak menyangka. Lucas dan Senja berbalik menyuapi Leona.
Beberapa sahabat dekat Leona langsung naik ke atas panggung untuk memberi ucapan dan kado. Sedangkan Senja sudah di bawa oleh Lucas menuju booth makanan.
"Lo kenapa nggak bilang kalau Leona ulang tahun?! Gue jadi nggak bawa kado kan, untuk dia."
Lucas menyeringai santai. "Santai aja, Nja. Lo bisa kasih kado kapan aja, ke calon adik ipar lo itu." Lucas sengaja menekan pada kata calon adik ipar.
"Gue nggak mau sama lo. Nggak usah ngaku-ngaku!"
"Gue mau sama lo."
"Dasar! Mr. Pemaksaan."
"Lo, Mrs. Penolakan."
Senja mencebik kesal, ia meninggalkan Lucas. Menuju area minuman untuk mengambil segelas orang juice untuknya sendiri.
"Gue nggak bisa jauh-jauh dari lo." Lucas sudah memegang gelas di tangannya dan kini berdiri di samping Sebua.
"Gue risih, diikutin lo mulu!"
"Mulai sekarang lo harus terbiasa dideketin gue."
"Kenapa?"
"Karena gue akan menghabiskan sisa umur gue untuk hidup bersama lo." Senja tersedak mendengar ucapan Lucas. Padahal belum minum.
__ADS_1
"Eh, Nja. Lo nggak apa-apa?"
Senja meneguk sekaligus isi gelasnya. Membuat Lucas tercengang.
"Haus apa haus, lo?"
"HAUS!" dalam hati Lucas bahagia sekali. Membuat Senja kesal memang selalu menjadi hal yang membahagiakan baginya.
"Ok guys!! Karena disini banyak kaula muda-mudi, bagaimana kalau kita adakan dansa romantis?" MC tadi memulai aksinya lagi.
"Iyaaa!!"
"Setuju!!"
"Ok. Music!!" setelah MC memerintah, musik romantis kini memgambil alih suasana.
Para tamu hanyut dalam lagu dan ruangan yang lampunya dibuat lebih redup dari sebelumnya. Leona bahkan berdansa di atas panggung bersama teman prianya.
"Itu pacarnya Leona?"
"Bukan, itu temennya. Gue kenal kok, namanya Adit." Senja mengangguk paham.
Setelah cukup lama hanya menjadi penonton, kini Lucas mengulurkan tangannya kepada Senja.
"Apa?" polos Senja.
"Dansa sama gue."
Senja menyambut baik tangan Lucas. Kali ini dirinya hanya tidak mau merusak suasana yang indah ini, apalagi adiknya Lucas yang memiliki acara.
Lucas membawa Senja ke tengah-tengah area dansa, bergabung bersama yang lain.
Awalnya gerakan Senja sangat kaku karena menutupi kegugupannya, tapi lama-kelamaan Senja ikut hanyut dalam suasana romantis ini. Lucas dan Senja saling menatap dengan lekat. Gerakan keduanya lambat tapi begitu indah. Semakin lama semakin dalam terbuai suasana. Senja tidak lagi menatap Lucas, ia memilih untuk memejamkan mata karena merasa salah tingkah jika harus lebih lama lagi bertatapan sedekat ini dengan Lucas.
"Hari ke dua belas, gue masih menanti perasaan lo. Apa lo belum mencintai gue, Nja?" suara pelan dan lembut itu menggetarkan jiwa Senja. Lucas berbisik langsung di telinga Senja.
Senja kembali membuka matanya. "Gue mau balik!" Senja melepaskan tangannya pada pundak Lucas.
Berlari sekuat ia bisa untuk keluar dari gedung, membuat berapa orang tak sengaja di tabraknya. Lucas tak tinggal diam, ia mengejar Senja.
Keduanya berada di luar gedung. Karena terlalu buru-buru, kaki Senja mulai melemah sedangkan Lucas mempercepat langkahnya. Hingga Lucas berhasil meraih pergelangan tangan Senja. Menahannya sebelum Senja berusaha pergi lagi.
"Nja, lo kenapa?" Lucas menarik Senja ke hadapannya.
"Gue nggak bisa."
"Nggak bisa apa? Nggak bisa dansa sama gue? Atau, nggak bisa jawab pertanyaan gue?"
"Gue nggak bisa semuanya."
"Kenapa?"
Senja berusaha melepas kedua tangannya yang di cekal kuat oleh Lucas.
"Gue akan lepasin tangan lo, asal lo jawab, Nja."
"Gue nggak bisa kasih harapan palsu untuk lo!" tegas Senja.
__ADS_1
Tangan Lucas melemah mendengar kalimat terakhir Senja. Hatinya terasa sangat perih, otaknya tak lagi mampu berpikir. Senja yang merasa mendapat kesempatan pergi, langsung digunakannya dengan baik. Bahkan Senja berhasil menghentikan taksi. Lucas tidak lagi melihat Senja ada disana.
"Harapan palsu?" lirih Lucas, mengulang dua kata yang membuatnya hancur seketika.