The(My) Universe

The(My) Universe
House of Light


__ADS_3

"Perasaan tidak tumbuh dengan cepat. Rasa sama seperti tanaman yang tidak mungkin langsung tumbuh besar. Kamu harus memberikan pupuk, menyirami dan merawat hingga tumbuh menjadi sesuatu yang indah."


🍁🍁


"Kalian apa kabar?" tanya Lucas kepada anak-anak tadi–setelah mereka mendekati Lucas.


"Baik, kak."


"Kakak punya hadiah untuk kalian, yuk ambil di mobil." Lucas dan anak-anak menuju bagasi mobil.


"Halo, nak. Kamu temannya Lucas, ya?" seorang perempuan paruh baya berambut sepundak mendekati Senja.


Senja mengangguk sopan, "Iya, bu."


"Saya Rita, pengurus rumah cahaya ini."


Senja menyalimi Rita, "Saya Senja."


"Kamu orang pertama yang Lucas bawa kesini."


Senja hanya tersenyum. Tidak tau harus bereaksi seperti apa.


"Mari nak, kita duduk di dalam."


Senja mengikuti Rita, sedang Lucas dan anak-anak tadi sudah sibuk bermain di halaman depan.


"Bu, boleh saya tanya?" Senja berhati-hati sekali.


"Boleh. Mau bertanya apa, nak?"


"Anak-anak itu?"


Rita tersenyum kemudian mengangguk, "Kamu pasti bertanya-tanya siapa mereka, apa hubungannya dengan Lucas. Benar, kan?"


"Iya, bu."


"Anak-anak itu adalah anak yatim piatu. Keseluruhan ada duapuluh lima orang, hanya saja sebagian sedang sekolah. Kalau pagi seperti ini tersisa yang kecil-kecil, yang belum sekolah. Tapi kalau kamu kesini malam hari atau ketika libur sekolah, maka kamu bisa bertemu semuanya." tutur Ibu Rita. "


"Dan rumah cahaya ini adalah milik kedua orang tua Lucas, ibu menjaganya bersama anak ibu yang bernama Oliv." tambah Ibu Rita. Senja mengangguk paham.


"Setiap seminggu sekali Lucas selalu datang, karena sebenarnya Lucas meneruskan tugas kedua orang tuanya. Orang tua Lucas meninggal dunia sejak dua tahun silam."


"Bu, katanya Lucas datang, ya?" perempuan muncul di hadapan Senja dan Rita.


"Eh, maaf ada tamu ternyata." ujar perempuan itu lagi.


"Kenalin Liv, ini Senja temannya Lucas."


"Oliv."


"Senja."


Mereka berjabat tangan sesaat.


"Mau minum apa?" tanya Oliv.


"Nggak usah repot-repot."


"Yaudah kalau gitu Oliv nemuin Lucas dulu, bu."


Bu Rita mengangguk, menyetujui ucapan anaknya.


"Itu Oliv anak ibu, usianya sama seperti kamu dan Lucas. Mereka sudah berteman sejak kecil, karena dari dulu saya bekerja pada keluarga Lucas."


Senja mengangguk mendengar cerita Rita. Masih tidak menyangka dengan Lucas. Apa iya laki-laki dengan image bad bisa menjadi sedermawan ini dalam waktu bersamaan?


"Bu, saya mau ke depan dulu." pamit Senja.


"Oh, iya silahkan."


Setelah berpamitan, Senja keluar dari rumah. Berdiri menatap halaman depan. Senja dapat melihat Lucas dan juga Oliv yang sedang asik bermain bersama anak-anak itu di taman. Tiba-tiba seorang anak perempuan datang menghampiri Senja.


"Kak, ayo ikutan main."


Senja pun tak menampik tangannya yang ditarik.


"Halo, semuanya." Senja menyapa dengan ramah.

__ADS_1


"Halo, kak." mereka kompak menjawab.


"Kenalin, kaka ini namanya Kak Senja." ucap Oliv.


"Halo Kak Senja." kompak mereka lagi.


"Halo," Senja tersenyum ramah.


"Lanjut main, kak." seru anak laki-laki yang bertubuh gempal. Usianya mungkin sekitar empat tahun.


"Sekarang kalian mau main apa?" tanya Lucas.


"Main tutup mata, tapi yang pertama kali tutup mata Kak Senja." jawab salah satu dari mereka.


"Hah? Aku?" Senja bertanya pada anak-anak.


"Iya, kak. Ayo."


Senja tersenyum, "Iya, oke."


Lucas mendekati Senja, berdiri di belakangnya dan mengikatkan headband ciri khas badboy miliknya–yang baru saja dikeluarkan dari saku dalam jaketnya.


"Aduh, jangan kenceng-kenceng dong!!"


"Sorry," Lucas sedikit mengendurkan ikatannya.


"Yeayyy!!" anak-anak bersorak-sorai.


Lucas memutar badan Senja sebanyak tiga kali. Permainan pun di mulai. Senja mencoba menangkap salah satu dari mereka, tetapi belum berhasil.


Anak-anak sibuk berlari, menyelamatkan diri dari tangkapan Senja. Mereka terlihat begitu bahagia dengan permainan ini. Senja mencoba menangkap seseorang di samping kirinya, dengan cepat Oliv langsung berlari menjauh. Tawa anak-anak semakin pecah.


"Kalian jangan jauh-jauh dong, nggak bisa nangkap nih." seru Senja.


"Namanya juga permainan." jawab Lucas.


"Ayo kak, tangkap kita!!"


"Ayo, kak."


"Aku disini, kak."


Hap!


Senja telah berhasil menangkap seseorang.


"Yeayyyy, berhasil." Senja memeluk erat orang tersebut agar tidak lepas.


"Buka-buka!!"


"Buka-buka!!" seru anak-anak.


Senja melepas penutup mata itu dengan satu tangannya, sedangkan tangan lainnya masih memeluk erat orang yang berhasil ditangkapnya. Senja mengerjap, menstabilkan pandangannya yang terasa silau.


Setelah itu, betapa terkejutnya saat ia lihat bahwa orang yang dipeluknya adalah Lucas.


Iya, Lucas.


Dengan cepat Senja langsung mendorong dada bidang Lucas.


"Cieee," goda anak-anak.


"Eh, anak-anak. Nggak boleh gitu, ya." Oliv memperingati.


"Iya, kak."


"Yaudah, kita lanjutin main." ajak Oliv kepada seluruh anak-anak.


"Erat banget meluknya." bisik Lucas tepat di telinga Senja.


"Kalo gue tau itu lo, nggak akan gue peluk!" ketus Senja.


"Biasanya setelah nggak sengaja pelukan, jantung si cewek bakalan deg-degan." nada bicara Lucas terdengar seperti sindiran.


"Gue, nggak!"


Senja sudah tidak mau berdiri di sebelah Lucas lagi. Dia pun memilih untuk mengikuti permainan yang dilanjutkan oleh Oliv dan anak-anak. Tak lama Lucas juga mengikuti.

__ADS_1


Pagi itu mereka seru-seruan untuk main. Semua anak terlihat bahagia dan gembira. Dengan hal sederhana ini saja, kebahagiaan dapat tercipta.


Tapi sekitar pukul sepuluh tiga puluh, Lucas membawa Senja pergi dari sana. Anak-anak itu harus belajar. Guru les mereka akan datang untuk mengajar setiap jam sebelas sampai jam dua.


"Kita makan siang dulu. Gue laper."


"Lo aja, gue mau balik."


"Emang lo nggak laper?"


"Nggak."


Krukkk... Krukkk...


"Mulut lo bisa aja bohong, tapi perut lo enggak."


"Gue bisa makan di rumah."


"Gue nggak suka di tolak." tegas Lucas.


"Gue nggak suka di paksa." Senja tak kalah tegasnya.


"Intinya gue mau makan, terserah lo mau ikut ke dalam atau nunggu disini." ucap Lucas saat mobil sudah berada di depan restoran.


🍁🍁


"Gimana, udah mulai tertarik sama gue?" goda Lucas sebelum menyuapkan steak ke dalam mulut.


"Nggak sama sekali." cuek Senja sambil mengaduk minumannya.


"Yaudah nggak apa-apa, masih ada sembilan belas hari."


Senja memutar bola matanya dengan malas. Cowok ini terlalu absurd.


"Oh iya, tadi lo cerita apa aja sama Ibu Rita?"


"Nothing," Senja malas ngobrol dengan Lucas.


"Yakin?"


"Iya."


"Ntar gue tanya sendiri deh, ke Ibu Rita."


"Terserah, intinya cepetan habisin makanan lo. Gue mau pulang."


Sepuluh menit berikutnya, mobil Lucas berjalan menuju rumah Senja.


Senja teringat sesuatu, "Lo sama Fahmi-Zidan, ngapain ngeroyok Chiko?"


"Dia duluan yang nyolot. Dia tiba-tiba dateng, terus nyuruh gue untuk jaga jarak sama lo. Ya gue nggak mau lah, kan lo sama gue udah ada kesepakatan."


"Nggak gentle lah, lo bertiga sedangkan Chiko sendirian."


"Kenapa?"


"Gue nggak suka kalau lo nyakitin Chiko."


"Emang dia siapa lo? Pacar lo?"


"Stop di depan rumah warna putih." seolah Senja enggan menjawab pertanyaan Lucas dan lebih memilih mengalihkan.


Lucas menghentikan mobilnya di depan rumah minimalis bercat putih. Sesuai petunjuk yang Senja katakan.


"Jawab gue, dia siapa lo?"


Senja melepas sabuk pengamannya, "Bukan urusan lo." setelahnya Senja keluar dari mobil.


Saat hendak membuka pagar, tangan Senja ditahan oleh Lucas. Senja awalnya tidak menyadari bahwa Lucas mengikutinya turun dari mobil.


"Chiko siapa lo?!" tegas Lucas.


"Lepasin tangan gue."


"Jawab dulu!"


"Gue bisa aja teriak biar orang-orang pada datang," Lucas langsung melepaskan tangan Senja. Tidak ingin membuat keributan di wilayah orang.

__ADS_1


Senja langsung membuka pagar kemudian menutupnya kembali dan segera masuk ke dalam rumah dengan sedikit berlari. Lucas menyaksikan dengan rasa penasaran. Kalau tidak ada apa-apa kenapa tidak langsung jawab saja? Kenapa terkesan menyembunyikan sesuatu seperti itu?


__ADS_2