The(My) Universe

The(My) Universe
Revealed


__ADS_3

"Tidak ada yang ingin dibohongi, begitu juga dengan aku. Sungguh menyakitkan saat kebenaran terungkap, apalagi dengan cara yang tidak seharusnya."


🍁🍁


Senja sudah terkapar di lantai kamarnya dengan posisi masih memakai seragam putih abu-abu.


"Senja, bangun." Vania menangis karena terlalu khawatir.


Lucas tanpa basa-basi langsung menggendong tubuh Senja.


"Naik mobil gue aja." ucap Chiko yang langsung disetujui Lucas.


Vania yang duduk di bagian depan terus saja menolah ke arah belakang, tak tega melihat kondisi Senja. Sedangkan Lucas menahan tubuh Senja yang terduduk dengan lemas di pelukannya.


"Chiko, cepetan!!" perintah Vania dengan tidak sabaran.


"Iya, bentar lagi sampai."


Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit terdekat. Lebih lama dari yang seharusnya, wajar saja karena malam hari ini jalanan sangat padat.


Kini Senja sudah diletakkan di atas brankar menuju ruang perawatan intensif.


"Kalian tunggu disini dulu, biar dokter memeriksa." kata suster sebelum menutup pintu.


Senja dan Chiko duduk di kursi tunggu, mereka sangat cemas. Bahkan Vania terus saja menangis. Lucas pun tak kalah cemas, ia sampai tidak tenang sama sekali. Mondar-mandir seperti setrika.


"Keluarga pasien?" tanya dokter perempuan yang baru keluar dari ruang pemeriksaan.


"Saya dok, saya saudaranya." jawab Vania.


"Mari ikut ke ruangan saya, ada laporan yang harus saya jelaskan."


"Iya, dok." Vania mengikutinya.


Tak lama suster keluar dari ruang perawatan Senja, "Silahkan kalau mau di jenguk. Pasien sedang dalam kondisi di bawah pengaruh obat, dia tidak akan sadarkan diri sampai besok pagi."


Lucas dan Chiko langsung masuk untuk melihat sendiri keadaan Senja. Sangat menyedihkan, gadis yang biasanya selalu terlihat keren dan tegas, malam ini harus terbaring lemah dengan bantuan oksigen di hidung serta infus di tangan.

__ADS_1


Suasana hening mencekam. Mereka hanya bisa memandang wajah Senja yang amat sangat terlihat teduh.


"Gimana perasaan lo ke Senja?" pertanyaan Lucas memecah keheningan.


"Maksud lo?"


"Nggak usah pura-pura nggak tau, gue tau lo suka sama dia."


Chiko tersenyum, "Iya, gue sayang sama dia."


"Terus lo pernah omongin ini ke dia?"


"Udah,"


"Tanggapan dia?"


"Senja selalu berbelit, malahan selalu membahas kalau Vania suka sama gue."


"Apa lo tau perasaan Senja?"


"Gue nggak tau gimana perasaan dia, Senja nggak pernah mau jujur tentang itu." Chiko menghela napas perlahan. "Senja tau kalau Vania suka sama gue, maka dari itu Senja selalu minta supaya gue jadian sama Vania." jawab Chiko apa adanya.


"Gue nggak ada perasaan apa-apa ke Vania, semua ini demi permintaan Senja. Demi kebahagiaan Senja."


"Kalau seandainya Senja suka sama lo gimana?"


"Kalau pun dia suka sama gue, pasti dia akan nyimpan perasaan itu sendirian. Senja nggak akan mau liat sahabatnya terkhianati. Tapi, gue akan sangat senang kalau Senja memang menyukai gue."


"Kalau gitu lo nggak adil, dong. Lo pacarin Vania atas dasad permintaan Senja, sedangkan lo sendiri belum tau gimana perasaan Senja."


"Gue hanya melakukan apa yang Senja minta. Kebahagiaan Senja di atas segalanya. Asal dia bahagia, gue juga bahagia."


"Sekarang gue tau kenapa lo semarah itu dan nekat datangin gue waktu lo tau gue mengajukan tantangan untuk Senja."


Chiko mengangguk, "Tolong jangan sakitin Senja, gue akan hancur kalau ngeliat dia sedih."


Lucas menepuk pundak Chiko, kemudian tak sengaja matanya menyorot arah pintu.

__ADS_1


"Vania, lo sejak kapan disana?" tanya Lucas. Chiko memandang Vania yang berdiri di depan pintu–terlihat meneteskan air mata.


Vania berlari meninggalkan ruangan. Ia pergi ke taman yang ada di rumah sakit. Suasananya hening, ia menangis merutuki kebodohannya. Vania pikir selama ini Chiko benar-benar menyayanginya tapi ternyata tidak. Chiko melakukan ini demi Senja. Demi Senja, bukan karena Chiko mencintai Vania. Dan Vania semakin merasa menyedihkan karena tidak dapat mengerti Senja dengan baik.


"Nia," Chiko duduk di sebelah Vania.


Vania menangis sesenggukan, "Maaf, Chik. Maaf karena aku udah jadi penghalang hubungan kamu sama Senja."


"Nggak gitu, Nia." Chiko mengelus pudak Vania. "Aku bahkan nggak tau gimana perasaan Senja ke aku."


"Tapi tetap aja Chik, kamu pacarin aku cuma demi Senja. Bukan karena kamu sayang sama aku."


Chiko tidak menjawab, karena ucapan Vania barusan sepenuhnya benar.


"Aku lagi belajar untuk nerima kamu." ucap Chiko.


Vania menggeleng dan tangisnya pun menjadi, "Selama enam bulan ini kamu nggak ngerasain apa-apa ke aku, dan selamanya akan selalu begitu, Chik."


"Nia, ki–"


"Kita udahan aja, aku harus nerima ini." lantang Vania.


"Kamu nggak mau omongin ini baik-baik?"


"Nggak, Chik. Nggak. Udah cukup aku menjadi orang bodoh selama enam bulan ini. Aku mau membebaskan kamu dari hubungan yang nggak kamu inginkan ini."


"Aku ng–"


"Tinggalin aku sendiri!" tegas Vania berusaha melawan tangisnya yang terus saja banjir.


Chiko meninggalkan Vania. Tak ingin membuatnya semakin sedih dan menangis.


Sedangkan di ruang perawatan, Lucas setia menemani Senja. Lucas jadi penasaran tentang perasaan Senja kepada Chiko. Apa Senja menyukai Chiko?


🍁🍁


Sampai malam hari, baik Vania ataupun Chiko tidak ada yang kembali ke ruang perawatan Senja. Lucas menunggu Senja seorang diri. Tapi dengan begitu Lucas merasa bahagia, dia bisa memandangi wajah teduh Senja dengan leluasa tanpa ada yang mengusik.

__ADS_1


Waktu terus berjalan, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Lucas merasa sedikit lelah dengan semua kejadian yang terjadi hari ini.


__ADS_2