
"Aku tidak sedang mengukir kenangan, melainkan sedang menikmati sebuah proses kebahagiaan."
🍁🍁
"Mana lagi tuh orang!! Tau gini mending gue bareng Chiko sama Vania!!" gerutu Senja yang sejak tadi menunggu Lucas.
Senja sengaja berdiri di gerbang, agar saat Lucas datang nanti mereka tidak harus membuang-buang waktu lebih banyak lagi. Jam pelajaran akan di mulai lima menit lagi dan Lucas belum terlihat juga batang hidungnya.
"Fix telat nih!" gumamnya bermonolog.
Tak lama dari itu mobil sedan mewah berwarna putih milik Lucas muncul di hadapan Senja. Senja segera bergegas lari dan masuk.
"Lo lama banget, sih!"
"Iya sorry, jalanan macet. Lagi ada demo. Emang lo nggak liat di sosmed?"
"Liat." singkat Senja.
Jalanan memang sedang padat merayap hari ini karena beberapa jalan diblokir, sedang ada aksi demonstrasi. Senja memeriksa jam di ponselnya.
"Kayaknya percuma kita ke sekolah." gumam Senja.
"Emang kita udah telat berapa menit?" tanya Lucas.
"Dua belas menit."
"Fix, kita telat." Lucas semakin memperjelas.
"Yaudah, anter gue balik aja."
"Kenapa balik? Ini masih pagi. Lo nggak mau nikmatin hari ketujuh?"
Senja bosan sekali mendengar hari pertama, kedua, ketiga, hingga ketujuh. Tantangan ini sungguh menjebaknya. Tapi apa boleh buat, nyatanya Senja sudah terikat dengan Lucas sejak tantangan itu dibuat.
"Kita ngapain kesini?" tanya Senja yang saat ini dibawa ke taman oleh Lucas.
"Nikmatin pagi ini, lumayan mumpung udara lagi sejuk."
Senja dan Lucas duduk di taman. Suasananya tidak begitu ramai, hanya ada beberapa pengunjung. Karena memang kebetulan ini masih pagi dan jam kerja dan kebetulannya lagi orang-orang sedang banyak yang berdemo.
Cuaca saat ini sedang mendung, angin yang berhembus dingin sekali. Masih pagi ditambah angin dingin, rasanya menusuk hingga ke tulang.
"Masih belum jatuh cinta juga di hari ke tujuh?"
"Lo nggak perlu repot bertanya, jawaban gue akan terus sama sampai hari ke duapuluh."
"Masa gue kalah sama Chiko, sih?" Lucas lebih terdengar berbicara dengan dirinya sendiri.
Dan tak lama hujan turun dengan deras tanpa memberi aba-aba gerimis terlebih dahulu.
"Hujan Nja, ayo berteduh." Lucas baru saja akan membawa Senja berteduh dalam mobil tapi dengan cepat Senja menolak.
Lucas malah melihat Senja yang berdiri sambil merentangkan tangan serta menengadahkan kepalanya ke arah langit dengan mata terpejam. Lucas yakin, Senja sengaja menikmati hujan pagi ini.
"Jadi, lo mau melukis kenangan tentang hujan bersama gue?" tanya Lucas.
Senja menyudahi aktifitasnya, kini beralih pada Lucas. "Bisa nggak sih sehari aja nggak kepedean?"
"Nggak bisa." jawab Lucas dengan pede.
"Terserah lo!"
Senja ingin menikmati hujan yang mengguyurnya. Ia menatap setiap tetes air hujan yang jatuh di hadapannya, sesekali mengusap wajahnya. Rasanya sudah lama sekali dirinya tidak bermain hujan. Senja jadi mengingat ibunya. Dulu ibunya selalu marah jika Senja bermain hujan, tapi terkadang Senja bebal–tidak mau mendengar. Ingatan itu membuat Senja menyunggingkan senyum.
"Lo kenapa senyum sendiri? Baek-baek gila, lo." ah, Lucas ini mengganggu lamunan indah Senja saja.
"Ganggu banget sih lo!" Senja memukul-mukul Lucas.
Senja merasa kesal dengan Lucas yang sama sekali tidak bisa membuatnya tenang walau sebentar saja. Lucas justru tertawa sambil berlari menghindari pukulan Senja. Tak mau menyerah, Senja terus mengejar dan memukuli Lucas. Hingga adegan kejar-kejaran itu terjadi. Mereka seperti dua anak kecil yang sedang bermain-main. Lupa pada seragam putih abu-abu yang dikenakan.
"Aduh!! Iya-iya sorry." ucap Lucas yang mulai kelelahan.
Senja berhenti berlari, lelah juga rasanya. Kemudian Lucas juga berhenti berlari. Tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Mata indah Senja dan manik tajam Lucas saling terpaku. Hingga beberapa detik berikutnya mereka malah tertawa bersama. Entah apa yang lucu. Sepertinya karena mengingat tikah konyol mereka sendiri yang berlarian di bawah hujan.
"Gue seneng liat lo ketawa bahagia gini."
"Eh, udahan yuk. Udah mulai dingin nih." Senja mengalihkan perhatian.
"Yaudah, yuk."
Karena hujan juga sudah mulai reda, akhirnya cerita di bawah hujan ini mereka akhiri.
__ADS_1
🍁🍁
Setelah pakaian mereka sudah tidak terlalu basah, keduanya masuk ke dalam mobil. Senja menggosokkan kedua telapak tangannya kemudian menempelkannya di pipi, begitu terus hingga beberapa kali. Sedang Lucas mengambil jaketnya di jok belakang.
Hening. Suhunya sangat dingin. Dengan tiba-tiba Lucas memakaikan denim jaket–yang baru diambil tersebut untuk menutupi tubuh Senja. Senja cukup kaget dengan perlakuan Lucas.
"Lo aja yang pake, pasti lo juga kedinginan." Senja hendak melepas jaket itu tapi Lucas menahan tangannya.
"Gue cowok, lebih tahan dingin dibanding lo."
"Gue juga tahan, kok." Senja tak mau kalah. Seolah pernyataan Lucas barusan meremehkan perempuan.
"Iya, tapi sebaiknya lo pake aja."
Senja tidak mau membantah lagi karena sebenarnya tubuhnya memang merasa sangat dingin. Saat ini Senja justru memakai jaket itu dengan benar.
"Lo suka main hujan?"
"Suka. Tapi waktu gue kecil selalu dilarang sama nyokap."
"Pasti nyokap lo takut kalau lo sakit."
"Iya, semua ibu di dunia ini juga akan melakukan hal yang sama ke anaknya."
"Nggak. Gue nggak pernah ngerasain itu."
"Kenapa?"
"Bokap sama nyokap lebih banyak menghabiskan waktu untuk kerja di luar negeri daripada ngurus anak mereka di rumah. Kedua orang tua gue kehilangan momen untuk melihat tumbuh kembang anaknya."
"Tapi dibalik itu, mereka pasti sayang sama lo dan juga Leona."
"Sayang?" Lucas tersenyum remeh. "Gue nggak pernah ngerasa ada yang sayang sama gue."
"Pasti ada. Tapi nggak semua perasaan harus diungkapkan. Leona pasti sayang sama lo."
"Kalau lo sayang nggak sama gue?" Lucas tidak ingin menjadi melodrama disini sehingga mengubah topik pembahasan.
"Nggak." santai Senja.
"Kenapa?"
"Lain waktu aja, nggak enak baju gue udah basah."
Hati Lucas berdesir. Ada rasa senang saat Senja menawarinya untuk mampir. Dinginnya suhu udara tidak terasa lagi, hati Lucas menghangat mendengar Senja berkata baik padanya.
"Yaudah, kalau gitu gue turun dulu."
Lucas menahan tangan kanan Senja "Kenapa lo nggak sayang gue?"
Wajah Senja berubah menjadi serius, ia mendekatkan wajahnya pada Lucas. Menatap wajah Lucas dalam-dalam, membuat Lucas tidak sabar mendengar jawaban Senja.
"Karena lo bukan novel." setelah itu Senja tertawa puas dan keluar dari mobil Lucas.
Di dalam mobil, Lucas juga tertawa renyah. Senja sudah mulai bisa bercanda dengannya. Lucas senang sekali hari ini.
Senja baru saja akan membuka gerbang, tapi dia teringat oleh satu hal. "Astaga, jaket ini."
Senja berbalik badan dan berniat untuk mengembalikan jaket yang masih menutupi dirinya itu.
"Lha, cepet banget tuh orang!!" mobil Lucas sudah melaju meninggalkan rumah Senja.
"Udahlah, besok aja gue balikin."
Senja masuk ke dalam rumah. Ia membersihkan diri dan mengganti pakaian, kemudian mencuci jaket Lucas di mesin cuci sekaligus mengeringkannya. Dalam waktu satu jam, jaket itu sudah di lipat rapi dan wangi oleh Senja. Ia meletakkannya di atas meja belajar kamarnya.
Ting!!!
Bel rumah berbunyi. Senja menatap arah jam dinding dikamarnya.
"Sudah waktunya Vania pulang."
Senja sedikit berlari menuju pintu utama.
"Emang lo nggak ba–"
"Permisi, mbak. Saya mau anterin ini."
"Oh iya, maaf, mas. Tadi saya pikir saudara saya."
"Iya, nggak apa-apa mbak."
__ADS_1
Rupanya yang datang seorang kurir laki-laki, bukan Vania.
"Silahkan tandatangan disini, mbak."
Senja menandatangani, lalu kurir tersebut memberi sebucket bunga mawar merah.
"Terimakasih mbak, saya permisi."
"Terimakasih juga, mas."
Senja menutup pintu sambil terus memandangi bunga tersebut.
"Dari siapa ya, tumben banget."
Senja kembali menuju kamarnya. Kali ini dia memilih duduk di kursi meja belajarnya. Ternyata di bunga itu ada sebuah note kecil. Senja langsung mengambil dan membacanya.
Maaf udah bikin lo bolos hari ini :)
Makasih udah menghabiskan waktu sama gue
Tolong tetap tertawa dan tersenyum untuk gue
- Lucas
Senja menyunggingkan senyum dibibirnya. Entah mengapa ia begitu senang mendapat bunga ini.
"Nja, lo–" Vania yang masuk tanpa permisi langsung salah fokus, "E–cieee bunga dari babang Lucas ya." godanya.
"Ih! Apaan, enggak. Gue beli sendiri." alibi Senja.
"Boong banget!" Vania tidak percaya begitu saja.
"Lagian lo kalau masuk ketuk pintu, dong."
"Eh, iya sorry." Vania duduk di tempat tidur Senja. "Lagian lo kemana sih, kok nggak nyampe sekolah?"
Senja mendekati Vania, duduk di sebelahnya. "Telat."
"Hah? Berapa bulan?"
Senja menjitak kepala Vania, "Terlambat datang, maksud gue."
Vania terkekeh, "Alasan. Bilang aja mau pacaran sama babang Lucas."
"Enggak lah."
Mata Vania menatap ke arah meja belajar, "Lo beli jaket baru?"
Senja menggeleng, "Enggak."
Vania menyipitkan matanya, menyelidik. "Pasti jaket Lucas."
"Lo peramal?"
"Tuhkan! Lo sama Lucas pasti ada apa-apa. Ceritain kali ke gue."
"Nggak ada, Nia."
"Mana mungkin Nja, semua bukti mengarahkan kalau lo sama Lucas ada sesuatu."
"Sesuatu apaan! Lo pikir gue Syahrini."
"Ah, itu mah beda."
Senja tertawa melihat wajah Vania. Ekspresi wajahnya menunjukkan antara penasaran dan terlihat kasian.
"Lo mah pelit, nggak mau cerita."
"Nggak gitu Nia, nyatanya gue emang nggak ada apa-apa sama badboy nggak jelas itu. Jadi apa yang perlu diceritain?"
"Bunga itu?"
Senja menghela napas perlahan, "Iya, bunga itu dari dia."
"Terus hari ini lo sama dia?"
"Iya."
"Kemana?"
Akhirnya Senja menceritakan semua kejadian hari ini kepada Vania. Mereka memang sudah terbiasa membagi cerita satu sama lain.
__ADS_1