
"Rasa bersalah menggelitik pikiranku saat kamu mendiamkan aku."
🍁🍁
Setelah kejadian semalam, entah bagaimana Senja bisa bertemu Lucas. Rasanya benar-benar tidak sanggup.
"Apa dia sakit hati?"
"Apa dia kecewa?"
"Atau, dia marah?"
Tiga pertanyaan itu seolah mendominasi seluruh pikiran Senja. Ia sangat tidak fokus pada situasinya.
"SENJA!!" pekik Vania membuyarkan lamunan Senja.
"Apa?"
Vania memeriksa dahi Senja, "Lo sakit?"
"Nggak."
"Biasanya lo marah kalau gue teriak-teriak, tapi pagi ini nggak. Lo salah makan?"
"Nggak."
"Ih, gue sebel sama lo! Dari tadi gue ngomong panjang lebar, tapi lo nggak nyaut."
Senja kembali tenggelam pada pikirannya yang berkecamuk.
"SENJA VALLERIE!!" teriak Vania lagi dengan sebal.
"Apa?" nama yang disebut menoleh.
"Lo kenapa, sih? Ada masalah? Cerita ke gue."
Senja menggeleng lemas, "Nggak."
Vania gemas sekali dengan sahabatnya ini. Akhir-akhir ini sikap Senja banyak berubah padanya, jadi lebih banyak rahasia yang Senja simpan sendirian.
"Pagi ini gue bareng lo sama Chiko lagi, ya."
"Lucas masih nggak masuk?" lagi-lagi Senja menggeleng.
Keduanya saat ini sedang menunggu di halaman depan rumah.
"Ka–, tuh ayang beb lo datang!" tadinya Vania akan mengiyakan tapi mengurungkan niat karena melihat mobil Lucas datang.
"Nia, lo hari ini sama dia deh. Gue yang bareng Chiko"
"Kenapa?" Vania mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Gantian sekali-sekali."
"Bukannya lo bakal kalah, ya?"
Senja memutar kesal bola matanya. Jengah mendengar kata kalah. Senja pun tidak ada pilihan lain, selain masuk ke dalam mobil Lucas.
"Ucapin salam bisa kali!" Vania bermonolog karena Senja sudah dibawa pergi bersama hilangnya mobil Lucas dari pandangan mata.
Suasana mobil Lucas sudah seperti gunung es. Keduanya kaku, dingin dan membeku, tanpa bicara, tanpa saling melihat bahkan tanpa saling sapa. Seperti dua orang asing yang di kurung dalam satu sel penjara.
Senja memejamkan matanya dalam-dalam, ingin menyampaikan sepatah duapatah kata. Tapi bibirnya terasa kelu sekali untuk bicara. Senja melirik Lucas sekilas. Raut wajah Lucas terlihat berbeda hari ini. Tatapannya dingin.
"Sorry," lirih Senja akhirnya.
Hening. Lucas tetap menatap lurus ke arah depan. Senja menggigit bibir bawahnya. Perasaannya campur aduk, antara kecewa, takut, marah, sedih, semuanya menyatu dalam satu waktu.
"Sorry, gue nggak bermaksud bikin lo sakit hati."
Masih hening. Lucas seperti patung yang tidak bisa mendengar ataupun menjawab. Senja jadi merasa semakin bersalah. Dalam hidup, Valerie hanya ingin satu hal, yaitu dia tidak ingin menyakiti perasaan siapapun. Sejauh ini belum ada orang yang sakit hati karena Senja. Maka dari itu Senja juga tidak ingin kalau Lucas sakit hati karena ulah dan sikapnya.
"Lucas, maaf." lirihan itu terdengar sangat bergetar.
Entah apa yang Lucas rasakan saat ini, mungkin marah. Karena Lucas masih belum mau merespons Senja.
Senja benar-benar akan marah pada dirinya sendiri jika Lucas sakit hati karena dirinya.
"Gue turutin apa aja mau lo, deh. Asal lo jangan marah sama gue. Gue nggak bisa di diemin kayak gini."
🍁🍁
"Tugas minggu lalu, silahkan letakkan di atas meja saya. Akan langsung saya periksa hari ini juga." ucap Pak Sahid.
"Lo nggak ngumpul, Cas?"
"Gue belum ngerjain."
Senja mendengar secercah percakapan Lucas dan Fahmi.
"Sini sekalian gue kumpulin buku, lo." Vania baru akan menarik buku Senja, tapi Senja langsung mencegahnya.
"Gue belum ngerjain." jawab Senja terlampau santai.
"Bukannya udah gue kasih contekan? Masih belum lo kerjain?"
"Gue lupa." Senja memasang wajah polos tanpa dosa.
"Ini mata pelajaran Pak Sahid, Nja?" Vania meyakinkan Senja sekali lagi. Bisa-bisanya ia tidak mengerjakan tugas dari guru killer tersebut.
"Iya." Vania hanya mampu geleng kepala kemudian mengumpul bukunya sendiri ke atas meja guru.
Karena Pak Sahid terkenal guru killer maka tidak ada yang berani berisik. Semua menunggu Pak Sahid memerika buku-buku tersebut.
__ADS_1
Lima menit kemudian Pak Sahid selesai memeriksa. "Sepertinya ada dua orang yang tidak mengumpul. Silahkan maju, bagi yang merasa tidak mengerjakan!"
Lucas maju terlebih dahulu, kemudian Senja mengekor.
"Kalian lagi?!" tegas Pak Sahid. Kedua insan muda itu hanya terdiam.
"Kenapa tidak mengerjakan?" tanya Pak Sahid masih sama tegasnya.
"Lupa." datar Lucas.
"Sama." sambung Senja.
Seisi kelas menatap dengan tidak percaya. Dihadapan mereka Pak Sahid, tapi Lucas dan Senja bisa sesantai itu? Tidak takut kah mereka?
"Jangan mentang-mentang pacaran, terus kalian kompak tidak mengerjakan tugas saya, ya!!" keduanya kembali diam.
"Hormat tiang bendera sampai jam pelajaran saya habis. Sekitar, dua jam lagi." dengan entengnya Pak Sahid bicara.
Lucas dan Senja tanpa menolak langsung menuju lapangan untuk hormat di depan tiang bendera.
"Lo ngapain ngaku-ngaku nggak ngerjain?" dingin Lucas di tengah panasnya terik matahari.
Senja yang berdiri di sebelah kiri Lucas, kini menurunkan tangannya dari pelipis dan menoleh ke arah Lucas. "Lo tau dari mana gue ngerjain?"
"Hormat, bukan liatin gue!" tembak Lucas.
Senja kembali memasang sikap hormat. "Lo tau dari mana?"
"Apa sih yang nggak gue tau tentang lo?"
"Gu–" ucapan Senja terhenti karena Lucas kembali bicara.
"Ada satu yang gue nggak tau tentang lo. Hati lo."
Senja diam, tak menjawab. Malas jika topik pembicaraan tentang hati.
Senja menghapus keringat yang terus-terusan membanjiri wajahnya. Alam sedang tidak ingin bernegosiasi, hujan juga sedang tidak mau bermain-main. Siang ini matahari menjadi sangat serius.
"Panas banget!" setelah satu jam lebih, keluhan Senja pun terdengar pada akhirnya.
"Makanya nggak usah sok-sokan nemenin gue di hukum." sindir Lucas.
"Makanya lo jangan marah sama gue."
"Gue nggak marah."
"Terus kenapa hari ini beda?"
"Gue nggak mau di-PHP-in. Jadi lebih baik mulai sekarang gue mau jaga jarak dari lo."
Bukan tubuhnya saja yang panas karena sinar matahari, kini hati Senja ikut terasa panas karena ucapan Lucas. Ada rasa yang tak terima mendengar kata jaga jarak.
__ADS_1
"Berarti tantangan ini berakhir, dong?"