The(My) Universe

The(My) Universe
The Fourth Day


__ADS_3

"Untuk apa memaksaku peduli?


Hatiku tak akan gentar."


🍁🍁


"Gue nggak istirahat bareng lo hari ini, lo duluan aja sama Vania."


"Finally!!" Senja merasa lega dan senang.


"Tapi ntar pulang sekolah, gue mau ngajak lo ke suatu tempat."


"Nggak bisa, gue sibuk."


"Nggak ada penolakan."


"Nggak ada pemaksaan." Senja tidak mau kalah.


"Kalau lo nolak berarti lo kalah, emang udah siap jadi pacar gue?"


Senja geram sekali, tapi tentu saja tetap terlihat kece badai di segala suasana.


"Yaudah, gue duluan." setelah itu Lucas meninggalkan kelas bersama Fahmi dan Zidan.


"E-cieee intens banget sih, sampai pamit-pamit segala." ledek Vania.


"Apaan! Udah yuk kantin, gue laper."


"Yuk!!"


Senja dan Vania sudah berada di kantin. Mereka kompak makan bakso untuk menu hari ini.


"Lo nggak pengin tau si Lucas kemana?" Vania penasaran maka dari itu dia mencoba memancing.


"Nggak. Bukan urusan gue juga."


"Nja, lo itu mati rasa atau gimana sih?"


"Kenapa?" polos Senja dengan wajah innocent.


"Maksud gue, lo nggak ngerasa gimana gitu setelah deket sama Lucas?"


"Nggak, Nia. Gue nggak suka sama badboy kayak dia, untuk apa? Gue bukan hidup di dunia dongeng, melainkan dunia nyata. Gue butuh positif vibes."


"Kalo suatu saat Lucas berubah jadi goodboy?"


"Nggak mungkin, itu udah bawaan."


"Oke. Kita liat sampai beberapa hari ke depan." lalu Vania kembali menikmati makanannya.


🍁🍁


Jam pelajaran setelah istirahat kosong, guru yang mengajar sedang sakit.


"Asik, bebas pelajaran matematika." seru Fara.


"Tidur lagi," sahut Santi.


Suasana kelas menjadi ramai. Ada yang sedang bergosip, makan, main game dan tidur. Mereka terlalu menyambut antusias jam kosong seperti ini.


"Lucas kok belum datang?"


"Apaan sih Nia, lo kok jadi perhatian banget sama dia?"

__ADS_1


"Kan gue fans kalian pagar satu."


"Alay, lo!" cibir Senja sambil membuka novelnya.


"Gue whatsapp aja, deh."


"Lha, lo punya contact-nya?"


"Waktu lo pingsan di kamar, gue langsung hubungin dia untuk marah-marah."


Senja mengangguk cuek, memilih kembali pada novelnya.


"Yah, nggak di angkat." kecewa Vania.


Vania sudah berulang kali menelepon Lucas melalui free call di aplikasi salah satu aplikasi terhits, tapi tetap saja tidak ada jawaban.


"Gue jadi curiga, jangan-jangan lo suka ya sama badboy nggak jelas itu?" Senja menatap Vania penuh kecurigaan.


Vania menatap Senja tak kalah serius, "Kalau iya kenapa?"


"Nggak apa-apa, akui aja. Nggak usah sok jadi pendukung gue sama dia." Senja kembali lagi pada novelnya, sudah tidak ingin membahas hal ini lebih panjang lagi.


Vania tertawa puas, "Nggak lah Nja, gue becanda kali. Lo jangan cemburu gitu dong. Lucas cuma punya lo."


"Kalian kenapa?" suara Aidil–sang ketua kelas membuat seisi kelas menoleh ke satu arah yang sama.


"Astaga, Lucas!" seru Vania.


Lucas, Fahmi dan Zidan baru saja datang. Tidak tau darimana tapi yang pasti ketiganya sudah babak belur. Lucas paling parah, sampai di bajunya ada noda darah. Tampilannya sangat berantakan.


Semua murid meninggalkan aktifitas mereka sebelumnya, memilih untuk fokus melihat ketiga orang luka-luka tersebut, penasaran ingin menyaksikan secara langsung. Kecuali Senja.


Aidil memberikan kotak P3K ke meja Lucas, "Bantuin dong yang cewek. Nggak lucu kan, kalau gue."


Sedangkan Zidan sudah dibantu oleh Reva, salah satu murid kelas tersebut juga. Dengar-dengar mereka sempat dekat. Entah sampai jadian atau tidak.


Berbeda dengan Lucas, belum ada yang mengobati lukanya. Mereka semua bahkan minder duluan sebelum mendekati Lucas.


"Ini nggak ada yang mau bantuin Lucas?" tanya Aidil.


"Sini, biar gue aja." Zahra mendekat.


"Nggak usah," cegah Lucas.


Zahra mundur perlahan, kembali duduk di kursinya dan hanya menyaksikan dari jauh. Lumayan malu juga di tolak mentah-mentah di depan banyak orang seperti ini.


"Luka lo parah Cas, gue nggak mau ya kalau kasus ini sampai ke kepala sekolah. Ntar gue sebagai ketua kelas yang ribet ngurusin."


"Gue cuma mau kalau Senja yang ngobatin." jelas Lucas.


Senja mendengar namanya disebut, tapi tak sedikit pun ia bergeming dari posisinya.


"Nja, bantuin Lucas, tuh." tegur Vania yang sedang memberikan obat luka di kening Fahmi.


Masih tidak menjawab, Senja tidak mau ikut campur. Apalagi berurusan dengan Lucas dan juga obat-obatan. Walaupun Senja mulai memerima obat-obatan, tetapi tetap saja Senja enggan menyentuhnya jika tidak sedang dalam keadaan darurat.


"Senja, bantuin Lucas." pinta Aidil.


"Nja, bantuin."


"Darahnya udah kemana-mana, tuh."


"Baca novel mulu!!"

__ADS_1


"Senja, buruan."


"Nggak punya hati banget, sih."


"Cantik aja nggak cukup, percuma kalau nggak peduli sesama."


"Senja!!"


Gara-gara permintaan Lucas, kini Senja harus mendengar hujatan teman-teman sekelasnya yang mengidolakan Lucas.


Mau tidak mau Senja mendekati Lucas. Menarik salah satu kursi agar dapat duduk di sebelah Lucas. Dengan senang hati Lucas mengarahkan duduknya ke hadapan Senja hingga keduanya berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.


Senja menatap kotak P3K dengan penuh keraguan sampai Lucas berkata, "Lo harus berdamai sama masa lalu lo."


Senja menenangkan dirinya. Setelah itu dia menatap pasti kotak P3K tersebut dan mulai mengobati luka di bagian wajah Lucas.


"Lha, kok gue baper liat mereka?!"


"Gue juga."


"Dia yang berhadapan, gue yang deg-degan."


"Yhaaaa!!"


Siswi-siswi kelas bersahut-sahutan. Dua orang yang dibicarakan cuek bahkan tidak mendengarnya.


"Kalau lo suka sama mereka masuk grup LSL, gue ketuanya." ujar Vania yang langsung mendapat tatapan sinis mata Senja.


"Apaan LSL?"


"Lucas-Senja lova."


"Vania!" tegur Senja yang mulai geram. Bisa-bisanya Vania malah menjerumuskan sahabatnya sendiri.


"Oke, gue join."


"Gue juga."


"Gue ikutan, Nia."


"Tenang, lo semua boleh ikut." jawab Vania. Entah itu serius atau bercanda, Senja tidak memikirkannya.


Senja sudah tak menggubris Vania dan mereka-mereka yang katanya baper melihat Senja dan Lucas.


Senja kembali fokus pada wajah Lucas. Tadinya Senja malas tapi sekarang dia melakukannya dengan sangat telaten. Ada rasa tidak tega yang menyelinap di relung terdalam Senja saat melihat luka-luka ini. Lucas puas rasanya berada di jarak sedekat ini dengan Senja, ia bisa memandang wajah Senja dengan leluasa. Lucas laki-laki normal, tentu saja terpukau dengan wajah cantik Senja.


"Aduh!!" Lucas sedikit menjerit.


"Nggak usah berantem kalau gini doang ngeluh!! Nggak usah sok jagoan!" tegas Senja.


Niat hati Lucas menarik perhatian Senja, apa daya saat omelan yang didapat.


"Gue kira lo bakal bilang 'eh, sorry. sakit ya?' gitu."


"Over confidence nggak baik buat kesehatan jiwa."


Lucas terkekeh mendengar ucapan Senja, baginya Senja ini gadis yang sangat lucu dan menggemaskan. Image keren Senja sama sekali tidak berfungsi dihadapan Lucas.


Lucas mencubit kedua pipi Senja tanpa permisi. Hal itu membuat semua siswi menjerit histeris, terutama Vania–yang telah selesai mengobati luka Fahmi.


"Sweet banget, OMG!!" heboh Vania.


Senja mempercepat gerakannya. Tidak ingin berlama-lama di permainkan Lucas di hadapan banyak orang seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2