
"Dalam permainan pasti ada celah untuk kalah, aku siap menerimanya. Namun untuk kalah dari hatimu? Aku tidak akan pernah siap."
🍁🍁
"Ya ampun Nia, sorry kali. Marah beneran lo?"
"Iya!"
"Yaudah, gue minta maaf. Ntar gue ganti deh."
"Nggak. Pokoknya pagi ini gue mau bareng Lucas sama Senja aja."
"Ntar siang gue beliin sepuluh deh."
"Nggak." tegas Vania sekali lagi.
"Nia, udah deh. Itu cuma cotton candy,"
"Nja, lo kok jadi belain dia, sih?!"
"Nggak belain, tapi Chiko kan udah minta maaf. Lagian ntar siang dia mau beliin lo sepuluh cotton candy. Emang lo nggak mau?"
Vania cemberut, memasang wajah kesalnya. Tetap saja ia masih kesal pada Chiko karena mood menikmati cotton candy–kemarin–telah dirusak oleh Chiko.
"Gue udah di jemput. Duluan ya, byee." Senja langsung berlari masuk mobil Lucas.
Vania mengejar tapi mobil itu sudah melesat dengan cepat, "SENJA!"
"Udah sih, bareng gue aja."
"Sumpah ya Senja ngeselin banget. Sama kayak lo!" Vania menunjuk Chiko kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Katanya ngeselin, tapi masuk ke mobil gue juga ujung-ujungnya." Chiko menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"CHIKO! BURUAN!"
"Iya." Chiko langsung berlari masuk mobilnya, duduk di belakang kemudi.
🍁🍁
"Kenapa buru-buru gitu?"
"Tadi Vania mau ikut."
"Emang kenapa kalau Vania ikut? Takut ganggu kita?"
__ADS_1
Senja mengusap wajahnya kasar, "Bukan."
"Terus kenapa?"
"Kasian Chiko udah jauh-jauh jemput, masa' mau ditinggal sendirian?"
"Nggak yakin gue." tatapan Lucas seperti menyelidik, ditambah lagi dengan alis yang dinaikannya sebelah.
"Yaudah."
Lucas hanya tersenyum, "Jangan ngambek gitu dong, sayang."
"Nggak usah panggil sayang! Lagian gue nggak ngambek."
"Masa'?" Lucas menggelitiki pinggang Senja dengan tangan kirinya. Kekesalan Senja berubah menjadi tawa karena merasa geli.
"Lucas, please lepasin!!" Lucas menarik kembali tangannya.
Senja tidak lagi tertawa, ia menatap lurus ke arah jalanan yang ada di depannya. Sedangkan tangan kanan Lucas sedang menjelajah saku bagian dalam denim jaket yang digunakannya pagi ini.
"Semoga di hari ke sepuluh, lo udah mulai jatuh cinta sama gue." ucap Lucas sambil mengangkat satu tangkai mawar merah ke hadapan Senja.
Senja mengambil bunga tersebut dari tangan Lucas lalu menghirup aroma mawar segar itu.
"Waktu gue udah semakin sedikit, Nja. Tersisa sepuluh hari. Entah gue akan kalah atau menang dalam tantangan ini. Keputusannya ada di lo."
"Gue bukan takut kalah, tapi gue takut jauh dari lo." Lucas mengela napas perlahan. "Waktu itu bahkan lo bertanya tentang hadiah lo setelah menang, lo mau gue jauhin lo, kan?"
Sesak.
Rasanya ada sesuatu yang menghimpit dada Senja hingga membuatnya sesesak ini. Waktu itu memang Senja sangat menginginkan Lucas menjauhinya, tapi hari ini. Mendengar kalimat itu saja membuat titik sendu Senja bergejolak.
"Masih ada waktu sepuluh hari untuk ganggu gue, nikmatin aja. Nggak usah drama, deh!" Senja merespons dengan ringan.
Meskipun hatinya menolak berkata begitu, tapi logikanya membuat mulutnya bicara seperti itu. Ia tidak mungkin mengatakan perasaan aneh dalam benaknya.
"Gue nggak drama Nja, entah gimana hati gue nanti setelah menjauh dari lo."
Kalimat-kalimat Lucas sungguh berhasil menggetarkan kegelisahan Senja. Tapi saat ini Senja bisa bernapas lega, akhirnya mereka sampai di sekolah. Senja ingin mengahkhiri topik pembicaraan ini.
"Saat lo menang nanti, tolong jangan hukum gue untuk manjauh dari lo."
Senja langsung turun dari mobil. Perasaannya menjadi tak karuan dengan semua ucapan Lucas. Terlebih, Senja terlalu bingung harus menjawab dan bertingkah seperti apa.
Saat berjalan di koridor, Lucas sudah menggenggam tangan kanan Senja dengan erat.
__ADS_1
"Lepain!" volume suara Senja terdengar rendah namun tegas.
"Waktu gue tinggal sepuluh hari, Nja. Biarin gue bahagia dalam waktu yang singkat ini." ucapan Lucas mampu menyihir Senja. Senja menjadi diam dan mengikuti permintaan Lucas.
Seluruh lorong dan koridor jadi heboh dan gaduh. Couple goals SMK Kusuma pagi ini berhasil membuat mereka patah hati.
"Masih pagi!!"
"Ganteng banget sih, Lucas. OMG!"
"Senja ngapain lo mau sama dia?"
"Kapan gue ada di posisi Lucas?"
"Andaikan gue yang jadi pacarnya Lucas."
Seperti itu bisik-bisik murid yang mereka lewati.
🍁🍁
Hari ini Lucas dan Senja datang lebih dulu daripada Vania.
"Gue keluar dulu, Nja." kata Lucas setelah meletakkan tasnya di atas meja.
"Yaelah pake izin segala." cibir Aidil.
"Sirik aja lo, jomblo!"
Senja sudah tak melihat Lucas lagi. Ia mengeluarkan setangkai mawar tadi lalu Senja memandanginya. Ini cuma setangkai mawar, tapi berhasil membuat bunga-bunga lain dihatinya ikut bermekaran.
"CIEEEEE SENJA DI KASIH BUNGA SAMA AYANG BEB LUCAS!!" teriak Vania dari depan pintu. Beberapa murid yang sudah datang jadi terfokus melihat Senja.
"Cieee Senja. Udah nggak malu-malu, nih?" entah itu pertanyaan atau sebuah sindiran, yang jelas Zahra yang mengatakannya.
"Nggak. Kan ini dari pacar gue." Senja yang terlihat cool kembali, asal tidak berhadapan dengan Lucas.
"Jadi lo beneran pacaran sama Lucas, Nja?" Vania sudah duduk dikursinya. Sudah sangat siap untuk mendengarkan cerita Senja.
Senja memasang wajah serius, mendekatkan bibirnya ke telinga Vania–seperti ingin berbisik. "Cotton candy lo udah di ganti?"
"SENJA! GUE SERIUS!!" geram Vania. Sedangkan Senja sudah kabur membawa bunganya.
"Pecah woi gendang telinga gue!"
"Emang lo doang yang punya telinga!"
__ADS_1
"Masih pagi woi!"
"B.O.D.O." kesal Vania.