The(My) Universe

The(My) Universe
The Third Day


__ADS_3

"Peristiwa untuk dijadikan pelajaran, bukan untuk ditakuti."


🍁🍁


Matahari pagi ini cerah. Senja baru saja sadar dan membuka mata. Senja mencari Vania dan Chiko, tapi tidak ada. Di sebelah ranjangnya seseorang sedang menunduk–menenggelamkan wajahnya disana.


Lucas!


Lucas setia menjaganya semalaman bahkan sampai harus rela tertidur dengan posisi duduk. Senja ingin membangunkan tapi mulutnya terlalu lemas untuk bicara. Ia menggunakan tangan kanannya untuk membangunkan Lucas. Dengan kondisi lemas ini, Senja malah terkesan mengelus rambut Lucas.


Merasa sentuhan pada kepalanya, Lucas terbangun dan menegakkan duduknya. Ia langsung tersenyum melihat Senja yang sudah sadar.


"Lo bikin semua orang khawatir." ujar Lucas.


"Vania sama Chiko, mana?"


Lucas melihat jam dinding sesaat, "Sekolah."


Senja melepaskan selang oksigen yang dipasangkan ke hidungnya, kemudian berupaya melepaskan jarum infus dari tangannya. Dengan cepat, Lucas melarang keras. Ia menahan tangan Senja untuk melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan.


"Gue nggak butuh alat ini!" pekik Senja histeris.


"Lo nggak butuh, tapi tubuh lo butuh."


"Gue nggak mau, gue nggak suka!" Senja bersikeras melepas infus tapi untung saja tenaga Lucas sangat kuat untuk menahannya, sehingga hal itu tidak terjadi.


"Lo kenapa sih? Ini demi kesembuhan diri lo sendiri." nada bicara Lucas terdengar lebih tegas.


"Rumah sakit, infus, oksigen, obat, dokter, semuanya itu cuma pemberi harapan palsu." bulir bening berhasil lolos dari pelupuk mata Senja. "Dulu nyokap gue sakit berbulan-bulan setelah bokap meninggal, dia selalu ikutin kata dokter, selalu minum obat, selalu rajin terapi, tapi itu semua sia-sia. Nyokap gue tetap meninggal. Sejak saat itu gue nggak akan membiarkan alat medis mendekati tubuh gue." Senja menangis tersedu-sedu.


Lucas rasa ini bukan waktu untuk berdebat, Lucas memilih memeluk Senja. Lucas berusaha membuat Senja merasa tenang. Senja sama sekali tidak memberontak oleh pelukan yang diberikan Lucas. Saat ini Senja memang sedang membutuhkan perhatian dan semangat. Entah bagaimana ini terjadi, satu hal yang pasti; Senja merasa nyaman berada dalam pelukan Lucas.


"Itu udah menjadi takdir nyokap lo, Nja. Tapi bukan berarti suatu saat alat medis nggak bisa menyelamatkan hidup lo."


Senja tak bicara, masih menangis dalam pelukan Lucas.


"Nyokap bokap gue meninggal dalam kecelakaan mobil, tapi bukan berarti gue berhenti naik mobil. Justru gue belajar gimana caranya mengendarai yang benar, menaati rambu-rambu dan meminimalisir hal-hal yang mungkin aja bisa mencelakakan orang."


"Tapi setelah itu gue nggak punya siapa-siapa lagi." Senja terisak-isak.


Lucas melepas pelukannya, kini gantian menghapus air mata Senja.


"Lo orang baik, Nja. Nggak mungkin lo nggak punya siapa-siapa. Apapun yang udah terjadi sama hidup lo, tetap aja lo nggak boleh nyerah. Hidup harus terus berjalan."

__ADS_1


Sedikit demi sedikit Senja mulai berpikir jernih, "Iya, lo bener. Hidup harus terus berjalan."


Lucas mengangguk, "Lo harus bisa berdamai sama masa lalu lo, hadapi masa depan lo dengan lebih berani."


Senja mengangguk sambil menghapus sisa-sisa air matanya, "Kadang gue ngerasa kalau gue nggak takut untuk menghadapi dunia, tapi saat gue udah berhubungan sama hal-hal yang barbau pengobatan, gue selalu kalah. Seakan masa lalu tentang nyokap menghantui gue."


"Lo nggak kalah, gue tau itu. Lo cuma terlalu menyayangi nyokap lo dan lo belum sepenuhnya menerima kepergiannya, maka dari itu lo menyalahkan hal terakhir yang nyokap lo lakuin. Dan lo menjadikan hal itu sebagai kambing hitam kemarahan lo."


Senja hening. Memikirkan kata demi kata yang dituturkan Lucas.


"Mulai sekarang lo nggak boleh bermusuhan sama obat-obatan lagi."


Senja belum mengiyakan atau menjawab sepatah kata pun, dokter sudah terlebih dulu datang bersama seorang suster.


"Emangnya Senja sakit apa, dok?" tanya Lucas.


"Saya sudah beritau pada Vania. Apa dia belum mengatakan?" dokter sedang memberi suntikan pada infus Senja.


"Belum, dok."


"Senja terkena dehidrasi yang lumayan parah. Sebaiknya jangan terlalu melakukan aktifitas yang berat dulu. Kamu harus banyak minum air putih dan mengkonsumsi buah-buahan segar. Saya juga memberi vitamin tambahan, jadi obatnya harus rajin diminum, ya."


"Makasih, dok."


Setelah pemeriksaan selesai dokter dan suster meninggalkan mereka. Suasana menjadi awkward. Image cool Senja sudah runtuh di depan Lucas sejak ia menangis tadi. Hal bodoh apa yang Senja lakukan? Kenapa semudah itu menangis di depan Lucas? Bukankah Senja perempuan kuat yang mampu menutupi segalanya?


"Lo nggak mau pulang?" Senja menyadarkan Lucas yang sejak tadi memandanginya.


"Kok jadi ngusir?"


"Nggak gitu, lo udah semaleman disini. Harusnya lo sekolah pagi ini."


"Lupakan tentang sekolah." Lucas menyisir rambutnya ke belakang menggunakan tangan. "Hari ketiga ini, benar-benar pengen gue habisin bareng lo."


"Lo terlalu membuang-buang waktu untuk menyelesaikan tantangan ini. Sampai hari ke duapuluh, perasaan gue akan sama."


"Gue balik dulu bentar mau ganti baju, nanti gue kesini sambil bawain makanan buat lo." Lucas buru-buru keluar dari ruang perawatan Senja.


🍁🍁


Siangnya, Vania datang bersama Chiko. Tentu Lucas juga ada, dia sudah datang sejak beberapa jam lalu dan juga membawakan buah-buahan untuk Senja.


"Gue takut lo kenapa-kenapa, Nja." ujar Vania sambil memeluk Senja.

__ADS_1


Senja tersenyum, "Gue baik-baik aja, Nia."


"Lo gimana sama Vania?" bisik Lucas pada Chiko. Keduanya duduk di sofa.


"Udahan."


"Serius?"


"Iya."


"Oh iya," Vania menggantung pembicaraannya sejenak, "Gue sama Chiko udahan."


"Kenapa?" Senja terkejut. "Chiko nyakitin lo?"


Vania menggeleng, "Gue akhirnya tau kalau selama ini Chiko cintanya sama lo, bukan gue."


Senja langsung menoleh pada Chiko, Chiko yang paham pun langsung menjelaskan kejadian tadi malam. Vania mengetahui dengan cara yang sama sekali tidak di sengaja.


"Nia, gue tau gimana sayangnya lo ke Chiko. Emang lo nggak mau kasih kesempatan buat Chiko?"


"Gue nggak mau bahagia di atas penderitaan lo. Gue tau lo suka sama Chiko, kan?"


Senja tertawa garing, "Apaan sih, Nia. Jangan ngarang gitu, deh."


"Lo nggak usah bohong lagi, Nja. Gue, Chiko bahkan Lucas, tau gimana perasaan lo ke Chiko."


Senja tertawa lagi, "Kalian salah paham. Dari awal gue nggak ada perasaan ke Chiko."


"Jangan bohong lagi, Nja." cecar Vania. "Gue nggak apa-apa kalau lo memang suka sama Chiko. Gue nggak mau jadi penghalang kalian lagi."


"Lo harus percaya Nia, gue cuma sayang sama Chiko sebagai sahabat. Nggak lebih."


Mendengar pernyataan sederhana Senja, membuat hati Lucas berdesir. Ada kelegaan tersendiri dalam dirinya.


"Tapi kenapa lo nggak pernah jawab iya atau enggak waktu gue nyatain perasaan?" kini Chiko membutuhkan jawaban itu. Sudah saatnya perasaan Senja harus diungkap.


"Gue nggak mau nyakitin perasaan lo, Chik. Makanya setelah gue tau kalau Vania suka sama lo, gue alihin aja supaya lo deketin Vania dan lupain perasaan lo ke gue."


"Udahlah, nggak usah memperpanjang masalah ini. Hubungan kita udah selesai, Chik. Lo nggak bisa dapatin Senja, gue juga nggak dapatin lo. Selesai, kan?" Vania mencari persetujuan.


"Gue masih belum yakin sama jawaban lo, Nja. Gue tau lo nggak jujur." Chiko pergi meninggalkan ruangan.


Vania memeluk Senja dengan erat. Bagi Vania, ia tidak menyakiti siapapun disini. Padahal di balik pelukan itu air mata Senja terjatuh. Tampak raut sedih menghiasi wajah Senja. Lucas melihat itu, melihat kesedihan Valerie. Entah kenapa Lucas seolah ikut merasakan kesedihan Senja.

__ADS_1


"Berarti semua pernyataan Senja barusan cuma kebohongan? Sebenarnya Senja suka sama Chiko?" Lucas membatin. Merasakan getir pahit pada kenyataan yang sebenarnya.


__ADS_2