
"Cinta?
Aku pernah mengenal bagaimana rasanya. Tapi hingga detik ini aku belum berkesempatan menggenggamnya."
🍁🍁
Sebelum Vania melepaskan pelukannya, Senja langsung gerak cepat menghapus tangisnya.
"Gue ke kantin bentar ya, mau cari yang dingin-dingin. Haus, nih." ujar Vania.
Senja menggangguk. Setelah Vania sudah tak tampak, barulah Senja menangis. Mengeluarkan kesedihan yang membuatnya sesak sejak tadi.
Senja memeluk kakinya yang ia tekuk, dengan erat. Tubuhnya meringkuk dengan begitu rapuh. Sekuat tenaga Senja menahan tangisnya agar tidak pecah. Lucas melihat jelas hal tersebut. Ada rasa kesal yang menyesakkan dada Lucas saat harus melihat Senja menangisi perasaannya pada Chiko.
"Kenapa nggak mengakui perasaan lo yang sebenarnya?"
Senja tidak menjawab pertanyaan Lucas, masih terus saja menangis. Akhirnya Lucas mendekat, duduk di sisi pinggir ranjang.
"Yang lo lakuin udah benar, Nja. Lo, Chicko ataupun Vania sama-sama nggak bisa saling mendapatkan satu sama lain."
Lucas menunduk, "Tapi kalau gue boleh ngomong, lo jauh lebih beruntung daripada Vania. Lo suka sama Chiko, sebaliknya Chiko juga suka sama lo. Tapi Vania? Dia jatuh cinta sendirian."
Senja menghapus air matanya, berusaha menenangkan perasaannya.
"Lo benar. Pihak yang paling tersakiti disini adalah Vania."
Lucas mengangguk, "Lo harus lanjutin hidup Nja, nggak bisa sedih-sedih terus."
Senja menoel lengan Lucas, "Lebay lo! Baru juga hari ini gue nangis depan lo."
"Nah gitu dong, ngegas. Kan gue jadi tenang."
Senja tertawa. Lucas ikut merasa senang melihat tawa itu.
🍁🍁
Malam harinya Senja sudah ada di rumah bersama Vania dan juga Lucas, mereka makan malam bersama. Awalnya Senja protes karena Vania mengajak Lucas. Tapi Vania berdalih bahwa ini hanya sebagai ucapan terimakasih untuk Lucas karena telah menjaga Senja selama di rumah sakit. Senja juga sempat bertanya pada Vania kenapa tidak ada Chiko disini, kalau kata Vania sih Chiko belum bisa dihubungi. Sedang patah hati mungkin.
"Jadi kalian gimana, nih?" goda Vania sambil menuang sayur ke piringnya.
__ADS_1
"Gimana apaan?"
"Elah, Nja. Nggak usah sok polos deh, jadi lo udah jatuh cinta belum sama Lucas?"
"Nggak, Nia. Sampai hari ke duapuluh, perasaan gue akan sama. Palingan ntar dia sendiri yang jatuh cinta sama gue."
"Kan, udah." celetuk Lucas.
"Uhukkk," Senja sampai tersedak mendengarnya.
"Tuh Nja, dia aja udah. Lo kapan?"
"Ah, di mah playboy. Bilang cinta ke siapa aja bisa." remeh Senja.
"Gue nggak pernah jatuh cinta sama orang, baru kali ini. Dan itu ke lo doang, Senja."
"Gue nggak akan klepek-klepek sama gombalan lo!" tegasnya. "Semua orang bisa bilang cinta ke siapapun, tapi sebenarnya sedikit banget orang yang tau arti cinta itu sendiri."
"Gue ke kamar duluan deh, nggak enak jadi nyamuk." Vania ngacir ke kamarnya sambil membawa piring makannya lengkap beserta gelas.
Lucas menarik Senja ke luar rumah. Mereka duduk di depan, menikmati heningnya suasana malam. Ralat! Lucas yang menikmati, Senja terpaksa.
Senja mengangguk, "Iya, emang untuk apa?"
"Gue udah jatuh cinta sejak pertama kali gue liat lo. Tantangan ini cuma alasan, supaya gue bisa dekatin lo."
"Emang ada ya, belum saling kenal tapi udah jatuh cinta?"
"Itu yang gue rasain."
"Gue nggak ada perasaan apa-apa sama lo."
"Masih ada tujuh belas hari ke depan."
Senja menggeleng tak percaya. Tidak terlalu menganggap ucapan Lucas dengan serius.
"Udah malem, gue balik dulu. Besok pagi gue jemput."
"Emang tantangan ini masih berlaku?"
__ADS_1
"Janji yang udah diucap, pantang ditarik kembali." jawab Lucas sebelum masuk ke mobil yang sejak tadi terparkir rapi di garasi.
🍁🍁
Hari ini Senja sudah mulai masuk sekolah seperti biasa. Pagi ini ia bahkan berbincang banyak hal dengan Vania.
"Nja, mulai sekarang gue udah dukung lo sama Lucas. LS-LOVA pagar satu."
"LS-lova apaan?" bingung Senja.
"Lucas-Seja Lovers."
"Random, lo!" cibir Senja.
"Biarin, si. Pokoknya gue mendukumg kalian jadian."
"Bukannya waktu itu lo sempat marah sama dia ya? Kan waktu itu dia udah mukulin Chiko."
"Iya, sih. Tapi karena kejadian di rumah sakit waktu itu, gue sangat amat bersyukur karena Lucas nanya ke Chiko, akhirnya gue tau semuanya."
"Selamat pagi, Senja." sapa Lucas.
"Pagi." cueknya, daripada tidak membalas.
"Kalian cute banget!! Gue semakin yakin untuk jadi LS-lova hastag satu."
"Itu mulu! Bosen gue dengernya."
"Biarin sih, Nja."
"LS-lova apaan?" tanya Lucas yang baru mendengar kata asing tersebut.
"Lucas-Senja lova."
Lucas tekekeh, "Boleh, boleh."
Senja menggeleng. Dua orang itu sama saja ternyata, sama-sama aneh.
Vania tertawa bahagia, "Nggak usah malu-malu kali, Nja."
__ADS_1
"Ih, apaan sih!" sinis Senja. Setelah itu Senja pergi meninggalkan kelas. Lucas dan Vania malah senang melihat kekesalan Senja.