The(My) Universe

The(My) Universe
The First Day


__ADS_3

"Kamu yang mendekatiku, sudah jadi tugasmu untuk mencari tahu tentangku."


๐Ÿ๐Ÿ


"Senja buruan!!" teriak Vania dari luar kamar Senja.


"Iya, sabar."


"Kayaknya kita bakal telat deh, ini udah jam tujuh kurang sepuluh." ujar Chiko yang sudah menunggu untuk menjemput mereka.


"Yuk!!" Senja akhirnya keluar dari kamar.


Setelah itu mereka langsung berangkat menuju sekolah. Chiko mengemudi dengan kencang pagi ini, berusaha mengejar waktu agar mereka tak terlambat sampai ke sekolah.


"Lo kelamaan sih, Nja!!"


"Sorry, namanya juga kesiangan."


"Udah nggak apa-apa, jangan ribut." Chiko menengahi.


"Lo pasang alarm nggak, sih?"


"Pasang," Senja menggantungkan ucapannya, lalu ia mengecek ponselnya. "Astaga, ternyata hp gue mati." Senja menunjukkan deretan gigi putihnya, merasa sangat bodoh.


Vania yang selalu duduk di posisi depanโ€“sebelah Chiko, hanya bisa memutar bola matanya. Anehnya disini, walaupun Senja membuat mereka mungkin saja nanti akan terlambat, justru bersikap lebih tenang daripada Vania. Mungkin karena Senja ini memang terlahir untuk keren di segala suasana sehingga rasa khawatir, cemas dan sebagainya itu tidak pernah tampak pada wajahnya. Sehari-hari hanya ada tampang keren yang selalu terlihat santai. Mungkin, ada raut marah kesal jika sedang badmood. Tetap saja, orang hanya melihat Senja sebagai perempuan cool.


Akhirnya mobil sampai di parkiran sekolah. Tapi sayang sudah terlambat, gerbang kedua telah di kunci. Mereka tidak bisa masuk, padahal hanya terlambat lima menit saja.


"Pak, tolongin kita kali ini aja, pak." Vania memohon pada security yang memegang kunci gerbang.


"Besok kita janji nggak akan telat pak." tambah Chiko untuk meyakinkan security itu.


"Ini peraturan! Tidak bisa di ganggu gugat." tegasnya.


"Tolong, pak. Kali ini aja."


"Besok kita janji nggak telat pak, lagian ini pertama kalinya kita telat setelah tiga tahun jadi murid." Vania mencoba merayu.


Security itu tau bahwa mereka tidak pernah terlambat, tapi tetap saja. Peraturan harus ditegakkan. Tapi setelah melihat perjuangan Vania dan Chiko yang tak henti-henti meyakinkan bahwa mereka tidak akan pernah terlambat lagi, akhirnya security bername-tag Asep tersebut mau membantu mereka dengan cara membukakan gerbang. Dengan syarat, tidak akan pernah terlambat lagi.


"Yuk," Vania mengajak Chiko dan juga Senja yang ada di belakangnya.


"Lho, Senja mana?" tanya Vania.


"Nggak tau, tadi ada disini." jawab Chiko sama tidak taunya.


"Kalian jadi masuk atau tidak?" tanya Pak Asep mendesak.

__ADS_1


"Iyaudah masuk aja dulu, Nia. Nanti kamu bisa telepon dia."


Mau tidak mau Vania masuk hanya bersama Chiko. Tapi ia penasaran sekaligus khawatir terhadap Senja yang tiba-tiba menghilang. Belum pernah Senja pergi tanpa mengatakan apapun seperti ini.


๐Ÿ๐Ÿ


Senja menghempaskan tangan Lucas yang dari tadi menariknya.


"Hari ini adalah hari pertama tantangan dimulai. Lo harus sama gue sepenuhnya."


Senja bersedekap dada, "Terus lo mau apa?"


"Apa aja, yang penting gue bisa menghabiskan banyak waktu sama lo."


Senja terkekeh, "Sebenarnya lo ngebuat tantangan ini untuk apa? Untuk ngebuat gue tunduk sama lo karena cinta, atau emang lo suka sama gue?"


"Senja Vallerie, primadona SMA Kusuma. Selain punya image keren, ternyata lo juga punya tingat pede yang tinggi." Lucas mendeskripsikan dengan nada santai.


"Of course." pede Senja.


"Emang lo sekeren itu?" Lucas meragukan.


"Udah deh, nggak usah basa-basi. Lo mau apa? Kenapa pake acara narik gue segala? Harusnya sekarang gue ada di kelas untuk belajar!"


"Lupakan belajar untuk hari ini." cuek Lucas. "Waktu lo cuma untuk gue."


"Ini pernyataan bukan permintaan."


"Gue nggak mau!" sinis Senja.


"Nggak ada penolakan. Gue nggak suka di tolak."


"Kalau lo nggak mau di tolak, kasih aja tantangan ini ke cewek lain. Toh, lo punya banyak fans. Kenapa juga harus gue?"


"Karena gue tau, lo satu-satunya cewek yang nggak tertarik saat gue datang. Makanya gue mau menaklukan hati lo, membuat lo jatuh cinta sama gue bahkan gue bakal buat lo takut untuk kehilangan gue."


Senja mengernyitkan dahi, "Nggak usah kepedean. Gue bukan orang yang mudah jatuh cinta, jadi gue yakin dalam dua puluh hari ini perasaan gue akan tetap sama."


"Jangan mendahului takdir."


Senja menaikkan mengedikkan pundaknya, tidak peduli dengan omongan Lucas. Senja percaya pada dirinya bahwa dia tidak akan jatuh cinta kepada badboy semacam Lucas. Bukan tipe Senja banget.


"Tapi tenang aja, nanti kalau lo udah jatuh cinta sama gue, pasti gue akan tanggung jawab."


Senja tertawa remeh, "Sebahagia khayalan lo aja!"


"Yaudah, masuk." Lucas membukakan pintu mobil bagian depan. Dengan terpaksa Senja harus masuk dan duduk.

__ADS_1


Setelah itu Lucas turut masuk ke mobil. Duduk di belakang kemudinya.


"Nih, isi." Lucas melemparkan buku berukuran kecil serta pulpen.


"Apaan, nih?"


"Liat aja sendiri." Luca fokus memandang ke arah jalanan di depannya. Kini mobil sudah mulai dikendarai.


"Nama, tanggal lahir, hobby, warna kesukaan, makanan favorit," Senja melempar balik buku itu ke arah Lucas.


"Isi, aja. Supaya gue tau tentang lo."


"Nggak lah, gila lo. Ntar yang ada malah lo yang jatuh cinta sama gue karena lo udah tau semua tentang gue."


Lucas tertawa garing, "Gue nggak pernah tuh ngerasain jatuh cinta, meskipun mantan gue banyak. Emang cinta itu ada?"


"Cinta itu ada, di dalam hati orang yang tulus. Cowok kayak lo emang nggak akan ngerasain namanya cinta."


"Tapi gue suka sama lo, gue tertarik sama lo."


"Terserah!"


"Yaudah, isi aja sih. Ribet amat jadi cewek." Lucas menyerahkan buku itu lagi.


"Cari tau sendiri kalau lo emang pengin tau." kini Senja melemparnya ke jok belakang mobil.


"Jadi, lo mau main-main sama gue?" Lucas menatap Senja sesaat. "Lo mau banget gue kejar-kejar?"


"Nggak sama sekali!"


"Oke, kalau itu mau lo. Gue sendiri yang akan cari tau tentang lo."


"Nggak perlu."


"Cewek emang gitu, sok jual mahal."


Senja menahan kalimat yang akan ia lontarkan. Sudah cukup! Pembicaraan ini tidak akan selesai jika Senja terus menyela ucapan Lucas. Mungkin saat ini waktu yang tepat untuk mendefinisikan kutipan s**ilent is gold.


Bermenit-menit hening mengisi suasana dalam mobil. Lucas fokus pada kemudinya, sedangkan Senja menatap jendela sebelah kirinya.


Tak lama setelah itu, mobil Lucas berhenti pada sebuah rumah yang bertuliskan Rumah Cahaya.


"Ini tempat apaan?" bingung Senja.


"Turun aja dulu, biar tau."


Lucas sudah keluar mobil lebih dulu, mau tak mau Senja mengekor di belakang.

__ADS_1


"Kak, Lucas!!" pekik anak-anak yang baru keluar dari rumah tersebut.


__ADS_2