The(My) Universe

The(My) Universe
The Fourth Day


__ADS_3

"Perlahan aku mulai mengabaikan dunia, sepenuhnya kamu menguasaiku."


🍁🍁


"Selamat pagi, Senjaku." sapa Lucas dengan lembut.


Senja diam tak menjawab, memilih sibuk memasang seatbelt-nya.


"Selamat pagi, Senjaku." ulang Lucas lebih lembut dari tadi.


Jantung Senja rasanya bergetar mendengar sapaan halus tersebut.


"Pagi," Senja mencoba menormalkan sikapnya.


"Pagi juga, Lucasku. Gitu dong."


"Nggak boleh maksa."


"Iya, deh," Lucas mulai mengendarai mobilnya.


"Ntar siang ke rumah, ya."


"Ajakan atau paksaan?"


"Ajakan tanpa penolakan."


"Itu sih, jatuhnya paksaan."


"Kalau nggak dipaksa pasti lo nggak mau."


"Sok tau!"


"Coba gue ulang sekali lagi," Lucas mengela napas sesaat. "Ntar siang ke rumah gue, Nja."


"Dalam rangka?"


"Permintaan Leona."


Senja mengangguk, "Oke."


"Oh iya, lo mau tanpa paksaan."


"Makanya nggak boleh sok tau."


Lucas tersenyum, hatinya menghangat. Pagi ini Senja sama sekali tidak terlihat ketus atau jutek kepadanya.


Jika kemarin Lucas melihat harapan, hari ini Lucas semakin semangat mengejarnya. Kali-kali saja, besok Lucas mendapat harapannya. Menggenggam harapannya menjadi sebuah kepemilikan yang indah dan membahagiakan.


Senja sendiri bingung, ia seperti tak mengenali dirinya. Hati Senja menolak untuk menghindari Lucas. Apa Senja tertarik pada Lucas? Apa Senja menyukai Lucas? Ataukah Senja justru sudah jatuh cinta pada Lucas? Cinta? Benarkah? Sejak kapan? Tapi jika memang cinta, mengapa perasaan ini sebelumnya tidak ada di hati Senja saat ia suka pada Chiko? Rumit. Otak Senja tidak mampu memecahkan teori-teori ini.


🍁🍁


Setelah istirahat seluruh murid berganti pakaian menjadi seragam olahraga.


"Pak Dirman hari ini nggak ngajar guys, jadi kita tetap olahraga sendiri." Aidil membrifieng teman-temannya saat sudah rapi membentuk barisan di lapangan.


"Emang Pak Dirman kemana?" tanya Vania.


"Kepo banget sih, Nia!" cibir Zahra.


"Berisik! Gue nggak nanya lo." ketus Vania.


"Pak Dirman mendampingi tim futsal tanding." jawab Aidil.


Mereka melakukan pemanasan yang dipimpin oleh Wahyu. Setelah itu lari mengitari lapangan sebanyak tiga kali. Sesudah itu Aidil, Lucas, Zidan dan Fahmi baru kembali dari ruang olahraga membawa beberapa bola basket, bola tendang dan bola voli. Mereka di bebaskan untuk berolahraga apa saja yang ada.


Sebagian dari siswi-siswi memilih duduk di pinggir lapangan. Mereka malas berkeringat, apalagi kalau tidak ada hubungannya dengan nilai seperti ini. Hanya membuat bedak luntur saja, kata mereka.


Berbeda dengan Senja, ia mulai mengambil salah satu dari empat bola basket yang ada. Senja mendrible bola itu dan melemparkan ke dalam ring. Gagal. Bola melesat, tak dapat masuk ring dengan tepat.

__ADS_1


"Sekali lagi, pasti lo bisa." Lucas mendekati Senja, sambil mendrible bola di tangannya.


Senja mengambil kembali bola yang dilemparkan tadi. Lalu berdiri di sebelah Lucas yang baru saja ngeshoot bola ke ring. Tepat! Bola masuk dalam ring dengan sempurna.


"Keren." puji Senja.


"Mau gue ajarin?"


"Nggak usah."


Tanpa basa-basi, Lucas berdiri dibelakang Senja. Mengarahkan tangan Senja yang memegang bola untuk memberi teknik yang benar. Senja terpaku, sentuhan tangan Lucas membuatnya kaku. Jarak ini membuat Senja sulit bernapas.


Jangan tanya bagaimana hebohnya teman-teman sekelas mereka. Sudah tidak ada lagi yang mau olahraga. Baik cewek ataupun cowok, semuanya menjadi penonton di pinggir lapangan. Bola-bola pun sudah tergeletak. Menonton Lucas-Senja lebih menarik, ketimbang olahraga.


"LS-lova mana suaranya?" Vania beralih profesi menjadi koordinator penonton dadakan.


"Uhuyyy." kompak cewek-cewek.


Kini bola yang ada di tangan Senja sudah masuk ke dalam ring, tentu dengan bantuan Lucas.


"Tuh, masuk kan?" Senja mengangguk. Otot-ototnya melemas walau hanya untuk mengatakan iya.


"Coba lagi, dong." Lucas melempar bola yang baru di pungutnya–ke Senja.


Senja kembali mendrible bola sementara Lucas memandanginya dari samping. Tiba-tiba Senja merasa salah tingkah tak karuan. Senja melempar bole ke Lucas.


"Shoot ke ring, dong."


"Nggak bisa."


"Pacarnya Lucas nggak boleh nggak bisa main basket."


"Lha, emang gue pacar lo?"


"Calon."


Senja tersenyum sambil kembali mendrible bola yang diberikan Lucas. Dengan teknik yang sedikit banyak ia dengar samar-samar tadi, Senja langsung menshoot ke ring. Tepat! Sangat sempurna.


"Aduuuhhh! Sweet banget, sih!" teriakan histeris Vania membuat Senja tersadar bahwa sejak tadi dirinya menjadi tontonan, dirinya dan Lucas maksudnya.


"Mau main lagi?" Lucas mengangkat bola di tangannya, seakan kode untuk menawari Senja. Tetapi Senja menggeleng.


Senja bergabung bersama Vania dan yang lainnya di pinggir lapangan. Lucas tak memaksa.


"Tanding sini sama gue, Dil." Lucas mengajak Aidil bermain basket.


"Three on three?" tanya Aidil.


"Terserah."


"Deal. Gue, Wahyu, Raka." nama yang di sebut Aidil langsung bergabung.


"Gue bareng Zidan-Fahmi."


Mereka mulai bermain. Tiga lawan tiga. Team Lucas melawan team Aidil. Sudah pasti dukungan untuk team Aidil surut, semua menggenangi dukungan untuk Lucas.


"Lo udah jadian beneran sama Lucas?" Vania menyita perhatian Senja.


"Nggak."


"Belum di tembak atau lo nggak mau?"


"Apaan sih, nonton tuh." Senja berusaha memgalihkan obrolan.


Vania terkekeh. Sikap Senja sulit di tebak baginya.


Sorot mata Senja terus tertuju memandang Lucas yang berlari kesana kemari. Rambut basah Lucas karena keringat semakin membuatnya terlihat manly. Bibir Senja tersenyum simpul. Rasa bahagia terselip dalam benak Senja hanya dengan melihat Lucas dari kejauhan.


"Lucas! Lucas! Lucas!"

__ADS_1


"Ayo Lucas!! Lo pasti menang."


"Yuhuuuu Lucas menang!!"


"Keren banget lo, Cas!!"


Teriakan siswi-siswi lain terdengar di telinga Lucas. Senja mengakui, Lucas sangat tampan. Jadi, tidak heran jika dia menjadi idola sejak hari pertamanya menjadi murid baru disini.


Bugh!!


Baru saja Lucas terjatuh karena tidak sengaja bertabrakan dengan Wahyu.


"Sorry, Cas. Lo nggak apa-apa?" Wahyu membantu Lucas yang jatuh tersungkur.


"Aman." santai Lucas.


Senja dapat melihat luka di siku Lucas. Iya, dia melihatnya dengan jelas. Tetapi Lucas tidak mempedulikan luka ditangannya, malah asik melanjutkan permainan.


Di tengah-tengah permainan, Lucas mengedipkan sebelah mata pada Senja. Membuat seluruh pandangan mata yang sejak tadi mengintainya menjadi histeris. Untuk Senja sendiri, ia hanya memberikan seulas senyum pada Lucas.


"OMG, Nja! Kalau gue jadi lo udah pingsan duluan." ucap Zahra dengan nada dramatis.


"Kejang-kejang di tempat kalau gue dikedipin." tambah Ega.


"Gue nggak yakin lo nggak ada apa-apa sama Lucas." sindir Vania.


"Emang nggak ada."


"Terus kenapa senyum waktu dikedipin? Tadi juga biasa aja waktu diajarin main basket?"


Kicep. Senja tidak bisa menjawab. Dia sendiri tidak tau apa yang sedang terjadi. Senja menganggap bahwa dirinya hanya sedang berdamai dengan Lucas. Tapi dia tidak akan mengatakan pada siapapun tentang hal itu, yang ada malah orang salah mengartikan.


Lima menit selanjutnya permainan mereka sudahi. Aidil dan teamnya kalah dengan skor 48-37.


"OMG! Lo ganteng banget, Cas." ceplos Santi yang terpukau.


Kini Lucas duduk di sebelah sebelah Senja sambil mengatur napasnya yang masih terengah-engah.


"Tangan lo luka." ucapan Senja begitu pelan hingga lebih tepat disebut sebagai bisikkan.


"Nggak apa-apa, nggak sakit kok."


"Tetap harus diobatin, ntar infeksi."


"Lo kan udah nggak mau obatin gue lagi, jadi yaudah biarin luka gue kering sendiri."


Senja mengingatnya, waktu di rumah Lucas dia mengatakan bahwa itu terakhir kalinya Senja mengobati luka Lucas. Hinggap sedikit rasa penyesalan dalam batin Senja.


"Gue tarik kata-kata gue." Senja menggenggam pergelangan tangan Lucas dan membawanya ke UKS.


Vania dan yang lainnya menatap dengan tak percaya. Senja kah tadi? Atau makhluk lain berwujud Senja? Vania yakin, Senja jatuh cinta pada Lucas.


UKS sedang sepi, tidak ada penjaga. Mungkin anggota PMR sedang ada pasien dadakan di salah satu kelas.


Senja langsung mengobati Lucas tanpa basa-basi. Hati Lucas layaknya sedang ada pesta bunga bermekaran. Jantungnya tidak bisa berdetak dengan normal, ia tau penyebabnya. Senja. Mata Lucas seakan tidak mau berpaling dari wajah teduh Senja.


"Gue nggak suka liat lo terluka." ucapan itu keluar begitu saja dari mulut Senja. Entah dia sadar atau tidak saat mengucapkannya.


"Ini cuma luka kecil, Nja."


"Lebih bagus lagi kalau sama sekali nggak ada, kan?" manik hitam Lucas dan Senja saling bertemu.


Keduanya saling menatap dengan begitu dalam. Tersirat rasa khawatir di kilatan mata Senja, Lucas menyadari itu. Tanpa dapat menahan dirinya lagi, Lucas memeluk Senja. Posisi mereka sama-sama duduk di atas tempat tidur UKS. Senja terdiam, tangannya mengepal kuat. Bukan marah, ia menahan diri untuk tidak membalas pelukan Lucas.


"Gue baik-baik aja, Nja." Lucas berbisik untuk meyakinkan Senja.


Setelah pelukan keduanya lepas, Senja masih memandangi wajah Lucas. Seperti ada magnet yang menarik Senja untuk terus menatap Lucas.


"Gue nggak selalu ada untuk obatin luka lo, jadi lo harus terbiasa sama siapapun yang akan obatin luka lo." Lucas tersenyum getir. Ucapan Senja seperti salam perpisahan yang sangat membuatnya merasa sakit.

__ADS_1


Lucas menunduk, menarik napasnya dalam dan membuang perlahan. "Gue tau, lo bakal pergi setelah hari ke duapuluh."


Giliran Senja yang merasa sesak mendengar kalimat Lucas. Senja memilih pergi meninggalkan UKS dan juga Lucas–tanpa meninggalkan satu kata pun.


__ADS_2