
"Kekosongan mulai menyita saat kamu tidak hadir."
🍁🍁
Sejak kemarin pagi Lucas belum juga muncul dihadapan Senja. Bahkan tas Lucas masih ada dikursinya. Ada sedikit ke khawatiran pada perasaan Senja.
"Lucas masih belum ada juga?" Senja mengedikkan pundaknya sebagai jawaban tidak tau.
"Lo nggak coba hubungin Nja? Udah dalam waktu dua puluh empat jam, dia belum ada kabar."
"Gue nggak tau."
"Emang lo nggak khawatir?"
"Dikit." Vania langsung mendorong lengan Senja.
"Terus kalau pacar lo kenapa-kenapa gimana?"
"Lo tenang aja, dia itu jagoan."
"Siapapun tolongin gue!!" teriak Fahmi di luar pintu membuat semua orang kaget.
"Lo kenapa?" Aidil membantu Fahmi berjalan.
"Habis di hajar preman, kemarin pagi."
"Yaudah, gue antar ke kursi lo." Aidil memapah Fahmi menuju kursinya.
"Thanks, Dil."
"Yoi, Mi."
Keadaan Fahmi kali ini sangat terlihat menyedihkan. Kepalanya di lilit perban, kakinya yang tidak memakai sepatu juga dililit perban serta memakai bantuan satu tongkat di tangan kiri.
"Lah, lo kenapa Mi?" Vania antara kasihan dan ingin tertawa melihat kondisi Fahmi.
"Jangan ngeledek dong, Nia."
"Ya, sorry. Abisnya tampilan lo lucu, sih."
"Kurang aja lo!"
"Terus lo kenapa bisa gini?"
"Kemarin pagi Lucas, gue sama Zidan nongkrong di warung belakang gedung sekolah. Tiba-tiba ada preman malakin ibu-ibu, kita bantuin dong. Eh, taunya muncul temen-temennya. Ada kali sepuluh orang."
"Terus dua temen lo mana?" Senja menjadi lebih kepo daripada Vania–setelah mendengar penuturan Fahmi.
"Zidan palingan ntar lagi datang, dia nggak separah gue. Kalau Lucas di rumah."
"Lagian sih, sok banget." cibir Vania.
"Lo tuh emang nggak ngerti prihatin banget ya, Vania."
"Hehe iya-iya, ntar gue bantuin ngerjain tugas deh. Kasian gue liat lo."
"Nah, gitu dong."
"Lha, itu Zidan baik-baik aja." Vania melihat kedatangan Zidan.
"Baik-baik apaan! Lo nggak liat tangan kiri gue yang udah gue gendong ini."
Senja dan Vania malah terkekeh geli melihat dua orang ini. Lagian ada-ada aja.
"Eh, tapi Lucas parah nggak?"
"Nggak tau Nia, terakhir sih nggak napas." enteng Fahmi membuat Vania bergidik ngeri mendengarnya. Di waktu yang bersamaan Senja justru menatap tajam mata Fahmi.
"Nggak kok, gue becanda." Fahmi balik tertawa.
"Serius, Fahmi."
"Nggak Nja, dia nggak parah. Tapi karena kemarin Lucas paling banyak menghadapi preman-preman itu, makanya dia sedikit lelah."
"Lo pacarnya tapi lo nggak tau, gimana, dah?" cibir Zidan.
"Tau, pacar apaan lo, Nja." tambah Vania.
"Lo kurang perhatian, Nja" Fahmi juga tidak mau ketinggalan.
"Mana gue tau, dianya nggak kasih tau gue. Emang gue cenayang?!" enteng Senja.
Walaupun wajahnya terlihat tenang, sebenarnya hatinya sudah mulai gundah. Ingin sesegera mungkin melihat langsung keadaan Lucas.
🍁🍁
__ADS_1
Senja, Vania dan Chiko sudah berdiri di depan pintu rumah Lucas. Bahkan beberapa kali sudah menekan bel, tapi belum ada yang membuka pintu.
"Gue, tek–" ucapan Vania terhenti saat mendapati pintu sudah terbuka.
"Eh, Kak Senja. Maaf ya lama buka pintunya, soalnya si bibi lagi masak bubur."
"Iya, nggak apa-apa."
Ternyata Leona yang membuka pintu. Keduanya berpelukan hangat sejenak, sehingga menggelitik rasa penasaran Vania.
"Oh iya Leona, kenalin ini Vania dan yang cowok Chiko."
"Halo, Kak Vania dan Kak Chiko." Leona melambaikan tangan ke arah keduanya secara bergantian.
"Halo, Leona." kompak Vania dan Chiko seraya membalas lambaian Leona.
"Silahkan masuk, kak. Pasti pada mau jenguk Kak Lucas, kan?"
"Iya."
"Yaudah kita langsung ke kamarnya aja."
Mereka bertiga mengekor di belakang Leona, menuju lantai dua.
"Lo udah kenal sama adiknya Lucas?" bisik Vania ke Senja.
"Udah."
"Kok nggak cerita?"
"Males, lo terlalu heboh."
"Ih, lo mah pelit."
"Iya nanti gue ceritain di rumah."
"Oke." Vania mengangkat jempolnya.
Leona membuka salah satu pintu berwarna kecoklatan.
"Silahkan kak. Oh iya, kalian mau minum apa?"
"Nggak usah repot-repot." jawab Chiko.
"Yaudah kalau gitu Leona tinggal dulu, kalau butuh apa-apa bilang aja sama bibi di dapur."
Setelah Senja, Vania dan Chiko masuk ke kamar Lucas, Leona pergi. Memberi waktu pada teman-teman Lucas untuk membesuknya.
Chiko yang membawakan tas Lucas, kini meletakannya ke kursi meja belajar. Terlihat Lucas sedang terbaring di atas kasurnya lengkap dengan selimut. Ketiganya mendekat. Ingin memastikan keadaan Lucas.
"Jangan jauh-jauh duduknya, Nja."
Semua menoleh, terlihatnya Lucas masih menutup mata. Dari mana ia tau kalau Senja duduk di ranjang Lucas paling ujung. Vania dan Chiko memang lebih dekat dengan Lucas karena membelakangi Senja.
"Maju sini, Nja. Ayang beb lo yang minta."
Karena tangan Senja sudah ditarik Vania, maka dia tidak bisa mengelak. Bahkan Vania sengaja memposisikan Senja di ranjang tepat sebelah Lucas.
"Lucas, lo ngigo?"
Mendengar pertanya lembut Senja, Lucas langsung membuka mata dan menoleh ke arah sumber suara.
"Nggak." singkatnya.
"Dari mana lo tau kalau Senja jauh?" selidik Vania.
"Gue hapal sama wangi tubuhnya."
"Gue kira lo cenayang." Lucas tertawa mendengar ucapan Vania.
"Lo dengar nggak sih suara indah Senja waktu nyebut nama gue?" Lucas mengajukan pertanyaan untuk Vania serta Chiko.
"Iya. Gue baru sekali denger Senja nyebut nama lo." Chiko menyadari hal itu.
"Sama, gue juga." Vania sependapat dengan Chiko.
"Hal langka yang selalu gue tunggu." Senja tersenyum tipis mendengarnya.
"Permisi, den. Ini buburnya. Jangan nggak di makan lagi ya." ucap si bibi sambil meletakkan semangkuk bubur di atas nakas.
"Iya bi, kan sekarang yang nyuapin udah datang."
"Iya den, bibi permisi dulu."
Setelah asisten rumah tangganya pergi, Lucas memberi kode ke arah mangkuk bubur itu.
__ADS_1
"Apa?!" Senja paham maksud Lucas tapi pura-pura tidak mengerti saja.
"Yaelah Nja, nggak usah malu-malu kali." omongan Chiko itu justru membuat Senja malu-malu.
"Udah buruan suapin, ayang beb lo belum makan."
"Yaudah, lo duduk." Lucas menuruti perintah Senja.
Ketika Lucas duduk dan selimut itu tertarik hingga ke setengah tubuhnya, barulah Senja melihat banyak luka di bagian tangannya.
"Tangan lo nggak lo obatin, Cas?"
"Nggak ada yang ngobatin, Chik."
"Elah, manja amat." cibir Chiko.
Senja mengaduk bubur tersebut kemudian mulai menyuapkan ke dalam mulut Lucas. Dalam jarak dekat, Senja melihat jelas bekas luka pada wajah Lucas.
"Btw, gimana keadaan lo?"
"Gue nggak mau jawab kalau lo yang nanya, Nia."
"Oh, paham. Tanya gih, Nja!!"
"Nggak suka basa-basi. Gue bisa liat dia baik-baik aja." Senja menunduk sambil memindahkan bubur ke sendok.
"Pacar gue emang paling paham, lah." Lucas mengelus rambut Senja dengan penuh kasih sayang.
"Panas ah disini, mau minum. Haus." Vania meninggalkan kamar Lucas, begitu juga Chiko yang lebih memilih mengikuti Vania–aripada jadi nyamuk disini.
"Sorry,"
"Untuk?"
"Gue nggak ada kabar dari kemarin. Pasti lo khawatir."
Senja tertawa geli, "Nggak usah drama deh, gue biasa aja."
"Lo udah mengakui gue sebagai pacar lo."
"Itu pertanyaan atau pernyataan?"
"Pernyataan."
Senja menggeleng, "Gue nggak mengakui apa-apa, toh emang nyatanya gue bukan pacar lo."
"Kode minta kejelasan?"
"Nggak."
"Vania yang bilang."
"Vania!" kesal senja dalam hati.
"Emang bener?" Lucas membuyarkan lamunan Senja.
"E-enggak. I-itu cuma becanda."
Lucas tertawa senang dan sangat bahagia melihat wajah gugup serta salah tingkah Senja.
"Yaudah, gimana bahagianya lo aja." ucap Lucas akhirnya.
"Lo nggak mau obatin luka lo?"
"Obatin aja kalau lo khawatir."
Salah. Maksud Senja bertanya seperti itu untuk mengalihkan pembicaraan yang tadi. Bukannya sengaja ingin menawarkan bantuan pengobatan.
"Nggak khawatir sih, biasa aja."
"Yaudah, nggak usah diobatin."
"Yaudah deh, gue obatin."
Menggemaskan. Kata itu terus saja mewakili Senja saat sedang berada di hadapan Lucas. Setidaknya bagi Lucas sendiri.
"Kotak P3K ada di laci kedua." Senja segera membuka laci di bawah nakas.
"Gue nggak apa-apa deh luka setiap hari, asal lo selalu ngobatin."
"Nggak. Ini terakhir gue obatin. Setelah ini gue akan bodo amat."
"Yakin? Lo tega liat darah memenuhi wajah gue?"
"Kenapa engga?" Senja mulai mengoleskan kapas berisi alkohol ke wajah Lucas. "Lo aja tega lukai diri lo sendiri."
__ADS_1
"Karena gue nggak bisa mencintai diri gue sendiri, makanya lo nggak mau sama gue? Lo takut gue nggak bisa cinta sama lo?"