The(My) Universe

The(My) Universe
Rumors Spread


__ADS_3

"Bukan tentang berapa banyaknya waktu atau berapa lamanya bertemu, hanya perlu kebersamaan saja untuk menarikmu."


๐Ÿ๐Ÿ


"Dalam waktu dua puluh hari, Lo harus menghabiskan banyak waktu bareng gue. Gua yakin, gue akan buat lo jadi budak cinta gue."


Senja tersenyum remeh, "Let's see. Lo sendiri yang bakal ngemis cinta gue."


"Setujuin kalau gitu." balas Lucas dengan nada memerintah lalu mengulurkan tangannya.


Mau tidak mau Senja terpaksa menjabat tangan Lucas, "Deal."


"Siapa pun yang kalah, harus melakukan apapun permintaan pemenang."


Senja mengangguk paham. Hal itu membuat Lucas tersenyum penuh makna. Hanya Lucas dan Tuhan yang tau apa arti dari senyumnya.


Setelah selesai melakukan perjanjian, Lucas beranjak pergi meninggalkan kelas, entah kemana.


"Lo yakin, Nja?"


"Iya."


"Gimana kalau nanti lo jatuh cinta sama dia?"


"Aduh, Nia!! Pikiran lo terlalu jauh. Mana mungkin gue suka sama dia, terlintas di otak gue aja, nggak sama sekali."


"Gue ngga yakin sama ucapan lo."


"Mari kita lihat."


๐Ÿ๐Ÿ


Lucas ini benar-benar orang yang aneh. Tantangan macam apa yang ia berikan pada Senja. Padahal ini baru hari ke tiganya bergabung di SMA Kusuma, tapi sudah berhasil membuat heboh seantero sekolah.


Tentu saja kabar tentang tantangan antara kedua tokoh populer itu menyebar luas ke seluruh penjuru SMA Kusuma. Bahkan menjadi tranding topic. Lucas dan Senja patut berbangga, mereka menjadi seleb di sekolah mereka sendiri.


"Caper banget jadi murid baru!"


"Tau, sok cakep."


"Senja nggak akan mau sama tu orang."


"Iya lah."


"Sok badboy."


Sebagian siswa yang notabene penggemar Senja, merasa sangat kesal karena ulah Lucas. Terlalu mencari perhatian Senja, pikir mereka.


"Iya, apaan sih sok cantik deh."


"Tapi emang cantik sih."


"Tetap aja sok jual mahal."


"Emang dia suka, mungkin."

__ADS_1


"Sok-sok nggak mau aja, padahal cari kesempatan dalam kesempitan."


Giliran suara penggemar dadakan Lucas. Memang dari awal banyak para siswi yang tidak suka pada Senja, bukan karena hal buruk. Melainkan sebagian dari mereka tak menyukai Senja karena terlalu cantik. Siswi-siswi itu sirik pada kecantikan Senja. Apalagi saat ini karena para siswi tersebut menggemari Lucas, maka mereka semakin bertambah iriโ€“melihat Lucas mendekati Senja.


๐Ÿ๐Ÿ


Jam pelajaran setelah istirahat di mulai. Guru bernama Ibu Risa datang, memberi materi pelajaran Bahasa Indonesia.


"Selamat siang, anak-anak."


"Siang, bu."


"Hari ini saya akan mengajarkan materi tentang koโ€“"


Ucapan Ibu Risa terhenti saat Pak Ahmadโ€“guru BK, baru saja masuk membawa Lucas dan dua murid lainnya. Fahmi dan Zidan, yang juga murid kelas duabelas-tiga. Rupanya mereka bertiga sudah berkawan tapi entah sejak kapan. Mungkin sejak hari pertama Lucas berada di sekolah ini. Entahlah, intinya Fahmi dan Zidan sudah berubah. Menjadi sedikit beringas, mungkin karena terpengaruh Lucas.


"Permisi bu, saya mau mengembalikan tiga anak nakal ini ke kelas." Bu Risa mengiyakan Pak Ahmad.


"Sana, kalian masuk! Belajar yang benar, jangan sok jadi jagoan." ucapan Pak Ahmad cukup menohok.


Lucas, Fahmi dan Zidan terlihat babak belur dan luka-luka di bagian wajah. Tapi Fahmi dan Zidan tidak pernah seperti ini sebelumnya. Iya, benar. Pasti terpengaruh oleh Lucas.


"Mereka kenapa, pak?" tanya Bu Risa setelah ketiganya duduk di kursi masing-masing.


"Mereka mengeroyok Chiko, bu. Entah apa masalahnya, tapi untung saja ada yang melapor kepada saya."


Bu Risa mengangguk paham. "Tapi kenapa nggak biarkan mereka mengobati luka di UKS?"


"Nggak ada pengobatan untuk para pemberontak!" tegas Pak Ahmad seperti menyindir ketiganya. Kali ini ucapannya lebih menohok daripada yang tadi.


"Oh, iya silahkan, pak."


Pak Ahmad pergi. Lucas cs yang duduk di pojok belakang hanya mampu diam. Tidak ingin bicara apapun. Mengikuti kelas dengan wajah mereka yang memar serta luka.


"Chiko, Nja." Vania memperjelas.


"Lagian ngapain juga Chiko pake acara berantem segala sama tuh orang."


Vania mengedikkan bahunya sebagai jawaban tidak tau. Tapi raut wajahnya sangat khawatir.


"Entah gimana keadaan Chiko." lirih Senja.


๐Ÿ๐Ÿ


Setelah pelajaran Bahasa Indonesia selesai, bel pulang langsung berbunyi. Tentu saja Senja dan Vania buru-buru mendatangi kelas duabelas-lima.


"Ya ampun, Chiko!!" pekik Vania.


"Nggak apa-apa, Nia."


"Nggak apa-apa gimana!! Lagian kamu ngapain sih pake acara berantem sama Lucas?!"


"Aku nggak mau aja kalau nanti Lucas mainin Senja." jawab Chiko.


"Chik, lo itu nggak usah khawatir tentang gue. Pikirin keselamatan lo sendiri."

__ADS_1


"Nggak gitu Nja, lo itu sahabat gue. Gue berhak untuk melindungi lo. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa."


Senja tersenyum tipis, "Iya, lo emang sahabat gue. Tapi please, jangan pernah membahayakan diri lo."


"Iya, Nja." Chiko tersenyum. "Tapi izinin gue untuk melindungi lo dan menjaga lo, dengan cara gue."


"Asal nggak ngorbanin keselamatan lo, Chik."


"Senja," suara Chiko terdengar memohon. "Gue nggak mau lo kenapa-kenapa."


Senja tertawa ringan, "Iya, oke."


"Yaudah balik yuk, luka kamu harus cepat diobatin." ajak Vania.


Setelah lima belas menit berada dalam mobil Chiko, kini ketiganya sampai di rumah Senja dan Vania.


"Gue ambilin minum bentar." ucap Senja yang kemudian langsung menuju dapur.


"Ntar, aku ambilin obat dulu." Chiko mengangguk mengiyakan Vania.


Chiko menyandarkan punggungnya di sofa, menempati posisi ternyaman. Ternyata melawan Lucas, Fahmi dan Zidan membuatnya kewalahan. Selain wajah yang babak belur, tubuh menjadi sakit semua.


"Percuma ganteng kalau sifatnya minus!!" kesal Vania saat sudah kembali dengan membawa kotak P3K.


"Udah, nggak usah ngomel." ucap Chiko.


"Ih, aku tuh nyesel banget udah muji-muji dia. Iya sih emang ganteng, tapi buat apa kalau udah mukulin pacar aku gini."


"Akhirnya sadar kan, lo." Senja membawa nampan berisi tiga gelas jus segar dan meletakkannya ke atas meja.


"Sumpah ya, kesel gue!"


"Tadi katanya, naksir." sindir Senja.


"Emang iya?" Chiko memastikan.


Vania menuangkan alkohol ke kapas, "Ya suka aja, 'kan ganteng. Tapi udah engga lagi, karena dia udah pukulin pacar aku."


Chiko mencubit kedua pipi Vania yang terlihat menggemaskan saat marah dan mengomel seperti ini.


"Mulai deh, jadi nyamuk lagi gue." sindir Senja lagi.


Vania tertawa, "Makanya jangan jomblo mulu, cari pacar sana."


"Gue mau ke kamar dulu. Nggak mau ganggu orang pacaran." Senja pergi meninggalkan keduanya. Memberi waktu untuk mereka.


"Sakit nggak?" Vania takut terlalu keras menekan kapas pada luka di wajah kekasihnya itu.


"Enggak. Ini mah luka kecil doang."


"Kecil gimana sih, ini tuh parah!!"


"Nanti juga sembuh."


"Chiko, aku nggak suka ya kalau kamu nggak menghargai diri kamu sendiri."

__ADS_1


Chiko tersenyum sekilas, "Iya, Vania."


__ADS_2