The(My) Universe

The(My) Universe
The Fifth Day


__ADS_3

"Tatapanku masih kurang tajam, sebab itu belum sampai menusuk ke hatimu."


🍁🍁


Drttt...


Senja meraih ponselnya yang bergetar sejak tadi. Ada sebuah nomor tak dikenal menelepon.


"Halo," ucap Senja menyapa seseorang di seberang sana.


"Selamat pagi, lo udah siap-siap?"


Senja menegakkan duduknya, "Ini siapa?"


"Yakin nggak kenal sama suara gue?"


"Siapa? Badboy nggak jelas?"


Seseorang di seberang sana tertawa, "Lucas."


"Iya, itu maksud gue."


"Tapi gue seneng lo sebut 'badboy nggak jelas', itu artinya gue punya kesan tersendiri buat lo. Bener nggak?"


"Nggak juga," jawab Senja asal.


"Nggak juga? Berarti setengahnya, iya juga, dong?"


"Gue mau siap-siap dulu." Senja memutuskan sambungan secara sepihak.


Lucas yang berada di kamarnya sedang tersenyum. Mengganggu Senja benar-benar menjadi hobby favorit yang sangat menyenangkan baginya. Saat ini Lucas bahkan sudah meninggalkan hobby balap mobilnya karena menjahili Senja, jauh lebih membuatnya bahagia. Apalagi kalau Senja sampai merasa kesal, Lucas sangat gemas sekali padanya.


🍁🍁


"Vania!!" Senja sedikit berteriak seraya mengetuk kamar Vania.


"Masuk, Nja."


Senja langsung membuka pintu dan masuk. Dilihatnya Vania yang sedang menyisir rambut di depan meja riasnya.


"Lo yang kasih nomor hp gue ke badboy nggak jelas itu?!" selidik Senja.


Vania tersentak kaget, menghentikan aktifitas menyisirnya. Vania melihat wajah Senja dari pantulan cermin. "E-enggak."


"Nggak usah bohong!"


Vania meringis sambil memasang tampang tak bersalahnya, "Iya."


"VANIA!" geram Senja diiringi pekikkan.


"Ya gimana dong, tadi malam dia nelponin gue mulu untuk minta nomor lo. Tadinya gue nggak mau, tapi dia terus-terusan telepon. Dari pada gue nggak bisa tidur, terpaksa deh gue kasih. Harusnya lo marah sama dia, bukan gue." jelas Vania panjang lebar membela dirinya. Tapi hal itu memang sebuah kebenaran.


"Kan lo bisa matiin hp lo."


"Iya sih, tapi gue nggak kepikiran. Hehe." Vania nyengir.


"Ah! Gimana sih, lo." dengus Senja dengan kesal sambil meninggalkan kamar Vania.


Vania mengikuti Senja, "Lo mau jalan, ya?"


"Iya." jawab Senja yang sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Lo nggak mau ngajak gue?"


"Nggak. Bosen gue, di rumah lo, di sekolah lo, masa jalan mau lo lagi?"


Vania duduk di sebelah Senja, "Ih! Kok lo jahat sih, sama gue!!" ucap Vania tak terima.


Senja tertawa, "Canda, Nia."


"Yaudah, gue ikut ya?"


Belum sempat menjawab, mereka mendengar pintu rumah mereka di ketuk.


"Biar gue yang buka." jawab Vania.


"Nggak usah, lo masuk aja ke kamar. Gue udah mau pergi, ntar gue kunci pakai kunci cadangan."


"Emang itu siapa?" kepo Vania dengan tatapan menyelidik.


"Aduh, udah deh. Lo masuk aja." Senja menarik paksa Vania menuju kamarnya.


"Nja, apaan sih! Emang itu siapa?"


Senja berhasil membuat Vania masuk kamarnya sendiri. Dengan buru-buru Senja berlari ke ruang tamu untuk mengambil tasnya kemudian membuka pintu. Lucas sudah terlihat berdiri menunggunanya disana.


"Yaudah, yuk. Buruan!" setelah mengunci pintu, Senja langsung masuk ke dalam mobil Lucas. Lucas jadi bingung melihat tingkah Senja yang tidak seperti biasanya.


"Oh, ternyata Lucas." Vania mengintip dari balik kaca jendela.

__ADS_1


🍁🍁


"Nggak sabar banget ya kayaknya, yang pengen jalan sama gue." sindir Lucas.


Senja memberi tatapan sinis sesaat, "Nggak gitu. Gue males aja kalau Vania ngeliat lo."


"Kenapa?"


"Dia itu suka heboh sendiri."


"Nggak apa-apa kali, Vania kan seru orangnya."


"Yaudah, kenapa nggak dari awal lo kasih tantangan ini ke Vania aja?"


"Pengen sih," Lucas menggantung kalimatnya sebentar, "Tapi gue tertariknya sama lo. Gimana dong?"


Senja mengedikkan pundaknya. Malas menjawab hal tidak penting. Beberapa menit berikutnya Senja tanpa sengaja menatap wajah Lucas. Kening Lucas sebelah kiri masih tertutupi plester luka dan bagian hidung pun masih terlihat bekas luka. Dalam waktu yang bersamaan Lucas memandang wajah Senja. Tanpa sengaja tatapan bereka bertemu. Mereka bertatapan selama dua detik.


"Kalo nyetir liat depan!" Senja lebih dulu membuang pandangan.


Lucas tertawa singkat sambil kembali menatap jalan, "Tipe cowok lo gimana, sih?"


"Lo kenapa nanya gitu?"


"Abisnya gue bingung, masa lo nggak tertarik sama gue. Padahal nih ya, biasanya kalau gue natap cewek pasti itu cewek udah langsung klepek-klepek."


"Jangan samain gue sama yang lain, lah. Gue ya gue, mereka ya mereka."


Lucas mengangguk, "Terus tipe cowok lo yang kayak gimana?"


"Yang pasti bukan kayak lo."


Jleb!


Kalimat yang di ucap Senja benar-benar seperti sambaran petir di siang hari. Kini Lucas tak bertanya lagi. Ia fokus saja mengendarai.


Sepuluh menit kemudian mobil Lucas sudah terparkir di basement mall. Mereka masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu.


"Gue mau ngajak lo nonton." ucap Lucas. Kini mereka sedang ada di eskalator untuk naik ke lantai atas.


"Nonton apa?"


"Lo sukanya genre apa?"


"Horor, action, biopik, sejarah, komedi, gue suka semua genre kecuali romance."


"Kenapa? Bukannya para perempuan justru lebih suka romance ya?"


"Bukannya orang lebih suka nonton ya daripada baca? Lebih seru kalau ada visualisasinya? Apalagi yang romance gitu."


"Gue mah beda dari yang lain."


Lucas terkekeh, "Iya, lo doang emang yang paling keren."


Senja tertawa renyah.


"Gue beli tiket dulu, lo tunggu sini." ujar Lucas.


"Iya."


🍁🍁


Setelah selesai nonton film bergenre horor, perut mereka keroncongan. Akhirnya mereka singgah di salah satu restoran jepang, untuk makan.


"Lo bener-bener nggak ada takutnya ya nonton film horor?" Lucas memulai topik pembicaraan.


"Iyalah, itukan cuma film."


"Kalau hantunya ada beneran?"


"Nggak takut."


"Keren."


"Hal yang paling menakutkan adalah kehilangan seseorang yang kita sayang."


Lucas mengangguk setuju. Setelah itu keduanya sibuk melahap menu masing-masing.


"Nja, gue ke toilet bentar ya."


"Iya."


Setelah Lucas pergi, Senja melanjutkan makannya sendiri.


Drrttt...


Ponsel Senja bergetar. Senja langsung memeriksanya, ternyata ada satu pesan singkat masuk.


Vania

__ADS_1


Cieee lagi jalan sama Lucas


"Apaan sih, Nia!" Senja hanya membatin, tak membalas pesan itu.


Vania


Iya tau kok, yang lagi pacaran mah nggak mau di ganggu. Hehehe


Satu pesan barusan di kirim lagi oleh Vania. Senja memutuskan untuk membalas, kalau tidak maka pesan selanjutnya akan terus berdatangan.


Senja


Gue males kasih tau lo, pasti bakal heboh


Vania


Untung gue ngintip wkwk


Senja


Ga boleh ngintip, ga baik untuk kesehatan mata lo HAHAHA


Vania


Nggak papa lah, kan gue ngintip couple kesayangan gue


Vania


Yaudah lo pacaran aja dulu, gue nggak mau ganggu. Semangat yaa, kalau ada kabar baik jangan lupa kasih tau gue


Senja menggeleng. Temannya satu itu memang paling alay bin lebay.


"Sorry ya, lama." Lucas baru kembali. Senja langsung menyimpan ponselnya dalam tas.


"Iya."


Lucas menyerahkan bungkusan kado kepada Senja.


"Gue nggak lagi ulang tahun." polos Senja.


"Sebagai permintaan maaf gue beberapa hari lalu."


"Gue udah maafin semua perbuatan lo, baik yang disengaja ataupun engga. Jadi lo nggak perlu repot-repot ngasih ini ke gue." Senja menjauhkan benda tersebut.


"Ini sebagai ganti yang waktu itu."


"Waktu itu? Apaan?" Senja semakin dibuat bingung.


"Makanya ambil, nanti lo juga bakal tau sendiri." Lucas memberikan langsung ke tangan Senja. Akhirnya Senja pun menerima.


"Thanks."


Lucas tersenyum, "Yaudah balik, yuk."


🍁🍁


Malam ini Senja dan Vania sedang asik menonton televisi di ruang tengah. Sesekali mereka bersenda gurau.


"Tadi lo kemana aja?" di sela-sela iklan, Vania beralih ngobrol dengan Senja.


"Kepo banget, sih!"


"Ih, kok gitu sih."


"Nggak boleh kepo."


Vania mendengus sebal, "Lo mah gitu!! Udah punya pacar, guenya dilupain."


"Enggak, Nia. Nggak pacaran."


"Masa sih? Kok gue nggak yakin?"


"Beneran."


"Tapi kenapa waktu Lucas cubit pipi lo waktu lo obatin lukanya itu loh, lo diem aja?"


"Emangnya reaksi gue harus gimana?"


"Say something untuk mewakili ketidaksukaan, mungkin? Kalau lo nggak suka, sih." kalimat terakhir itu jatuhnya jadi sebuah sindiran.


"Semakin gue bilang nggak suka, semakin badboy nggak jelas itu melakukan."


Vania menyentuh dagu Senja sesaat, "Ih, tau banget sih." katanya dengan nada sok manis.


"Emang gitu, kan?"


"Lha, gue mana tau." ucap Vania membuat Senja geram.


"Byeee!" Senja meninggalkan Vania.

__ADS_1


"Ciee malu-malu." teriak Vania.


__ADS_2