The(My) Universe

The(My) Universe
A Plan


__ADS_3

"Aku hanya dapat berpijak pada bumi saat pegangan pun aku tak punya."


🍁🍁


Senja hening. Dia sendiri tidak paham dengan perasaannya saat ini. Melihat perubahan itu membuat Lucas menahan tangan Senja.


"Jawab gue, Nja."


"Jawab apa?"


"Kenapa lo masih belum mencintai gue, setelah semua ini?"


Hening lagi. Senja hanya mampu menatap kedua tangannya yang kini di genggam erat oleh Lucas.


"Gue nggak tau."


"Sedikit pun lo nggak tertarik sama gue?"


Hening kesekian kali.


"Nja, jawab jujur."


"Masih ada sembilan hari."


"Gue tanya perasaan lo saat ini."


"Jangan maksa, please." Senja berusaha melepas cengkeraman Lucas, namun gagal.


"Gue sayang sama lo, Nja. Bahkan gue jatuh cinta sama lo di pertemuan pertama. Gue serius sama lo. Apa lo nggak bisa ngerasain perasaan gue?"


"Please," lirih Senja, meminta tangannya dilepaskan.


"Gue nggak akan lelah untuk ngejar lo, tapi kadang gue juga ngerasa kalau perasaan gue butuh balasan dari lo. Gue nggak bisa jatuh cinta sendirian."


"Gue akan jawab di hari ke duapuluh." perlahan tangan Lucas melepaskan genggamannya.


"Gue balik." Senja keluar dari kamar Lucas.


Vania dan Chiko sedang berbincang bersama Leona di ruang tamu. Tanpa menyapa, basa-basi ataupun berpamitan, Senja yang baru saja turun langsung memilih keluar dari rumah Lucas.


"Lha, Senja kok pergi?" tanya Vania tidak mengerti.


"Ikutin yuk, takutnya kenapa-kenapa."


"Yaudah. Leona kita pamit dulu, ya."


"Iya kak, hati-hati. Semoga Kak Senja nggak apa-apa."


"Amin." setelah itu Vania dan Chiko menyusul Senja.


Leona penasaran, sebenarnya Senja kenapa. Leona langsung menghampiri kakaknya agar mendapat jawaban secara langsung.


"Kak Lucas ngelakuin apa, ke Kak Senja?"


Lucas yang sedang baring, mengubah posisinya menjadi duduk. "Kenapa?"


"Jawab aja kak, nggak usah nanya balik."


"Kakak nggak bilang apa-apa, Na."


"Kalau kakak nggak ngomong apa-apa, kenapa Kak Senja mendadak pergi gitu aja?"


"Maksudnya apa sih, Na? Kakak nggak ngerti. Senja pergi sama Vania-Chiko kan?"


"Nggak. Kak Senja pergi gitu aja sendiri."


"Kamu yakin?"


"Leona yakin banget kak. Leona liat sendiri."


Lucas meraih ponselnya di atas nakas. Mencoba menghubungi Vania dan Chiko, namun nihil. Kali ini Lucas menghubungi Senja. Sama saja, nihil juga.


"Gimana kak, belum bisa dihubungin Kak Senja?" Lucas menggeleng sambil terus mengirim pesan ke ponsel Senja.


Lucas

__ADS_1


Lo dimana Val?


Lucas


Kenapa tiba-tiba pergi sendirian? Jangan buat semua orang khawatir kayak gini


Lucas


Angkat telpon gue


Lucas


Nja


Lucas mulai frustasi, ia melemparkan ponselnya ke atas kasur. Sebenarnya dia ingin mencari Senja, tapi kemana? Lagi pula tubuh Lucas benar-benar masih terasa ngilu, ia tidak sepenuhnya baik-baik saja. Luka itu memang hanya pada wajahnya, tapi lebam dan memar di tubuhnya, hanya Lucas sendiri yang merasakan dan mengetahui.


"Tenang dulu kak, siapatau Kak Senja emang lagi ada urusan mendadak."


Lucas meraih kembali ponselnya. Meninggalkan sebuah pesan singkat lagi untuk Senja.


Lucas


Kalo lo ga bales juga, berarti lo kalah dalam tantangan ini


Dua menit berikutnya,


Drttt...


Lucas bisa lega karena ponselnya mendapat satu notifikasi pesan singkat dari Senja.


Senja


Itu mulu, bosen gue


Lucas


Lo dimana? Kenapa tiba-tiba pergi? Vania sama Chiko lagi nyariin lo


Senja


Lucas


Hahaha. Lucu lo


Lucas


Seriusan, lo dimana?


Senja


Di suatu tempat. Ga usah khawatir, gue udah kasih tau Vania juga kok


Lucas


Kenapa tiba-tiba pergi sendirian?


Senja


Banyak tanya!


Lucas


Iyaudah, gue ga tanya lagi. Dimanapun lo, semoga baik-baik aja


Lucas


Hubungin gue kalo ada apa-apa


Setelah itu Lucas tidak mendapat balasan pesan lagi dari Senja. Tapi itu sudah cukup bagi Lucas karena keadaan Senja baik-baik saja.


"Udah, kak?" Leona masih setia menunggu kabar Senja.


Lucas tersenyum, "Udah. Dia ada di suatu tempat, katanya."


Leona mengerutkan keningnya, "Dimana?"

__ADS_1


Lucas hanya mengedikkan bahu sebagai jawaban tidak tau. "Kamu keluar sana, kakak mau istirahat."


"Ambigu banget sih kak, jawabnya."


"Tenang aja Na, calon kakak ipar kamu baik-baik aja." Lucas kembali memposisikan dirinya menjadi berbaring. Badannya masih pegal-pegal akibat berkelahi melawan banyak preman.


Leona tersenyum, "Calon kakak ipar." ulangnya. Setelah itu Leona meninggalkan kamar kakaknya.


🍁🍁


Chiko belum pulang ke rumahnya, masih menemani Vania menunggu kedatangan Senja.


"Chik, Senja dimana, ya?"


"Nia, kan dia udah bilang lagi ada di suatu tempat. Mungkin dia lagi butuh waktu untuk sendiri. Jadi, lo nggak usah khawatir berlebihan gini."


"Gue takut terjadi apa-apa sama Senja, Chik."


Chiko mengusap pundak Vania, "Senja akan baik-baik aja, Chel. Perempuan itu Senja, lo pasti tau gimana kuatnya dia."


Vania mengangguk mantap, "Ya, lo bener. Dia Senja, nggak mungkin terjadi apa-apa sama dia."


"Nah gitu dong, lo nggak boleh terlalu khawatir."


"Makasih ya Chik, lo udah selalu ada untuk gue ataupun Senja."


"Vania," tegur Chiko mengingatkan. "Gue nggak suka ya, lo selalu berterimakasih gini. Kita itu sahabat, udah seharusnya saling membantu."


Vania memberi pelukan pada Chiko, begitupun Chiko juga membalasnya.


"Ekhemmm," suara seseorang membuat pelukan Vania dan Chiko terhenti.


"Kayaknya gue ganggu, nih." sindirnya.


"Senja!" Vania langsung menghampiri sobatnya itu, sekaligus memeluknya.


"Nggak bisa napas gue, Nia." Senja menepuk-nepuk tangan Vania yang melingkar terlalu erat dilehernya.


Vania melepas pelukannya sambil cengengesan, "Abisnya lo bikin khawatir, sih!"


"Lebay lo ah! Gue mau ke kamar aja. Nggak mau ganggu orang pacaran." Senja melengos masuk kamarnya.


"Ih, Senja!" kesal Vania.


Chiko tertawa saja melihat tingkah dua wanita cantik itu.


"Senja udah datang, gue balik ya."


"Thanks, ya, Chik."


"Iya."


"Yaudah, lo hati-hati."


Vania mengantar Chiko hingga depan pintu. Sesudah Chiko masuk mobilnya, Vania berlari ke kamar Senja. Melakukan rutinitas keponya.


"Lucas ngomong apa sama lo, Nja?" Vania tengkurap di kasur sebelah Senja duduk.


"Kepo!"


"Bukan gitu! Lagian lo kenapa tiba-tiba kabur gitu aja. Pasti ada omongan Lucas yang mungkin nggak lo suka?"


Senja meraih novel di atas nakasnya. "Nggak usah sok tau!"


"Lo mah gitu, semua yang berhubungan Lucas dirahasiain dari gue." ucap Vania mendramatisir.


"Sekarang gue tanya balik," Senja menutup kembali novelnya. "Emang gue kepo tentang lo sama Chiko? Enggak kan. Emang gue nanya tentang alasan lo pelukan sama Chiko? Enggak kan. Yaudah, nggak usah kepo."


Vania memasang duck face, "Itu sih salah lo sendiri nggak kepo!"


"Kalau nggak ada yang penting lagi, mending lo keluar. Gue mau baca novel."


Vania bangkit dari kasur Senja dengan memasang wajah kesalnya. "Novel mulu!"


"Bodo. Daripada lo, kepo mulu!"

__ADS_1


"Ihhhh!!" geram Vania sebelum berlari meninggalkan Senja.


__ADS_2