The(My) Universe

The(My) Universe
A Good Listener


__ADS_3

"Ketika obrolan mulai nyambung, biasanya rasa mulai bermunculan. Biasanya,"


🍁🍁


"Nja, hari ini kita pulang naik apa? Nggak mungkin nebeng Chiko, kan?"


"Tetap sama Chiko, Nia."


"Setelah semua kejadian di rumah sakit?" ragu Vania.


"Iya. Apapun yang terjadi, kita bertiga tetap sahabat."


"Gue nggak yakin kalau Chiko bakalan biasa aja, seolah nggak ada apa-apa."


Senja tersenyum penuh keyakinan, "Percaya sama gue."


"Senja!! Vania!!"


Senja dan Vania menoleh ke arah pintu–sumber suara. Chiko sudah berdiri disana, ialah orang yang memanggil Senja dan Vania


"Apa gue bilang!" ucap Senja.


Vania nyengir, "Keren lo, Nja."


"Yaudah sana lo pulang bareng Chiko."


"Lha, lo enggak?"


"Gue sama cowok nggak jelas, tuh." Valerie melirikkan matanya ke arah Lucas.


"Yahhh, gue awkward kali Nja berduaan doang."


"Bersikap biasa aja Nia, gue yakin lo pasti bisa."


Vania tampak berpikir sejenak dan menoleh sesaat ke arah Chiko yang setia berdiri di depan pintu. "Yaudah, gue balik bareng Chiko. Lo hati-hati, ya."


"Iya." Senja tersenyum, kemudian Vania menghampiri Chiko.


"Yuk, Chik." ajak Vania.


"Senja enggak?" tanya Chiko.


Vania menggeleng, "Senja sama Lucas, masih menjalani tantangan."


Chiko mengangguk paham, "Yaudah, ayo."


Senja sudah melihat kepergian Vania dan Chiko. Keduanya sudah tampak baik-baik saja, semuanya terlihat normal. Senja sangat bersyukur akan hal itu.


"Kenapa lo nggak membiarkan Chiko tau perasaan lo yang sebenarnya?" Lucas duduk di meja Senja.


"Untuk apa?"


"Gue rasa dia berhak tau."


"Gue nggak mau memberi harapan palsu ke Chiko."


"Harapan palsu? Lo bisa aja jadian sama Chiko, kalian saling suka."


"Terus lo pikir gue bakalan bahagia di atas perasaan Vania?"


Lucas mengedikkan bahu, "Vania udah sempat bahagia sama Chiko. Sedangkan lo, belum kan?"


"Gue bahagia sama Chiko. Meski cuma sebagai sahabat."


"Yakin?"

__ADS_1


"Gue udah mengubur perasaan gue ke Chiko. Sekarang gue cuma berharap kalau suatu saat nanti Chiko bisa mencintai Vania."


Lucas bukan kepo, tujuannya memastikan sekali lagi perasaan Senja pada Chiko. Hasil dari jawaban Senja membuat Lucas merasa lega. Beban di hatinya kini telah hilang.


"Gue balik duluan." ucap Senja sembari menggunakan tas punggungnya.


"Lo mau akhiri tantangan ini?" Lucas menahan pergelangan tangan Senja. "Atau mau langsung jadian sama gue? Nggak mau memperpanjang masa pedekate?"


Senja memutar bola matanya, merasa jengah dengan ancaman yang itu-itu saja. Lucas segera menggandeng tangan Senja dan membawanya menuju parkiran.


"Hari keempat nih, belum ada kemajuan di hati lo?" tanya Lucas yang kini sudah memegang kemudinya.


"Nggak!" tegas Senja.


Lucas terkekeh, "Sulit ya menaklukan hati lo."


"Gue nggak akan takluk sama lo. Jangan terlalu bermimpi."


"Mimpi mah, sah-sah aja. Semua orang sukses pasti diawali mimpi dulu."


"Semerdeka hati lo aja."


Setelah itu tak ada percakapan lagi, baik Senja dan Lucas memilih untuk bungkam. Tak lama mobil Lucas berhenti di salah satu warung padang.


"Lo tunggu sini bentar, ada yang harus gue beli."


"Hmmm."


Setelah cukup lama dan membuat Senja merasa bosan untuk menunggu, Lucas pun akhirnya muncul. Membawa banyak sekali nasi padang. Lucas meletakkan di jok belakang dan kembali mengemudikan mobilnya. Senja penasaran, tapi terlalu gengsi untuk bertanya. Bisa-bisa Lucas merasa besar kepala.


Setengah jam berikutnya, mobil Lucas berhenti lagi. Kali ini di sebuah pemukiman kumuh. Ya, ini pemukiman para pemulung yang tentu saja kotor, penuh sampah dan sangat tidak sehat.


"Yuk!!" ajak Lucas. Senja pun turun dari mobil. Lucas mengambil berbungkus-bungkus nasi tadi.


"Kita mau ngapain disini?" Senja masih belum mengerti apa maksud Lucas.


Mereka mulai masuk, tentu saja langsung disambut warga disana.


"Nak, Lucas."


"Kenapa nak, kok wajahnya penuh luka?"


"Lama nggak main kesini, kami sudah menunggu."


"Nak Lucas habis kecelakaan ya?"


"Nggak, saya nggak apa-apa." jawab Lucas.


"Ini pacarnya, ya?" tanya salah satu ibu-ibu–warga dari pemukiman tersebut.


"Iya, namanya Senja." Senja kesal sekali mendengar jawaban Lucas tapi dia tidak enak jika harus marah-marah disini.


"Cantik sekali kamu, nak." Senja langsung mendapat pujian.


"Makasih." sopan Senja.


Lucas menyerahkan bungkusan nasi tadi, "Lucas cuma bisa kasih ini, semoga bermanfaat."


Mereka menyambut dengan antusias, "Makasih, nak Lucas, nak Senja. Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian."


"Amin." kompak Lucas dan Senja secara bersamaan.


"Yaudah, gitu aja. Lucas sama Senja pamit dulu." pamit Lucas.


"Kok cepat sekali, nak?"

__ADS_1


"Iya, langitnya udah mendung. Takut keburu hujan." jawab Lucas.


"Yaudah, nggak apa-apa. Sering-sering bawa pacarnya ya kesini."


Lucas tersenyum, "Pasti."


Setelah selesai, mereka kembali ke mobil.


"Gue akui, lo memiliki jiwa sosial yang tinggi."


Lucas tersenyum penuh kemenangan, "Gue cuma melakukannya semampu gue. Dulu, orang tua gue yang melakukan ini."


"Tapi semenjak orang tua lo meninggal, lo yang meneruskan." sambung Senja, seketika membuat Lucas bingung.


"Lo tau?"


"Dikasih tau Bu Rita."


"Lo sama Vania saudaraan?" pertanyaan Lucas kali ini melenceng jauh dari topik pembicaraan sebelumnya.


"Enggak, sahabatan aja." Valerie menghela nafas sejenak, "Gue bertetangga sama dia udah lama banget, dari TK. Sering main bareng, sekolah juga bareng, sampai akhirnya kelas enam SD nyokap bokap Vania cerai. Bokapnya nikah lagi dan tinggal di luar kota, sedangkan nyokapnya meninggal setahun kemudian karena serangan jantung. Akhirnya Vania tinggal sama gue. Tapi beberapa bulan setelahnya, bokap gue meninggal karena gagal ginjal. Gue cuma punya nyokap saat itu, tapi sama. Beberapa tahun setelahnya nyokap juga sakit dan meninggal. Sejak SMP kelas tiga, gue cuma tinggal berdua sama Vania."


"Sorry, emang lo sama Vania nggak punya keluarga lain? Kan, waktu itu kalian masih SMP dan harus tinggal sendiri, itu bukan hal yang mudah."


"Semenjak bokapnya Vania nikah, mereka nggak pernah ketemu lagi. Vania ada keluarga di kampung, tapi dia nggak bisa tinggal disana juga karena pendidikan disana belum memadai. Akhirnya mereka cuma ngirimin uang bulanan ke Vania sebagai bentuk tanggung jawab."


"Kalau lo sendiri?"


"Gue ada tante, tapi saat itu gue nggak mau ninggalin Vania. Apapun yang terjadi, gue akan sama Vania. Tapi, setelah bokap nyokap gue meninggal, mereka mempercayakan salah satu bisnisnya ke tante gue. Jadi tante gue mengirimkan beberapa persen dari hasil bisnis itu untuk biaya hidup gue. Jadi tante gue tetap membantu seluruh kehidupan gue, even gue nggak tinggal sama dia."


"Lo peduli banget sama Vania?"


"Iya, karena dia udah kayak saudara bagi gue."


"Sampai lo rela hidup mandiri demi bisa hidup bareng dia dan bahkan merelakan perasaan lo untuk Chiko."


"Gue akan melakukan apapun untuk orang yang gue sayang."


"Berarti lo tipe penyayang dan setia."


"I don't know. Gue cuma melakukan apapun yang menurut hati gue benar."


Ini aneh tapi faktanya memang begini, tiba-tiba saja Senja begitu terbuka dengan Lucas. Rasanya nyaman sekali bercerita dengannya, Lucas selalu mendengarkan tanpa menghakimi. Mungkin dia salah satu pendengar yang baik.


"Besok gue jemput jam sebelas."


"Ngapain? Kan besok libur, jadi lo nggak perlu repot-repot jemput gue."


Lucas terkekeh, "Besok emang hari libur sekolah, tapi bukan hari libur tantangan."


"Gue udah ada janji sama Vania." bohong Senja.


"Batalin. Gue mau ngajak lo jalan, besok."


"Lo nggak bisa seenaknya gitu dong, gue udah janjian lebih dulu sama Vania." Senja mulai dibuat kesal lagi oleh Lucas.


"Nggak apa-apa sih kalau besok lo nggak mau jalan bareng gue," Lucas menggantung kalimatnya.


"Tapi apa?" Senja sudah tau, pasti akan ada embel-embelnya.


"Artinya besok lusa, lo udah resmi jadi pacar gue." Lucas tertawa melihat wajah imut Senja yang sedang kesal ini. "Otomatis gue yang menang kalau lo nggak mau jalan bareng gue."


Senja menghembuskan nafasnya secara gusar. Itu lagi-itu lagi. Ia sudah muak sekali mendengarnya.


"Iya, besok gue bareng lo."

__ADS_1


Lucas senang sekali karena selalu merasa menang dalam tantangan ini.


Senja turun dari mobil Lucas untuk masuk ke dalam rumahnya. Ia tidak lagi menoleh ke arah Lucas, memilih langsung masuk. Malas saja jika harus berbasa-basi dengan badboy nggak jelasnya itu. Sementara Lucas, perlahan membawa mobilnya mengarah menjauhi rumah Senja.


__ADS_2