
"Semakin kamu berbeda, semakin aku tertarik."
🍁🍁
"Chiko,"
"Kenapa, Nia?"
Vania terlihat berpikir.
"Chiko, thanks banget ya."
"Untuk?"
"Walaupun setelah semua ini, lo tetap menerima gue dan Senja sebagai sahabat lo. Dan lo tetap mau memberi tumpangan setiap hari."
Chiko tersenyum, "Nia, lo nggak usah say thanks segala. Gimanapun juga, kita udah bersahabat dari kelas sepuluh. Baru di kelas dua belas aja nih, kita beda kelas."
Vania tersenyum, "Fyi, gue masih sayang sama lo."
"Gue juga sayang lo, sebagai sahabat."
Vania terseyum getir. Hatinya perih sekali mendengar kenyataan ini. Vania masih berharap bahwa suatu saat nanti perasaan Chiko akan berubah terhadapnya.
"Yaudah, yuk." Chiko mengajak Vania turun karena mereka sudah sampai di parkiran sekolah.
"Yuk." respons Vania.
Sedangkan Senja dan Lucas masih dalam perjalanan menuju sekolah.
"Udah dibuka kadonya?" Lucas memecah keheningan.
"Belum."
"Kenapa?"
"Lupa." setelah mengatakan itu Senja membuka tasnya. Mengeluarkan benda yang dibalut kertas kado pemberiaan Lucas.
"Mau dibuka sekarang?"
"Enggak, mau dibuang."
"Masa?"
"Ya, abisnya aneh! Ya iyalah dibuka."
Lucas terkekeh. Senja membuka bungkus kado tersebut. Isinya ternyata sebuah novel. Novel ini sama persis dengan novel milik Senja yang robek beberapa hari lalu.
"Novel ini?" mata Senja berbinar melihatnya, seolah mendapat kejutan besar.
"Iya, waktu itu gue nggak sengaja bikin novel lo jadi robek. Makanya kemarin gue sempetin buat beliin lo novel yang baru."
Senja senang sekali mendapat novel bercover abu-abu tersebut. Sebelumnya ia tidak jadi membaca novel yang sama karena sudah terobek parah dibagian depan. Tapi kali ini dia bisa membacanya karena novel baru yang masih sangat amat mulus ini.
"Thank you," Senja memeluk Lucas dengan sangat gembira. Senyum di wajahnya pun melengkung dengan sempurna.
Lucas sangat bahagia sekali dipeluk seperti ini. Ini pertama kalinya Lucas melihat Senja begitu bahagia saat bersamanya. Biasanya Senja sangat cuek.
"Iya, sama-sama." setelah mendengar jawaban Lucas, Senja tersadar. Ia menatap Lucas untuk sepersekian detik, kemudian melepasnya dengan kasar.
"Eh, sorry." kaku Senja
"Gue rela deh beliin lo novel setiap hari, kalau dapat peluk gini." Lucas tertawa geli mendengar ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Ih, nggak!" Senja kembali ketus. "Gue terlalu excited, karena gue emang penasaran banget sama novel ini. Tapi sempat tertunda karena novel yang udah gue beli harus robek karena ulah, lo!"
"Iya, sorry. Makanya gue ganti."
"Makasih, ya." ucap Valerie lagi.
"Iya. Udah, nggak usah makasih mulu." Lucas melirik Senja sekilas. "Lo aneh."
"Aneh?"
"Lo nggak suka film bergenre romance, tapi bacaan lo malah romance semua."
"Gue nggak suka film bergenre romance karena terkadang tokoh pemeran terlalu kaku atau berlebihan dalam berperan. Nggak sesuai ekspektasi gue. Kalau baca kan enak, gue bisa bermain dengan imajinasi gue sendiri."
"Jangan berekspektasi terlalu tinggi, dunia ini nggak hanya untuk menyenangkan lo."
Senja mengangguk, "Iya gue tau, makanya gue lebih milih baca daripada nonton kalau dalam hal romance. Tapi ada beberapa film romance yang gue tonton dan suka banget."
"Berarti hal-hal yang lo sukai itu beruntung, ya."
"Emang kenapa?"
"Karena lo bukan tipikal orang yang gampang menyukai sesuatu, jadi kalau lo sampai suka artinya hal itu bener-bener bisa nyuri hati lo."
Senja mengangguk ragu. Iya, mungkin analisa Lucas benar, setelah di telaah lagi Senja pun mengakui hal tersebut.
Lima menit kemudian mereka sudah sampai sekolah. Setelahnya mereka jalan beriringan menuju kelas. Selama perjalanan banyak sekali siswa-siswi yang memperhatikan mereka.
"Couple goals lewat!!"
"Gue LSL garis keras."
"OMG! Lucas ganteng banget."
"Sweet banget kalian."
Itulah beberapa contoh kalimat-kalimat yang dilontarkan beberapa siswa-siswi yang mereka lewati.
"Selamat datang, pasangan serasi!!" sambut Vania dengan heboh ketika Senja dan Lucas baru masuk.
Seluruh mata yang ada di kelas hanya menatap mereka. Sebenarnya baik Lucas maupun Senja sudah biasa menjadi pusat perhatian karena mereka memang primadona sekolah. Tapi rasanya kali ini cukup ekstrem karena tak ada yang berhenti memandang.
Senja mendekati Vania. Lucas cuek saja menuju tempat duduknya.
"Ini semua pasti ulah, lo!" bisik Senja pada Vania.
"Nggak, Nia."
"Jujur!"
"Gue cuma bilang kalau lo sama Lucas udah jadian."
"Vania!!" geram Senja sambil masih berbisik.
"Abisnya lo sih, nggak mau ngajakin gue jalan. Yaudah, gue balas dendam."
"Nggak gini caranya, Nia."
Senja duduk dikursinya, jengah sekali dengan sikap sembarangan sahabatnya satu itu.
"Jadi kalian udah jadian?" Aidil si ketua kelas ini pun ikut kepo. Padahal dia seorang laki-laki yang harusnya tidak perlu terlalu ingin tau.
"Nggak. Gue nggak jadian sama dia." Lucas mengklarifikasi untuk teman sekelasnya, jatuhnya lebih ke pengumuman.
__ADS_1
Lucas duduk di atas mejanya, jaraknya semakin dekat dengan Senja yang duduk di kursi. "Kalian tau darimana kalau gue sama Senja jadian?"
Senja memejamkan matanya sesaat dengan perasaan emosi. Kesal, geram, ingin marah, semuanya menjadi satu. Sampai beberapa hari ke depan, Senja harus memiliki stok sabar yang banyak. Jika saja sabar bisa dibeli, maka Senja akan jadi pelanggan setia.
"Vania yang bilang, katanya kemarin kalian jadian." jawab Zidan.
Lucas menatap Vania yang kebetulan saat itu Vania juga menatap Lucas, kemudian mereka berdua ber-tos ria.
"Iya, gue udah jadian sama Senja. Awas aja kalo ada yang gangguin Senja!! Akan langsung berhadapan sama gue." Lucas memberikan pengumuman, tapi tak sejalan dengan pernyataan Senja tadi.
"Tapi kenapa Senja bilang, nggak?" Zahra menjadi bingung.
"Namanya juga cewek, malu-malu kalau baru jadian." jawab Lucas.
"Nembaknya dimana?" tanya Eka.
"Ada deh, di suatu tempat." Lucas dengan senang hati membuat mereka menjadi penasaran.
"Ka–"
"Ini bukan sesi tanya jawab!" tegas Senja.
Tringgg!!
Bel masuk berbunyi, Senja akhirnya bisa bernapas lega. Karena tak lama lagi guru akan masuk dan pelajaran akan segera di mulai.
"Selamat pagi, murid-muridku." sapa Pak Zaki–guru Biologi, dengan logat batak ciri khasnya.
"Pagi, pak."
"Sebelum ku mulai pelajaran kita hari ini," Pak Zaki beralih menjadi berdiri di depan kelas, agar semua murid bisa melihatnya dengan jelas.
"Kudengar ada yang baru resmi berpacaran rupanya. Siapa pun namanya?" logat batak itu sangat kental diucapkan Pak Zaki, padahal dirinya berasal dari sunda.
"Lucas-Senja!!" kompak seisi kelas kecuali kedua orang yang namanya disebut. Lucas sih tersenyum senang, tapi Senja merasa kesal yang tak ditampakkannya.
"Selamat berbahagia, nak." santai Pak Zaki.
"Terima kasih, pak." Lucas menanggapi.
"Ceritakan dulu sikit untuk kami. Masih pagi lah ini, jan dulu tralu serius."
"Iya pak, setuju!!"
"Iya pak, dengarin cerita mereka dulu."
"Aku padamu, pak!!"
"I love you, Pak Zaki!"
Gemuruh suara bahagia murid-murid karena mereka tau bahwa jam pelajaran akan terpotong. Mereka semua jadi mendukung Pak Zaki. Apalagi mereka juga kepo dengan kisah percintaan dua murid terpopuler sekolah itu.
"Bah!! Tenang dulu klean, biarlah mereka bercerita."
"Saya sama dia nggak pacaran, pak." Senja tentu tidak suka menjadi bahan pembicaraan di atas gosip yang sama sekali tidak benar ini.
"Bah!! Janganlah kau malu-malu. Pernah muda juga aku." jawab Pak Zaki.
"Maaf pak, pacar saya malu-malu, jadi saya nggak akan cerita apapun. Nanti saya diputusin." ucap Lucas sekenanya.
"Aih, macam mana pula ini!! Kau buat aku penasaran tanpa kejelasan macam ini."
Seisi kelas tertawa ngakak melihat tingkah guru mereka sendiri. Pak Zaki memang selalu lucu dan menghibur.
__ADS_1
"Marilah kita belajar saja."
"Huuuuhh!!" tak terima murid-murid yang kecewa karena jam pelajaran gagal terpotong.