The(My) Universe

The(My) Universe
The Twelfth Day


__ADS_3

"Kamu selalu sempurna untukku. Tidak berlebih, tidak pula kurang."


🍁🍁


Senja menyemprotkan parfum beraroma vanilla favoritnya ke tubuh.


Drrrttt...


Senja meraih ponselnya yang bergetar dari meja belajar.


Lucas


Semalat pagi, sayang😙


Lucas


Gue masih belum bisa sekolah hari ini. Lo bareng Vania Chiko ya


Senja


Iya


Lucas


Jawab selamat pagi juga Lucas sayang, gitu dong


Senja


Ga


Lucas


Yaudah, gapapa. Sebagai pacar yang baik emang ga boleh maksa hehe


Lucas


Ntar jam 7 malam gue jemput. Dandan yang cantik ya, sayang


Senja


Mau ngapain? Kemana?


Lucas


Dandan aja yang cantik


Lucas


Semangat sekolahnya, sayang


Senja hanya mampu geleng kepala. Lucas terlalu pede untuk memanggilnya sayang. Tapi tanpa disadari Senja mengukir senyum tipis–sejak pesan pertama Lucas.


"Senja gue duluan!!" teriak Vania dari balik pintu.


"Gue bareng lo sama Chiko. Tunggu bentar, Nia."


"Oke."


Senja memasukkan buku di atas meja–yang sudah disiapkannya–ke dalam tas.


"Buruan, Nja!!" Vania menggedor pintu dengan tidak sabar.


Senja segera memakai tas punggunya dan keluar menghampiri Vania. "Bisa roboh pintu kamar gue!"


"Lo lama, sih!"


"Udah, nggak usah berdebat." Chiko adalah penengah yang baik.


"Ayo, buruan." ajak Vania.


🍁🍁


Mereka datang sedikit lama, kelas sudah sangat ramai. Nyaris semua bangku terisi. Sebelum duduk, Senja melihat jelas kursi kosong di belakangnya. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja Senja merasa ada yang kurang setelah melihat kursi tersebut.

__ADS_1


"Nja, ada titipan dari Lucas." Fahmi menyerahkan papper bag berwarna biru.


Senja menerimanya dengan perasaan bingung sekaligus penasaran. "Thanks, Mi."


"Yoi."


Senja baru duduk di kursinya sambil menatap penasaran isi papper bag tersebut.


"Ekhemmm," batuk pura-pura Vania berhasil membuat Senja menatap ke arahnya.


"Pasti lo kepo!"


Vania cengengesan sambil mengangguk. "Buka dong."


"Nggak."


"Pelit!"


"Biarin."


Senja memasukkan papper bag itu ke dalam tas. Dia akan membukanya nanti di rumah saja.


🍁🍁


"Nja, lo jangan ganggu gue. Hari ini gue mau me time di kamar. Mau maskeran, mau luluran, mau masker rambut, mau me–" Senja membekap mulut bawel Vania.


"Hmmm," Vania hanya mampu berdehem karena mulutnya masih ditutup.


"Gue nggak akan ganggu lo hari ini. Nggak usah bawel!"


"Ihhhhh!" sebal Vania. Sedangkan orang yang membuatnya sebal sudah tidak terlihat dari balik pintu.


Dengan terburu-buru Senja mengeluarkan papper bag dari dalam tasnya. Setelah itu ia mulai mengabil sesuatu dari sana. Ada sebuah note kecil.


Malam ini gue cuma mau liat lo pakai dress ini :)


- Lucas


Senja mendapati sebuah simple dress dengan model off shoulder berwarna putih. Senja tersenyum, entah senyum karena Lucas yang memberi atau senyum karena menyukai dress tersebut. Sepertinya senyum karena menyukai dress.


Drrrttt...


Lucas


Ini udah jam pulang sekolah, pasti lo udah buka papper bag itu


Lucas


Suka ga?


Jantung Senja mendadak berdebar, padahal ini hanya pesan singkat. Bukan Lucas yang berdiri di hadapannya.


Senja


Buat apaan nih?


Lucas


Buat acara ntar malem


Senja


Acara apaan sih?


Lucas


Jam 7 gue jemput


Senja mendengus kesal. Sebelum jam tujuh, Lucas tidak akan memberitaunya. Percuma saja terus-terusan bertanya. Begitulah Lucas.


Senja beranjak menuju lemari sepatunya. Memilih kira-kira sepatu apa yang harus digunakannya.


"Nggak mungkin pake sneakers kan?" tanyanya bermonolog.

__ADS_1


Ada satu high heels berwarna hitam dengan tinggi tiga senti meter–mencuri perhatiannya. Senja mencoba memadupadankan.


"Cocok." katanya menyimpulkan.


Sekarang baru jam tiga, Senja memilih untuk tidur siang agar nanti malam dia tidak merasa kantuk.


🍁🍁


Tringgg!!!


Senja mematikan alarm di ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia bergegas ke kamar mandi. Setengah jam kemudian Senja sudah keluar menggunakan bathrobe-nya yang berwarna biru langit.


Senja duduk di meja rias, mengeringkan rambut menggunakan hairdryer kemudian men-styling rambutnya. Dilanjut untuk berdandan selama lima belas menit berikutnya. Setelah di rasa cukup. Senja kembali ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk berganti pakaian, mengenakan dress pemberian Lucas.


Kini Senja berdiri di depan cermin besar pada lemarinya. Senyum terukir setelah melihat dress itu sangat pas untuknya. Sangat terlihat manis di tubuh Senja. Membuat Senja heran, bagaimana ukuran ini sangat pas. Siapa yang membelinya? Apakah Lucas? Senja membuang jauh-jauh rasa penasarannya. Apapun itu, yang pasti dress ini sangat cocok untuknya.


Sudah hampir jam tujuh, Senja melengkapi penampilannya dengan anting dan gelang berwarna silver.


Drrrttt...


Insting Senja mengatakan bahwa pesan yang masuk itu dari Lucas.


Benar. Setelah di cek memang dari Lucas.


Lucas


Gue udah di depan pintu


Senja terlonjak. Sedikit kaget karena pasalnya ini baru jam tujuh kurang sepuluh. Tanpa berlama-lama lagi, Senja langsung meraih tasnya dan menggantungkan di pundak kanannya, lalu memasang high heels dan tak lupa menyemprotkan banyak parfum ke seluruh tubuh.


"Apa ini nggak berlebihan?" batinnya.


Senja sempat diam sejenak. Mempertimbangkan lagi penampilannya di depan cermin. Sampai sebuah pesan mengagetkannya.


Drrrttt...


Lucas


Jam tujuh kurang lima menit


Lucas


Apa lo akan keluar nunggu jam 7 pas?


Lucas


Akan tetap gue tunggu


Senja menarik napas perlahan. Menenangkan pikiran maupun hatinya. Senja memberanikan diri untuk menemui Lucas.


🍁🍁


Setelah pintu terbuka, Lucas sangat kagum melihat kecantikan Senja. Rambut kecoklatan yang di curly pada bagian ujung, make up tipis yang sangat pas, serta dress yang membalut tubuh indah Senja. Semua terlihat sempurna di mata Lucas. Perpaduan yang sangat sederhana tetapi luar biasa. Lucas sampai tidak berkedip meski hanya sedetik saja.


"Gue berlebihan, ya?" Lucas akhirnya tersadar setelah mendengar pertanyaan Senja.


"Enggak."


"Tapi lo ngeliatinnya gitu banget?"


"Lo cantik banget malam ini."


"Emang biasanya gimana?!" jutek Senja.


Lucas menepuk kepalanya. Harusnya dia tidak bicara seperti itu. Puji saja cantik, tanpa embel-embel malam ini atau hari ini. Karena wanita itu selalu memperibet hal sepele. Sepertinya susah sekali tinggal mengucap terimakasih, saja.


"Biasanya juga cantik, tapi malam ini cantiknya beda."


Senja juga melihat hal yang sama. Bukan cantik, melainkan tampan. Penampilan Lucas malam ini berbeda, ia menggunakan setelan jas berwarna biru dongker, dengan dalaman kemeja hitam polos. Sepatu semi formal berwarna hitam turut memperlengkap penampilannya malam ini. Tunggu-tunggu, rambut Lucas juga sedikit lebih klimis dan tertata dengan rapi. Tidak berantakan seperti hari-hari biasa.


"Yuk." Lucas sudah memposisikan tangannya untuk digandeng Senja.


"Gue masih bisa berjalan dengan baik dan benar." ucap Senja seraya berlalu lebih dulu menuju mobil.

__ADS_1


Lucas hanya tertawa melihatnya. Tingkah Senja masih tetap sama walaupun penampilannya terlihat lebih manis malam ini.


__ADS_2