
"Ice cream bisa saja membuatku bahagia, tapi hadirmu semakin menyempurnakannya."
đđ
Keempatnya sudah duduk di dalam mobil dengan posisi Lucas menyetir, Chiko di depan dan Senja serta Vania di belakang. Senja duduk di jok belakang Chiko. Sejak dari tadi, Lucas curi-curi pandang melalui pantulan cermin.
Lima menit berikutnya, Lucas memberhentikan mobilnya di salah satu rumah makan sederhana.
"Taman funtastic pindah kesini, Cas?" Vania memasang wajah cengo.
"Bukan. Kita makan dulu sebentar, kasian Senja belum sempat sarapan."
Senja kaget mendengar ucapan Lucas. Tapi dia beruntung, karena sejujurnya Senja memang sedang lapar.
đđ
Tepat pukul sebelas, mereka sudah sampai di Taman Funtastic.
"Yeayyy!!" Vania girang sekali melihat wahana-wahana permainan di hadapannya.
"Naik roller coaster, yuk!" ajak Senja.
"Ayo." jawab Vania.
Mereka berempat naik roller coaster. Setelahnya mereka memutuskan untuk menaiki wahana tornado dan masuk ke rumah hantu.
"Serem banget tadi, di rumah hantunya." ujar Vania.
"Standar lah, itu." Senja merespons.
"Ya, lo mah berani."
"Eh, foto yuk. Mumpung gue bawa kamera."
Pertama mereka meminta tolong seseorang untuk memotret keempatnya. Kemudian Senja memotret Chiko bersama Vania, lalu bergantian Chiko memotret Senja bersama Vania. Kini, Lucas memotret Senja bersama Chiko dan Vania.
"Sini gue yang fotoin lo sama Lucas." ujar Chiko.
"Gue ngâ"
Belum selesai Senja bicara, Lucas sudah merangkulnya. Mau tidak mau Senja tersenyumâtidak ingin terlihat jelek di kamera.
"Eh, gue mau naik satu wahana lagi dong."
"Gue capek Nia, lo aja sana. Gue tunggu disini."
"Yah, kok gitu si Nja. Tapi nggak apa-apa deh, gue sendiri aja."
"Biar gue temenin."
Vania tersenyum senang, "Chiko emang paling baik deh."
"Yaudah, ayo."
"Byee Nja."
"Byee."
Vania dan Chiko sudah pergi untuk menaiki satu wahana yang berada di daerah paling pojok belakang.
Lucas menggandeng tangan Senja dan membawanya. Senja yang tidak siap, merasa sedikit kaget dan tersentak.
"Mau kemana?" tanya Senja yang masih digandeng.
"Ntar lo juga tau."
Ternyata Lucas membawa Senja ke area photobox. Mereka berfoto ria disana. Gaya pertama Senja tersenyum dan Lucas merangkulnya. Gaya kedua, Lucas menggendong Senjaâpadahal Senja sudah menolak. Gaya ketiga, Lucas sengaja membawa tangan Senja kepundaknya seolah Senja merangkul. Gaya ketiga, Senja menjulurkan lidah sedangkan Lucas mengapit kedua pipi Senja dengan satu tangannya. Gaya keempat, Lucas berdiri di belakang Senja dan meletakkan kedua tangannya melingkar di leher Senja. Gaya kelima, mereka memasang senyum ala ktpâsenyum minimalis. Gaya keenam, Lucas kembali merangkul Senja, tapi kali ini di sertai kecupan di kening.
"Ih, lo ngapain sih pake nyium gue segala!" protes Senja sambil mengusap bekas ciuman Lucas.
Lucas hanya tersenyum simpul, lalu mengambil selembar kertas hasil print outâberisi kolase foto mereka.
"Kita kayak couple goals ya disitu." celetuk Lucas.
Senja menyerahkan selembar foto itu pada Lucas, "Lo aja yang bawa, dijaga baik-baik." kemudian Senja berlalu.
"Kalau gue yang bawa bakalan rusak, jadi lo aja." Lucas meletakkan foto itu langsung di telapak tangan Senja. Berdebat dengan Lucas tidak akan ada ujungnya, Senja menuruti saja kemudian memasukkan foto itu ke dalam tasnya.
"Lo tunggu sini bentar, ya."
__ADS_1
Lucas pergi setelah Senja mengangguk. Kini, Senja duduk di salah satu kursi yang tersedia. Lumayan lelah juga berjalan kesana kemari, di tambah dengan cuaca yang juga panas. Senja mengibas-ngibaskan tangannya, berharap ada pasokan angin menerpa tubuhnya yang sudah mulai berkeringat.
"Mau yang vanilla atau coklat." Lucas berdiri di hadapan Senja dengan membawa dua ice cream.
Senja mengambil ice cream di tangan kanan Lucas, "Vanilla."
Lucas beralih duduk di samping Senja. Sedangkan Senja langsung membuka ice cream itu. Mereka menikmati ice cream di tangan masing-masing.
"Nja, bentar deh," Lucas memberhentikan gerakan Senja.
"Kenapa, belepotan ya?"
Lucas mengusap hidung Senja. Refleks Senja menyentuh hidungnya sendiri, jujur dia merasa ada sesuatu yang janggal disini. Dan dilihatnya, ternyata benar. Bukannya Lucas membersihkan justru yang ada malah mengotorinya dengan mengoleskan ice cream coklat miliknya tadi ke hidung Senja.
"Ih, lo sengaja ya?!"
Lucas hanya tertawa. Senja memicingkan matanya dan kemudian membalas perlakuan Lucas, dengan sebisa mungkin Lucas menepis tangan Senja. Karena tidak ada yang mau kalah, mereka saling melumuri ice cream ke wajah satu sama lain sambil menghindari satu sama lain. Keduanya juga tertawa sesekali.
"Nja, lo curang banyak banget!" Lucas berusaha menghalangi tangan Senja lagiâsambil tertawa.
"Biarin, lo duluan sih!"
"Curang."
"Ih, tuhkan! Lo mulai lagi!" Senja tak terima karena baru saja pipinya dicemongi.
Lucas tertawa senang dan bahagia. Saat ini keduanya sudah tidak lagi saling mengganggu. Senja mengusap bagian pipinya yang kotor.
"LUCAS!!" kesal Senja dengan nada super menggemaskan di telinga Lucas.
Bibir Lucas menarik senyum begitu tulus, senyum itu adalah senyum bahagia. Hati Lucas pun terasa sangat senang.
"Untuk pertama kalinya Nja, lo sebut nama gue." senyum itu tidak pudar dari bibir Lucas.
Senja menoleh ke arah Lucas yang sedang tersenyum memandangnya. Tatapan keduanya bertemu. Tanpa tau mengapa, perasaan Senja menjadi ada yang aneh.
"Woi! Pacaran aja lo!" teriakan Vania mengagetkan, membuat Senja dan Lucas menjadi salah tingkah setelahnya.
"E-enggak." gugup Senja.
Sedetik kemudian Vania tertawa ngakak yang kemudian di susul juga dengan tawa Chiko.
"Muka lo berdua?" Vania masih saja tertawa.
Senja tersadar, pasti wajahnya masih belepotan. Sesegera mungkin ia mengambil cermin kecil serta tissue dari dalam tasnya. Membersihkan keseluruhan wajahnya yang berantakan akibat ulah Lucas.
"Udah cantik, nggak usah ngaca mulu. Ntar kacanya minder." pipi Senja langsung blushing mendengar perkataan Lucas.
"Ekheemm," Chiko berpura-pura batuk.
"Bersihin wajah ayang beb lo juga tuh, Nja." saran Vania dengan nada raskastis.
Senja hanya memberikan tissue pada Lucas, terserah dia mau membersihkam sendiri atau tidak. Satu yang pasti, kali ini Senja tidak akan mau membantu.
Lucas berinisiatif membersihkan wajahnya sendiri karena ia paham betul bagaimana Senja. Jika dalam keadaan luka, Senja pasti tidak akan tega. Tapi jika hanya keadaan main-main seperti ini, Senja tidak peduli.
"Nja, beli cotton candy, yuk."
"Ayo!!"
Vania dan Senja sudah berlari menuju tempat penjual cotton candy. Chiko beralih duduk di tempat Senja tadi.
"Lo sama Senja beneran, Cas?" nada bicara Chiko kali ini terdengar serius.
"Apanya?"
"Beneran pacaran?"
"Belum. Doain aja secepatnya."
"Gue harap lo nggak bakal mainin Senja. Senja perempuan yang baik, Cas. Kalau lo emang serius, gue bakal dukung dan doain kalian. Tapi jangan pernah bikin Senja sakit hati."
Lucas menepuk pundak Chiko, "Gue nggak akan nyakitin Senja."
"Gue percaya sama lo."
"Perasaan lo ke Senja gimana?"
"Tenang aja Cas, gue udah ikhlas. Pada akhirnya gue sadar, nggak selamanya cinta itu harus dimiliki. Gue akan selalu bahagia saat Senja juga bahagia."
__ADS_1
Lucas mengangguk paham. Tidak menyangka dengan ketegaran hati Senja maupun Chiko. Mereka pernah saling cinta, tapi tidak pernah saling memiliki.
Lucas sendiri tidak yakin pada hatinya bahwa dia akan bisa setegar mereka.
Lucas membuat analisa tentang dirinya sendiri, bahwa jika Lucas jatuh cinta maka dia akan menjadi sangat egois. Harus dimilikinya perempuan yang telah berhasil merebut hatinya itu. Seperti saat ini, Lucas benar-benar jatuh cinta pada Senja. Ego Lucas menginginkan Senja menjadi miliknya. Sejak hari pertama Lucas datang, ia sudah tertarik pada Senja.
Walaupun sebelumnya Lucas pernah beberapa kali berpacaran dengan banyak gadis, tapi tidak ada satupun yang Lucas suka, sayang ataupun cintai. Lucas hanya menganggap gadis-gadis itu sebagai hiburan saja.
Tidak lama kemudian Senja dan Vania sudah datang membawa cotton candy berwarna merah muda.
"Lo nggak beliin kita berdua?"
"Lha, kalian mau? Gue kira enggak."
"Maulah. Yaudah, sini bagi punya lo."
"Ih, nggak mau beli sendiri."
Chiko mengejar Vania untuk merebut cotton candy milik Vania. Senja tersenyum melihat kedua sahabatnya yang seperti anak kecil memperebutkan cotton candy. Senja beralih duduk di kursi sambil menikmati cotton candy yang ada di tangannya.
"Lo nggak jealous liat Chiko bahagia sama Vania?" Lucas berhasil membuat Senja melihat ke arahnya karena pertanyaan itu.
"Nggak. Gue justru bahagia banget liat mereka bahagia."
"Gue salute sama lo dan Chiko."
"Kenapa?"
"Kalian saling cinta tapi sama sekali nggak egois."
Senja tersenyum, "Yaudah lah, mungkin gue sama Chiko cuma ditakdirkan untuk bersahabat."
"Jelas, lo kan jodoh gue." celetuk Lucas berhasil membuat Senja tertawa.
"Eh, serius deh. Perasaan lo ke Chiko gimana?"
"Gue tetap sayang sama dia, tapi sebagai sahabat. Sama seperti gue sayang Vania."
"Berarti ke gue sayangnya beda dong?"
Senja menyikut perut Lucas, pelan. "Nggak usah kepedean ya!"
Lucas tertawa ringan. Senang sekali jika Senia sudah kesal seperti ini.
"Eh, lo mau nggak?" tawar Senja sambil menyodorkan cotton candy. Nada bicaranya terdengar sangat bersahabat.
"Nggak. Emang gue anak kecil?!"
"Emang kalau makan ini kayak anak kecil?" Senja menaikkan sebelah alisnya.
Lucas mendekatkan wajahnya ke wajah Senja, tatapannya serius. "Iya." ucapnya seraya terkekeh.
Senja yang sudah kesal di ledek sedari tadi, kini memaksakan cotton candy itu masuk ke dalam mulut Lucas. Sedangkan Lucas berusaha menutup mulutnya dengan tangan kanan dan menahan pergelangan tangan Senja menggunakan tangan satunya lagi.
"Buka mulut lo! Makan! Biar lo jadi anak kecil juga!" Senja terus memaksa.
"Mmm," gumam Lucas yang menutup mulutnya rapat-rapat.
Lucas mencekal kedua tangan Senja menggunakan satu tangannya, sedangkan tangan sebelahnya digunakan untuk menyuapkan cotton candy ke mulut Senja. Cotton candy yang disuapkan Lucas lumayan besar sehingga tidak masuk ke mulut Senja seluruhnya. Lucas mendekatkan bibirnya ke arah cotton candy tersebut. Kini bibirnya dan bibir Senja saling menahan dua sisi cotton candy yang saling bersebrangan, layaknya dua sisi jembatan. Mereka berpandangan dalam jarak yang dekat sekali. Jantung keduanya berdegup dengan kencang.
Senja dengan cepat menjauhkan wajahnya, meninggalkan setengah cotton candy itu di bibir Lucas. Refleks, Lucas pun melepas tangan Senja. Senja merasa hatinya berdesir. Ini bukan kali pertama ia merasakan perasaan aneh ketika ada di dekat Lucas.
"Bagi gue, lo nggak keren." Senja mendelik tajam mendengar pernyataan Lucas.
"Lo menggemaskan." kini pipi Senja menjadi merona.
"Yahh!! Jatuh deh cotton candy gue! Lo sih, Chik!!" keluh Vania membuyarkan Senja dan Lucas.
"Kenapa?" tanya Senja.
"Gue sebel sama Chiko! Cotton candy gue jadi jatuh gara-gara ulah dia."
"Yaudah, ntar gue ganti." ujar Chiko.
"Nggak. Udah nggak mood. Ayo pulang!!"
"Ngambekan, lo." cibir Chiko.
"Nggak. Ayo pulang, Nja!" Vania menggandeng tangan Senja.
__ADS_1