The(My) Universe

The(My) Universe
Blackout


__ADS_3

"Aku akan menjadi yang paling gelisah saat mengetahui kamu tidak sedang baik-baik saja."


🍁🍁


Belum selesai Lucas bertanya, tubuh Senja sudah ambruk terlebih dahulu. Untung saja Lucas setia berdiri di samping Senja. Jikat tidak, Senja pasti tak sempat di tangkap oleh Lucas dan saat ini Senja pasti tergeletak di lantai. Dengan cepat, Lucas membawa Senja yang pingsan di gendongannya ini ke UKS.


Disana ada dua orang siswi yang bertugas menjaga UKS. Di lengan kiri mereka ada logo jaitan yang menunjukkan bahwa mereka adalah anggota PMR.


"Kak Senja, kenapa, kak?" tentu saja mereka tau siapa yang pingsan dan siapa yang membawanya itu.


Lucas meletakkan tubuh Senja ke atas ranjang, "Tadi habis di hukum lari keliling lapangan, terus tiba-tiba pingsan."


Salah satunya langsung memeriksa tubuh Senja menggunakan stetoskop, bak seorang dokter profesional.


"Sebentar lagi Kak Senja pasti sadar. Dia cuma dehidrasi aja, makanya pingsan." kata gadis itu setelah memeriksa Senja.


"Nanti kalau Kak Senja udah sadar, di kasih teh hangat sama obat ini, kak." siswi satunya baru datang membawakan secangkir teh dan obat.


"Oke, thanks."


Kedua siswi itu tersenyum malu-malu, senang bisa melihat badboy tampan itu dalam jarak sedekat ini. Mereka merasa sangat beruntung.


"Udah jam istirahat ke dua, kita tinggal dulu kak. Nggak ada yang perlu di khawatirin kok."


Lucas mengangguk. Kedua siswi itu meninggalkan Lucas dan Senja dalam UKS.


Beberapa menit berlalu, Senja mulai membuka matanya perlahan. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Senja langsung sigap untuk duduk setelah sadar jika ada Lucas di sampingnya.


"Nih, minum." Lucas menyodorkan cangkir berisi teh.


"Nggak usah, gue baik-baik aja." itu kata mulutnya, bukan kata tubuhnya. Tubuhnya sih sangat lemas dan kepalanya juga terasa sakit.


"Iya udah, minum obat aja kalau gitu."


"Nggak!" bentak Senja. "Gue nggak suka minum obat."


"Oke, kalau lo nggak mau minum obat. Nggak usah marah gitu, dong."


"Yaudah jauhin aja sana!!"


"Kenapa sih? Ini cuma obat." Lucas mendekatkan obat berbentuk tablet putih itu.


"Gue nggak suka ya, lo main-main kayak gini!" Senja memaksakan dirinya yang masih lemas untuk pergi meninggalkan UKS.


"Kenapa harus semarah itu cuma karena obat?" bingung Lucas sambil bermonolog.


Senja berjalan menuju kelas sambil memegangi kepalanya yang terasa berat dan juga sakit.


"Lo kemana? Kok baru balik?" tanya Vania.


Bukannya menjawab, Senja justru menenggelamkan wajahnya ke atas tumpuan tangan yang ia lipat di atas meja.


Di jam pelajaran terakhir, Senja sama sekali tidak konsentrasi. Ia merasa tidak enak badan. Saat Vania bertanya, ia selalu menjawab gapapa. Biasalah, cewek memang begitu, padahal ada apa-apa tapi selalu saja menutupi dengan kata nggak apa-apa. Lucas, tidak lagi menjahili Senja, setidaknya untuk hari ini cukup. Lucas merasa bahwa Senja tidak sedang baik-baik saja.


Triiinggg!!


Bel pulang berbunyi, Senja merasa sangat lega. Ia menghembuskan napas perlahan.

__ADS_1


"Yuk, balik." Senja mengajak Vania.


"Lo sama gue, Nja." Lucas sudah menarik lengan Senja dan membawanya pergi.


"Ih, apaan sih tuh orang! Ngejar-ngejar Senja mulu. Pake bikin tantangan segala, bilang aja mau modus deketin Senja." Vania bermonolog dengan rasa kesal.


"Lo masih waras, Nia?" tanya Fahmi


Vania tersadar dan langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu karena ketahuan ngomong sendiri.


🍁🍁


"Gue lagi nggak ada waktu buat ladenin, lo!" tegas Senja saat sudah duduk di dalam mobil.


"Lo itu lagi nggak baik-baik aja, jadi nggak usah terlalu banyak protes. Gue anter lo ke klinik sekarang."


"Nggak!" tegas Senja.


"Nggak ada penolakan."


"Kali ini gue bener-bener nggak mau nurutin lo. Gue berhak atas pilihan gue."


"Kali ini gue juga nggak mau lo nolak." Lucas bersikukuh membawa Senja untuk memeriksa kesehatannya.


"Kalau lo tetep maksa, gue lompat!" ancam Senja yang sudah ancang-ancang membuka pintu.


"Eh, iya-iya. Kita nggak ke klinik."


Senja kembali duduk dengan nyaman. Menyandarkan tubuhnya sambil terus memegangi kepala yang terus-terusan berdenyut.


"Gue nggak suka!" tegas Senja.


"Minum obat sama sekali nggak menghilangkan ke-keren-an lo."


"Emang minum obat buat apa, sih? Toh, kalau gue harus mati, obat juga nggak akan bisa mencegah."


Lucas merasa sudah menyinggung perasaan Senja. Kini bahasa Senja menjadi lebih seram, membawa-bawa kematian.


"Lo nggak boleh ngomong kayak gitu. Seenggaknya dengan minum obat, kita memberi kesempatan tubuh kit untuk sehat."


"Udahlah, lo nggak akan ngerti." Senja malas berdebat, ini bukan waktu yang tepat.


"Jadi kelemahan lo itu obat, klinik, rumah sakit dan sebangsanya?" goda Lucas yang tengah berusaha mencairkan suasana.


"Gue nggak suka kalau lo main-main sama hal ini!" tegas Senja.


Tampaknya Senja amat sangat serius. Lucas tak mau lagi menggodanya, ia bahkan diam saja. Lucas yakin betul bahwa Senja pasti punya alasan serius dibalik sikapnya.


Setibanya di rumah, Senja langsung keluar dari mobil Lucas tanpa bicara apa-apa. Lucas juga sedang tidak ingin membuat Senja merasa semakin tidak nyaman.


🍁🍁


"Senja!!"


"Nja, buka pintunya!"


"Senja, please bilang sesuatu ke gue."

__ADS_1


"Nja, lo nggak mau makan malam sama gue?"


"Senja!!"


Vania sejak tadi menggedor dan memanggil Senja tapi sama sekali tak ada jawaban. Vania langsung mengambil ponselnya dan menghubungi Chiko.


"Halo, Chik." sapa Vania dengan panik.


"Kenapa, Nia?" tanya Chiko dari seberang sana.


"Senja, Chik. Senja!!"


"Senja kenapa?" Chiko yang tadi santai, saat ini ikutan menjadi panik.


"Senja dari tadi di kamarnya, udah gue panggil tapi sama sekali nggak ada respons."


"Iya udah kamu tenang, aku sebentar lagi langsung kesana."


"Buruan, Chik. Aku khawatir banget."


"Iya."


Vania mematikan sambungan teleponnya. Ia mengirim pesan untuk seseorang. Satu menit berikutnya pesan balasan masuk. Rupanya Vania meminta nomor Lucas kepada Zidan melalui pesan singkat. Setelah Zidan memberinya, Vania langsung menelepon.


"Halo!" judes Vania.


"Ini siapa?"


"Nggak usah basa-basi, gue Vania. Lo apain sahabat gue?!"


"Hah?"


"Nggak usah belaga ****, lo apain Senja?"


"Emang dia kenapa?"


"Dari sepulang sekolah tadi Senja mengunci diri di kamar, udah gue panggil tapi nggak ada respons sama sekali. Apa yang udah lo lakuin? Awas aj–"


Tut... Tut... Tut...


Panggilan diputuskan secara sepihak oleh Lucas. Vania semakin merasa geram.


"Awas aja kalo semua ini gara-gara lo!" ancam Vania.


Lima belas menit kemudian Chiko sudah berada di rumah Senja-Vania. Chiko dan Vania berdiri di depan pintu kamar Senja.


"Ini nggak ada kunci cadangannya?" tanya Chiko.


"Ada tapi entah dimana, nggak tau aku lupa."


"Kalian minggir, biar gue dobrak."


Chiko dan Vania sama terkejutnya melihat kedatangan Lucas. Tapi di keadaan gawat seperti ini mereka menurut saja. Tidak boleh ada ego dalam situasi genting.


Lucas menghantamkan dirinya ke pintu. Dengan seluruh tenaga akhirnya pintu berhasil di buka dengan sekali dobrak.


"Senja!!" teriak Vania.

__ADS_1


__ADS_2