![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Mary menggaruk keras kepalanya. Membuat rambut kuncir kudanya yang tadinya rapi sekarang berantakan. Ia melirik ke kanan. Jalanan yang padat. Banyak mobil yang berlalu lalang di jalan yang
berujung ke jembatan. Kakinya tetap melangkah maju hingga ia tiba di mulut jembatan. Ia membanyangkan bagaimana jika jembatan ini roboh? Tentu semua kendaraan ini akan jatuh dan dia….
DRRRDD….
Ponsel Mary bergetar membuyarkan imajinasi liarnya. Ia melihat nama ‘Mario’ di layar ponselnya. Mary tak langsung mengangkatnya, ia menghela nafas berat sambil mengepalkan tangan sebelum bersiap mengangkat panggilan dari kakaknya.
“Ha…halo?”
“Mary!” Sapa kakaknya yang tampak riang. “Bagaimana? Bagaimana?”
Mary diam. Ingin rasanya Mary membungkam mulut Mario dan membuang rasa ingin tahunya. Tidak ada salahnya memang menanyakan hasil tes masuk Universitas pada adiknya, tapi tingkah Mario yang
terlihat antusias itu sedikit membebani Mary.
“Hhh…Pengumumannya 'kan baru beberapa jam lalu,” gumam Mary dalam hati sambil sedikit memutar bola matanya yang terlihat jelas berwarna cokelat gelap.
“Cepat jawab, disini sudah malam. Aku ingin tidur!” Terdengar suara gemerusuk bantal yang Mario peluk.
“Yyyaah. Begitulah”
“Jadi? Kau diterima?!”
“Mm…ya..”
“Wah bagus!” Seruan Mario membuat Mary memutuskan diam dan tidak melanjutkan bicara. Mario terdengar
begitu senang. Ia juga tak lupa memberikan petuah kepada adik perempuannya yang hanya lebih muda setahun itu. Mario menyuruhnya bekerja sambilan, berkencan, pesta penyambutan 20 tahun, dan lain sebagainya yang sepertinya sering ia lakukan.
Mulut Mary tersenyum kecil. Ia senang mendengar suara kakak yang ia rindukan. Sudah lama mereka tidak saling menghubungi seperti ini. Semenjak ayah mereka yang tinggal bersama Mario meninggal
dunia, Mario sibuk mengurus dirinya sendiri sampai lupa bahwa ia mempunyai adik yang tinggal nun-jauh di Negeri orang dengan ibu yang memilih untuk tidak merawatnya lagi.
“Hei,” Mario membuyarkan lamunan Mary lagi. “kau tak apa ‘kan? Maaf aku belum bisa menjengukmu,”
“Sudahlah…” Mary menenangkan kakaknya yang merasa bersalah melihat adiknya yang berusaha hidup
mandiri. “Aku sudah terbiasa sendirian, ingat?” Jawab Mary seakan mengingatkan kakaknya bahwa pada suatu malam tiba-tiba ibunya membawa lelaki lain kerumah dengan beberapa koper uang dan pergi untuk tidak kembali. “Tak apa. Tempatmu juga jauh.” Lanjutnya dengan sok kuat.
__ADS_1
Setelah beberapa perbincangan, Mario tertidur. Mary terpaksa mematikan ponselnya duluan. Ia menggeleng pelan. Sedikit menyesal bahwa ia telah bohong pada kakaknya. Ya. Mary ditolak mentah-mentah pada ujian masuk Universitas seni. Entah apa yang salah. Sekolah di SMA seni tidak membuatnya berhasil lolos di Universitas seni nomor satu di kota itu.
“Hhhhhaaaaahhh….” Mary menghela nafas panjang sambil menatap kearah kirinya. Pemandangan sungai yang lengkap dengan senja berwarna oranye juga seakan menatapnya. Mary melamun entah untuk yang keberapa kalinya hari ini. Ia bingung akan apa yang ia harus kerjakan setelah ini. Apa ia harus kerja sambilan? Mendaftar kuliah lagi? Les di berbagai tempat? Atau bunuh diri saja seperti pria itu?
“Oh!” Mary membulatkan mulutnya menatap pria yang agak jauh dari nya. Pria yang tampak hampir seumuran dengannya itu dengan berani duduk di pengangan jembatan yang tampak licin.
Mary bergegas lari menghampirinya. “Apa yang dia lakukan? Bagaimana jika ia jatuh? Atau… dia sengaja?”
Kini ia berada di belakang pria itu. Punggung pria itu menunjukkan bahwa ia sedang menatap langit. “Pe..permisi,” dengan bodohnya Mary menyapa pria yang memang hendak terjun dari jembatan. Pria menoleh, melepas salah satu kabel earphone nya. “a..apa pun yang kau pikirkan. Hentikan itu!” Sigap Mary, lalu ia melihat sekeliling. Tak ada pejalan kaki selain dirinya. Seluruh mobil yang lewat juga tidak ada yang
berhenti untuk menghentikan pria nekat ini.
Pria itu menatap Mary sambil sedikit tersenyum, sedangkan Mary sibuk merapikan rambutnya yang
menutupi wajahnya karena angin. “Jangan lakukan itu!” Serunya lagi. “Aku akan
panggil polisi!” Mary mengangkat ponselnya. “Ini bukan akhir dari segalanya!
Jangan menyerah! Coba pikirkan lagi, jika kau…”
“Halo?” Pria itu tampak menerima panggilan melalui earphone yang ia kenakan. “Be…benarkah?!” matanya membesar, pria itu tampak kaget dengan apa yang lawan bicaranya katakan. Sambil masih memegang telinga kanannya, pria itu berkata akan segera pergi untuk menemui si penelpon. Ia segera bergerak untuk berganti posisi dan berhenti duduk dipinggir jembatan. “Hei, bantu aku.” Ujarnya, pada Mary.
yang licin membuat pria itu seperti akan terjatuh. Mary yang sedang memegang tangannya juga ikut tertarik hingga badannya menabrak pegangan jembatan. Mary berteriak kaget. Kini keduanya menggantung di jembatan yang sepi pejalan kaki ini.
“Toloong!” Pria itu berteriak ketakutan, beda sekali dengan aksi sok jagonya tadi. Mary juga meminta tolong. Sungai yang tampak dingin dan dalam kini siap menampungnya. Tangannya yang licin membuatnya putus asa. Ingin rasanya ia memaki pria itu. Seandainya saja Mary tidak melakukan aksi sok pahlawan padanya.
“Hhhh..hh…h…” Nafas pria itu tersengalsengal. Ia kini sudah berhasil menyelamatkan diri karena lengannya
yang kuat dan kakinya yang lincah dapat bergerak cepat.
Pria itu mengulurkan tangannya. Hendak meraih Mary untuk membantunya naik. Namun apa daya. Tangan licin Mary memaksanya untuk melepaskan genggaman erat itu.
BYUURR!!
Mary jatuh ke sungai.
Semua menjadi gelap. Mary tak mampu membuka mata, ia mulai merasakan dingin nya air membasahi badannya.
“Aku akan mati..” Pikir Mary di detik terakhirnya. Namun sepertinya pikirannya salah, karena kini ia melihat cahaya terang. Sangat terang.
__ADS_1
Mary melihat ke sekeliling, begitu ramai di ‘tempat’ itu. Tempat yang begitu terang dengan banyak orang berkumpul. Semua tampak bingung, ada yang menangis, ada yang memeriksa tubuhnya dengan menyentuh-nyentuhnya seakan tak percaya. Mary mengikuti ke arah orang-orang itu pergi. Mereka tampak mengantri seperti menunggu giliran. Tak ada yang berbicara satu sama lain. Begitu pula Mary. Kini ia harus menghadapi ‘makhluk’ yang ada di depannya.
“Mmm..” Terlihat sesosok makhluk tinggi berjubah putih dan –tentu saja- bersinar terang sedang membaca
map besar. Sepertinya itu sebuah laporan. “Ah, tiba-tiba sekali,” gumamnya. “hei!” sosok itu memanggil seseorang lagi yang kali ini memakai jas hitam dan celana hitam lengkap dengan dasi hitamnya. Sosok itu mendekat. “Dia belum waktunya mati, kan?”
“Ya, Tuanku,” jawab sang pemakai setelan serba hitam itu. “tapi dia sudah terlanjur jatuh ke sungai dan tenggelam. Jadi apa boleh buat, kematiannya akan kupercepat.” Jawabnya santai. Dilihat dari sosoknya dan
kuasa yang ia miliki, rupanya sosok yang berpakaian serba hitam itu adalah sang Pencabut Nyawa.
“Tu…tunggu dulu!” Seru Mary. “Ada apa ini?! Aku dimana?! Kalian siapa?! Kenapa seenaknya sendiri menentukan hidup dan matiku?! Dan lagi, tadi aku menolong orang yang akan bunuh diri!” Lanjutnya panjang, sambil mendongak karena sosok itu terlihat tinggi sekali.
Si jubah putih yang bersinar itu seakan sudah biasa menghadapi manusia seperti Mary. Manusia yang tidak percaya akan kematiannya. Manusia yang tidak terima dengan takdirnya.
“Ya sudah,” ia menutup map besarnya. “seperti biasa, beri dia misi saja dulu. Sudah terlalu banyak hantu arwah penasaran di sini.” Perkataannya membuat sang Pencabut Nyawa mengangguk pelan. Kini ia membuka buku hitamnya.
“Kau menerima misi dari ‘Langit’. Harus kau selesaikan dalam waktu tiga bulan.” Sang Pencabut Nyawa membaca tulisan di bukunya.
“Hah?!” Mary setengah tak percaya. “ka…kalau tidak?”
“Kau akan mati”
Ingin rasanya Mary protes kepada semua makhluk aneh disini. Namun apa daya, karena ini adalah urusan
hidup dan mati, Mary memilih menerimanya saja. “A..apa misinya?”
“Kau harus membuat ‘target’ ini bahagia dan mencapai kesuksesannya. Mereka semua dipenuhi aura negatif. Kalau mereka semua mati di waktu yang belum ditentukan, aku akan repot.” Jelasnya singkat. Mary masih tidak percaya.
"Apa maksudnya? Bagaimana caranya?" Ingin rasanya ia tanyakan semua pertanyaan itu, namun sang Pencabut Nyawa sudah mendorongnya pelan dan membuatnya melayang jauh darinya dan dari
antrian manusia.
“Oh!! Dia sudah sadar!!” Mary membuka matanya pelan. Sinar senter itu mengganggunya. Ia bangun dan
melihat sekeliling. Ia kini ada di perahu polisi lengkap dengan pelampung, dan dua polisi tambun yang sepertinya akan membuatnya tenggelam untuk kedua kalinya.
“Kau tidak apa, Nona?” Sang polisi itu menggungcang pelan badannya.
__ADS_1