![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Jane melangkah pelan tanda tak yakin. Ia menuju kerumunan yang ada di taman sore itu. Justin dan member BEYOND tak tampak. Pemuda-pemudi yang bertubuh lebih besar darinya itu menghalangi pandangannya. Ada sedikit keraguan dalam pikiran Jane. Apakah benar yang dikatakan manager BEYOND kemarin tentang open stage yang diadakan di taman ini?
“WUUUU!!!” Sorakan dari penonton beserta tepuk tangan kecil sedikit terdengar karena Jane berjalan semakin mendekat.
Ia lalu berhasil melihat Justin dari celah yang dibuat oleh dua muda-mudi di depannya. Jane tersenyum
kecil menatap Justin yang tampak konsetrasi bernyanyi. Justin memejamkan matanya. Ia meraih nada tinggi nan lembut. Membuat pendengar merasa nyaman dan memilih untuk tetap melihat aksi BEYOND.
Namun beda dengan Jane. Ia lebih memilih pergi.
“Tidak,”Jane memegang dadanya. Jantungnya berdebar keras seperti biasa. Pipinya terasa panas. Seperti biasa juga. Sesuatu yang selalu dirasakannya saat menatap Justin. Sesuatu yang harus dikendalikannya saat berbicara dengan Justin. Mulai dari ia berkenalan dengannya di rumah sakit. Hingga sekarang.
Jane melangkah mundur. “Aku tidak bisa seperti ini,” ia lalu membalikkan badannya. Suara merdu yang dibuat BEYOND terdengar agak samar. Jane menjauh dari kerumunan. Hingga seseorang tiba-tiba menghadangnya.
“Hei,”
Jane mendongakkan kepalanya. Itu manager Justin.
“Kau teman Justin, kan?”
“Jane.”
“Iya. Jane.” Senyum Mary yang hampir saja lupa dengan nama orang yang disukai Justin. “Sudah mau pergi? Kau tidak menikmatinya?”
Pupil mata Jane bergerak tak terarah. Ia mencari jawaban yang pas. “S..saya tiba-tiba tidak enak
badan..” Jane mengelus tengkuknya. “saya pergi dulu,” Jane membungkukkan badannya, ia hendak mengakhiri percakapan dan pergi dari hadapan Mary, namun sekali lagi Mary menghadangnya.
“Kau terlihat cantik hari ini,” ujar Mary yang melihat Jane sedikit memoleskan make-up diwajahnya dan
mengenakan mini dress warna biru langit.
“Terimakasih..” Jawab Jane pelan. Kali ini ia benar-benar berjalan pergi.
Mary masih menatapnya. Sayang sekali Justin tidak sempat melihat Jane yang nampak manis hari ini.
Kemudian ia membalikan badannya menatap Justin. Mary menghela nafas berat.
“Benar..” Mary menggenggam jari-jarinya sambil berlalu pergi menuju tempat dimana staff berkumpul. Kali ini ia memilih untuk duduk sendiri, jauh dari hebohnya staff BEYOND yang sibuk berbincang-bincang satu sama lain.
“Yyah… ini lebih baik, Jane, Justin..”Mary berucap dalam hati sambil memandang kerumunan penonton yang dapat dilihat dari dalam tenda staff. “...jangan jatuh cinta.”
++++++++++
Acara baru saja berakhir. BEYOND bersiap siap menuju van untuk kembali ke dorm. Staff yang lain merapikan
tenda beserta isinya. Sedangkan Mary, kini ia ada di gerombolan penonton.
“Tolong ya kak!” Pinta beberapa gadis pada Mary, mereka menyodorkan kado, tas, makanan dan berbagai macam hadiah yang ditujukan untuk BEYOND. Mary membawa hadiah itu sendiri sambil terus mengangguk dan memberikan senyum ramahnya. Tidak banyak memang hadiah yang ia bawa, namun karena Mary membawanya sendiri, kini tangannya hampir penuh dan tak sanggup lagi meraih sebuah boneka yang agak besar di depannya.
“Mario!” Suara lantang itu berasal dari Sejin. Mary menoleh dan membuat beberapa kado jatuh.
“Ck!” Mary berdecak kesal. Namun tiba tiba gerombolan gadis itu berteriak nyaring dan mengeluarkan ponselnya. Reaksi itu rupanya ditujukan pada Justin yang datang menghampiri Mary.
__ADS_1
Justin membuka tas besar yang selalu dibawa Mary dan memasukkan hadiah yang jatuh itu kedalamnya. Ia tak berkata apapun. Mary hanya menatap atap kepalanya. Justin juga tak berbicara pada Mary. Sejurus kemudian Justin menyapa penggemar di depannya dengan bungkukan sempurna, dan berjalan mendahului Mary. Mary hanya melihat punggungnya. Ia menghela nafas lagi.
++++++++++
“Hei. Kau tak apa?” Mary mengecek raut wajah Justin, ia memberthentikan langkah Justin dan menggenggam
lengannnya. Semenjak open stage berakhir kemarin hingga pagi ini ia belum bertemu dengan Justin. Kini mereka tak sengaja bertemu di lorong The Hit.
“Tentang apa?” Justin balik bertanya dengan wajah datar.
“Kau tahu… mungkin ‘dia’ agak sibuk kemarin.. jadi..” Mary mengakhiri kalimatnya dengan mengangkat kedua
pundaknya. Ia membicarakan Jane yang kemarin sepertinya tidak dilihat Justin. Mary yang tahu saat itu Justin menunggu Jane mencoba mengelabui Justin agar ia tidak terlalu kecewa dengan ketidak harian Jane.
“Aku bahkan nggak memikirkannya..” Jawabnya santai tanpa menatap wajah Mary. Mary yakin Justin
berbohong. Ia menutupi kekecewaannya. Mary menatap Justin yang berjalan melaluinya. Ia kini sedikit berjalan oleng sehingga menyenggol bahu Jhony yang muncul dihadapannya.
“..aw.” Jhony mengerang pelan. Namun si penyenggol malah diam saja dan tetap berjalan kedepan. Jhonya
menatapnya. “Hei Justin.” Ia memanggil pelan.
“Hmm?”
“Kau menyenggolku.”
“Ah iya. Maaf,” Justin menggerakan kepalanya tanda meminta maaf pada Jhony. Namun Jhony tidak melepaskannya begitu saja. Ia berbalik sempurna dan menatap Justin.
“Kau kenapa?” tanyanya yang merasa tingkah laku Justin berbeda.
“Ha?”
“Hei hei..” Mary menghampiri mereka berdua yang saling bertatapan. Mary berharap mereka tidak berkelahi.
“..apa maksudmu?” Mary tersenyum dan memukul dada Jhony dengan punggung tangannya.
“Bersikap sopanlah pada Mario.” Jhony tak menghiraukan Mary. Ia menasihati Justin.
“Jhony. Hentikan.” Mary berbisik pada Jhony. Bisikan itu tidak berguna sebab Justin juga mendengarnya.
“Kenapa? Aku tidak memarahinya.”Jhony membulatkan mata kecilnya. “..hanya saja aku selalu mendengar ia membentakmu, melempar genggamanmu, mendorongmu…jangan seperti itu, Justin.”
“Ey.. dia hanya bercanda.. aku tidak…”
“Maafkan aku..” Justin memotong perkataan Mary. Ia membungkuk pada Mary sambil mengucapkan perkataan yang jarang diucapkannya.
“Eh?” Mary menatap Justin heran. “..ah, yah.. tidak apa-apa.. kau pergilah latihan..” Mary mengelus
pundak Jutin dan membiarkannya pergi. Kini ia berdua dengan Jhony yang ikut senang melihat tingkah Justin barusan.
“Kau ini..” Mary menatap Jhony geram. “Justin sedang moody! Jangan semakin merusak mood nya, dong!”
“Loh.. aku hanya menasihatinya saja. Aku merasa dia tidak sopan padamu.”
__ADS_1
“Oke-oke, terimakasih…” Mary memaksakan senyumnya.
“Justin sebenarnya anak yang baik kok.” Mata Jhony mulai menerawang. “ia juga penurut.” Lanjutnya.
Membuat Mary ikut menganggukkan kepala. “…mungkin ia terlalu stress akhir-akhir ini..” Jhony menggumamkan kalimat terkhirnya. “Ah iya! Ini.” Jhony memberikan beberapa buku pada Mary setelah ia menyadarkan diri dari lamunannya.
Itu adalah tiga buku berukuran agak besar yang tidak terlalu tebal. Ketiga sampulnya sangat lucu dan
penuh warna. “Cara bermain piano?” Ujar Mary yang menyimpulkan buku apa saja itu seusai membaca judul-judulnya.
“Iya, ada di studio. Agust memintaku untuk memberikannya padamu.”
Mary membuka mulutnya sambil membolak-balik buku itu. “Wwuaah…”
“Dia menunggumu di ruang piano.”
++++++++++
Ruang piano itu terbuka. Mary merapikan rambutnya dan mengintip ke dalam ruangan itu. Tentu saja ada
sosok yang akhir-akhir ini membuat jantungnya berdegup kencang tidak karuan. Ia sedang menunggu Mary sambil duduk di kursi piano.
“Oh..” Agust menatap Mary yang berdiri di pintu. Ia menggeser duduknya agar Mary duduk disampingnya.
Tanpa disuruh, Mary duduk di samping Agust. Jantung Mary lagi-lagi berdegup hebat. Ia tidak berani menatap Agust. Wajah merahnya pasti sangat memalukan. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Agust kini bahkan tak terdengar. Mary sibuk mengatur degupan jantungnya agar berirama dengan tenang kembali.
“Mario,” Agust memandang Mary. Jari-jemari nya masih diam diatas tuts piano.
“Ha?” Mary yang kaget itu dengan refleks menatap Agust. Namun sedetik kemudian dia sok balik menatap
fokus dengan tuts yang berjajar rapi dibawah jarinya.
Agust menghela nafas, kecewa ocehannnya dihiraukan. “Aku tanya, apa kau sudah mulai menulis lagu?”
Agust mengulang pertanyaannya tadi.
“Ha? Ah.. a..aku..” Mary menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia lalu memainkan tuts piano itu dengan
asal. “aku masih bingun mau menulis apa..”
Agust ikut menggerakkan jarinya diatas tuts. “tulis aja tentang yang kau rasakan akhir-akhir ini..” sarannya.
Mary terus memencet mencet tuts didepannya dengan asal. Sedangkan Agust memainkannya dengan ciamik.
Mary seketika ikut memikirkan saran dari Agust. Tentang apa yang dirasakan Mary akhir-akhir ini. Apa Mary harus menulis lagu yang bercerita tentang ‘misi’nya itu? Tentang kisahnya yang bertemu malaikat? Tentang ia yang bernegosiasi dengan pencabut nyawa? Jika iya, pasti Agust akan menganggapnya gila!
DEG!
Jari kelingking mereka baru saja bertabrakan. Agust tetap memainkan permainannya, sedangkan Mary kaget
berlebihan. Ia mengangkat jarinya dari tuts itu dan menggenggamnya di dada.
“A..aku.. rasanya aku tahu lagu apa yang akan kubuat…” Mary tiba-tiba bersuara setelah berfikir keras
tentang apa yang harus ia tulis. Mendengar suara Mary, Agust menghentikan permainannya. Ia menatap Mary dengan diam dan sedikit mengangkat alisnya.
__ADS_1
“..tentang.. cinta pertama.” Ujarnya dengan senyum malu-malu yang diakhiri tundukan kepala.