![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
“..Maaf,” lirih Mary saat ia menyenggol seorang kru bertubuh besar. Badannya sedikit oleng karenanya.
Mary membantu tim make up membawa peralatan mereka. Hari ini adalah showcase –panggung pertunjukan pertama untuk debut BEYOND. The Hit menyewa sebuah panggung pertunjukan kecil untuk itu. Kini ruangan sesak oleh kru yang mondar-mandir untuk menyempurnakan panggung yang tak tampak mewah.
BEYOND sedang mempersiapkan diri di belakang panggung. Semua terlihat begitu tegang, Jimmy tak berhenti berlatih menyanyi, ia takut tiba-tiba ia tak bisa meraih nada tinggi. Jhony pun begitu, ia mengulang lirik rap yang ia tulis sendiri. Sementara yang lain sedang duduk manis untuk dimake-up oleh stylist mereka, Agust terus memegang dadanya. Ia tak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Berulang kali ia menyeka tangannya yang basah ke paha.
“Sejin..” Mary menggoyangkan lengan Sejin dan mendongakkan kepalanya agar mata mereka bertemu.
Sejin hari itu juga nampak gugup. Ia berulang kali mengecek keadaan panggung yang akan menjadi saksi debut BEYOND.
Sejin menatap Mary, membuat ekspresi ‘ada apa?’. Mary kemudian memegang kamera yang sedari tadi
menggantung di lehernya dan mengangkatnya pelan. “Aku akan berada di barisan depan,” ujarnya menawarkan diri.
BEYOND memang belum memiliki fans atau fotografer yang mencalonkan diri sebagai masternim mereka. Hal itu membuat Mary mengorbankan dirinya untuk mengabadikan gambar showcase seorang diri. Ia nanti akan menggunggah gambar terbaik mereka pada fansite yang juga Mary buat sendiri.
Setelah Sejin mengangguk setuju, Mary bergegas menuju tempat penonton. Tak ada kursi disana. Mereka yang datang memang diharuskan menikmati penampilan BEYOND dengan berdiri. Mary tersenyum kecil saat ia menoleh kebelakang. Ruangan mendadak penuh dengan wanita-wanita yang ingin melihat boyband baru. Mary kemudian kembali menatap BEYOND yang sekarang sudah berdiri di panggung menyapa mereka semua.
“Wuuaaaaaa!!!...” Beberapa wanita berteriak menyemangati BEYOND. Gedung bangunan yang kecil dan
sempit tentu menyebabkan suara sorak sorai dengan mudah terdengar sampai luar. Hal itu mempermudah langkah seorang gadis muda untuk mendekati sang sumber suara.
Itu adalah Jane. Ia akhirnya menemukan lokasi dimana temannya, Justin, akan melakukan showcase. Matanya menyapu sekeliling. Ruang yang cukup padat dengan wanita yang seumuran dan bahkan mungkin lebih tua
darinya. Jane melangkah pelan agar tak menyenggol penonton lain. Ia berdiri dibelakang. Matanya hanya terfokus oleh seseorang yang berada di panggung.
Jane tersenyum kecil melihat Justin yang nampak gugup. Justin yang terlihat paling muda itu memegang mic dengan kedua tangannya. Imut sekali. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu. Baik di sekolah, maupun di warnet. Hal itu membuat Justin tidak sempat memberitahu Jane tanggal showcase BEYOND. Namun, sepertinya takdirlah yang menunjukkannya. Kala itu saat Jane menyusuri jalan sepulang sekolah, ia melihat flyer mengenai showcase BEYOND sedang menempel di dinding. Jane menatap flyer itu. Mencoba mengamati wajah member BEYOND disana. Ia menemukan Justin yang mencoba berpose keren dengan make up yang membuat wajahnya lebih dewasa, membuat Jane sedikit tertawa.
“Ah!” Jane membeku. Mulutnya sedikit terbuka. Ia baru saja bertatapan dengan Justin. Justin pun begitu. Setelah mencoba menatap keseluruh penonton yang datang, ia akhirnya menemukan Jane, berdiri di paling belakang hingga Justin harus sedikit mengeryitkan dahinya. Ia tampak manis dengan baju berwarna pink pastel. Mereka mengakhiri eye contact itu dengan senyuman manis satu sama lain.
CLICK!
Suara kamera Mary tak berhenti berbunyi. Mary yang tidak punya dasar fotografi itu asal menjepret
seluruh gerak-berik BEYOND. Ia juga sedikit menahan amarahnya karena sedari tadi wanita disampingnya menyenggolnya.
“Ah maaf,” wanita di sebelah Mary terus mengulang permintaan maaf.
CLICK!
Kali ini ia memotret Hope, ia sedang tersenyum manis kepada penonton setelah menyelesaikan rap
bagiannya. Kini giliran Agust yang mengambil bagian. Mary berusaha memfokuskan fokus kamera ke arah Agust. Ia memutar pelan bagian lensa depan. Bibir bawahnya sedikit ia gigit, tanda kefokusan.
DEG!
__ADS_1
Agust menatap kamera Mary sekilas. Namun bukan itu yang aneh.
“Ada apa ini?” Degup jantung Mary bisa ia rasakan. Semakin keras hingga mungkin wanita yang disebelahnya dapat mendengarnya. Mary berhenti sejenak. Ia menurunkan kameranya dari depan wajahnya. Mulutnya terbuka sedikit. Ia menatap ke seseorang yang baru saja membuat jantungnya berdegung kencang. Kini ia merasakan panas di wajahnya.
“Tidak mungkin,” Mary memegang kedua pipinya. Kameranya ia biarkan menggantung begitu saja. Mary kini menatap kearah salah satu member BEYOND lagi. Ia meyakinkan diri. “Perasaan apa ini? Aku? Padanya?”
++++++++++++++++++++
“Ibuuuu!” Jimmy berlari memeluk ibunya. Ayahnya yang nampak rapi menggunakan jas itu hanya tersenyum sambil membawa buket bunga.
Mary, mondar-mandir memastikan seluruh tamu VIP yang merupakan keluarga dan teman dekat BEYOND
sudah ada di ruangan. Ruangan itu sungguh haru biru. Jimmy dan Hope menangis sedari tadi. Mary mengecek keluarga mereka. Hanya keluarga Victor, Jay dan Hope yang tidak datang. Hope nampak bicara di ponselnya. Sepertinya ia sedang bicara pada ayahnya. Hope tetap menangis sesenggukan. Sedangkan Jay memilih keluar dari ruang back stage yang terasa sesak.
“Dimana keluargamu?” Tanya Mary pada Victor yang tengah duduk sambil menatap cermin. Ia ingin segera menghapus make-upnya.
“Mereka tidak akan datang…” Jawabnya pelan. Hingga Mary memintanya mengulang. “mereka tidak bisa
datang. Keluargaku tinggal jauh sekali.” Ulang Victor dengan jawaban yang berbeda.
“Ooh..” Mary membulatkan mulutnya. Bibirnya membentuk huruf o bulat lengkap dengan anggukan kepala. Ia
menarik kursi dan memilih duduk disebelah Victor.
sedang berbicara pada ayahnya sambil menerima bunga, namun kepalanya terus menengok kanan dan kiri.
“Mario!” Justin memanggil Mario yang agak jauh dari tempatnya. Orang tua Justin juga ikut menatap manager
pribadi anaknya. “tidak ada lagi yang mencariku?” tanyanya.
Mary hanya menggeleng. Mary sudah memastikan, hanya keluarga Justin dan seorang koreografe BEYOND dari LA-lah yang ingin bertemu dengannya. Ia tau Justin tidak mempunyai teman dekat disekolahnya. Jadi tidak mungkin ada seorang teman yang berkunjung.
++++++++++++++++++++
TRRAANG!!
Suara gelas yang saling dibenturkan satu sama lain. Malam ini The Hit mengadakan pesta kecil-kecilan
dalam rangka selesainya proyek debut showcase BEYOND. Mereka membakar sosis, daging dan banyak lagi di atap gedung The Hit. Semua kru tampak hadir dan menyantap hidangan. Hope melihat sekeliling. Si manager muda tidak nampak. Ia memastikan lagi dengan menatap tempat pembakaran daging. Ia juga tidak disana. Hope lalu mengambil beberapa potong daging dan meletakkannya di atas piring. Ia lalu pergi.
Ketidakhadiran Mary pada pesta kecil itu memiliki alasan. Ia kini sedang memindahkan foto dari kamera ke
komputer kantor. Ia berada di ruang staff sendirian. Sambil menghapus beberapa foto yang buram karena senggolan wanita histeris tadi, Mary juga mulai mengunggah beberapa jepretannya ke fancefe maupun fansite. Ia lalu terdiam pada salah satu foto. Itu adalah foto Agust. Mary menggerakkan tangannya
__ADS_1
menutup hidung dan mulutnya. Mary merasakan rasa panas itu lagi. Debaran jantung pun ikut muncul lagi.
GREK!
Suara pintu yang terbuka dengan tiba-tiba mengagetkan Mary. Ia segera menggerakan cursor dan meng klik ke arah lain.
“Hope?” Mary memegang dadanya pelan. Suara itu berasal dari Hope yang membuka pintu secara tiba-tiba.
“Hei, sedang apa?”Hope berjalan pelan menuju meja Mary. Ia meletakkan piring berisi daging disana.
“Ini… aku harus mengunggahnya,” Mary menunjuk layar yang menampilkan fansite buatannya. Hope menyilangkan tangannya dan mengangguk pelan. “aku akan keatas nanti.” Mary berdiri untuk mengikuti langkah Hope yang akan keluar ruangan
Hope tiba-tiba berbalik. Ia menatap Mary, “Ayahku tadi menelpon,” ia membuka suara diiringi senyuman
yang tak selebar biasanya. “ia minta maaf karena tidak bisa datang. Ia ketinggalan bus katanya. Haha..”
“Oh ya?” Mata Mary melebar. Mendengar ayah Hope yang menelpon Hope duluan dan berusaha ingin
datang ke showcase anaknya, ikut membuat Mary senang.
“Iya, bodohnya ayahku. Pasti dia lembur hingga bangun kesiangan. Ahaha..” Hope menggaruk kepalanya pelan. Hope lalu memegang dadanya, ia juga memejamkan matanya. “walau dia tidak datang, tapi entah mengapa aku senaaang sekali.”
Mary ikut tersenyum. Hubungan ayah dan anak di depannya ini sungguh manis. Perasaannya kini yang
ikut emosional itu membuat Mary memeluk Hope. Hope sedikit kaget. Tangannya diam saja, samun sejurus kemudian ia ikut memegang punggung Mary pelan.
Mary lalu melepas pelukannya dan menatap Hope, “Hope..” Senyumnya lagi. “ingat, kau tidak sendirian. Penampilanmu juga bagus tadi,” Mary mengacungkan jempolnya.
Reaksi Hope tidak seperti yang harapan. Hope malah terdiam. Matanya mengunci pada mata Mary, mulutnya
sedikit menganga. Hal itu membuat Mary bingung, ditambah lagi kini wajah Hope memerah.
“Ho..Hope?” Mary melambaikan tangan di depan mata Hope yang kini bak membatu.
“Ah! Ha?” Hope kembali sadar. “A..O..oke. terima kasih. A.. aku naik dulu ya. Kau segeralah ke atap.”
Hope terdengar gagap. Ia kemudian membalikkan badan dan keluar dari ruangan .
BLAM
Hope menutup pintu. Ia mempercepat jalannya menuju atap sambil terus memegang dadanya. Ia berfikir, “Perasaan apa itu tadi?”
++++++++++++++++++++
“Wuuuuaaaa!!” Hati Mary seakan menjerit. Lihat apa yang ada di depan matanya sekarang. Pintu kantor The Hit dipenuhi dengan kado! Yah walapun tidak banyak, namun ia senang karena akhirnya BEYOND memiliki fans. Akhirnya ada yang sadar akan keberadan BEYOND.
__ADS_1
Mary mengambil satu persatu kado yang tergeletak di lantai itu. Mary terlihat amat sangat gembira.
Ia merasa misinya akan berhasil!