![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Mary menjauh dari kerumunan. Ia memilih berada di ruang staff sementara yang lain mengadakan
pesta kecil kecilan di atap. Mereka membakar daging lagi. Kali ini Mary masih setia berada di dalam ruang staff. Jari Mary bergerak lincah diatas tombol mouse dan keyboard. Ia lagi-lagi mengunggah foto BEYOND di fansite yang ia buat. Fansite itu kini sudah memiliki beberapa anggota. Ia nantinya akan menawarkan fansite itu untuk dioperasikan para fans.
“Sudah kuduga..” Suara itu berasal dari pintu yang tak ditutup. Mary memiringkan badannya yang tertutup komputer untuk melihat siapa disana.
“Agust?”
“Nih,” Agust memamerkan daging diatas piring yang ia bawa di tangan kanannya. Mary berjalan mendekat
sambil sesekali memainkan kukunya yang tidak terlalu panjang. “Sudah, itu nanti saja.” Ujar Agust sambil menunjuk komputer dengan tatapan matanya. “Ayo ke atap.”
Mary hanya menyambut dengan senyum dan melahap dua daging sekaligus. “Soal lagu yang aku buat…” Ia
menelan daging itu dengan segera untuk melanjutkan kalimatnya, “Aku akan segera menyempurnakannya dan akan ku copy di komputermu.” Ujar Mary. Ia berharap Agust menyukai topik yang dibahasnya kali ini.
“Oke. Akan kutunggu,” Agust mengajaknya bersalaman, lalu memutarkan genggaman tangannya hingga badan Mary tertarik maju untuk membuat gerakan saling menabrakkan dadanya –seperti selebrasi para pemain bola yang barusaja mencetak gol. Agust lalu mengacak-acak rambut Mary. Tangannya lalu berhenti. Mata Agust juga tiba-tiba tidak berkedip.
“Ada yang aneh…”Agust berpikir dalam hati. Hari ini ‘bentuk’ badan Mary terasa aneh menurut Agust. Ia merasakan sesuatu.
Mary memandang Agust yang masih meletakkan tangannya di kepalanya Mary. Mary kemudian ikut kaget dan
mundur secara mendadak. “A..a..”
“Kau..” Agust membesarkan mata kecilnya. Ia menatap kaos yang dikenakan Mary.
“Ah! Dasar bodoh!” Mary memaki dirinya sendiri. Hari ini ia lupa membalutkan perban ke dadanya. Ia tidak mengira akan ada ‘kejadian’ barusan. “Agust pasti menyadarinya!!”
Agust masih dalam pose bingung dan tak bergerak. Ia hanya menurunkan lengannya. Mulutnya masih terbuka lebar.
“Dor!” Kepala Jimmy tiba-tiba muncul dari balik tembok. “Loh! Ada Agust rupanya!” Jimmy menyembunyikan sesuatu yang ia pegang di tangannya ke belakang badannya.
“Ji..Jimmy!” Sapa Mary riang berharap Jimmy dapat mencairkan suasana.
“Apa yang kau bawa itu?” Tanya Agust.
Jimmy menggerakkan tangannya menunjukan apa yang ia bawa. “Oh..hanya boneka.” Ia memamerkan boneka
beruang berwarna pink. “Nih,” Jimmy berjalan melewati Agust dan memberikannya pada Mary. “Hadiah.”
“Kenapa boneka?” Tanya Agust lagi. Ia menatap Mary yang tersenyum menerima hadiah dari temannya.
“Ka..karena..mmm….lucu saja!” Jimmy menjawab asal. “Kau mau?”
“Tidak. Bukan itu yang kumaksud.” Agust memejamkan matanya sambil menggelengkan kepalanya. “Kau. Memberikan boneka. Pada Mario. Pink?!” Ia mempertegas setiap kalimatnya.
“Ha?” Jimmy mengeryitkan dahi. Ia menatap Mary.
__ADS_1
“Sudahlah.”Mary menepuk bahu Jimmy. “Sepertinya Agust sudah menyadarinya.” Ia menatap Agust dengan
berani.
“Apa?” Jimmy berbisik ditelinga Mary. “Bagaimana bisa??”
“Ja..jadi??” Agust tergagap sendiri. “Mario?! Kau..?!”
“Iya. Benar.” Jawab Mary jujur. Agust telah menyadari identitas aslinya. Mary hanya pasrah dan tidak berusaha menyanggah.
“Apa?! Jadi selama ini..”
“Dia memiliki alasan sendiri,” Jimmy memajukan langkahnya dan menutupi Mary dengan badannya. “Kita
hanya harus menjaganya. Kita. Aku, kau, dan Jhony.” Lanjutnya tegas.
“Jhony?!” Suara Agust meninggi.
++++++++++++++++++++
Van yang dinaiki staff BEYOND baru saja tiba. Mereka turun satu per satu membawa barang bawaannya.
Begitu juga Mary. Ia menurunkan sebuah koper baju. Mary menoleh ke kanan dan kiri. Rupanya hanya dia yang tertinggal di basement. Seluruh staff sudah berjalan mendahului masuk ke kantor dan menuju ruangan
GREEK.. GREEK…
Bunyi koper yang ditarik paksa memenuhi basement yang tampak sepi. Masih jauh jarak antara Mary berdiri dengan lift yang akan membawanya ke lantai empat. Mary terus menyeret paksa koper usang dengan salah satu roda yang sudah rusak.
“Aduuh…” Mary mencoba mengangkatnya agar lebih mudah. Namun isi koper itu seakan melarangnya. Terlalu
berat bagi Mary untuk mengangkat koper hitam itu. Ia kemudian membiarkan koper itu menyentuh lantai dan menyeretnya lagi.
Tiba-tiba Mary punggung tangan Mary terasa hangat. Ada yang menyentuhnya. Ia menoleh. Dua orang yang
ada dibelakangnya juga bergerak cepat. Mereka melepaskan tangannya. Itu adalah Agust dan Jhony. Tangan mereka tidak sengaja bertumpukan di tangan Mary.
“Biar aku bawakan,” Jhony tersenyum sambil mengadahkan tangannya. Mary mengiyakan dan memberikan ganggang koper itu pada Jhony. Jhony pun dengan enteng mengangkat koper itu.
Agust sedikit batuk. “Erhm.. i..ini kan koper tua! Kenapa kau memakainya!” Ia tiba-tiba memarahi Mary.
“Ah.. iya.. Aku tidak tahu,” Mary meringis memamerkan giginya.
“Da..dan kau, Jhony!” Kini Agust memarahi Jhony. “Apa-apaan ini?” Agust tidak berani memandang Mary.
Ia hanya meliriknya. “Kau membuatku seperti pria jahat. Seharusnya kau memberitahuku soal ‘Mario’!” Celetuknya, menandakan bahwa Agust merasa bersalah karena selalu bersikap dingin pada ‘Mario’ yang ternyata seorang wanita.
__ADS_1
“Tapi kau kan memang jahat pada semua orang,” Jhony mencoba bercanda.
“Ahahaa…tidak apa..” Mary memasukan tangannya ke saku jaketnya dan tersenyum pada seseorang yang baru mengetahui jati dirinya itu. “Karenamu juga aku dapat menemukan mimpiku, kan? Terimakasih, Agust”
Agust melihat senyum manis Mary terbentuk diwajahnya. Agust kemudian salah tingkah dengan membuang
pandangannya dan mengelus-elus tengkuknya. “Terserah,”
++++++++++++++++++++
“Roda di koper itu tiba-tiba rusak?” Mary berfikir sambil berjalan pelan. Ia menuju anak tangga yang ada di depannya. “Hari ini aku ‘sial’ lagi...Benarkah kematianku semakin dekat? Apakah misiku gagal? Tapi hadiah yang diterima BEYOND dari fans kan semakin banyak, yang mengenalnya juga sudah tak sedikit dulu
walaupun mereka baru beberapa kali menyanyi di stasiun TV”
Pikiran Mary yang masih sibuk itu membuatnya tidak memperhatikan anak tangga yang sedang ia turuni.
Kakinya terpeleset disana dan membuatnya jatuh tergelincir menuruni lima anak tangga sekaligus.
“Aw!” Mary menjerit saat seluruh tubuhnya telah selesai menggelinding turun. Ia mendongakkan kepalanya
penuh amarah. “Kenapa kau tidak menangkapku, sih!!” Ia memarahi Jay yang berdiri di bawah tangga. Saat jatuh pun ia menyadari keberadaan Jay di bawah sana. Mary mengecek kondisi kakinya lagi. “Sakit niiih…” Ia mengelus dengkulnya yang tak berdarah. Kemudian melihat pergelangan kakinya yang merupakan sumber
rasa sakit itu berada.
“Mario!!” Seru Justin yang berlari naik dari bawah ke tempat Mary jatuh. Ia segera menaiki tangga
dengan cepat begitu mendengar rintihan Mary. “Kau tak apa?” Kini Justin bersimpuh disebelahnya.
“Ahrss…kakiku..” Ia mengerang kesakitan. Justin melihat pergelangan kaki Mary sambil memngecek apakah ada darah disana. “Mana dia?!” Mary mendongakkan kepalanya lagi.
“Siapa?”
“Jay! Tadi dia disini. Dia tidak mencoba menyelamatkanku! A! Aduuhh.. Iya! Itu!” Mary mengerang saat Justin memegang pergelangan kakinya.
“Ha? Dia ada di studio sedari tadi denganku dan Jhony.”
“Aw! Bu..bukan. Bukan Jay itu..AAAAAAW!!”
Justin menggerakkan paksa tulang Mary. Membuat suara teriakkannya mengisi lantai dua dan tiga.
++++++++++++++++++++
Dengan langkah terpincang-pincang, Mary membuntuti Sejin lagi si suatu stasiun TV yang entah sudah berapa kali ini kunjungi. Kali ini Mary membawa kardus berisi setumpuk proposal mengenai profil diri BEYOND. Proposal itu akan digunakan Sejin untuk memperkenalkan BEYOND pada tim reality show di stasiun TV itu. Mary berharap BEYOND segera memiliki reality show agar mereka semakin terkenal!
“Sst! Mario!” Desah Sejin menyenggol kardus yang diangkat Mary. Dengan sigap Mary memberikan satu
proposal itu kepada salah satu staff yang tampak cuek dengan kehadiran Sejin. Sejin yang tidak peka dengan keadaan kaki Mary itu terus mengitari ruangan staff stasiun TV itu satu demi satu.
__ADS_1