![The Story Untold: BEYOND [BTS]](https://asset.asean.biz.id/the-story-untold--beyond--bts-.webp)
Jhony tak mengalihkan pandangannya dari layar komputer di ruang studio. Tangan kanannya masih
menempel di atas mouse. Ia sesekali mengelus dagunya dan menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Jhony sedang dalam proses pembuatan lagu. Ia menunggu Hope dan Agust untuk bersama-sama membuat lirik
dan menyempurnakan melody yang ia atur. Lagu apa yang seharusnya Jhony buat? Ingin rasanya ia membuat lagu yang sesuai dengan isi hatinya saat ini. Depresei. Putus asa. Serta ketakutan yang dipenuhi rasa bersalah. Namun jika lagu itu ia buat, akankah orang-orang menikmatinya? Karena hanya ia kini yang merasakannya.
Jhony membuka folder lain. Ia tak melanjutkan project lagu barunya. Jhony ingin mendengarkan lagi lagu debut BEYOND. “Apa lagi ini akan berhasil? Apa kualitas lagu ini bagus? Apa sebenarnya komentar member BEYOND mengenai lagu ini?”
“Jhony?” terdengar suara Jay. Jhony tidak mendengarnya. Volume yang dihasilkan oleh headset yang ia kenakan terlalu keras. “disini kau rupanya,” Jay menggumam karena ia tau Jhony tidak akan menjawabnya. Jay duduk di sofa yang memperlihatkan punggung Jhony. Punggung orang kesepian. Ingin rasanya ia
menepuk bahunya dan mengajak Jhony untuk santai sejenak dan berbicara dengan topik yang dalam hingga Jhony secara otomatis mencurahkan seluruh perasaannya saat ini.
++++++++++++++++++++
Mary mencoba menelaah maksud pertanyaan Agust, “Kau….siapa kau sebenarnya?”
“Apa maksud pertanyaan Agust? Apa dia sudah menyadari semuanya? Seberapa banyak yang
dia tahu? Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi?” Mary menelan ludahnya pelan. Agust tetap fokus menatap mata Mary.
“Maksudku, untuk apa kau bersikeras membantu tim periklanan?” Jelas Agust, membuat Mary sedikit lega.
“kau kan bukan bagian promosi. Kau kan manager kami. Sejin saja tidak melakukan itu.”
“Iya. Kau terlihat berusaha keras sekali mempromosikan kami. Ada imbalannya ya?” Pertanyaan Jimmy
terdengar tajam. Ada imbalannya memang, tapi tentu mereka tidak akan percaya dengan ‘imbalan’ yang akan didapat Mary. Mary juga tak mau menjelaskan kepada mereka bahwa sebenarnya ia adalah gadis yang sedang berada di ambang kematian.
“Hei… kalian ini.. mengapa berfikir seperti itu?” Hope meringis dan mengeryitkan alisnya. “Tentu
ia ingin membantu kita untuk sukses! Ya kan, Mario?” Hope meminta persetujuan Mario atas pernyataannya. Mary mengangguk.
“Tentu saja!” Ia melebih lebihkan reaksinya dengan menjentikkan jarinya. Sebelum Agust dan Jimmy mengajukan pertanyaan liar lain, Mary memilih untuk bertanya duluan, “Mana Victor?”
++++++++++++++++++++
__ADS_1
Victor berjalan pelan menuju The Hit. Sore yang dingin membuatnya bersyukur telah mengenakan hoodie yang hangat. Victor menutup kepalanya dengan topi hoodie itu agar angin dingin tak masuk begitu saja ke telinganya. Langkahnya tiba-tiba berhenti sejenak. Ia menatap sebuat toko dikirinya. Toko kelontong kecil itu memiliki dinding yang terduat dari kaca sehingga memperlihatkan barang-barang yang dijual di dalamnya. Namun Victor tak tertarik melihat berbagai manik-manik khas wanita yang berjajar rapi di dalam toko. Ia melihat pantulan dirinya sendiri. Dirinya yang menatap kaca. Masker hitam yang ia kenakan hanya menampakkan mata tajamnya. Ia berdiri sendiri. Sambil memaki dalam hati. Makiannya tak cukup untuk
menenangkan hatinya. Victor merasa dirinya bagai monster yang sedang bersembunyi. Ia takut. Ia takut dengan dirinya sendiri.
Selama beberapa menit ia tetap memandang pantulan dirinya sendiri. Ia tak menghiraukan pejalan kaki di
belakangnya. Menit-menit itu cukup untuk membuat Victor kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
Kala itu Victor mendapat waktu senggang. Seluruh member BEYOND mendapat libur sejenak, kata Sejin. Tentu BEYOND senang mendengar kabar baik itu. Hanya Hope yang tersenyum tipis karena ia tak punya tempat untuk pulang. Sama seperti Victor. Sebenarnya Victor tidak terlalu menikmati kegiatan pulang kampung itu, namun seperti biasa, Jimmy mengajak Victor untuk menginap di rumahnya. Lagi. Victor tentu mengiyakan. Jimmy sudah seperti saudara baginya. Tapi kali ini berbeda. Victor ingin mengunjungi
suatu tempat sendirian.
Victor menelusuri jalan yang tak asing baginya. Ia menuju ke sebuah gang sempit dengan pencahayaan yang
kurang. Gang kecil itu hampir berakhir. Langkah kaki Victor juga terhenti saat ia melihat bangunan di ujung gang. Rumah itu hancur. Ada beberapa truk yang mengangkut pasir dan batu bata. Rumah itu sepertinya akan direnovasi. Victor tertegun melihatnya. Bola matanya bergetar. Perasaan marah dan takut bercampur aduk. Ia
lalu berbalik arah dan memutuskan untuk tidak menatap bangunan itu lagi.
BUK!
Victor tidak sengaja menabrak bahu seorang wanita tua. “Maafkan aku,” ujarnya sambil menunduk dan
Sang ibu sedikit menggumam dan menggerutu. Ia mengambil jeruk yang jatuh, namun kalah cepat dengan Victor yang sudah mengambil seluruhnya. Victor meletakkan kembali jeruk itu dalam kresek. Ibu itu mencoba memandang anak muda yang menabraknya untuk menasihatinya.
“Oh?” Ibu tua itu memegang bahu Victor dan menurunkan wajahnya agar dapat melihat wajah Victor yang sedari tadi menunduk. “Sepertinya aku mengenalmu…”
Victor menaikkan maskernya. Membuat ibu itu hanya mampu melihat matanya.
“Apa kau dari daerah sini? Sepertinya wajahmu tidak asing”
Victor diam tak menjawab. Ia kemudian membungkuk sopan lalu pergi.
“Hey Vic!” Sapaan Jhony membuyarkan lamunan Victor. Ia masih berdiri di depan toko kelontong. Sedangkan
Jhony yang baru keluar dari toko itu mendapati Victor melamun dengan tatapan kosong.
“Sedang apa kau di dalam?” Tanya Victor setelah sepenuhnya sadar, ia melirik ke dalam toko itu
__ADS_1
lagi untuk memastikan bahwa Jhony benar-benar keluar dari dalam sebuah toko manik-manik wanita. Jhony hanya membalas dengan senyuman dan memasukkan benda kecil yang ia pegang ke saku celananya.
++++++++++++++++++++
“Ha??”Mary menganga menatap anak tangga di depannya. Ia masih tidak percaya bahwa apartment yang ditinggali BEYOND tidak memiliki lift. Ia melirik ke banyaknya tas yang akan ia bawa sampai di lantai empat tempat BEYOND tinggal. Tas itu berjumlah lima buah. Tiga adalah koper, dan dua adalah tas besar. Semua itu
kosong. Ia hanya perlu menaiki tangga ini dan menuju apartment BEYOND, mengisinya dengan beberapa keperluan dan membawa tas yang nantinya akan memberat itu turun.
Sejin meninggalkan mereka dan melajukan mobil yang tadi mereka tumpangi. Ia sama sekali tidak membantu
mengemas barang. Sejin sudah berpesan pada Mary mengenai barang apa saja yang harus di kemas. Barang yang akan mereka kemas nanti haruslah cukup untuk kegiatan mereka selama beberapa hari yang memungkinkan untuk tidak kembali ke dorm untuk sementara. Kini Mary melirik ke member yang ada disebelahnya. Itu adalah tiga member dengan badan terkecil di BEYOND. Agust, Hope dan Jimmy. Agust dengan segera menyambar tas besar itu dan naik ke atas, kemudian Jimmy juga mengambil satu
tas itu. Hope terpaksa membawa koper, namun hanya satu koper yang ia bawa. Mary sedikit kesal karena pria-pria itu membuatnya harus mengangkat dua koper di tangannya. “Sial!” umpatnya dalam hati.
Mary memandang sekeliling ruangan. Benar-benar apartment lelaki. Kaus dimana-mana. Kabel-kabel yang tidak dirapikan, serta aroma khas parfume lelaki yang tercium sampai di dekat pintu. Mary mengikuti arahan Sejin yang sudah disampaikan tadi. Ia membantu Agust merapikan obat dan vitamin yang selalu ia bawa, ia juga sedikit membersihkan debu dilantai. Tak lama kemudian, terdengar suara member lain, Jhony, Jay dan Victor datang bersamaan.
“A..apa yang kau lakukan?” Jhony merebut barang yang dipegang Mary. Ia membentangkan benda itu yang tak lain adalah boxer pink milik Jhony.
“Aku akan membantumu merapikannnya.”Jawab Mary santai. Ia melihat telinga Jhony memerah.
“Kau rapikan brang-barang Justin saja.” Perintah Jhony sambil menuju kamarnya dengan membawa tas besar.
Sepertinya ia tidak suka jika barangnya disentuh
Mary terdiam. Ia berdiri dan meluruskan kakinya. Barang-barang Justin sudah terlebih dulu ia kemas. Sekarang tas Justin sudah ada di The Hit, Justin juga sekarang sedang mengikuti kelas bahasa Inggris di agensinya itu.
“Ssst!” Suara yang berasal dari dapur membuat Mary menoleh. Jay terlihat menyandarkan badannya pada meja dapur dan membuat gerakan tangan yang seakan mengajaknya kesana.
“Kau sudah mengepak barangmu?” Tanya Mary sambil berjalan menuju dapur. Ia mencoba menemukan
minuman dingin untuk diteguk.
“Sudah, sudah ada di kantor.” Jawab Jay yang melihat Mary mengambil gelas putih untuk dituangi air dingin. “Hei, tunggu dulu!” Jay menghentikan gerakan Jay. “Pakai yang itu saja.” Jay menunjuk gelas pink di dekat kulkas. Jay tidak menyarankan Mary meminum melalui gelas putih yang masih terlihat noda teh di dalamnya.
Setelah beberapa menit, apartment BEYOND mulai terlihat agak rapi. Beberapa barang juga sudah dimasukan ke dalam tas dan koper. Mary memerintahkan mereka untuk segera turun karena Sejin beserta mobilnya sudah datang. Jimmy berlari turun dengan riang. Mary memastikan kembali semua tas sudah lengkap.
“Biar kubawa.” Kata Jhony saat Mary hendak mengangkat koper yang berisi baju Jimmy.
__ADS_1
“Kau turun saja dulu.” Perintahnya. Mary memandangnya senang. Ia tak harus mebawa koper yang bertambah berat itu lagi.