The Story Untold: BEYOND [BTS]

The Story Untold: BEYOND [BTS]
11


__ADS_3

Mary menyandarkan diri di tembok ruang dance yang berisi Jay, Jimmy, Agust dan Hope. Hope tampak memperbaiki gerakan-gerakan mereka yang belum sempurna di matanya. Mary mencoba tidak hanya memperhatikan Agust seorang. Matanya kini tertuju pada Jimmy, ia hari ini tampak pucat. Seingat


Mary, Jimmy sedang menjalankan diet setelah membaca beberapa komen yang ditujukan fans padanya.


“Ada apa?”Mary masih mengingat uacapannya pada Jimmy saat mereka berdua melihat MV BEYOND yang baru saja di unggah. Kala itu Jimmy yang memegang mouse menggerakan ke arah kolom komentar.


Jimmy seketika itu diam. Mary melirik pelan dan mendapati Jimmy hanya tertuju pada satu titik. Rupanya


itu adalah kolom yang berisi kritikan mengenai wajah Jimmy yang menurut mereka terlalu bulat. Mary menyenggol pelan lengan Jimmy dan berkata, “Biarkan saja,” Namun ucapan Mary sama sekali tidak digubris. Jimmy terus men-scroll kolom-kolom komentar.


BRUK!


“Jimmy!”


Teriakan Hope membuyarkan lamunan Mary. Mary nampak kaget melihat Jimmy yang tiba-tiba jatuh pingsan.


Mary mendekat. Ia melihat kulit putih Jimmy semakin putih memucat dengan begitu banyak keringat di dahinya.


“Ya ampun, Jimmy!” Hope mencoba menyadarkan Jimmy dengan memukul pelan pipinya. Jay yang ikut kaget juuga bersimpuh di samping Jimmy.


“Panggil Sejin,” Perintah Agust pada Mary. Seketika itu juga Agust meraih ponsel yang ada di meja dan


menggerakan jarinya.



++++++++++++++++++++


“Hhhhh…Hhhh….” Nafas Mary sudah hampir habis. Ia baru saja berlari dari rumah sakit menuju klinik ayah


Jimmy. Ia tadi melihat kepanikan ibu nya yang datang bersama adik laki-laki Jimmy. Ibu Jimmy tentu kaget mendengar kabar bahwa anak tertuanya itu pingsan. Dokter mengatakan bahwa Jimmy kelelahan dan kurang gizi. Itu pasti karena diet yang sedang dijalankannya.


Ibu Jimmy menelpon suaminya sambil sesenggukan. Orang yang diseberang telpon tidak menjawab hingga


membuatnya semakin panik. Lalu Mary mengusulkan bahwa ia akan pergi ke klinik ayah Jimmy untuk memberitahukannya secara langsung.


“Silahkan, di lantai dua,” Seorang perawat mematikan telponnya setelah baru saja tersambung dengan


ruangan ayah Jimmy.


Mary bergegas menuju ke lantai dua sesuai arahan perawat itu. Mary menduga ayah Jimmy adalah orang yang selalu mematikan ponselnya saat bekerja, jadi ia tidak mungkin mengangkat panggilan dari Sejin dan ibu Jimmy.


GREEK!


Mary kaget saat tiba-tiba seorang dokter membuka keras ruang kerjanya.


“Oh! Anda?” Ia terbata-bata sambil menatap Mary yang berdiri di depan ruangannya.


“Iya, saya managernya, Mario.”


“Jimmy! Jimmy bagaimana?!” Tanyanya sambil kembali masuk untuk melepas jas lab nya.


“Sedang di IGD, paman. Bibi dan adiknya juga sudah datang.” Jawab Mary. Mary sedikit bingung mengapa


tiba-tiba ayah Jimmy tau mengenai kabar anaknya. Mary melirik ke ranjang di dalam ruangan. Ia kaget. Ada Victor disana, ia tampak sedang memegang ponsel.


“B..baiklah.. saya pergi dulu.” Ayah Jimmy membawa tasnya. “Vic, paman pergi dulu ya!” Ayah Jimmy yang


tampak panik itu berjalan keluar dan menepuk pelan pundak Mary sambil mengucapkan ‘terima kasih’.


Mary kini hanya membulatkan matanya dan membuka mulutnya melihat Victor yang dengan santainya


turun dari ranjang.


“Apa?” Tanya Victor santai.

__ADS_1


+++++++++


Mata Justin terlihat kosong. Matanya terfokus pada papan tulis yang penuh dengan coretan ilmu dari


gurunya, namun otaknya entah ada di mana. Justin kemudian melirik jendela yang membuatnya dapat melihat koridor yang ada di depan kelas. Ia mengingat kejadian tadi. Kejadian saat ia berpapasan dengan Jane.


Tadi Jane tampak berbeda. Ia bagai tidak mengenal Justin. Jane melewati Justin begitu saja. Entah apa


karena Jane terlalu berkonsentrasi dengan tumpukan buku yang dibawanya atau memang ia tidak melihat Justin. Atau mungkin.. Jane sedang menghindari Justin. Tapi mengapa?


“Justin!”


Sang guru melempar tutup spidol pada Justin tepat mengenai kepalanya. Justin tentu tersentak kaget diringi tawaan satu kelas.


“Ambil lagi,” Perintahnya sambil berkacak pinggang. Justin berusaha mencari tutup berwarna hitam yang


berukuran kecil itu. Ia mengambilnya dan membawanya maju. “cuci muka, sana” ujar sang guru pelan.


Justin kemudian berjalan keluar kelas. Ia melewati kamar mandi. Ia tak menuruti perintah gurunya. Kini


kakinya mengarahkannya ke beberapa anak tangga yang membawanya menuju atap sekolah.


KREEEK…


Justin membuka pelan. Angin dingin mulai menghempaskan helaian rambutnya. Udara siang yang sejuk membuat Justin ingin menghabiskan waktu disana.


“Ah!” Suara kecil itu terdengar. Itu Jane, ia menolehkan kepalanya menatap pintu tempat Justin berdiri sambil mengeluarkan lolipop dari mulutnya


Justin tersenyum melihat Jane. Namun reaksi dari Jane berbeda. Ia memasang wajah datar lalu membalikkan


wajahnya untuk menatap langit sambil mengemut lollipopnya lagi. Justin berjalan mendekat. Ia menyandarkan badan depannya pada pagar dan memandang Jane.


“Eummm….” Justin tidak bisa membuat kalimat yang ingin diungkapkan. Ia ingin membahas kejadian open stage waktu itu.


“Haduh… bagaimana bicaranya ya?” Bingung Justin dalam hati sambil mengurutkan pertanyaan yang sebenarnya ingin ia ajukan pada Jane. “Apa apakah ia kemarin datang? Atau, ‘mengapa kau tidak datang?’ ‘Apakah kau baik-baik saja?’ ‘Bagaimana keadaan di sekolah? 'Bagaimana perasaanmu terhadapku?’ Ah tidak! Pasti bukan yang itu!”


menghindari kontak mata dan memandang langit. “aa..aku butuh buku catatan. Aku kan perlu belajar juga!” Ulangnya lagi.


Jane menghela nafas. Ia menunduk pelan sambil memainkan kakinya. Ia lalu memutuskan untuk berbalik


badan dan pergi.


“Tunggu,” Justin menggenggam pelan tangan Jane dan melepaskannya setelah Jane membalas tatapannya. “apa kau datang saat itu?” Akhirnya Justin bertanya juga. Jane masih terdiam. “..taman.” Justin memperjelas pertanyaannya.


Jane menggeleng pelan. “Kita tidak sedekat itu untuk saling mendukung satu sama lain, ‘kan?” Jawabnya


disertai senyuman dengan satu ujung dinaikan dan alis yang dikerutkan.


Justin menatap Jane heran. “Kau.. ada apa?”


“Apanya?” Jane terus mengeluarkan senyuman sinis. “Kita memang tidak sedekat itu, kan, Justin? Aku


sadar. Aku tau. Kau sudah debut. Kau berbeda, dan akan terus berbeda.”Jelas Jane dengan muka memerah dan suara bergetar.


Justin ikut mengeryitkan alisnya. Ada apa dengan gadis dihadapannya ini? Ia bagai orang lain. Ia bukan


Jane yang selalu mengerjainya. Ia bukan Jane yang selalu bercanda dengannya. “Maksudmu?” Justin bertanya pelan. Ia berusaha tidak meninggikan suaranya.


“Sadarlah dimana posisimu.” Jane tak berekspresi, namun Justin yakin ia tidak serius mengatakan


itu. Sebelum Justin hendak memanggilnya lagi, Jane sudah berlari pelan dan menutup pintu atap.


BRAK!


“Jane…”

__ADS_1


++++++++++++++++++++


Hope menyilangkan tangannya sambil menatap Agust yang menggerakan jari jemarinya diatas ponsel.


Mereka berdua kini ada di depan kamar Jimmy. Jimmy yang baru tersadar itu segera dipindahkan ke kamar pasien. Ibunya tak henti-hentinya menangis, ayahnya yang tiba duluan sebelum Mary itu juga sudah disana. Menenangkan istrinya. Jhony yang baru sampai juga masih berada di dalam kamar lengkap dengan Sejin


dan Jay.


“Halo? Mario?” Agust berbicara dengan ponselnya.


“Kau menghubungi Mario?” Hope terbelalak.


“Dimana?” Agust melanjutkan bicara tanpa menjawab pertanyaan Hope. “ooh.. iya. Iya. Sudah sadar… Lantai 3, 319. Oke,” Agust mematikan ponselnya. “Ia sudah di dekat sini.” Gumamnya.


“Hei,” Hope memegang lengan atas Agust dan mengguncangnya. “kau punya nomornya Mario?” Ulangnya.


“sejak kapan kalian jadi dekat?”


Agust menggerakkan lengannya hingga Hope melepasnya. Ia tak menjawab. Ia memilih melambaikan tangan pada Mary dan Victor yang tampak berjalan cepat dari lift.


“Hhh..b..ba..”


“Bagaimana Jimmy?” Victor memperjelas pertanyaan yang akan diajukan Mary. Mary yang sedari tadi berlari


dengan Victor itu belum bisa mengatur nafasnya.


“Mengapa kalian datang bersamaan?”


“Sudah sadar.” Agust menjawab pertanyaan Victor.


“Tadi bertemu dibawah.” Mary menjawab pertanyaan Hope dengan tidak jujur. Victor melirik pelan Mary, ia


membalas dengan senyuman.


Sejin keluar ruangan dengan Jay dan Jhony. Ia menutup pintu kamar itu pelan. “Sudah, ayo kita pulang.”


“Aku di studio saja dengan Jhony. Aku sudah lelah latihan.” Jawab Agust.


“Ha?” Sejin mengeryitkan dahinya. Ia dan Agust lalu bertatapan. “hhh…. Baiklah.” Sejin berjalan mendahului mereka. “Mario, sudah waktunya menjemput Justin.” Perintahnya sambil memunggungi Mary.


“Aku akan disini.” Victor bersuara sehingga membuat langkah kaki Sejin berhenti dan semua mata menuju


padanya. “aku akan kembali nanti. Ya?” Pintanya.


“Aku juga,” Jay ikut bersuara pelan.


Sejin yang dimintai tolong itu menatap Victor. “Yah.. sesuka kalian sajalah.”


++++++++++++++++++++


Mary menatap ke luar jendela bus yang ditumpanginya. Ia tak memerhatikan jalan. Pikirannya masih sibuk


dengan mengulang kejadian di klinik ayah Jimmy.


“Apa?” Nada datar Victor masih terngiang dikepalanya. Saat itu mata Victor menatap dalam ke arah Mary.


“Kau? Kenapa disini?”


“Check-up.” Jawabnya seakan sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang akan Mary ajukan. Mary membulatkan mulutnya. “Ayah Jimmy adalah dokter operasi plastik ku.” Mary masih diam. “Aku operasi plastik.” Victor mengulangnya sambil mengelus elus rahang dan pipinya dengan menyorotkan sorotan


mata tajam.


“Kau..operasi plastik?” Mary membeo. Sebenarnya ia ingin tanya ‘mengapa?’, namun mulutnya tidak bergerak sesuai yang dia inginkan. Ucapan Victor membuat Mary sedikit penasaran akan wajah aslinya. Akankah ia setampan ini?


“Mm.”Victor mengangguk yakin. Langkah kakinya semakin mendekat pada Mary. “yah.. hanya Jimmy sih, yang

__ADS_1


tau..” kini Victor tersenyum, namun senyumnya tetap saja membuat Mary ngeri. “dan kini..” Victor menempelkan jari telunjuknya pada dada kiri Mary. “..kau.”


__ADS_2